Ayat 74:22

ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ

Kemudian ia bermuka masam dan cemberut,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَtsumma 'abasa wa-basarakemudian ia bermuka masam dan cemberut

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. عَبَسَ'abasaia bermuka masam
  3. وَبَسَرَwa-basaradan bermuka masam

Inti bacaan

Ekspresi kegagalan menemukan celah: 'kemudian ia bermuka masam dan cemberut', reaksi emosional yang mengungkap frustrasi karena tidak berhasil menemukan kelemahan dalam pesan yang dihadapinya, meski telah berusaha keras mencarinya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (عَبَسَ, 'abasa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:22 dan 80:1. Ia berarti bermuka masam.

Perhatikan bahwa 80:1 adalah ayat pertama surah 80. Surah itu dinamai dengan kata tersebut.

Jadi satu sebutan menjadi nama sebuah surah dan sekaligus satu langkah di sini. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata (وَبَسَرَ, wa basara) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dan bermuka cemberut.

Perhatikan bahwa dua sebutan di ayat ini berbunyi hampir sama. Keduanya berbeda satu huruf saja.

Kemiripan bunyi itu mengikat keduanya. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu.

Perhatikan bahwa dua sebutan itu menyangkut wajah. Dua langkah sebelumnya menyangkut pikiran dan mata.

Gerakannya keluar semakin jauh. Al-Qur'an tidak menyatakan gerakan itu.

Perhatikan bahwa ini langkah keempat dari enam. Dua langkah lagi menyusul di 74:23.

Rangkaian langkahnya berhenti di 74:25. Al-Qur'an tidak menyebut batas itu.

Perhatikan bahwa dua perbuatan disebut di satu baris. Cara itu dipakai juga di 74:18 dan 74:23.

Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga baris memuat dua perbuatan masing-masing.

Perhatikan bahwa ayat ini tiga patah. Ia sepanjang 74:23 yang menyusulnya.

Dua baris wajah dan tubuh itu setara ukurannya. Al-Qur'an tidak menyebut keseimbangan tersebut.

Perhatikan bahwa perubahan wajah itu terjadi sebelum ia berbicara. Ucapannya baru datang di 74:24.

Urutan itu menaruh tanda wajah sebelum ucapannya. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.

Perhatikan bahwa surah 80 dibuka dengan sebutan yang sama. Di sana ia menggambarkan perbuatan yang ditegur.

Di sini ia menggambarkan perbuatan orang yang menolak. Dua pemakaiannya berdiri di dua kedudukan yang berbeda.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk dua pihak.

Perhatikan bahwa dua sebutan di ayat ini sama-sama menyangkut air muka. Tidak ada gerakan tangan atau kaki.

Kekhususan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya menyangkut wajah.

Perhatikan bahwa dua sebutan itu hampir sama artinya. Yang satu masam, dan yang lain cemberut.

Pengulangan arti itu memperkuat gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu.

Perhatikan bahwa cara memperkuat seperti itu dipakai juga di 74:28. Di sana dua sebutan peniadaan berdekatan artinya.

Kesamaan cara itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua baris memakai cara yang sama.

Rangkaian (ثُمَّ عَبَسَ, tsumma 'abasa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menandai langkah keempat dalam rangkaiannya.

Perhatikan bahwa penghubung di depannya menandai urutan waktu. Ia dipakai juga di 74:21 dan 74:23.

Keseragaman itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa satu penghubung berulang.

Perhatikan bahwa gambaran ini tidak menyebut kepada siapa ia bermuka masam. Sasarannya dibiarkan kosong.

Kekosongan itu berlaku di seluruh enam langkahnya. Al-Qur'an tidak mengisi satu pun.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan raut wajah tokoh tersebut saat menolak kebenaran. Ayat ini melanjutkan gambaran dengan langkah keempat, yaitu perubahan wajah. Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 74:22 dan 80:1, dan 80:1 adalah ayat pertama surah 80 yang dinamai dengan kata tersebut.

Jadi satu sebutan menjadi nama sebuah surah dan sekaligus satu langkah di sini. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua sebutan di ayat ini berbunyi hampir sama karena berbeda satu huruf saja.

Dua sebutan itu juga menyangkut wajah, sedangkan dua langkah sebelumnya menyangkut pikiran dan mata. Gerakannya karena itu keluar semakin jauh.

Ini juga langkah keempat dari enam, dan rangkaiannya berakhir di 74:25. Dua perbuatan juga disebut di satu baris, sama seperti 74:18 dan 74:23.

Ayat ini juga tiga patah dan sepanjang 74:23 yang menyusulnya. Perubahan wajah itu juga terjadi sebelum ia berbicara, sebab ucapannya baru datang di 74:24. Surah 80 juga dibuka dengan sebutan yang sama, dan di sana ia menggambarkan perbuatan yang ditegur sedangkan di sini perbuatan orang yang menolak. Dua sebutan di ayat ini juga sama-sama menyangkut air muka tanpa gerakan tangan atau kaki, dan keduanya hampir sama artinya. Gambaran ini juga tidak menyebut kepada siapa ia bermuka masam, dan kekosongan itu berlaku di seluruh enam langkahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dipakai Allah cuma di 74:22 dan 80:1. Ayat 80:1 adalah ayat pertama surah 80, dan surah itu dinamai dengan kata tersebut. Satu sebutan menjadi nama sebuah surah dan sekaligus satu langkah di sini. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Surah 80 memakai sebutan itu untuk perbuatan yang ditegur, dan di sini untuk perbuatan yang menolak. Dua kedudukan yang berbeda memakai satu bunyi yang sama persis. Ayat 80:1 dipakai menjadi nama bagi surahnya sendiri, dan itu tidak terjadi di sini.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua sebutan di ayat ini berbunyi hampir sama. Keduanya berbeda satu huruf saja, dan kemiripan itu mengikat keduanya. Al-Qur'an tidak menandai pengikatan itu, dan telinga pembacanya yang menangkapnya lebih dulu. Dua sebutan yang berbeda satu huruf memaksa telinga bekerja lebih teliti. Terjemahan mana pun kehilangan gema itu tanpa bisa menggantinya. Satu huruf saja yang memisahkan masam dari cemberut di dua patah itu.
  • Dua sebutan itu menyangkut wajah, sedangkan dua langkah sebelumnya yang disebut Allah menyangkut pikiran dan mata. Gerakannya keluar semakin jauh dari dalam dirinya. Al-Qur'an tidak menyatakan gerakan itu, dan pembacanya melihat penolakan itu naik ke permukaan. Pikiran, mata, lalu wajah menandai tiga lapis yang makin dekat ke permukaan. Baris berikutnya membawa punggungnya sekalian. Punggung dan langkahnya menyusul di baris berikutnya, melengkapi seluruh tubuhnya.
  • Dua perbuatan disebut Allah di satu baris, dan cara itu dipakai juga di 74:18 dan 74:23. Tiga baris memuat dua perbuatan masing-masing. Al-Qur'an tidak menyatakan keseragaman itu, dan iramanya berjalan berpasangan sepanjang bagian ini. Ayat 74:18, 74:22, dan 74:23 masing-masing memuat dua perbuatan. Tiga baris itu berjalan berpasangan tanpa satu selingan. Iramanya terdengar seperti langkah ganda yang tetap sepanjang tiga baris itu.
  • Ayat ini tiga patah dan sepanjang 74:23 yang menyusulnya, sehingga dua baris itu seimbang. Allah memberi dua langkah wajah dan dua langkah tubuh ruang yang sama. Al-Qur'an tidak menandai keseimbangan itu, dan panjang barisnya sendiri yang menyampaikannya. Empat langkah terakhir dibagi rata ke dalam dua baris tiga patah. Ukuran yang setara itu tidak diberi satu keterangan pun. Ukuran keduanya setara, yaitu tiga patah untuk masing-masing baris.
  • Perubahan wajah itu terjadi sebelum ia berbicara, sebab Allah baru menyebut ucapannya di 74:24. Urutan itu menaruh tanda sebelum kata. Kalau wajah sudah menjawab sebelum mulut bergerak, apa gunanya menunggu ucapannya keluar? Kepada siapa ia bermuka masam tidak pernah disebut di baris mana pun. Sasaran kosong seperti itu berlaku di seluruh enam langkahnya. Pembacanya melihat mukanya berubah tanpa pernah tahu kepada siapa itu ditujukan.

Ayat 74:23

ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ

Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَtsumma adbara wa-stakbarakemudian dia berpaling dan menyombongkan diri

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. أَدْبَرَadbaraia berpaling
  3. وَاسْتَكْبَرَwa-stakbaradan menyombongkan diri

Inti bacaan

Keputusan final yang didorong ego: 'kemudian, dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri', pilihan untuk menolak meski secara internal tidak menemukan alasan substantif, kesombongan yang mengalahkan kejujuran intelektual.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(dari kebenaran)' tidak dipakai.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Ia berarti berpaling atau berlalu.

Perhatikan bahwa dua dari empat pemakaiannya ada di surah ini. Yang satu di 74:23 dan yang lain di 74:33.

Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa separuh pemakaiannya berada di satu surah.

Perhatikan bahwa di 74:33 sebutan itu dipakai untuk malam yang berlalu. Di sini ia dipakai untuk orang yang berpaling.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan menampung manusia dan malam.

Kata (وَاسْتَكْبَرَ, wastakbara) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:34, 28:39, dan 74:23. Ia berarti dan menyombongkan diri.

Perhatikan bahwa 2:34 memakainya untuk penolakan bersujud. Di 28:39 ia dipakai untuk kesombongan di bumi.

Jadi tiga pemakaiannya menyebut tiga keadaan yang berbeda. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Perhatikan bahwa dua perbuatan di ayat ini menyangkut tubuh. Yang pertama gerakan badan, dan yang kedua sikap batin yang tampak.

Susunan itu melanjutkan gerakan keluar. Al-Qur'an tidak menyatakan kelanjutan itu.

Perhatikan bahwa ini langkah keenam dari enam. Rangkaian gerakannya berakhir di sini.

Sesudahnya ucapannya baru disebut. Al-Qur'an tidak menandai batas itu.

Perhatikan bahwa enam langkah itu disebut dalam empat baris. Dua baris memuat dua langkah masing-masing.

Kepadatan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa langkahnya berdesakan.

Perhatikan bahwa seluruh rangkaian itu tidak memuat satu ucapan pun. Ucapannya ditahan sampai baris berikutnya.

Penahanan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gerakannya mendahului katanya.

Perhatikan bahwa 70:17 memakai sebutan berpaling untuk orang yang dipanggil api. Susunannya berbeda dari ayat ini.

Perbedaan itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa empat pemakaiannya berdiri di empat keadaan.

Perhatikan bahwa 79:22 memakainya untuk orang yang berpaling sesudah melihat tanda. Susunannya serupa dengan ayat ini.

Kesamaan itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang tertulis cuma bahwa dua ayat memakai sebutan sama untuk sikap yang sama.

Perhatikan bahwa dua perbuatan di ayat ini juga hampir sama artinya. Berpaling dan menyombongkan diri sering berjalan bersama.

Pengulangan arti itu menebalkan gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penebalan tersebut.

Perhatikan bahwa cara itu dipakai di tiga baris beruntun. Di 74:22, 74:23, dan kemudian di 74:28.

Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa berpasangan menjadi cara yang tetap di bagian ini.

Perhatikan bahwa 2:34 memakai sebutan menyombongkan diri untuk penolakan yang paling awal dalam Al-Qur'an. Susunannya berbeda dari ayat ini.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai di dua tempat yang berjauhan.

Perhatikan bahwa enam langkah itu tidak diberi keterangan waktu sama sekali. Tidak ada berapa lama di antaranya.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian reaksi tokoh tersebut dengan penolakan disertai kesombongan. Ayat ini menutup rangkaian gerakan dengan berpaling dan menyombongkan diri. Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22, dan dua di antaranya di surah ini.

Di 74:33 sebutan itu dipakai untuk malam yang berlalu, sedangkan di sini ia dipakai untuk orang yang berpaling. Jadi satu sebutan menampung manusia dan malam.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 2:34, 28:39, dan 74:23. Ayat 2:34 memakainya untuk penolakan bersujud, dan 28:39 memakainya untuk kesombongan di bumi.

Dua perbuatan di ayat ini juga menyangkut tubuh, sebab yang pertama gerakan badan dan yang kedua sikap batin yang tampak. Ini juga langkah keenam dari enam, sehingga rangkaian gerakannya berakhir di sini.

Enam langkah itu juga disebut dalam empat baris, dan seluruh rangkaian itu tidak memuat satu ucapan pun. Ayat 70:17 juga memakai sebutan berpaling untuk orang yang dipanggil api, sedangkan 79:22 memakainya untuk orang yang berpaling sesudah melihat tanda. Dua perbuatan di ayat ini juga hampir sama artinya, dan cara berpasangan itu dipakai di 74:22, 74:23, dan 74:28. Ayat 2:34 juga memakai sebutan menyombongkan diri untuk penolakan yang paling awal dalam Al-Qur'an.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dipakai Allah cuma di 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Dua dari empat pemakaiannya ada di surah ini, yaitu di 74:23 dan 74:33. Separuh pemakaiannya berada di satu surah, dan Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Pembaca yang membaca surahnya utuh akan mendengar sebutan itu dua kali. Ayat 70:17 dan 79:22 memakai sebutan yang sama untuk dua keadaan berbeda. Empat pemakaiannya tersebar di tiga surah tanpa satu pun menunjuk yang lain. Sebarannya tipis sekali, dan tak ada satu surah pun yang memakainya tiga kali.
  • Di 74:33 sebutan itu dipakai Allah untuk malam yang berlalu, sedangkan di sini untuk orang yang berpaling. Satu sebutan menampung manusia dan malam sekaligus. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan yang menentukan artinya cuma siapa yang sedang dibicarakan. Malam yang berlalu dan orang yang berpaling memakai satu bunyi yang sama. Jarak antara 74:23 dan 74:33 cuma sepuluh baris. Pembaca yang membaca surahnya utuh akan mendengar bunyi itu dua kali.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 2:34, 28:39, dan 74:23. Ayat 2:34 memakainya untuk penolakan bersujud, dan 28:39 untuk kesombongan di bumi. Tiga pemakaiannya menyebut tiga keadaan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya. Ayat 2:34 memakainya untuk penolakan yang paling awal dicatat dalam mushaf. Tiga pemakaiannya berjauhan letaknya dan berbeda pokoknya. Ayat 2:34 mencatat penolakan yang paling awal di seluruh mushaf.
  • Dua perbuatan di ayat ini menyangkut tubuh, sebab yang pertama gerakan badan dan yang kedua sikap yang tampak. Gerakan yang dimulai Allah dari dalam kepala kini sudah sampai ke punggung. Al-Qur'an tidak menyatakan kelanjutan itu, dan enam langkahnya bergerak lurus dari dalam ke luar. Enam langkah itu tidak diberi keterangan waktu sama sekali. Berapa lama di antara satu langkah dan langkah berikutnya tidak pernah disebut. Ukuran waktu sama sekali tidak dipakai di sepanjang bagian ini.
  • Enam langkah itu disebut Allah dalam empat baris saja, sebab dua baris memuat dua langkah masing-masing. Kepadatan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Langkahnya berdesakan, dan pembacanya melihat seluruh prosesnya lewat dalam belasan patah kata. Empat baris memuat enam langkah, dan dua di antaranya memuat dua langkah sekaligus. Kepadatan itu membuat gambarannya bergerak seperti lari. Enam langkah itu muat seluruhnya dalam empat baris pendek.
  • Seluruh rangkaian itu tidak memuat satu ucapan pun, sebab Allah menahan ucapannya sampai baris berikutnya. Gerakannya mendahului katanya sepanjang enam langkah. Kalau seluruh sikapnya sudah terbaca sebelum ia bersuara, apa yang masih ditambahkan oleh ucapannya nanti? Ucapan orang itu ditahan sampai baris kedua puluh empat. Enam langkah berlalu dalam diam sebelum satu patah pun terdengar. Diamnya berlangsung sampai baris kedua puluh empat tiba.