Ayat 75:11

كَلَّا لَا وَزَرَ

Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا لَا وَزَرَkallaa laa wazarasekali-kali tidak, tidak ada tempat berlindung

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. لَاlaatidak ada
  3. وَزَرَwazaratempat berlindung

Inti bacaan

Jawaban tegas tanpa harapan pelarian: 'sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung', penegasan definitif bahwa tidak ada tempat persembunyian, konfrontasi langsung yang tidak bisa dielakkan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَلَّا, kallaa) muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 19:79, 70:15, 74:16, dan 89:17. Ia membantah dengan keras apa yang baru saja disebut.

Perhatikan bahwa tiga dari 33 pemakaiannya ada di surah ini: 75:11, 75:20, dan 75:26. Ketiganya membuka bagian baru.

Jadi satu sebutan pembantah memotong surah ini menjadi beberapa bagian. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu.

Rangkaian (كَلَّا لَا, kallaa laa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:11 dan 96:19. Dua-duanya membantah lalu meniadakan.

Rangkaian (لَا وَزَرَ, laa wazara) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti tidak ada tempat berlindung.

Perhatikan bahwa ayat ini menjawab pertanyaan di 75:10. Yang ditanya ke mana lari, dan yang dijawab tidak ada tempatnya.

Jawaban itu datang langsung tanpa jeda. Al-Qur'an tidak menyisipkan satu ayat pun di antaranya.

Perhatikan bahwa jawabannya berupa peniadaan, bukan penunjukan. Yang disebut ketiadaan tempat, bukan tempat yang benar.

Susunan itu menutup pilihan sepenuhnya. Tidak ada alternatif yang ditawarkan.

Al-Qur'an tidak menerangkan penutupan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya meniadakan seluruh kemungkinan.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Ia sependek 75:7 dan 75:9.

Jadi bagian ini seluruhnya tersusun dari baris-baris yang sangat pendek. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu.

Perhatikan bahwa sebutan pembantah di awal ayat berdiri sendiri. Ia tidak menyambung ke kalimat sesudahnya.

Susunan itu memberi jeda di dalam ayat yang sudah pendek. Bantahannya berdiri terpisah sebelum alasannya.

Al-Qur'an tidak menandai jeda itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga patah itu terbagi menjadi dua bagian.

Perhatikan bahwa ini pertama kalinya sebutan pembantah dipakai di surah ini. Dua pemakaian berikutnya di 75:20 dan 75:26.

Jarak antara ketiganya sembilan ayat dan enam ayat. Susunan itu memotong surahnya dengan jarak yang hampir teratur.

Perhatikan bahwa sebutan pembantah itu tidak membantah pertanyaannya. Yang dibantah anggapan di baliknya.

Anggapan itu adalah bahwa ada tempat untuk lari. Bantahannya menyasar anggapan, bukan kalimat tanyanya.

Al-Qur'an tidak menyatakan sasaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa peniadaan menyusul langsung sesudahnya.

Perhatikan bahwa 96:19 memakai rangkaian yang sama untuk melarang. Di sana yang ditiadakan ketaatan kepada pelarang.

Jadi dua ayat memakai susunan yang sama untuk dua perkara yang berbeda. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa dua surah itu sama-sama pendek dan sama-sama menyebut manusia yang melampaui batas. Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an.

Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memakai susunan pembantah yang sama persis.

Perhatikan bahwa surah ini memakai sebutan pembantah tiga kali dengan jarak yang hampir sama. Sembilan ayat lalu enam ayat.

Susunan berjarak seperti itu memberi surahnya irama tersendiri. Al-Qur'an tidak menandai irama itu.

Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga potongan berdiri di tempat yang hampir teratur jaraknya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada tempat berlindung dari hari itu. Ayat ini menjawab pertanyaan di 75:10 dengan meniadakan tempat berlindung. Kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 19:79, 70:15, 74:16, dan 89:17, dan tiga di antaranya di surah ini yaitu 75:11, 75:20, dan 75:26.

Ketiganya membuka bagian baru, sehingga satu sebutan pembantah memotong surah ini menjadi beberapa bagian. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu.

Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:11 dan 96:19, dan dua-duanya membantah lalu meniadakan. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali dan berarti tidak ada tempat berlindung.

Jawaban ini juga datang langsung tanpa jeda, sebab Al-Qur'an tidak menyisipkan satu ayat pun di antaranya. Jawabannya juga berupa peniadaan dan bukan penunjukan, sehingga yang disebut ketiadaan tempat dan bukan tempat yang benar.

Ayat ini juga cuma tiga patah, sependek 75:7 dan 75:9, dan sebutan pembantah di awalnya berdiri sendiri tanpa menyambung ke kalimat sesudahnya. Jarak antara tiga pemakaiannya sembilan ayat dan enam ayat. Sebutan pembantah itu juga tidak membantah pertanyaannya melainkan anggapan di baliknya, yaitu bahwa ada tempat untuk lari. Ayat 96:19 memakai rangkaian yang sama untuk melarang, sehingga dua ayat memakai susunan yang sama untuk dua perkara yang berbeda. Dua surah itu juga sama-sama pendek dan sama-sama menyebut manusia yang melampaui batas.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya dipakai Allah 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 19:79, 70:15, 74:16, dan 89:17. Tiga di antaranya ada di surah ini, yaitu 75:11, 75:20, dan 75:26, dan ketiganya membuka bagian baru. Satu sebutan pembantah memotong surah ini menjadi beberapa bagian, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kalimat pun. Jaraknya sembilan ayat lalu enam ayat, hampir teratur. Sebuah surah yang dipotong tiga kali oleh satu sebutan yang sama punya kerangka yang tidak diumumkan. Pembaca yang menandai ketiganya akan melihat empat bagian yang panjangnya hampir seimbang.
  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah cuma di 75:11 dan 96:19. Dua-duanya membantah lebih dulu lalu meniadakan sesudahnya, sehingga susunannya bekerja dua tingkat. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran dua ayat itu, dan keduanya berdiri di dua surah yang sama-sama pendek dan sama-sama berbicara tentang manusia yang melampaui batas. Membantah lebih dulu lalu meniadakan bekerja seperti pintu yang ditutup dua kali. Yang pertama menghentikan langkahnya, dan yang kedua mengunci daun pintunya.
  • Yang ditanya di 75:10 ke mana lari, dan yang dijawab Allah di sini tidak ada tempatnya. Jawaban itu datang langsung tanpa satu ayat pun disisipkan di antaranya. Kecepatan seperti itu berbeda dari pertanyaan di 75:6 yang dibiarkan menggantung sampai akhir surah. Dua pertanyaan diperlakukan dengan cara yang sama sekali berbeda. Sebuah pertanyaan yang dijawab seketika dan sebuah pertanyaan yang dibiarkan menggantung berdiri di surah yang sama. Perbedaan perlakuan itu sendiri menyampaikan sesuatu tentang keduanya.
  • Jawabannya berupa peniadaan dan bukan penunjukan, sebab Allah menyebut ketiadaan tempat dan bukan tempat yang benar. Susunan itu menutup pilihan sepenuhnya, dan tidak ada jalan lain yang ditawarkan. Al-Qur'an tidak menerangkan penutupan itu, dan yang bertanya dibiarkan tanpa satu pun kemungkinan tersisa. Menawarkan jalan lain masih menyisakan pilihan bagi yang mendengar. Meniadakan seluruh tempat sekaligus tidak menyisakan apa pun lagi untuk ditimbang.
  • Ayat ini cuma tiga patah, sependek 75:7 dan 75:9, dan sebutan pembantah di awalnya berdiri sendiri. Susunan itu memberi jeda di dalam ayat yang sudah pendek, sehingga bantahannya berdiri terpisah sebelum alasannya. Bagian ini seluruhnya tersusun dari baris yang sangat pendek, dan Allah tidak menandai keseragaman itu. Baris yang pendek dan terpotong di tengah memberi kesan tergesa yang sesuai dengan isinya. Rupa dan maksudnya bekerja ke arah yang sama tanpa satu pun perlu menjelaskan yang lain.
  • Yang ditiadakan Allah bukan pertolongan, melainkan tempat. Orang masih bisa berharap ditolong meski tak punya tempat sembunyi, tetapi ayat ini tidak menyinggung harapan itu sama sekali. Kalau seluruh tempat sudah ditutup dan penolong belum disebut, apa yang tersisa untuk dikerjakan orang yang berlari? Tempat dan penolong adalah dua hal yang berbeda, dan cuma yang pertama yang ditutup di sini. Yang kedua baru muncul jauh kemudian, dan pembacanya menunggu tanpa tahu apakah ia akan datang.

Ayat 75:12

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat menetap.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّilaa rabbika yawma'idzin al-mustaqarrukepada Tuhanmulah pada hari itu tempat menetap

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِلَىٰilaakepada
  2. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  3. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  4. الْمُسْتَقَرُّal-mustaqarrutempat menetap

Inti bacaan

Satu-satunya tujuan akhir yang pasti: 'kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat menetap', kejelasan bahwa satu-satunya arah yang tersisa adalah kembali kepada sumber penciptaan, tidak ada alternatif lain yang tersedia.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ, ilaa rabbika yauma-idzin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:12 dan 75:30. Dua-duanya di surah ini.

Perhatikan bahwa 75:12 menutup bagian pertama dan 75:30 menutup bagian ketiga. Jarak antara keduanya delapan belas ayat.

Jadi satu rangkaian dipakai dua kali sebagai penutup bagian. Al-Qur'an tidak menandai pemakaian itu.

Kata (الْمُسْتَقَرُّ, al-mustaqarr) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti tempat menetap.

Perhatikan bahwa 75:30 memakai penutup yang berbeda. Di sana disebut tempat digiring, bukan tempat menetap.

Jadi dua ayat memakai pembuka yang sama dengan penutup yang tidak sama. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) muncul 123 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:147, 7:206, 16:125, dan 96:1. Ia berarti Tuhanmu.

Perhatikan bahwa sebutan itu menyapa satu orang. Padahal bagian sebelumnya berbicara tentang manusia pada umumnya.

Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba. Al-Qur'an tidak menerangkannya.

Perhatikan bahwa ayat ini menjawab pertanyaan di 75:10 untuk kedua kalinya. Yang di 75:11 meniadakan, dan yang di sini menunjukkan.

Jadi jawabannya dibagi dua ayat. Yang pertama menutup pilihan, dan yang kedua membuka satu-satunya arah.

Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berurutan mengerjakan dua pekerjaan yang berbeda.

Perhatikan bahwa tempat menetap disebut, bukan tempat singgah. Yang dijanjikan akhir perjalanan.

Pilihan itu berlawanan dengan pelarian di 75:10. Yang mencari tempat lari justru diberi tempat menetap.

Al-Qur'an tidak menandai perlawanan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berdekatan memakai dua gagasan yang bertolak belakang.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup dua belas ayat pertama surahnya. Sesudahnya pokoknya berpindah ke pemberitahuan amal.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut tempat menetap itu di mana. Yang disebut cuma kepada siapa arahnya.

Susunan itu mengganti tempat dengan hubungan. Yang dijanjikan bukan lokasi, melainkan kepada siapa seseorang kembali.

Al-Qur'an tidak menyatakan penggantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya memakai arah, bukan titik.

Perhatikan bahwa jawaban ini berlawanan dengan pertanyaan di 75:10. Yang ditanya tempat menjauh, dan yang dijawab tempat mendekat.

Perlawanan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa arah keduanya bertolak belakang.

Perhatikan bahwa 75:30 memakai pembuka yang sama tetapi nada yang lebih keras. Di sana yang disebut penggiringan.

Jadi dua penutup bagian bergerak dari menetap ke digiring. Nadanya menaik di antara keduanya.

Al-Qur'an tidak menandai kenaikan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai susunan sama dengan ujung berbeda.

Perhatikan bahwa ayat ini pendek, cuma empat patah. Ia sepanjang 75:1 dan 75:2.

Kependekan itu tidak mengurangi bobotnya. Empat patah memuat jawaban atas seluruh bagian pertama.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa satu-satunya tujuan akhir pada hari itu adalah kepada Tuhan. Ayat ini menutup bagian pertama surah dengan menyebut tempat menetap. Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 75:12 dan 75:30, dan dua-duanya di surah ini.

Ayat 75:12 menutup bagian pertama dan 75:30 menutup bagian ketiga, dengan jarak delapan belas ayat di antaranya. Jadi satu rangkaian dipakai dua kali sebagai penutup bagian.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan 75:30 memakai penutup yang berbeda karena di sana disebut tempat digiring. Kata keduanya muncul 123 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:147, 7:206, 16:125, dan 96:1.

Sebutan itu juga menyapa satu orang, padahal bagian sebelumnya berbicara tentang manusia pada umumnya. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba.

Ayat ini juga menjawab pertanyaan di 75:10 untuk kedua kalinya, sebab yang di 75:11 meniadakan sedangkan yang di sini menunjukkan. Tempat menetap juga disebut dan bukan tempat singgah, sehingga yang dijanjikan akhir perjalanan. Ayat ini juga tidak menyebut tempat menetap itu di mana, melainkan cuma kepada siapa arahnya, sehingga susunannya mengganti tempat dengan hubungan. Jawaban ini juga berlawanan dengan pertanyaan di 75:10, sebab yang ditanya tempat menjauh sedangkan yang dijawab tempat mendekat. Ayat 75:30 juga memakai pembuka yang sama tetapi nada yang lebih keras.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga kata pertamanya dipakai Allah cuma di 75:12 dan 75:30, dan dua-duanya di surah ini. Yang pertama menutup bagian pertama dan yang kedua menutup bagian ketiga, dengan jarak delapan belas ayat. Satu rangkaian dipakai dua kali sebagai penutup bagian, dan Al-Qur'an tidak menandai pemakaian itu. Susunan seperti itu memberi surahnya kerangka yang tidak diumumkan. Kerangka yang dipasang lewat pengulangan susunan tidak pernah diumumkan di ayat mana pun. Ia cuma terlihat oleh pembaca yang masih mengingat baris kedua belas ketika sampai di baris ketiga puluh.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti tempat menetap. Ayat 75:30 memakai pembuka yang sama tetapi penutup yang berbeda, sebab di sana disebut tempat digiring. Dua ayat karena itu bergerak dari menetap ke digiring, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu sama sekali. Bergerak dari menetap ke digiring adalah kenaikan nada yang jelas. Yang satu terdengar seperti pulang ke rumah, dan yang lain seperti diseret ke tempat asing.
  • Kata keduanya dipakai Allah 123 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:147, 7:206, 16:125, dan 96:1. Sebutan itu menyapa satu orang, padahal bagian sebelumnya berbicara tentang manusia pada umumnya. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa aba-aba, dan pembacanya tiba-tiba disapa langsung di tengah gambaran. Sapaan yang tiba-tiba berganti dari umum ke perorangan menarik pembacanya masuk. Ia tidak lagi menonton manusia dari luar, sebab dirinya sendiri yang kini disapa langsung.
  • Pertanyaan di 75:10 dijawab Allah dalam dua ayat, sebab 75:11 meniadakan dan 75:12 menunjukkan. Yang pertama menutup semua pilihan, dan yang kedua membuka satu-satunya arah. Dua ayat berurutan mengerjakan dua pekerjaan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Menutup semua pilihan lalu membuka satu arah adalah urutan yang tidak bisa dibalik. Kalau arahnya disebut lebih dulu, peniadaan sesudahnya kehilangan gunanya.
  • Tempat menetap disebut Allah di sini, bukan tempat singgah, sehingga yang dijanjikan akhir perjalanan. Pilihan itu berlawanan dengan pelarian di 75:10, karena yang mencari tempat lari justru diberi tempat menetap. Dua ayat berdekatan memakai dua gagasan yang bertolak belakang tanpa satu penghubung. Tempat menetap dan tempat lari adalah dua jawaban atas pertanyaan yang sama. Yang satu diminta oleh yang bertanya, dan yang lain diberikan tanpa diminta.
  • Ayat ini menutup dua belas ayat pertama surahnya, dan sesudahnya pokoknya berpindah ke pemberitahuan amal. Yang tadi berlari kini diberi tahu ke mana ia sebenarnya menuju. Kalau tempat berhenti sudah ditentukan sejak awal, apa gunanya tenaga yang dipakai untuk berlari? Menyebut arah tanpa menyebut tempat memindahkan perkaranya dari peta ke hubungan. Yang penting bukan di mana ia berhenti, melainkan di hadapan siapa ia akhirnya sampai.