Ayat 76:8

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Dan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًاwa-yuth'imuuna th-tha'aama 'alaa hubbihi miskiinan wa-yatiiman wa-asiirandan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَيُطْعِمُونَwa-yuth'imuunadan mereka memberi makan
  2. الطَّعَامَth-tha'aamamakanan
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. حُبِّهِhubbihikecintaannya
  5. مِسْكِينًاmiskiinanorang miskin
  6. وَيَتِيمًاwa-yatiimandan anak yatim
  7. وَأَسِيرًاwa-asiirandan tawanan

Inti bacaan

Kedermawanan yang melampaui kenyamanan: 'mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan', standar tinggi kedermawanan yang memberikan justru dari apa yang paling disukai, bukan sisa atau kelebihan, dan mencakup tiga kategori rentan yang berbeda (miskin, yatim, tawanan) sebagai penerima yang layak diperhatikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَأَسِيرًا, wa asiiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 6 ayat: 2:85, 8:67, 8:70, 33:26, 76:8, dan 76:28.

Perhatikan bahwa dua dari enam pemakaiannya ada di surah ini. Yang satu lagi di 76:28.

Di 76:28 akar (وَأَسِيرًا, wa asiiran) dipakai untuk ikatan tubuh manusia yang dikuatkan. Jadi satu akar menamai tawanan yang diberi makan dan ikatan tubuh yang diperkuat.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa jarak antara keduanya dua puluh ayat.

Perhatikan bahwa tiga pihak disebut berturut-turut di ayat ini. Yang miskin, yang yatim, dan yang tertawan.

Ketiganya sama-sama tidak berdaya. Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan itu.

Perhatikan bahwa yang tertawan disebut paling akhir. Ia yang paling jauh hubungannya dengan pemberi makan.

Urutan itu bergerak dari yang dekat ke yang jauh. Yang miskin bisa tetangga, yang yatim bisa kerabat, dan yang tertawan datang dari pihak lain.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya disebut dalam susunan yang melebar.

Perhatikan bahwa makanan itu diberikan atas kecintaan kepadanya. Yang diberikan bukan sisa, melainkan yang masih diinginkan sendiri.

Keterangan itu mengubah beratnya. Memberi yang tidak dibutuhkan berbeda dari memberi yang masih dibutuhkan.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keterangannya dipasang di tengah kalimat.

Perhatikan bahwa ayat ini menyebut perbuatan yang bisa dilihat orang lain. Ayat sebelumnya menyebut janji dan rasa takut yang tersembunyi.

Jadi dua ayat berurutan menyebut yang tersembunyi lalu yang tampak. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu.

Perhatikan bahwa yang disebut di sini bukan perbuatan besar. Memberi makan adalah pekerjaan yang bisa dikerjakan siapa saja.

Perhatikan pula bahwa yang diberikan disebut makanan, bukan harta. Yang disebut sesuatu yang langsung bisa dimakan.

Pilihan itu membuat pemberiannya terbayang sederhana. Tidak ada bilangan, tidak ada nilai, dan tidak ada ukuran.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang disebut bendanya, bukan besarnya.

Perhatikan pula bahwa tiga penerima disebut tanpa satu keterangan tambahan. Tidak disebut berapa orang, dan tidak disebut berapa kali.

Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh daftar sebabnya. Empat ayat sebabnya tidak memuat satu angka pun.

Perhatikan pula bahwa perbuatan ini disebut sesudah rasa takut di 76:7. Yang di dalam dada disebut lebih dulu, dan yang di tangan menyusul.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri di dua ayat berurutan.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sifat kedermawanan mereka meski terhadap makanan yang mereka cintai. Ayat ini menyebut perbuatan yang bisa dilihat sesudah 76:7 menyebut yang tersembunyi. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 6 ayat: 2:85, 8:67, 8:70, 33:26, 76:8, dan 76:28.

Dua dari enam pemakaiannya ada di surah ini, dan di 76:28 akar itu dipakai untuk ikatan tubuh manusia yang dikuatkan. Jadi satu akar menamai tawanan yang diberi makan dan ikatan tubuh yang diperkuat, dengan jarak dua puluh ayat.

Tiga pihak disebut berturut-turut di ayat ini, yaitu yang miskin, yang yatim, dan yang tertawan, dan ketiganya sama-sama tidak berdaya. Yang tertawan disebut paling akhir, dan ia yang paling jauh hubungannya dengan pemberi makan.

Urutannya bergerak dari yang dekat ke yang jauh, karena yang miskin bisa tetangga, yang yatim bisa kerabat, dan yang tertawan datang dari pihak lain. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.

Makanan itu juga diberikan atas kecintaan kepadanya, sehingga yang diberikan bukan sisa melainkan yang masih diinginkan sendiri. Memberi yang tidak dibutuhkan berbeda dari memberi yang masih dibutuhkan. Yang diberikan disebut makanan dan bukan harta, sehingga pemberiannya terbayang sederhana tanpa bilangan, nilai, maupun ukuran. Tiga penerima juga disebut tanpa satu keterangan tambahan, sebab tidak disebut berapa orang dan tidak disebut berapa kali. Ketiadaan bilangan itu berlaku di seluruh daftar sebabnya, karena empat ayat sebabnya tidak memuat satu angka pun.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 6 ayat: 2:85, 8:67, 8:70, 33:26, 76:8, dan 76:28, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di 76:28 akar itu menamai ikatan tubuh manusia yang dikuatkan, sedangkan di sini ia menamai tawanan yang diberi makan. Jarak dua puluh ayat memisahkan keduanya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkannya. Jarak dua puluh ayat memisahkan kedua pemakaiannya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang diberi makan dan ikatan tubuh si pemberi ternyata dinamai dengan satu bunyi dasar yang sama. Yang terikat dan yang mengikat ternyata berdiri di dalam satu surah yang sama, berjarak dua puluh ayat.
  • Allah menyebut tiga pihak berturut-turut, yaitu yang miskin, yang yatim, dan yang tertawan. Ketiganya sama-sama tidak berdaya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan itu. Yang dipilih seluruhnya pihak yang tidak bisa membalas pemberian itu dengan apa pun. Yang dipilih seluruhnya pihak yang tidak bisa membalas pemberian itu dengan apa pun. Ketiganya sama-sama tidak berdaya, dan Al-Qur'an tidak pernah menyatakan kesamaan itu.
  • Yang tertawan disebut Allah paling akhir, dan ia yang paling jauh hubungannya dengan pemberi makan. Urutannya bergerak dari yang dekat ke yang jauh, karena yang miskin bisa tetangga dan yang yatim bisa kerabat. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan lingkaran yang diberi makan melebar ayat demi ayat. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan lingkaran orang yang diberi makan melebar satu per satu. Yang paling jauh hubungannya dengan pemberinya justru yang disebut paling akhir di daftar itu.
  • Allah menyebut bahwa makanan itu diberikan atas kecintaan kepadanya, sehingga yang diberikan bukan sisa. Memberi yang tidak dibutuhkan berbeda dari memberi yang masih dibutuhkan sendiri. Keterangan itu dipasang di tengah kalimat, dan ia mengubah seluruh beratnya. Keterangan itu dipasang di tengah kalimat, dan ia mengubah seluruh berat perbuatannya. Yang diberikan bukan sisa makanan, melainkan yang masih diinginkan sendiri oleh orang yang memberikannya.
  • Ayat sebelumnya menyebut janji dan rasa takut yang tersembunyi, dan di sini Allah menyebut perbuatan yang bisa dilihat orang lain. Dua ayat berurutan menyebut yang tersembunyi lalu yang tampak. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai sebab yang sama pentingnya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai sebab yang sama-sama menentukan. Yang tersembunyi di dalam dada disebut lebih dulu, dan yang tampak di tangan menyusul di ayat ini.
  • Yang disebut Allah di sini bukan perbuatan besar, sebab memberi makan bisa dikerjakan siapa saja. Kalau yang dipakai sebagai sebab justru pekerjaan yang sederhana, apa yang membuatnya jarang dikerjakan orang yang mampu? Yang disebut bukan perbuatan besar, sebab memberi makan bisa dikerjakan siapa saja. Apa yang membuat pekerjaan sesederhana memberi makan justru jarang dikerjakan orang yang sebenarnya mampu melakukannya?

Ayat 76:9

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya demi wajah Allah. Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًاinnamaa nuth'imukum li-wajhi llaahi laa nuriidu minkum jazaa'an wa-laa syukuuransesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya demi wajah Allah, kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  2. نُطْعِمُكُمْnuth'imukumkami memberi kalian makan
  3. لِوَجْهِli-wajhikarena wajah
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. لَاlaatidak
  6. نُرِيدُnuriiduKami kehendaki
  7. مِنْكُمْminkumdari kalian
  8. جَزَاءًjazaa'anbalasan
  9. وَلَاwa-laadan tidak pula
  10. شُكُورًاsyukuuranbalasan

Inti bacaan

Kemurnian motif kedermawanan yang dinyatakan: 'kami memberi makanan kepada kalian hanya demi wajah Allah. Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian', standar tertinggi keikhlasan, kebaikan yang dilakukan tanpa mengharapkan pengakuan atau balasan apa pun dari penerima, murni berorientasi pada tujuan ilahi.

Penjelasan pilihan kata

Tidak ada verba 'qaala/qaaluu' eksplisit dalam Arab pada ayat ini, namun pergeseran orang (نُطْعِمُكُمْ, nuth'imukum), kami memberi makan kalian, orang pertama-kedua, dari narasi orang ketiga sebelumnya ('yut'imuuna', mereka memberi makan) secara gramatikal menandai kutipan langsung tersirat (iltifaat). 'Mereka berkata' ditambahkan sebagai kerangka gramatikal wajib dalam Indonesia untuk menandai pergeseran ini, bukan tambahan makna baru: tanpa tanda kurung, konsisten perlakuan subjek gramatikal wajib.

Rangkaian (لِوَجْهِ اللَّهِ, li-wajhi-llaah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menyebut maksud pemberian di 76:8.

Kata (شُكُورًا, syukuuran) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:62 dan 76:9. Di 25:62 kata itu dipakai untuk orang yang hendak bersyukur.

Jadi dua pemakaiannya berbeda arah. Di sana ia diinginkan, dan di sini ia justru ditolak.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk yang dicari dan yang ditampik.

Perhatikan bahwa ayat ini berupa ucapan mereka. Tidak ada penanda yang menyatakan bahwa mereka berkata, dan ucapannya langsung disebut.

Susunan seperti itu jarang. Perpindahan dari cerita ke ucapan biasanya ditandai, dan di sini tidak.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa suara mereka masuk tanpa satu penanda pun.

Perhatikan bahwa dua hal ditolak di ayat ini. Yang pertama balasan, dan yang kedua ucapan terima kasih.

Dua hal itu berbeda beratnya. Balasan menyangkut barang, dan ucapan terima kasih cuma menyangkut kata.

Jadi yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah. Al-Qur'an tidak menyatakan penilaian itu.

Perhatikan bahwa yang mereka minta cuma satu, yaitu wajah Allah. Tidak ada permintaan lain yang disebut.

Susunan itu menutup semua celah. Yang biasa diharapkan dari pemberian sudah disangkal satu per satu.

Perhatikan bahwa ucapan ini disebut sesudah perbuatannya. Di 76:8 disebut apa yang mereka kerjakan, dan di sini disebut apa yang ada di dalam hatinya.

Jadi dua ayat berurutan menyebut perbuatan lalu niatnya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu.

Perhatikan bahwa niat itu diucapkan, bukan disimpan. Yang dinyatakan bukan bahwa mereka berniat begitu, melainkan bahwa mereka mengatakannya.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang tersembunyi dibuat terdengar.

Perhatikan bahwa ucapan itu ditujukan kepada penerimanya. Mereka menyapa yang diberi makan, bukan menyapa orang lain.

Cara itu membuat penerimanya tidak merasa berutang. Al-Qur'an tidak menyatakan akibat itu dengan satu kalimat pun.

Perhatikan pula bahwa ucapan ini tidak menyebut pahala. Yang disebut cuma bahwa mereka tidak meminta apa-apa dari penerimanya.

Pahala baru disebut di 76:11 sampai 76:22. Sebelas ayat memisahkan penolakan balasan dari penyebutan balasannya.

Al-Qur'an tidak menandai jarak itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang tidak diminta akhirnya diberikan juga.

Perhatikan pula bahwa susunan itu berakibat. Yang menolak upah dari manusia justru menerima yang jauh lebih besar.

Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua hal itu berdiri di satu surah yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menyebut maksud di balik pemberian yang disebut di 76:8. Rangkaian dua kata terakhir bagian pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyebut maksud pemberian itu.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 25:62 dan 76:9. Di 25:62 kata itu dipakai untuk orang yang hendak bersyukur, sehingga dua pemakaiannya berbeda arah karena di sana ia diinginkan dan di sini ia ditolak.

Ayat ini berupa ucapan mereka, dan tidak ada kata yang menyatakan bahwa mereka berkata. Perpindahan dari cerita ke ucapan biasanya ditandai, sedangkan di sini suara mereka masuk tanpa satu penanda pun.

Dua hal ditolak di ayat ini, yaitu balasan dan ucapan terima kasih, dan keduanya berbeda beratnya karena yang satu menyangkut barang sedangkan yang lain cuma menyangkut kata. Jadi yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah.

Ucapan ini disebut sesudah perbuatannya, sehingga dua ayat berurutan menyebut perbuatan lalu niatnya. Niat itu juga diucapkan dan bukan disimpan, sehingga yang tersembunyi dibuat terdengar. Ucapan ini tidak menyebut pahala, dan yang disebut cuma bahwa mereka tidak meminta apa-apa dari penerimanya. Pahala baru disebut di 76:11 sampai 76:22, sehingga sebelas ayat memisahkan penolakan balasan dari penyebutan balasannya. Yang tidak diminta akhirnya diberikan juga, dan yang menolak upah dari manusia justru menerima yang jauh lebih besar.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 25:62 dan 76:9. Di 25:62 ia dipakai untuk orang yang hendak bersyukur, sedangkan di sini ia justru ditolak. Satu kata dipakai untuk yang dicari dan yang ditampik, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Satu sebutan dipakai untuk yang dicari di satu tempat dan yang ditampik di tempat lain. Yang membedakan bukan katanya, melainkan siapa yang diharapkan memberikannya. Dua surah memakai kata yang sama untuk dua sikap yang berlawanan.
  • Ayat ini berupa ucapan mereka, dan tidak ada kata yang menyatakan bahwa mereka berkata. Perpindahan dari cerita ke ucapan biasanya ditandai, sedangkan di sini suara mereka masuk tanpa satu penanda pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan pembacanya sendiri yang harus mengenali pergantian suaranya. Pembacanya sendiri yang harus mengenali di mana suara ceritanya berhenti dan suara mereka mulai. Perpindahan tanpa penanda menuntut perhatian yang tidak boleh kendur. Yang membaca sambil lalu akan menyangka ceritanya masih berjalan.
  • Dua hal ditolak Allah di ayat ini, yaitu balasan dan ucapan terima kasih. Keduanya berbeda beratnya, karena yang satu menyangkut barang dan yang lain cuma menyangkut kata. Yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah sekalipun. Yang ditolak bukan cuma yang berharga, melainkan juga yang paling murah sekalipun. Menolak ucapan terima kasih jauh lebih sulit daripada menolak bayaran. Bahkan pujian yang tidak berbiaya apa pun pun tetap mereka tolak.
  • Yang mereka minta cuma satu, yaitu wajah Allah, dan tidak ada permintaan lain yang disebut. Susunan itu menutup semua celah, karena yang biasa diharapkan dari pemberian sudah disangkal satu per satu. Rangkaian yang menyebut maksud itu cuma dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Rangkaian yang menyebut maksud itu cuma dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Tidak ada ayat lain yang memakai gabungan kata yang sama persis. Kekhususan itu membuat maksudnya tidak bisa dicampur dengan maksud lain.
  • Di 76:8 Allah menyebut apa yang mereka kerjakan, dan di sini apa yang ada di dalam hatinya. Dua ayat berurutan menyebut perbuatan lalu niatnya. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Al-Qur'an tidak menandai urutan itu, dan keduanya disebut sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Perbuatan tanpa niat dan niat tanpa perbuatan sama-sama tidak lengkap. Keduanya disebut di dua ayat yang tidak bisa dipisahkan bacaannya.
  • Ucapan itu ditujukan kepada penerimanya sendiri, bukan kepada orang lain. Cara itu menjaga harga diri orang yang menerimanya. Apa yang harus diucapkan seorang pemberi supaya bantuannya tidak membuat penerimanya merasa kecil? Pahala baru disebut Allah sebelas ayat kemudian, sesudah balasan dari manusia ditolak di sini. Yang tidak diminta ternyata justru yang akhirnya diberikan. Sebelas ayat memisahkan penolakan itu dari penyebutan apa yang akhirnya mereka terima.

Ayat 76:10

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami akan suatu hari yang penuh kesulitan lagi kesukaran.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًاinnaa nakhaafu min rabbinaa yawman 'abuusan qamthariiransesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami akan suatu hari yang penuh kesulitan lagi kesukaran

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  2. نَخَافُnakhaafukami takut
  3. مِنْmindari
  4. رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
  5. يَوْمًاyawmansuatu hari
  6. عَبُوسًا'abuusanyang muram
  7. قَمْطَرِيرًاqamthariiranyang penuh kesulitan

Inti bacaan

Motivasi di balik kedermawanan tulus: 'sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami akan suatu hari yang penuh kesulitan lagi kesukaran', kesadaran akan konsekuensi masa depan yang mendorong tindakan baik di masa sekarang, ketakutan produktif yang menghasilkan perilaku positif.

Penjelasan pilihan kata

Kutip ditutup di akhir ayat ini, melanjutkan kutipan tersirat dari 76:9.

Kata (عَبُوسًا, 'abuusan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1.

Di 74:22 dan 80:1 akar (عَبُوسًا, 'abuusan) dipakai untuk wajah manusia yang bermuka masam. Di sini ia dipakai untuk harinya sendiri.

Jadi sifat wajah dipindahkan kepada waktu. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu.

Perhatikan bahwa surah 80 dinamai dengan bunyi dasar itu. Surah tersebut dibuka dengan sebutan dari bunyi dasar yang sama.

Kata (قَمْطَرِيرًا, qamthariiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.

Jadi akar (قَمْطَرِيرًا, qamthariiran) tidak punya satu pun pemakaian lain. Ini akar kedua di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat.

Perhatikan bahwa yang pertama seperti itu ada di 76:2. Yang ketiga ada di 76:13.

Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga bunyi dasar sekali pakai tersebar sampai 76:13.

Perhatikan bahwa dua sifat disebut berturut-turut untuk satu hari. Keduanya menyangkut rupa, bukan isi.

Cara itu tidak lazim. Sebuah hari biasanya dilukiskan lewat apa yang terjadi padanya, dan di sini ia dilukiskan lewat wajahnya.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa hari itu diberi wajah.

Perhatikan bahwa ayat ini masih ucapan mereka. Ia melanjutkan kalimat yang dibuka di 76:9 tanpa satu penanda baru.

Jadi dua ayat berurutan berisi ucapan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai batas akhirnya.

Perhatikan bahwa rasa takut disebut lagi di sini. Ia sudah disebut di 76:7, dan ini penyebutan keduanya.

Dua penyebutan itu berbeda sudutnya. Yang pertama diceritakan dari luar, dan yang kedua diucapkan sendiri.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu perasaan disebut dua kali dengan dua cara.

Perhatikan pula bahwa yang mereka takuti bukan hukumannya, melainkan harinya. Yang disebut hari itu sendiri, bukan apa yang terjadi padanya.

Pilihan itu tidak lazim. Yang biasa ditakuti adalah akibatnya, dan di sini yang ditakuti waktunya.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat yang dipakai keduanya menyifati hari, bukan menyifati siksanya.

Perhatikan pula bahwa mereka menyebut Tuhan mereka, bukan Tuhan secara umum. Hubungan itu disebut sebagai milik mereka sendiri.

Cara itu membuat rasa takutnya terasa dekat. Yang ditakuti bukan pihak yang jauh, melainkan yang mereka kenali sebagai pemelihara mereka.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan yang dipakai menyangkut hubungan, bukan kekuasaan.

Tafsiran

Ayat ini menutup ucapan mereka dengan menyebut apa yang mereka takuti. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini.

Jadi ini akar kedua di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat, sesudah yang pertama di 76:2 dan sebelum yang ketiga di 76:13. Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu dengan satu kalimat pun.

Kata kelimanya juga muncul 1 kali, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1. Di 74:22 dan 80:1 akar itu dipakai untuk wajah manusia yang bermuka masam, sedangkan di sini ia dipakai untuk harinya sendiri.

Dua sifat disebut berturut-turut untuk satu hari, dan keduanya menyangkut rupa dan bukan isi. Sebuah hari biasanya dilukiskan lewat apa yang terjadi padanya, sedangkan di sini ia dilukiskan lewat wajahnya.

Ayat ini masih ucapan mereka dan melanjutkan kalimat yang dibuka di 76:9 tanpa satu penanda baru. Rasa takut juga disebut lagi di sini sesudah 76:7, dan dua penyebutan itu berbeda sudutnya karena yang pertama diceritakan dari luar sedangkan yang kedua diucapkan sendiri. Yang mereka takuti bukan hukumannya melainkan harinya, sehingga yang disebut adalah hari itu sendiri dan bukan apa yang terjadi padanya. Pilihan itu tidak lazim, sebab yang biasa ditakuti adalah akibatnya. Mereka juga menyebut Tuhan mereka dan bukan Tuhan secara umum, sehingga rasa takutnya terasa dekat karena yang ditakuti bukan pihak yang jauh.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kelimanya cuma dipakai Allah di 74:22, 76:10, dan 80:1. Di 74:22 dan 80:1 ia dipakai untuk wajah manusia yang bermuka masam, sedangkan di sini untuk harinya sendiri. Sifat wajah dipindahkan kepada waktu, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Sifat wajah dipindahkan kepada waktu, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Sebuah hari diberi rupa manusia, dan pembacanya diminta membayangkannya begitu. Gambaran itu bekerja karena setiap orang tahu rupa wajah yang masam.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di ayat ini. Ini akar kedua di surah ini yang seluruh hidupnya berada di satu tempat, sesudah 76:2 dan sebelum 76:13. Tiga akar sekali pakai tersebar di tiga belas ayat pertamanya. Tiga akar sekali pakai tersebar di tiga belas ayat pertamanya. Kepadatan seperti itu tidak lazim, dan ketiganya berdiri di bagian yang berbeda-beda. Sesudah 76:13 tidak ada lagi bunyi dasar sekali pakai di sepanjang surahnya.
  • Dua sifat disebut Allah berturut-turut untuk satu hari, dan keduanya menyangkut rupa dan bukan isi. Sebuah hari biasanya dilukiskan lewat apa yang terjadi padanya, sedangkan di sini ia dilukiskan lewat wajahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun. Yang dilukiskan bukan apa yang terjadi pada hari itu, melainkan bagaimana harinya sendiri tampak. Yang dilukiskan rupanya, dan isinya dibiarkan dibayangkan pembacanya.
  • Ayat ini masih ucapan mereka dan melanjutkan kalimat yang dibuka di 76:9 tanpa satu penanda baru. Dua ayat berurutan berisi ucapan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai batas akhirnya. Pembacanya harus mengenali sendiri di mana suara itu berhenti. Pembacanya harus mengenali sendiri di mana suara itu berhenti. Dua ayat berurutan berisi ucapan yang sama tanpa satu penanda batas. Batas suara mereka baru jelas ketika ayat berikutnya berganti pokok.
  • Rasa takut sudah disebut Allah di 76:7, dan ini penyebutan keduanya. Dua penyebutan itu berbeda sudutnya, karena yang pertama diceritakan dari luar sedangkan yang kedua diucapkan sendiri oleh mereka. Satu perasaan disebut dua kali dengan dua cara yang berbeda. Satu perasaan disebut dua kali dengan dua cara yang berbeda. Yang pertama diceritakan dari luar, dan yang kedua diucapkan sendiri oleh yang merasakannya. Yang diceritakan orang lain dan yang diakui sendiri tidak sama beratnya.
  • Surah 80 dinamai dengan akar yang dipakai Allah di ayat ini, dan surah itu dibuka dengan kata dari akar yang sama. Akar itu cuma hidup di tiga ayat di seluruh Al-Qur'an. Kalau satu akar yang begitu jarang sampai menjadi nama sebuah surah, seberapa berat gambaran yang dibawanya? Akar yang dipakai Allah di sini cuma hidup di tiga ayat di seluruh Al-Qur'an. Seberapa berat gambaran yang dibawanya, kalau satu akar yang begitu jarang sampai menjadi nama sebuah surah? Kejarangan sebesar itu membuat gambarannya tidak tertukar dengan apa pun.