Ayat 77:20
أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍa-lam nakhluqkum min maa'in mahiininbukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَلَمْa-lamtidakkah
- نَخْلُقْكُمْnakhluqkumKami menciptakan kalian
- مِنْmindari
- مَاءٍmaa'inair
- مَهِينٍmahiininyang hina
Inti bacaan
Argumen dari asal-usul biologis: 'bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina?', pengingat rendah hati tentang permulaan sederhana sebagai dasar argumen kekuasaan penciptaan, transisi menuju bukti personal setelah bukti historis.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَخْلُقْكُمْ, nakhluqkum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Rangkaian (مَاءٍ مَهِينٍ, maa-in mahiin) muncul 2 kali: 32:8 dan 77:20.
Kata (مَهِينٍ, mahiin) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 32:8, 68:10, dan 77:20. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 32:8, 43:52, 68:10, dan 77:20.
Di 68:10 kata (مَهِينٍ, mahiin) dipakai untuk orang yang banyak bersumpah dan dipandang rendah. Jadi akar yang sama menamai air asal manusia dan sifat manusia yang tercela.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar dipakai untuk asal-usul dan untuk perangai.
Perhatikan bahwa (أَلَمْ, alam) di sini mengulang cara bertanya di 77:16. Dua bagian berturut-turut dibuka dengan pertanyaan yang serupa.
Yang ditanyakan berbeda isinya. Yang pertama tentang kebinasaan orang lain, dan yang kedua tentang penciptaan yang ditanya sendiri.
Perhatikan pergeseran itu. Bagian sebelumnya berbicara tentang mereka, dan bagian ini berbicara tentang kalian.
Al-Qur'an tidak menandai pergeseran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jarak antara pembicaraan dan pembacanya mendadak hilang.
Perhatikan bahwa yang dipakai sebagai bukti bukan langit atau gunung, melainkan tubuh pembacanya sendiri. Bukti terdekat dipilih sesudah bukti terjauh disebut di 77:8 sampai 77:10.
Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini bergerak dari yang paling jauh ke yang paling dekat.
Perhatikan bahwa asal yang disebut justru yang paling rendah nilainya. Bukan kemuliaan asalnya yang ditonjolkan, melainkan kerendahannya.
Pilihan itu tajam. Yang membantah kebangkitan diingatkan pada bahan yang darinya ia sendiri dibuat.
Perhatikan pula bahwa bagian ini adalah satu-satunya bagian di surahnya yang isinya seluruhnya berupa pemberian. Empat ayatnya tidak memuat satu ancaman pun.
Kekhususan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu dari sekian bagian berisi nikmat, dan sisanya berisi peringatan atau hukuman.
Perhatikan pula bahwa bukti yang dipakai di sini tidak bisa dibantah dengan ucapan. Setiap orang membawa buktinya di dalam dirinya sendiri.
Pilihan itu menutup jalan keluar. Alam bisa disebut kebetulan, dan sejarah bisa disebut cerita, sedangkan tubuh sendiri tidak bisa disangkal keberadaannya.
Perhatikan pula bahwa penciptaan disebut sebagai bukti kebangkitan. Yang pernah dibuat sekali dinyatakan bisa dibuat lagi.
Al-Qur'an tidak menyatakan alasan itu secara terang di surah ini. Yang bisa dibaca cuma bahwa bukti penciptaan diletakkan di tengah pembicaraan tentang hari akhir.
Perhatikan pula bahwa susunan itu berulang di banyak surah. Penciptaan pertama sering disebut ketika kebangkitan dipersoalkan.
Yang khas di sini adalah kependekannya. Empat ayat cukup untuk melewati seluruh tahapnya, dari bahan sampai batas waktunya.
Tafsiran
Ayat ini membuka bagian baru dengan memindahkan buktinya ke tubuh pembacanya sendiri. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali, yaitu 32:8 dan 77:20.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 32:8, 68:10, dan 77:20, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 32:8, 43:52, 68:10, dan 77:20. Di 68:10 kata itu dipakai untuk orang yang banyak bersumpah dan dipandang rendah, sehingga satu akar menamai air asal manusia dan sifat manusia yang tercela.
Ayat ini memakai bentuk pertanyaan yang sama dengan 77:16, sehingga dua bagian berturut-turut dibuka dengan pertanyaan yang serupa. Yang ditanyakan berbeda isinya, karena yang pertama tentang kebinasaan orang lain dan yang kedua tentang penciptaan yang ditanya sendiri.
Bagian sebelumnya berbicara tentang mereka, dan bagian ini berbicara tentang kalian, sehingga jarak antara pembicaraan dan pembacanya mendadak hilang. Yang dipakai sebagai bukti bukan langit atau gunung, melainkan tubuh pembacanya sendiri.
Asal yang disebut justru yang paling rendah nilainya, karena bukan kemuliaan asalnya yang ditonjolkan melainkan kerendahannya. Bagian ini satu-satunya di surahnya yang isinya seluruhnya berupa pemberian, karena empat ayatnya tidak memuat satu ancaman pun. Bukti yang dipakai di sini juga tidak bisa dibantah dengan kata-kata, sebab setiap orang membawa buktinya di dalam dirinya sendiri. Alam bisa disebut kebetulan dan sejarah bisa disebut cerita, sedangkan tubuh sendiri tidak bisa disangkal keberadaannya. Penciptaan pertama disebut sebagai bukti kebangkitan, dan empat ayat cukup untuk melewati seluruh tahapnya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai Allah di 4 ayat: 32:8, 43:52, 68:10, dan 77:20. Di 68:10 ia menamai orang yang banyak bersumpah dan dipandang rendah, sedangkan di sini ia menamai air asal manusia. Satu akar dipakai untuk asal-usul dan untuk perangai, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu bunyi dasar dipakai untuk asal-usul dan untuk perangai, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang menamai bahan pembentuk manusia ternyata juga menamai sifat yang paling tidak disukai darinya.
- Yang dipakai Allah sebagai bukti di sini bukan langit atau gunung, melainkan tubuh pembacanya sendiri. Bukti terdekat dipilih sesudah bukti terjauh disebut di 77:8 sampai 77:10. Surah ini bergerak dari yang paling jauh ke yang paling dekat tanpa satu kalimat penunjuk arah. Surah ini bergerak dari yang paling jauh ke yang paling dekat tanpa satu kalimat penunjuk arah pun. Bintang di kejauhan disebut paling dulu, dan tubuh pembacanya sendiri baru disebut jauh di belakangan.
- Bagian sebelumnya berbicara tentang mereka, dan di sini Allah berbicara tentang kalian. Jarak antara pembicaraan dan pembacanya mendadak hilang, dan pergeseran itu tidak ditandai satu kalimat pun. Yang tadinya menonton kebinasaan orang lain kini menjadi pokok pembicaraannya sendiri. Yang tadinya menonton kebinasaan orang lain kini menjadi pokok pembicaraannya sendiri. Perpindahan itu tidak diberi satu kata pengantar pun, sehingga pembacanya mendadak berada di dalam kalimatnya sendiri.
- Asal yang disebut Allah justru yang paling rendah nilainya, karena bukan kemuliaannya yang ditonjolkan melainkan kerendahannya. Yang membantah kebangkitan diingatkan pada bahan yang darinya ia sendiri dibuat. Sulit menyombongkan diri sambil mengingat dari apa dirinya berasal. Sulit menyombongkan diri sambil mengingat dari apa dirinya berasal. Yang ditonjolkan bukan kemuliaan asal-usulnya, melainkan kerendahan bahan yang dipakai untuk membuatnya.
- Allah membuka dua bagian berturut-turut dengan bentuk pertanyaan yang serupa, yaitu di 77:16 dan di sini. Yang ditanyakan berbeda isinya, karena yang pertama tentang orang lain dan yang kedua tentang diri yang ditanya. Bentuk yang sama untuk isi yang berpindah membuat perpindahannya terasa lebih tajam. Bentuk yang sama untuk isi yang berpindah membuat perpindahannya terasa lebih tajam. Telinga mengenali rumus yang sama, lalu pikirannya baru menyadari bahwa yang dibicarakan ternyata sudah berganti.
- Kata kedua ayat ini dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sama seperti kata kerja di 77:16 dan 77:17. Kalau tiga pembuka bagian berturut-turut memakai kata yang tidak dipakai di tempat lain mana pun, apa yang membuat ketiganya perlu diberi rupa yang sama sekali baru? Tiga pembuka bagian berturut-turut memakai kata yang tidak dipakai di tempat lain mana pun. Kepadatan kata sekali pakai seperti itu menandai bahwa ketiga bagian ini memang disusun dengan sangat hati-hati.
Ayat 77:21
فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
Lalu Kami menjadikannya di tempat yang kukuh,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍfa-ja'alnaahu fii qaraarin makiininlalu Kami menjadikannya di tempat yang kukuh
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَجَعَلْنَاهُfa-ja'alnaahumaka Kami menjadikannya
- فِيfiidi
- قَرَارٍqaraarintempat menetap
- مَكِينٍmakiininyang kokoh
Inti bacaan
Detail proses perlindungan awal: 'lalu Kami menjadikannya di tempat yang kukuh', penekanan pada keamanan lingkungan perkembangan awal, desain yang terlindungi bukan kebetulan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (قَرَارٍ مَكِينٍ, qaraarin makiin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 23:13 dan 77:21. Di 23:13 rangkaian itu juga dipakai untuk tempat air asal manusia disimpan.
Jadi dua ayat itu menyebut hal yang sama dengan bunyi yang sama persis. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Kata (قَرَارٍ, qaraarin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 14:26, 23:13, 23:50, dan 77:21. Kata (مَكِينٍ, makiin) muncul 3 kali: 23:13, 77:21, dan 81:20.
Di 81:20 kata (مَكِينٍ, makiin) dipakai untuk kedudukan yang kokoh di sisi pemilik singgasana. Jadi kata yang sama menamai tempat yang terlindung dan kedudukan yang terhormat.
Al-Qur'an tidak menghubungkan dua pemakaian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu kata memuat perlindungan dan kehormatan.
Perhatikan bahwa 23:12 dan 23:13 memakai dua ayat untuk apa yang di sini dipadatkan menjadi dua ayat juga. Yang di sana bertahap panjang, dan yang di sini bertahap pendek.
Perhatikan bahwa ayat ini berlawanan dengan ayat sebelumnya. Yang di 77:20 disebut hina, dan yang di sini disebut terlindung.
Perbandingan itu tajam. Bahan yang rendah ditaruh di tempat yang kokoh, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpaduan itu.
Perhatikan bahwa (فَجَعَلْنَاهُ, fa ja'alnaahu) menempelkan penanda kami di ujungnya, sama seperti tiga ayat sebelumnya. Sejak 77:16 pelakunya disebut terus-menerus.
Pergeseran itu berlawanan dengan 77:8 sampai 77:12. Di sana lima perbuatan berturut-turut tidak menamai pelaku, dan di sini empat ayat berturut-turut menamainya.
Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bagian tentang kehancuran diam soal pelaku, dan bagian tentang penciptaan tidak.
Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya. Yang menghancurkan tidak dinamai, dan yang mencipta dinamai berulang kali.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut tempat, bukan waktu. Waktunya baru disebut di ayat berikutnya.
Urutan itu bergerak dari bahan ke tempat lalu ke waktu. Tiga tahap disebut berturut-turut tanpa satu kalimat penghubung.
Perhatikan pula bahwa urutan seperti itu mengikuti jalannya kejadian. Bahan lebih dulu, tempat menyusul, dan waktu berjalan sesudah keduanya ada.
Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat berurutan menyebut tiga hal yang memang berurutan.
Perhatikan pula bahwa tempat itu disebut kokoh, bukan luas atau nyaman. Yang ditonjolkan keamanannya, bukan kelapangannya.
Pilihan itu sejalan dengan bahan yang disebut di 77:20. Yang rapuh membutuhkan tempat yang kuat, bukan tempat yang besar.
Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sifat bahannya dan sifat tempatnya saling melengkapi.
Perhatikan pula bahwa (قَرَارٍ مَكِينٍ, qaraarin makiin) muncul juga di 23:13. Dua surah menyebut tahap yang sama dengan pilihan yang tidak berbeda sedikit pun.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan bukti penciptaan dengan menyebut tempat penyimpanannya. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 23:13 dan 77:21, dan di 23:13 rangkaian itu juga dipakai untuk tempat air asal manusia disimpan.
Kata ketiganya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 14:26, 23:13, 23:50, dan 77:21, sedangkan kata terakhirnya muncul 3 kali, yaitu 23:13, 77:21, dan 81:20. Di 81:20 kata terakhirnya dipakai untuk kedudukan yang kokoh di sisi pemilik singgasana, sehingga satu kata memuat perlindungan dan kehormatan.
Ayat ini berlawanan dengan ayat sebelumnya, karena yang di 77:20 disebut hina sedangkan yang di sini disebut terlindung. Bahan yang rendah ditaruh di tempat yang kokoh, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpaduan itu.
Ayat ini memakai bentuk kami, sama seperti tiga ayat sebelumnya, sehingga sejak 77:16 pelakunya disebut terus-menerus. Pergeseran itu berlawanan dengan 77:8 sampai 77:12 yang tidak menamai pelaku satu kali pun.
Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya, karena yang menghancurkan tidak dinamai sedangkan yang mencipta dinamai berulang kali. Ayat ini menyebut tempat dan bukan waktu, karena waktunya baru disebut di ayat berikutnya, sehingga urutannya bergerak dari bahan ke tempat lalu ke waktu tanpa satu kalimat penghubung. Urutan itu mengikuti jalannya kejadian, karena bahan lebih dulu, tempat menyusul, dan waktu berjalan sesudah keduanya ada. Tempat itu juga disebut kokoh dan bukan luas, sehingga yang ditonjolkan keamanannya, sejalan dengan sifat bahan yang disebut di 77:20.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 23:13 dan 77:21, dan di 23:13 ia juga menyebut tempat air asal manusia disimpan. Dua ayat itu menyebut hal yang sama dengan kata yang sama persis. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan cuma yang membandingkan akan menemukannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan cuma yang membandingkan akan menemukannya. Dua surah yang berjauhan menyebut tahap yang sama dengan pilihan kata yang tidak berbeda sedikit pun. Kesamaan seperti itu cuma terlihat oleh yang membaca keduanya berdampingan.
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 23:13, 77:21, dan 81:20. Di 81:20 ia menamai kedudukan yang kokoh di sisi pemilik singgasana, sedangkan di sini tempat yang terlindung. Satu kata memuat perlindungan dan kehormatan, dan dua arti itu tidak pernah dipertemukan dalam satu kalimat. Satu kata memuat perlindungan dan kehormatan, dan dua arti itu tidak pernah dipertemukan dalam satu kalimat. Yang terlindung di dalam rahim dan yang terhormat di sisi singgasana dinamai dengan bunyi yang sama persis.
- Yang di 77:20 disebut Allah hina, dan yang di sini disebut terlindung. Bahan yang rendah ditaruh di tempat yang kokoh, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpaduan itu. Dua ayat berurutan menaruh dua penilaian yang berlawanan pada satu proses yang sama. Dua ayat berurutan menaruh dua penilaian yang berlawanan pada satu proses yang sama. Bahannya disebut rendah, dan tempatnya disebut kokoh, tanpa satu kalimat pun yang mendamaikan keduanya. Yang rapuh justru diberi penjagaan yang paling kuat.
- Sejak 77:16 Allah menyebut pelakunya terus-menerus, sedangkan di 77:8 sampai 77:12 lima kata kerja berturut-turut tidak menamai siapa pun. Bagian tentang kehancuran diam soal pelaku, dan bagian tentang penciptaan tidak. Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya tanpa satu kalimat yang menjelaskannya. Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya tanpa satu kalimat yang menjelaskannya. Yang menghancurkan dibiarkan tidak dikenali, sedangkan yang mencipta menyebut diri-Nya berulang kali.
- Kata ketiganya dipakai Allah cuma di 14:26, 23:13, 23:50, dan 77:21. Dua dari empat pemakaiannya berada di surah yang sama, yaitu surah 23. Sebuah kata yang cuma hidup di beberapa tempat membawa semuanya serta setiap kali ia dibaca. Sebuah kata yang cuma hidup di beberapa tempat membawa semuanya serta setiap kali ia dibaca. Dua dari empat pemakaiannya berada di surah yang sama, sehingga ikatan di antara keduanya makin rapat.
- Tempat yang disebut Allah di sini melindungi sesuatu yang belum bisa meminta perlindungan. Kalau penjagaan sudah diberikan jauh sebelum seseorang sanggup memintanya, apa yang masih bisa diklaim sebagai hasil usahanya sendiri? Penjagaan sudah diberikan jauh sebelum seseorang sanggup memintanya. Tidak ada usaha yang bisa diakui atas perlindungan yang datang sebelum seseorang sadar bahwa dirinya ada. Yang paling menentukan hidupnya justru terjadi tanpa dia tahu.
Ayat 77:22
إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ
Sampai waktu yang ditentukan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍilaa qadarin ma'luuminsampai waktu yang ditentukan
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِلَىٰilaasampai
- قَدَرٍqadarinukuran
- مَعْلُومٍma'luuminyang diketahui
Inti bacaan
Batasan waktu yang terkendali: 'sampai waktu yang ditentukan', pengakuan bahwa proses perkembangan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan, bukan durasi acak tanpa rencana.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (قَدَرٍ مَعْلُومٍ, qadarin ma'luum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 15:21 dan 77:22. Di 15:21 rangkaian itu dipakai untuk segala sesuatu yang diturunkan menurut ukuran yang diketahui.
Jadi rangkaian yang sama dipakai untuk turunnya segala sesuatu dan untuk lamanya kandungan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Perhatikan bahwa akar (قَدَرٍ, qadarin) dipakai di 121 ayat, antara lain 2:236, 13:8, 54:49, dan 65:3. Ia termasuk akar yang sering dipakai.
Perhatikan pula bahwa (قَدَرٍ, qadarin) berbunyi dasar sama dengan dua kata di 77:23. Tiga sebutan seakar berdiri di dua ayat berturut-turut.
Kepadatan seperti itu jarang. Tiga sebutan seakar di dua ayat pendek menekan tanpa menambah satu keterangan pun.
Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar diulang tiga kali berturut-turut.
Perhatikan bahwa ayat ini terdiri atas tiga patah saja. Ia menyambung 77:21 dan tidak berdiri sendiri.
Susunan itu berlaku di seluruh bagian ini. Empat ayat dari 77:20 sampai 77:23 terikat menjadi satu kalimat panjang.
Perhatikan bahwa yang disebut adalah ukuran yang diketahui, bukan ukuran yang ditetapkan. Yang ditonjolkan pengetahuannya, bukan penetapannya.
Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Ukuran yang ditetapkan menekankan kuasa, sedangkan ukuran yang diketahui menekankan ketelitian.
Perhatikan bahwa pengetahuan itu tidak disebut milik siapa. Bentuknya tidak menyebut siapa yang mengetahuinya.
Ketiadaan keterangan itu sejalan dengan cara surah ini menyebut banyak hal. Yang penting dinyatakan ada, dan pemiliknya sering dibiarkan tidak disebut.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut batas, bukan lamanya. Yang disebut sampai ke ukuran tertentu, bukan selama sekian waktu.
Perbedaan itu berakibat. Menyebut lamanya menuntut bilangan, sedangkan menyebut batas cukup menyatakan bahwa ada ujungnya.
Perhatikan pula bahwa ukuran itu disebut sudah diketahui, bukan akan ditentukan. Yang dinyatakan bahwa ukurannya sudah ada sebelum prosesnya berjalan.
Al-Qur'an tidak menerangkan kapan ukuran itu ditetapkan. Yang bisa dibaca cuma bahwa ia sudah diketahui ketika prosesnya dimulai.
Perhatikan pula bahwa ayat ini adalah ayat terpendek di bagiannya. Ia cuma tiga patah, sedangkan tiga ayat lainnya lebih panjang.
Kependekan itu membuatnya terdengar seperti selaan. Ia menyelipkan keterangan waktu di antara tempat dan pujian.
Al-Qur'an tidak menandai kedudukan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keterangan waktunya diberi ruang paling sempit di bagian ini.
Perbandingan itu ganjil kalau ditimbang biasa. Yang paling sulit diketahui manusia justru yang paling singkat disebutkan.
Tafsiran
Ayat ini menyebut batas waktu bagi apa yang disimpan di 77:21. Rangkaian dua katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 15:21 dan 77:22, dan di 15:21 rangkaian itu dipakai untuk segala sesuatu yang diturunkan menurut ukuran yang diketahui.
Jadi rangkaian yang sama dipakai untuk turunnya segala sesuatu dan untuk lamanya kandungan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Akar kata pertamanya dipakai di 121 ayat, antara lain 2:236, 13:8, 54:49, dan 65:3.
Perhatikan bahwa akar itu muncul tiga kali dalam dua ayat berturut-turut, sekali di sini dan dua kali di 77:23. Kepadatan seperti itu jarang, karena tiga kata seakar di dua ayat pendek menekan tanpa menambah satu keterangan pun.
Ayat ini terdiri atas tiga patah saja dan menyambung 77:21 tanpa berdiri sendiri, sehingga empat ayat dari 77:20 sampai 77:23 terikat menjadi satu kalimat panjang.
Yang disebut adalah ukuran yang diketahui dan bukan ukuran yang ditetapkan, sehingga yang ditonjolkan ketelitiannya dan bukan kuasanya. Ayat ini menyebut batas dan bukan lamanya, karena menyebut lamanya menuntut bilangan sedangkan menyebut batas cukup menyatakan bahwa ada ujungnya. Ukuran itu juga disebut sudah diketahui dan bukan akan ditentukan, sehingga ia sudah ada sebelum prosesnya berjalan. Ayat ini juga yang terpendek di bagiannya dengan tiga patah saja, sehingga ia terdengar seperti selaan yang menyelipkan keterangan waktu di antara tempat dan pujian.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata ayat ini dipakai Allah cuma di 15:21 dan 77:22. Di 15:21 ia menyebut segala sesuatu yang diturunkan menurut ukuran yang diketahui, dan di sini lamanya kandungan. Rangkaian yang sama dipakai untuk yang paling luas dan yang paling kecil, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Rangkaian yang sama dipakai untuk yang paling luas dan yang paling kecil, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang mengatur turunnya segala sesuatu dan yang mengatur satu kandungan dinamai dengan rangkaian kata yang sama. Yang terbesar dan yang terkecil ternyata memakai ukuran yang satu.
- Akar kata pertamanya dipakai Allah tiga kali dalam dua ayat berturut-turut, sekali di sini dan dua kali di 77:23. Kepadatan seperti itu jarang di surah yang ayat-ayatnya sependek ini. Tiga kata seakar yang berdempetan menekan tanpa menambah satu keterangan pun. Tiga sebutan seakar yang berdempetan menekan tanpa menambah satu keterangan pun. Bunyinya terdengar tiga kali dalam dua ayat pendek, dan pengulangan itu bekerja sebelum artinya sempat dipikirkan. Telinga menangkap tekanannya lebih dulu daripada pikiran.
- Yang disebut Allah adalah ukuran yang diketahui, bukan ukuran yang ditetapkan. Ukuran yang ditetapkan menekankan kuasa, sedangkan ukuran yang diketahui menekankan ketelitian. Perbedaan sehalus itu mengubah apa yang paling terasa oleh pembacanya. Perbedaan sehalus itu mengubah apa yang paling terasa oleh pembacanya. Yang ditonjolkan bukan kuasa yang memaksa, melainkan ketelitian yang tidak meleset sedikit pun. Ketelitian lebih sulit dibantah daripada kekuatan, karena ia bisa diperiksa.
- Ayat ini terdiri atas tiga patah saja dan menyambung 77:21 tanpa berdiri sendiri. Empat ayat dari 77:20 sampai 77:23 diikat Allah menjadi satu kalimat panjang. Kalimat yang bernapas melewati empat ayat menuntut pembacanya tidak berhenti di ujung tiap ayat. Kalimat yang bernapas melewati empat ayat menuntut pembacanya tidak berhenti di ujung tiap ayat. Berhenti di tengah akan memotong keterangan yang sebenarnya belum selesai diberikan. Empat ayat itu satu tarikan napas, bukan empat pernyataan terpisah.
- Bentuk yang dipakai Allah di sini tidak menyebut siapa yang mengetahui ukuran itu. Ketiadaan keterangan itu sejalan dengan cara surah ini menyebut banyak hal. Yang penting dinyatakan ada, dan pemiliknya sering dibiarkan tidak disebut namanya. Yang penting dinyatakan ada, dan pemiliknya sering dibiarkan tidak disebut namanya. Cara itu berulang cukup sering di surah ini sehingga ia menjadi ciri susunannya sendiri.
- Akar kata pertamanya dipakai Allah di 121 ayat, antara lain 2:236, 13:8, 54:49, dan 65:3. Kalau setiap yang ditumbuhkan sudah punya batas waktu sejak sebelum ia tampak, batas apa yang sedang berjalan pada diri kita tanpa kita ketahui? Setiap yang ditumbuhkan sudah punya batas waktu sejak sebelum ia tampak. Batas yang tidak diberitahukan tetap berjalan, dan ketidaktahuan seseorang tidak membuatnya berhenti.
Ayat 77:23
فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ
Lalu Kami tentukan, maka Kami adalah sebaik-baik penentu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَfa-qadarnaa fa-ni'ma l-qaadiruunalalu Kami tentukan, maka Kami adalah sebaik-baik penentu
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَقَدَرْنَاfa-qadarnaamaka Kami menentukan
- فَنِعْمَfa-ni'mamaka sebaik-baik
- الْقَادِرُونَl-qaadiruunayang berkuasa
Inti bacaan
Pengakuan kualitas perencanaan yang unggul: 'lalu, Kami tentukan (bentuk dan waktu lahirnya). Maka, (Kamilah) sebaik-baik penentu', klaim keunggulan dalam perencanaan dan penentuan, standar tertinggi yang tidak tertandingi dalam mengatur proses kehidupan.
Penjelasan pilihan kata
Kata 'Kami' pada 'Kami adalah sebaik-baik penentu' (فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ, fa ni'ma al-qaadiruun) dipertahankan tanpa kurung sebagai subjek gramatikal wajib bagi eksklamasi 'ni'ma l-qaadiruuna': konteks 'fa-qadarnaa' (Kami tentukan) sebelumnya membuat rujukan 'Kami' tidak ambigu.
Kata (فَقَدَرْنَا, fa qadarnaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (الْقَادِرُونَ, al-qaadiruun) juga muncul 1 kali.
Akar (فَقَدَرْنَا, fa qadarnaa) dipakai di 121 ayat, antara lain 2:236, 13:8, 54:49, dan 65:3. Dua kata sekali pakai dari akar sesering itu berdiri di satu ayat.
Perhatikan bahwa (فَقَدَرْنَا, fa qadarnaa) dan (الْقَادِرُونَ, al-qaadiruun) seakar, dan 77:22 memuat satu lagi. Tiga sebutan seakar berdiri di dua ayat berurutan.
Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar mengisi hampir seluruh dua ayat penutup bagian ini.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian yang dibuka di 77:20. Empat ayat berjalan sejak sana, dan yang terakhir berisi pujian.
Susunan itu berbeda dari bagian sebelumnya. Bagian di 77:16 sampai 77:18 ditutup ancaman, dan bagian ini ditutup pujian.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua bagian berurutan berakhir dengan nada yang berlawanan.
Perhatikan bahwa pujian itu tetap disusul refrein di 77:24. Ancaman datang sesudah pujian, tanpa satu kata penghubung.
Susunan itu tajam. Yang baru saja dipuji kekuasaannya, di ayat berikutnya disebut mengancam yang mendustakan.
Perhatikan bahwa kata (فَنِعْمَ, fa ni'ma) menyatakan pujian. Ia satu-satunya kata pujian di seluruh surah ini.
Kekhususan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima puluh ayat surah ini memuat satu kata pujian saja.
Kata (الْقَادِرُونَ, al-qaadiruun) berbentuk jamak, sama seperti kata kerja sebelumnya. Bentuk jamak itu dipakai sejak 77:16 dan berlanjut sampai ayat ini.
Perhatikan pula bahwa pujian di ayat ini ditujukan kepada pembicaranya sendiri. Yang memuji dan yang dipuji adalah pihak yang sama.
Cara seperti itu tidak lazim di antara manusia. Yang memuji dirinya sendiri biasanya kehilangan kepercayaan pendengarnya.
Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pujian di sini datang sesudah bukti diberikan, bukan sebelumnya.
Perhatikan pula bahwa urutan itu penting. Empat ayat menyebut bukti lebih dulu, dan pujiannya menyusul di ujung.
Susunan seperti itu menaruh kesimpulan sesudah alasannya. Pembacanya sudah memeriksa buktinya sebelum pujiannya terdengar.
Perhatikan pula bahwa bagian ini ditutup pujian, dan bagian sebelumnya ditutup ancaman. Dua bagian berurutan berakhir dengan dua nada yang berlawanan.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa nada penutup bagiannya tidak seragam.
Yang seragam cuma refrein sesudahnya. Apa pun nada bagiannya, kalimat penutup surahnya selalu sama.
Tafsiran
Ayat ini menutup kelompok argumen penciptaan dengan penegasan kesempurnaan penentuan Allah. Ayat ini menutup bagian tentang penciptaan dengan satu-satunya pujian di seluruh surahnya. Kedua kata pokoknya sama-sama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 121 ayat, antara lain 2:236, 13:8, 54:49, dan 65:3.
Ayat ini memuat dua kata seakar, dan ayat sebelumnya memuat satu lagi, sehingga tiga kata seakar berdiri di dua ayat berurutan. Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu dengan satu kalimat pun.
Ayat ini menutup bagian yang dibuka di 77:20, dan bagian itu berjalan empat ayat. Susunannya berbeda dari bagian sebelumnya, karena bagian di 77:16 sampai 77:18 ditutup ancaman sedangkan bagian ini ditutup pujian.
Pujian itu tetap disusul refrein di 77:24 tanpa satu kata penghubung, sehingga yang baru saja dipuji kekuasaannya di ayat berikutnya disebut mengancam yang mendustakan.
Kata ketiganya menyatakan pujian dan merupakan satu-satunya kata pujian di seluruh surah ini, dan Al-Qur'an tidak menerangkan kekhususan itu. Pujian di ayat ini ditujukan kepada pembicaranya sendiri, dan cara seperti itu tidak lazim di antara manusia karena yang memuji dirinya sendiri biasanya kehilangan kepercayaan pendengarnya. Bedanya, pujian di sini datang sesudah bukti diberikan dan bukan sebelumnya, karena empat ayat menyebut bukti lebih dulu dan pujiannya menyusul di ujung. Bagian ini ditutup pujian sedangkan bagian sebelumnya ditutup ancaman, sehingga nada penutup bagiannya tidak seragam meskipun refrein sesudahnya selalu sama.
Renungan dan Hikmah
- Kedua kata pokok ayat ini sama-sama dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 121 ayat. Dua kata sekali pakai dari akar sesering itu berdiri berdampingan di satu ayat pendek. Akar yang terdengar di mana-mana muncul di sini dalam dua rupa yang tidak dipakai lagi. Akar yang terdengar di mana-mana muncul di sini dalam dua rupa yang tidak dipakai lagi. Dua kata sekali pakai berdiri berdampingan di dalam satu ayat yang cuma tiga patah panjangnya. Kepadatan sebesar itu tidak lazim di ayat sependek ini.
- Ayat ini memuat dua kata seakar, dan 77:22 memuat satu lagi, sehingga tiga kata seakar berdiri di dua ayat berurutan. Allah tidak menandai penumpukan itu. Satu bunyi dasar mengisi hampir seluruh dua ayat penutup bagian ini, dan pengulangan itu terdengar sebelum artinya dipikirkan. Satu bunyi dasar mengisi hampir seluruh dua ayat penutup bagian ini. Pengulangan itu terdengar sebelum artinya dipikirkan, dan telinga menangkapnya jauh lebih dulu daripada pikiran.
- Bagian di 77:16 sampai 77:18 ditutup Allah dengan ancaman, sedangkan bagian ini ditutup dengan pujian. Pujian itu tetap disusul refrein di 77:24 tanpa satu kata penghubung. Yang baru saja dipuji kekuasaannya, di ayat berikutnya disebut mengancam mereka yang mendustakan. Yang baru saja dipuji kekuasaannya, di ayat berikutnya disebut mengancam mereka yang mendustakan. Dua nada yang berlawanan berdiri bersebelahan tanpa satu kata penghubung pun di antaranya. Pembacanya berpindah dari kagum ke gentar dalam satu tarikan.
- Kata ketiganya menyatakan pujian, dan ia satu-satunya kata pujian di seluruh lima puluh ayat surah ini. Allah tidak menerangkan kekhususan itu. Sebuah pujian yang berdiri sendirian di tengah surah yang penuh peringatan menarik perhatian justru karena ia tidak punya teman. Sebuah pujian yang berdiri sendirian di tengah surah yang penuh peringatan menarik perhatian justru karena ia tidak punya teman. Satu kata di antara lima puluh ayat mudah terlewat, dan justru itulah yang membuatnya khas.
- Kata terakhirnya berbentuk jamak, sama seperti kata kerja sebelumnya, dan Allah memakai bentuk itu sejak 77:16 sampai ayat ini. Delapan ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama. Keseragaman sepanjang itu mengikat dua bagian yang isinya berbeda menjadi satu suara. Keseragaman sepanjang itu mengikat dua bagian yang isinya berbeda menjadi satu suara. Yang membinasakan dan yang mencipta terdengar sebagai satu pihak yang sama, bukan dua pihak berbeda.
- Allah menutup bukti penciptaan ini dengan menyebut diri-Nya sebaik-baik yang berkuasa menentukan. Kalau bukti kuasa itu diletakkan di dalam tubuh orang yang membacanya, bukti apa lagi yang masih perlu dicari di luar dirinya? Bukti kuasa itu diletakkan di dalam tubuh orang yang membacanya. Tidak ada perjalanan yang perlu ditempuh untuk memeriksanya, dan tidak ada satu alat pun yang perlu disiapkan. Buktinya sudah dibawa ke mana pun pembacanya pergi.