أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً

Apakah demikian juga apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةًa-idzaa kunnaa izhaaman nakhiratanapakah demikian juga apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur
Aplikasi

Perluasan keraguan dengan detail fisik: 'apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur, apakah kita (akan dibangkitkan juga)?', penambahan detail tentang kondisi fisik yang tampak mustahil untuk dipulihkan, memperkuat nada skeptis pertanyaan sebelumnya.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. ' Akar akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.