Ayat 79:17

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

“Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya dia telah melampaui batas.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰidzhab ilaa fir'awna innahu thaghaapergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. اذْهَبْidzhabpergilah
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. فِرْعَوْنَfir'awnaFiraun
  4. إِنَّهُinnahusesungguhnya dia
  5. طَغَىٰthaghaamelampaui batas

Inti bacaan

Misi yang jelas dengan diagnosis awal: 'pergilah kepada Firaun; sesungguhnya dia telah melampaui batas', pengutusan dengan pemahaman sudah ada tentang kondisi target dakwah, tidak naif tentang tantangan yang dihadapi.

Penjelasan pilihan kata

Kutip ganda (Allah kepada Musa) dibuka di sini, berisi kutip tunggal bersarang (Musa kepada Fir'aun) yang dibuka di 79:18: keduanya ditutup bersamaan di akhir 79:19, acuan sama dengan pola kutip berlapis Surah Nuh.

Rangkaian (اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ, idzhab ilaa Fir'auna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:24 dan 79:17. Ini kesejajaran ketiga antara surah 20 dan surah ini.

Perhatikan letak keduanya. Di surah 20 perintah itu datang di ayat kedua puluh empat, sesudah dua belas ayat percakapan. Di sini ia datang langsung sesudah panggilan disebut.

Jadi surah 20 memberi ruang panjang sebelum perintahnya, dan surah ini tidak memberi ruang sama sekali. Dua cara bertutur yang berbeda untuk satu perintah yang sama.

Kata (طَغَىٰ, thaghaa) berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, antara lain 20:24, 20:43, 53:17, 89:11, dan 96:6. Di 96:6 akar itu dipakai untuk manusia yang melampaui batas karena merasa cukup.

Akar (طَغَىٰ, thaghaa) juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:17 dan 79:37. Di 79:17 ia menamai sikap satu orang, dan di 79:37 ia menamai golongan pada hari kiamat.

Jadi akar (طَغَىٰ, thaghaa) mengikat orang yang ditegur di dalam kisah dan golongan yang dinilai pada hari itu. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun.

Perbandingan itu menerangkan mengapa kisahnya dipasang di sini. Yang diceritakan bukan riwayat masa lalu, melainkan contoh bagi golongan yang disebut di 79:37.

Kata (إِنَّهُ, innahu) memuat huruf penegas. Jadi alasan pengutusan itu dinyatakan dengan penegasan, bukan sebagai keterangan biasa.

Kata (اذْهَبْ, idzhab) berbentuk perintah, dan ini perintah pertama yang dikutip di surah ini. Sebelumnya tidak ada satu suruhan pun sejak 79:1.

Ayat ini juga tidak menyebut apa yang harus dikatakan. Isinya baru diberikan di 79:18, dan perintah pergi dipisahkan dari perintah berbicara.

Pemisahan itu membuat dua ayatnya berurutan rapat. Yang pertama menyebut ke mana, dan yang kedua menyebut apa.

Perhatikan bahwa alasan yang diberikan cuma (طَغَىٰ, thaghaa). Tidak ada rincian tentang apa yang dilakukan, dan Al-Qur'an tidak menambahkannya di ayat mana pun di surah ini.

Perhatikan pula bahwa yang dituju disebut namanya, sedangkan sepanjang empat belas ayat pertama tidak satu pun dinamai. Dua nama muncul berdekatan: yang diutus di 79:15 dan yang dituju di sini.

Susunan itu memasangkan keduanya. Sebuah pengutusan menuntut dua pihak, dan kisahnya menyebut keduanya dengan nama dalam tiga ayat.

Sesudah dua nama itu, surah ini tidak menyebut nama lain sampai ayat terakhir. Jadi seluruh nama di surah ini berkumpul di dalam satu kisah pendek.

Perhatikan pula bahwa alasan pengutusannya bukan kejahatan yang dirinci, melainkan satu sikap. Yang disebut bukan apa yang diperbuatnya kepada orang lain, melainkan bagaimana ia menempatkan dirinya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat perintah Allah kepada Musa untuk mendatangi Fir'aun yang telah melampaui batas. Ayat ini memuat perintah kepada Musa untuk mendatangi Firaun. Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:24 dan 79:17, sehingga ini kesejajaran ketiga antara surah 20 dan surah ini.

Di surah 20 perintah itu datang di ayat kedua puluh empat, sesudah dua belas ayat percakapan, sedangkan di sini ia datang langsung sesudah panggilan disebut. Jadi surah 20 memberi ruang panjang sebelum perintahnya, dan surah ini tidak memberi ruang sama sekali.

Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, antara lain 20:24, 20:43, 53:17, 89:11, dan 96:6. Akar itu juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:17 dan 79:37, sehingga ia mengikat orang yang ditegur di dalam kisah dan golongan yang dinilai pada hari kiamat.

Kata ketiganya memuat huruf penegas, sehingga alasan pengutusan itu dinyatakan dengan penegasan dan bukan sebagai keterangan biasa.

Kata pertamanya berbentuk perintah, dan ini perintah pertama yang dikutip di surah ini. Yang dituju disebut namanya, sedangkan sepanjang empat belas ayat pertama tidak satu pun dinamai. Dua nama muncul berdekatan, yaitu yang diutus di 79:15 dan yang dituju di sini, dan sesudah keduanya surah ini tidak menyebut nama lain. Alasan pengutusannya pun bukan kejahatan yang dirinci, melainkan satu sikap.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:24 dan 79:17. Ini kesejajaran ketiga antara surah 20 dan surah ini, sesudah 79:15 dan 79:16. Empat kalimat yang sama persis dipakai Allah di dua surah untuk satu kisah, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun di antaranya. Kesejajaran keempat dengan satu surah lain sulit dibaca sebagai kebetulan. Yang berulang empat kali biasanya memang dirancang berulang. Empat pengulangan sudah melewati batas yang bisa dijelaskan sebagai kebetulan.
  • Di surah 20 perintah itu datang di ayat kedua puluh empat, sesudah dua belas ayat percakapan, sedangkan di sini ia datang langsung sesudah panggilan disebut. Jadi Allah memberi ruang panjang di satu tempat dan tidak memberi ruang sama sekali di tempat lain. Dua cara bertutur untuk satu perintah yang sama, dan yang ringkas di sini menuntut pembacanya membawa sendiri rinciannya. Panjang dan pendek adalah dua cara menceritakan hal yang sama. Yang pendek menuntut pembacanya membawa sendiri rincian yang tidak diberikan. Yang ringkas menuntut lebih banyak dari pembacanya daripada yang panjang.
  • Akar kata terakhirnya muncul di dua ayat di surah ini: 79:17 dan 79:37. Di 79:17 ia menamai sikap satu orang di dalam kisah, dan di 79:37 golongan yang dinilai pada hari kiamat. Jadi Allah memakai satu akar untuk mengikat masa lalu dan hari yang akan datang, dan perbandingan itu menerangkan mengapa kisahnya dipasang di tengah surah tentang kiamat. Satu akar yang mengikat masa lalu dan hari kemudian menyatakan bahwa perkaranya belum selesai. Yang dulu ditegur masih ada bentuknya sekarang. Sikap yang dinamai satu akar tidak habis bersama orang yang pertama menyandangnya.
  • Kata ketiganya memuat huruf penegas, sehingga alasan pengutusan itu dinyatakan Allah dengan penegasan dan bukan sebagai keterangan biasa. Sebuah alasan yang ditegaskan menutup ruang bagi pertanyaan tentang perlunya. Yang diutus tidak diminta menimbang lebih dulu apakah tugas itu pantas dijalankan. Alasan yang ditegaskan menutup pertanyaan tentang perlunya sebelum pertanyaan itu sempat diajukan. Yang diutus tidak diminta menimbang lebih dulu. Menutup pertanyaan sebelum diajukan menghemat perdebatan yang tidak perlu.
  • Kata pertamanya berbentuk perintah, dan ini perintah pertama yang dikutip di surah ini. Sejak 79:1 tidak ada satu suruhan pun, dan enam belas ayat berjalan tanpa satu kata perintah. Allah menyimpan bentuk perintah pertamanya untuk perkataan yang diucapkan di dalam kisah, bukan untuk pembacanya. Menyimpan perintah pertama sampai ayat ketujuh belas adalah pilihan susunan, bukan kebetulan. Enam belas ayat berjalan tanpa satu suruhan pun. Menyimpan bentuk perintah sampai jauh ke tengah surah adalah pilihan yang disengaja.
  • Alasan yang diberikan cuma satu kata kerja. Allah tidak merinci apa yang dilakukan, dan tidak menambahkannya di ayat mana pun di surah ini. Apa yang dinyatakan sebuah pengutusan ketika alasannya cukup satu kata, sedangkan yang dituju adalah orang yang paling berkuasa di negerinya? Menyebut sikap dan bukan perbuatan memindahkan timbangan dari akibat ke pangkalnya. Yang dipersoalkan bukan apa yang terjadi, melainkan dari mana ia datang. Memeriksa pangkal lebih sulit daripada memeriksa akibat, dan lebih menentukan.

Ayat 79:18

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ

Lalu katakanlah, ‘Adakah keinginanmu untuk menyucitumbuhkan diri,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰfa-qul hal laka ilaa an tazakkaamaka katakanlah, adakah keinginanmu untuk menyucitumbuhkan diri

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَقُلْfa-qulmaka katakanlah
  2. هَلْhalapakah
  3. لَكَlakabagimu
  4. إِلَىٰilaakepada
  5. أَنْanuntuk
  6. تَزَكَّىٰtazakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Tawaran transformasi personal kepada penguasa: 'adakah keinginanmu untuk menyucitumbuhkan diri (dari kesesatan)', pendekatan yang menawarkan kesempatan perbaikan bahkan kepada figur paling zalim sekalipun, tidak ada yang dianggap terlalu jahat untuk ditawari jalan kembali.

Penjelasan pilihan kata

Kutip tunggal bersarang (Musa kepada Fir'aun) dibuka di sini, dikonfirmasi verba imperatif 'qul' (akar q-w-l) via morfologi. Tambahan kurung '(kepada Firaun)' dan '(dari kesesatan)' tidak dipakai. Yang tertulis (فَقُلْ, fa qul) di awal ayatnya.

Kata (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18. Akarnya dipakai di 56 ayat.

Di 87:14 dan 92:18 kata (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya. Di 20:76 ia dipakai untuk balasan bagi orang yang menyucikan diri.

Jadi di tiga tempat lain (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) berdiri di dalam janji. Di sini ia berdiri di dalam tawaran, dan tawarannya diajukan kepada orang yang melampaui batas.

Perbandingan itu patut dicatat. Yang di tempat lain dijanjikan kepada orang beriman di sini ditawarkan kepada orang yang paling menentang.

Kata (هَلْ, hal) adalah huruf tanya, sama seperti pembuka di 79:15. Dua kali di surah ini pertanyaan dipakai bukan untuk meminta keterangan.

Di 79:15 pertanyaannya menarik perhatian yang disapa. Di sini ia menawarkan sesuatu. Satu huruf yang sama dipakai untuk dua maksud yang berbeda.

Rangkaian (هَلْ لَكَ, hal laka) menyusun tawaran, bukan perintah. Jadi yang disampaikan bukan suruhan menyucikan diri, melainkan ajakan yang boleh ditolak.

Susunan itu ganjil kalau ditimbang dengan kedudukan keduanya. Yang diutus datang membawa perintah dari Tuhannya, dan yang diucapkannya justru sebuah tawaran.

Kata (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) berbentuk yang menyatakan perbuatan dari orangnya sendiri. Penyucian itu tidak diberikan pihak lain kepadanya; ia yang harus mengerjakannya.

Jadi tawarannya bukan menjanjikan sesuatu yang akan diberikan, melainkan membuka jalan yang harus ditempuh sendiri. Yang ditawarkan kesempatan, bukan hadiah.

Ayat ini membuka dua ayat isi perkataan, dan 79:19 melengkapinya. Dua ayat itu memuat seluruh yang harus disampaikan, dan tidak ada satu ancaman pun di dalamnya.

Ketiadaan ancaman itu patut dicatat. Yang dituju orang yang di 79:17 disebut melampaui batas, dan yang disampaikan kepadanya tawaran, bukan peringatan keras.

Perhatikan pula bahwa perkataan yang diperintahkan tidak dimulai dengan ancaman dan tidak dimulai dengan bukti. Ia dimulai dengan pertanyaan yang menawarkan, dan tawarannya diajukan tanpa satu syarat pun.

Urutan itu patut dicatat. Bukti baru datang di 79:20, sesudah tawarannya diajukan. Jadi yang didahulukan ajakan, dan yang menyusul pembuktian.

Susunan seperti itu memberi kesempatan sebelum memberi tekanan. Yang diajak sempat memilih sebelum ia dihadapkan pada sesuatu yang sulit ditolak.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu sebagai aturan. Yang bisa dibaca cuma bahwa di kisah ini ajakan mendahului bukti, dan bukan sebaliknya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat instruksi Allah tentang perkataan yang harus disampaikan Musa kepada Fir'aun. Ayat ini memuat isi perkataan yang harus disampaikan: tawaran untuk menyucikan diri. Kata terakhirnya muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18, dan akarnya dipakai di 56 ayat.

Di 87:14 dan 92:18 kata itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya, dan di 20:76 untuk balasan bagi orang yang menyucikan diri. Jadi di tiga tempat lain kata itu berdiri di dalam janji, sedangkan di sini ia berdiri di dalam tawaran yang diajukan kepada orang yang melampaui batas.

Kata pertamanya huruf tanya, sama seperti pembuka di 79:15, sehingga dua kali di surah ini pertanyaan dipakai bukan untuk meminta keterangan. Rangkaian dua kata pertamanya menyusun tawaran, bukan perintah, sehingga yang disampaikan ajakan yang boleh ditolak.

Kata terakhirnya berbentuk yang menyatakan perbuatan dari orangnya sendiri, sehingga penyucian itu harus dikerjakannya sendiri.

Ayat ini membuka dua ayat isi perkataan, dan tidak ada satu ancaman pun di dalam keduanya. Perkataan yang diperintahkan tidak dimulai dengan ancaman dan tidak dimulai dengan bukti, melainkan dengan pertanyaan yang menawarkan. Bukti baru datang di 79:20, sesudah tawarannya diajukan, sehingga yang didahulukan ajakan dan yang menyusul pembuktian.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18. Di 87:14 dan 92:18 Allah memakainya untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya, dan di 20:76 untuk balasan bagi orang yang menyucikan diri. Jadi yang di tempat lain dijanjikan kepada orang beriman di sini ditawarkan kepada orang yang paling menentang. Yang di tempat lain dijanjikan kepada orang beriman di sini ditawarkan kepada penentangnya. Tidak ada satu ayat pun yang menandai perpindahan itu. Perpindahan sasaran sebuah janji tidak pernah ditandai, dan cuma bisa dilihat dengan membandingkan.
  • Kata pertamanya huruf tanya, sama seperti pembuka di 79:15, sehingga dua kali di surah ini pertanyaan dipakai bukan untuk meminta keterangan. Di 79:15 pertanyaannya menarik perhatian yang disapa, dan di sini ia menawarkan sesuatu. Satu huruf yang sama dipakai Allah untuk dua maksud yang berbeda, tanpa satu penanda pun. Satu huruf tanya dipakai untuk dua maksud yang berbeda di satu surah. Yang menentukan bukan hurufnya, melainkan apa yang menyusulnya. Sebuah huruf tidak membawa maksud; yang membawanya susunan di sekelilingnya.
  • Rangkaian dua kata pertamanya menyusun tawaran, bukan perintah, sehingga yang disampaikan ajakan yang boleh ditolak. Susunan itu ganjil kalau ditimbang dengan kedudukan keduanya: yang diutus datang membawa perintah dari Allah, dan yang diucapkannya justru sebuah tawaran yang menyisakan pilihan bagi yang mendengarnya. Sebuah tawaran menyisakan pilihan, dan pilihan menyisakan tanggung jawab. Yang dipaksa tidak bisa dituntut sepenuhnya atas keputusannya. Tanggung jawab tumbuh dari pilihan, dan pilihan tumbuh dari tawaran yang boleh ditolak.
  • Kata terakhirnya berbentuk yang menyatakan perbuatan dari orangnya sendiri, sehingga penyucian itu tidak diberikan pihak lain kepadanya. Jadi tawarannya bukan menjanjikan sesuatu yang akan diberikan Allah begitu saja, melainkan membuka jalan yang harus ditempuh sendiri. Yang ditawarkan kesempatan, bukan hadiah yang tinggal diterima. Yang ditawarkan jalan, bukan hadiah, sehingga menerimanya berarti berjalan sendiri. Tidak ada yang bisa menempuhnya untuk orang lain. Jalan yang harus ditempuh sendiri tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun.
  • Ayat ini membuka dua ayat isi perkataan, dan tidak ada satu ancaman pun di dalam keduanya. Yang dituju orang yang di 79:17 disebut Allah melampaui batas, dan yang disampaikan kepadanya justru tawaran. Apa yang dinyatakan sebuah pengutusan ketika kepada orang yang paling menentang pun yang diucapkan lebih dulu adalah ajakan, bukan peringatan keras? Berbicara kepada penentang dengan ajakan lebih dulu adalah urutan yang jarang. Peringatan keras justru tidak muncul sama sekali di dua ayat ini. Peringatan keras yang tidak muncul justru menandai betapa terbukanya pintu yang ditawarkan.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 56 ayat, sehingga penyucian diri salah satu pokok yang berulang di seluruh Al-Qur'an. Yang berulang sebanyak itu tidak mungkin luput karena kurang disebut. Ketika ia ditawarkan kepada orang yang melampaui batas, yang ditawarkan bukan hal baru melainkan hal yang selalu tersedia. Sesuatu yang disebut di puluhan ayat tidak mungkin luput karena kurang disebut. Yang ditawarkan bukan hal baru, melainkan hal yang selalu tersedia. Sesuatu yang selalu tersedia tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk berkata belum tahu.

Ayat 79:19

وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ

Dan aku menunjukimu ke jalan Tuhanmu, agar engkau takut?’”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰwa-ahdiyaka ilaa rabbika fa-takhsyaadan aku menunjukimu ke jalan Tuhanmu, agar engkau takut

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَهْدِيَكَwa-ahdiyakadan aku menunjukkanmu
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. فَتَخْشَىٰfa-takhsyaamaka engkau takut

Inti bacaan

Kelengkapan tawaran dengan hasil yang jelas: 'dan aku menunjukimu ke jalan Tuhanmu, agar engkau takut (kepada-Nya)', tujuan akhir dari petunjuk adalah kesadaran yang produktif (rasa takut yang mendorong perubahan), bukan sekadar informasi tanpa dampak.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kepada-Nya)' tidak dipakai. Kutip tunggal (Musa ke Fir'aun) dan kutip ganda pembungkus (Allah ke Musa) sama-sama ditutup di akhir ayat ini.

Kata (وَأَهْدِيَكَ, wa ahdiyaka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 268 ayat, sehingga petunjuk salah satu pokok yang paling sering muncul.

Perbandingan itu patut dicatat. Akar (وَأَهْدِيَكَ, wa ahdiyaka) dipakai ratusan kali, dan di sini ia muncul dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuknya tunggal, dan akarnya termasuk yang paling sering.

Kata (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45.

Akar (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) muncul di dua ayat di surah ini: 79:19 dan 79:45. Di 79:19 ia menjadi tujuan yang diharapkan dari satu orang; di 79:45 ia menandai orang yang diberi peringatan.

Jadi akar (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) mengikat harapan atas satu orang di masa lalu dan tanda bagi siapa saja di masa kemudian. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu.

Kata (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) didahului huruf yang menyatakan akibat. Jadi takut itu dinyatakan sebagai hasil dari petunjuk, bukan sebagai syarat sebelumnya.

Urutan itu patut dicatat. Bukan takut dulu lalu diberi petunjuk, melainkan diberi petunjuk dulu lalu takut. Susunannya membalik urutan yang biasa dibayangkan orang.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal. Jadi yang disebut Tuhan orang yang diajak, bukan Tuhan yang mengutus.

Pilihan itu sejalan dengan susunan di 79:16, yang menyebut Tuhannya Musa. Dua kali di kisah ini Allah disebut lewat hubungan-Nya dengan orang yang bersangkutan.

Susunan seperti itu menutup satu jalan penolakan. Yang diajak tidak bisa berkata bahwa Tuhan itu milik orang lain, karena yang disebut Tuhannya sendiri.

Ayat ini menutup dua ayat isi perkataan. Seluruh yang harus disampaikan cuma dua ayat, dan keduanya berupa tawaran dan bimbingan.

Bandingkan dengan akibatnya di 79:21. Dua ayat tawaran dijawab satu ayat penolakan, dan penolakannya cuma dua kata.

Perhatikan pula bahwa dua ayat perkataan ini seluruhnya berupa kalimat orang pertama. Yang diutus berbicara sebagai dirinya sendiri, bukan mengutip perintah yang diterimanya.

Susunan itu membuat perkataannya terasa dekat. Ia tidak berkata bahwa Tuhannya menyuruh begini, melainkan menawarkan langsung dari mulutnya sendiri.

Cara seperti itu menghilangkan jarak antara pengutus dan yang dituju. Yang mendengar berhadapan dengan seorang manusia, bukan dengan pesan yang dibacakan.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintah di 79:17 berbentuk suruhan, dan pelaksanaannya di dua ayat ini berbentuk percakapan.

Tafsiran

Ayat ini menutup instruksi Allah dengan tujuan akhir dakwah: agar Fir'aun mengenal jalan Tuhan dan menjadi takut. Ayat ini melengkapi perkataan itu dengan bimbingan menuju Tuhannya. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 268 ayat, sehingga petunjuk salah satu pokok yang paling sering muncul.

Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 79:19 dan 79:45, sehingga ia mengikat harapan atas satu orang di masa lalu dan tanda bagi siapa saja di masa kemudian.

Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan akibat, sehingga takut dinyatakan sebagai hasil dari petunjuk dan bukan sebagai syarat sebelumnya. Susunannya membalik urutan yang biasa dibayangkan orang.

Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal, sehingga yang disebut Tuhan orang yang diajak dan bukan Tuhan yang mengutus. Pilihan itu sejalan dengan susunan di 79:16.

Ayat ini menutup dua ayat isi perkataan, dan seluruh yang harus disampaikan cuma dua ayat. Dua ayat perkataan ini seluruhnya berupa kalimat orang pertama, sehingga yang diutus berbicara sebagai dirinya sendiri dan bukan mengutip perintah yang diterimanya. Cara itu menghilangkan jarak, karena yang mendengar berhadapan dengan seorang manusia dan bukan dengan pesan yang dibacakan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 268 ayat. Jadi akar yang dipakai ratusan kali di sini muncul dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuk yang tunggal untuk akar yang sesering itu menandai bahwa susunan di ayat ini memang tidak ada bandingnya di tempat lain. Bentuk yang tunggal untuk akar yang paling sering dipakai menandai susunan yang tidak ada bandingnya. Kelangkaan itu tidak diberi satu penunjuk pun. Kelangkaan bentuk di tengah akar yang sering dipakai selalu patut diperiksa.
  • Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: di 79:19 sebagai harapan atas satu orang, dan di 79:45 sebagai tanda bagi siapa saja yang diberi peringatan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan di antara keduanya. Satu akar yang mengikat harapan atas satu orang dan tanda bagi semua orang menyambungkan dua ujung surahnya. Yang menyambungkan cuma bunyi katanya. Dua ujung surah yang disambungkan satu akar mengikat seluruh isinya jadi satu.
  • Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan akibat, sehingga takut dinyatakan Allah sebagai hasil dari petunjuk dan bukan sebagai syarat sebelumnya. Bukan takut dulu lalu diberi petunjuk, melainkan diberi petunjuk dulu lalu takut. Susunannya membalik urutan yang biasa dibayangkan orang, dan pembalikan itu dibawa cuma oleh satu huruf. Petunjuk yang mendahului rasa takut membalik urutan yang biasa dibayangkan. Yang takut lebih dulu belum tentu tahu apa yang ditakutinya. Takut tanpa petunjuk mudah salah arah, dan petunjuk tanpa takut mudah dilewati.
  • Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal, sehingga yang disebut Tuhan orang yang diajak dan bukan Tuhan yang mengutus. Pilihan itu sejalan dengan susunan di 79:16 yang menyebut Tuhannya Musa. Dua kali di kisah ini Allah disebut lewat hubungan-Nya dengan orang yang bersangkutan, dan susunan itu menutup satu jalan penolakan. Menyebut Tuhan sebagai milik yang diajak menutup jalan untuk berkata bahwa Dia urusan orang lain. Satu kata ganti mengunci seluruh penolakan itu. Kata ganti kepemilikan menutup jarak yang tidak bisa ditutup penjelasan panjang.
  • Ayat ini menutup dua ayat isi perkataan, dan seluruh yang harus disampaikan berupa tawaran dan bimbingan. Bandingkan dengan akibatnya di 79:21: dua ayat tawaran dijawab satu ayat penolakan, dan penolakannya cuma dua kata. Apa yang dinyatakan perbandingan itu, ketika ajakan yang disusun hati-hati dijawab sesingkat mungkin? Ajakan yang panjang dijawab dua kata memperlihatkan bahwa panjangnya usaha tidak menentukan hasilnya. Yang menentukan tetap keputusan yang mendengarnya. Usaha yang panjang dan hasil yang pendek adalah kenyataan yang harus diterima setiap penyampai.
  • Kata pertamanya menyatakan membimbing kepada jalan, bukan memaksa menempuhnya. Allah menyusun perkataan itu sebagai penunjukan arah, dan arah masih menyisakan langkah bagi yang ditunjuki. Dua ayat perkataan ini seluruhnya berupa tawaran dan bimbingan, dan tidak satu kata pun di dalamnya berupa paksaan. Membimbing masih menyisakan langkah bagi yang dibimbing, sedangkan memaksa tidak. Perbedaan itu terbawa di dalam pilihan katanya sendiri. Menyisakan langkah bagi orang lain adalah bentuk penghormatan yang jarang disebut.

Ayat 79:20

فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ

Lalu dia memperlihatkan kepadanya tanda yang besar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَىٰfa-araahu l-aayata l-kubraalalu dia memperlihatkan kepadanya tanda yang besar

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَأَرَاهُfa-araahulalu ia memperlihatkan kepadanya
  2. الْآيَةَl-aayatatanda
  3. الْكُبْرَىٰl-kubraayang terbesar

Inti bacaan

Bukti konkret yang diperlihatkan: 'lalu, dia memperlihatkan tanda yang besar kepadanya', penyediaan bukti nyata sebagai pendukung klaim, tidak hanya mengandalkan kata-kata tanpa demonstrasi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Musa)' tidak dipakai: subjek 'dia' tidak ditambahi nama eksplisit yang tidak ada dalam Arab pada posisi ini.

Kata (فَأَرَاهُ, fa araahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Rangkaian (الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ, al-aayata al-kubraa) juga muncul 1 kali.

Jadi (فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ, fa araahu al-aayata al-kubraa) tersusun dari tiga kata, dan dua di antaranya tidak pernah dipakai lagi dalam susunan yang sama. Sebuah peristiwa besar disebut dengan kalimat yang tidak punya banding.

Kata (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) berasal dari akar yang dipakai di 153 ayat, antara lain 2:143, 17:4, 40:12, 53:18, dan 87:12. Jadi akar itu sering dipakai untuk menyatakan besar.

Akar (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:20 dan 79:34. Di 79:20 ia menyifati tanda yang diperlihatkan, dan di 79:34 ia menyifati bencana yang datang.

Jadi akar (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) mengikat tanda terbesar yang pernah diperlihatkan di dunia dan bencana terbesar yang akan datang. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Perbandingan itu tajam. Yang satu diperlihatkan supaya orang percaya; yang lain datang ketika percaya tidak lagi berguna.

Kata (فَأَرَاهُ, fa araahu) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi tanda itu diperlihatkan segera sesudah perkataan disampaikan, tanpa jeda.

Rangkaian (الْآيَةَ الْكُبْرَىٰ, al-aayata al-kubraa) tidak menyebut apa tanda itu. Tidak ada satu keterangan pun tentang bentuknya, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di surah ini.

Ketiadaan keterangan itu berbeda dari surah 20, yang merinci beberapa tanda. Jadi kesejajaran antara dua surah berhenti di sini.

Perbedaan itu sejalan dengan cara surah ini bertutur. Yang diceritakan cuma kerangka: panggilan, perintah, perkataan, tanda, dan penolakan. Rinciannya tidak diberikan satu pun.

Kata (الْآيَةَ, al-aayata) memakai kata sandang dan disifati sebagai yang terbesar. Jadi yang disebut bukan satu di antara banyak tanda, melainkan yang paling besar di antara semuanya.

Susunan itu menaikkan bobot penolakan di 79:21. Yang ditolak bukan tanda biasa, melainkan yang disebut paling besar.

Perhatikan pula bahwa tanda itu disebut sesudah perkataan, bukan sebelumnya. Yang diajak sudah mendengar tawarannya ketika buktinya datang.

Urutan itu menutup satu jalan keluar. Ia tidak bisa berkata bahwa ia tidak tahu apa yang diminta, karena permintaannya sudah disampaikan lebih dulu.

Susunan seperti itu membuat penolakan di 79:21 berdiri tanpa alasan. Tidak ada keterangan yang kurang, dan tidak ada bukti yang tertahan.

Perhatikan pula bahwa yang diperlihatkan disebut sebagai yang terbesar, bukan sekadar besar. Perbandingannya tidak dengan tanda lain di kisah ini, karena tidak ada tanda lain yang disebut.

Tafsiran

Ayat ini mencatat bahwa Musa menunjukkan mukjizat besar kepada Fir'aun. Ayat ini menyebut tanda terbesar yang diperlihatkan kepada Firaun. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata sesudahnya juga muncul 1 kali.

Jadi seluruh ayat ini tersusun dari tiga kata, dan dua di antaranya tidak pernah dipakai lagi dalam susunan yang sama. Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 153 ayat, antara lain 2:143, 17:4, 40:12, 53:18, dan 87:12.

Akar itu juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:20 dan 79:34. Di 79:20 ia menyifati tanda yang diperlihatkan, dan di 79:34 bencana yang datang, sehingga satu akar mengikat tanda terbesar di dunia dan bencana terbesar yang akan datang.

Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga tanda itu diperlihatkan segera sesudah perkataan disampaikan.

Ayat ini tidak menyebut apa tanda itu, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di surah ini. Ketiadaan keterangan itu berbeda dari surah 20, yang merinci beberapa tanda. Yang diperlihatkan disebut sebagai yang terbesar, bukan sekadar besar, dan tidak ada tanda lain yang disebut di kisah ini. Tanda itu disebut sesudah perkataan, bukan sebelumnya, sehingga yang diajak sudah mendengar tawarannya ketika buktinya datang. Urutan itu menutup satu jalan keluar, karena ia tidak bisa berkata bahwa ia tidak tahu apa yang diminta.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian dua kata sesudahnya juga muncul 1 kali. Jadi seluruh ayat ini tersusun dari tiga kata, dan dua di antaranya tidak pernah dipakai lagi dalam susunan yang sama. Sebuah peristiwa besar disebut Allah dengan kalimat yang tidak punya banding di seluruh kitab. Sebuah ayat tiga kata yang dua di antaranya tanpa banding menandai peristiwa yang juga tanpa banding. Bentuk dan isinya berjalan seiring. Bentuk yang tanpa banding dipilih untuk peristiwa yang juga tanpa banding.
  • Akar kata terakhirnya muncul di dua ayat di surah ini: 79:20 dan 79:34. Di 79:20 ia menyifati tanda yang diperlihatkan Allah, dan di 79:34 bencana yang datang. Jadi satu akar mengikat tanda terbesar yang pernah diperlihatkan di dunia dan bencana terbesar yang akan datang. Yang satu diperlihatkan supaya orang percaya, dan yang lain datang ketika percaya tidak lagi berguna. Menamai dua hal terbesar dengan satu akar menaruh keduanya di dalam satu timbangan. Yang satu masih bisa ditanggapi, dan yang lain tidak. Dua hal terbesar yang dinamai satu akar berbeda cuma pada apakah masih ada waktu.
  • Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga tanda itu diperlihatkan Allah segera sesudah perkataan disampaikan. Tidak ada jeda untuk menimbang di antara keduanya. Sebuah tawaran yang langsung disusul buktinya tidak menyisakan alasan bagi yang menerimanya untuk menunda. Bukti yang datang tanpa jeda tidak memberi ruang untuk menyiapkan alasan. Kecepatan itu bagian dari cara buktinya bekerja. Ruang untuk menyiapkan alasan hilang ketika bukti datang tanpa jeda.
  • Ayat ini tidak menyebut apa tanda itu, dan Allah tidak melengkapinya di surah ini. Ketiadaan keterangan itu berbeda dari surah 20, yang merinci beberapa tanda, sehingga kesejajaran antara dua surah berhenti tepat di sini. Sesudah tiga kalimat yang sama persis, keduanya berpisah pada ayat yang paling menentukan. Dua surah yang sejajar di tiga tempat berpisah tepat di ayat yang paling menentukan. Perpisahan itu tidak diberi satu penanda pun. Dua surah yang sejajar lalu berpisah menandai bahwa masing-masing punya maksudnya sendiri.
  • Yang diceritakan Allah di surah ini cuma kerangka: panggilan, perintah, perkataan, tanda, dan penolakan. Rinciannya tidak diberikan satu pun. Sebuah kisah yang tinggal kerangkanya lebih cepat dibaca, dan lebih mudah dipakai sebagai perbandingan bagi keadaan lain. Kerangka tanpa rincian lebih mudah dipindahkan ke keadaan lain. Yang tidak terikat pada rincian tidak terikat pada satu zaman. Kisah yang tinggal kerangkanya bisa dipakai di zaman mana pun tanpa berubah.
  • Kata keduanya memakai kata sandang dan disifati Allah sebagai yang terbesar, sehingga yang disebut bukan satu di antara banyak tanda melainkan yang paling besar di antara semuanya. Susunan itu menaikkan bobot penolakan di 79:21. Apa yang tersisa bagi seseorang yang menolak bukti terbesar, ketika bukti yang lebih kecil bahkan tidak sempat diajukan? Menolak bukti terbesar menutup seluruh kemungkinan bukti yang lebih kecil. Tidak ada lagi yang bisa diajukan sesudahnya. Pintu yang tertutup dari dalam tidak bisa dibuka dari luar oleh bukti apa pun.

Ayat 79:21

فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ

Namun dia mendustakan dan mendurhaka,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَكَذَّبَ وَعَصَىٰfa-kadzdzaba wa-'ashaanamun dia mendustakan dan mendurhaka

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَكَذَّبَfa-kadzdzabalalu ia mendustakan
  2. وَعَصَىٰwa-'ashaadan ia mendurhakai

Inti bacaan

Respons penolakan meski bukti telah diberikan: 'namun dia mendustakan dan mendurhaka', penegasan bahwa penolakan terjadi bukan karena kurangnya bukti, melainkan keputusan sadar untuk menolak apa yang telah jelas ditunjukkan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (وَعَصَىٰ, wa 'ashaa) sendiri muncul 2 kali: 20:121 dan 79:21.

Di 20:121 kata (وَعَصَىٰ, wa 'ashaa) dipakai untuk Adam yang melanggar perintah Tuhannya. Jadi satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa.

Perbandingan itu patut dicatat. Yang satu melanggar lalu bertobat; yang lain menolak lalu makin jauh. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (فَكَذَّبَ, fa kadzdzaba) berasal dari akar yang dipakai di 257 ayat, sehingga mendustakan salah satu pokok yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an.

Kata (وَعَصَىٰ, wa 'ashaa) berasal dari akar yang dipakai di 32 ayat, antara lain 4:14, 11:59, 20:93, 26:216, dan 69:10. Jadi akar itu jauh lebih jarang daripada yang mendahuluinya.

Rangkaian (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) menyebut dua hal yang berbeda. Yang pertama menolak dengan lidah, yang kedua menolak dengan perbuatan. Satu ayat memuat dua bentuk penolakan.

Urutannya juga patut dicatat. Yang disebut lebih dulu mendustakan, lalu mendurhakai. Penolakan hati datang sebelum penolakan tangan.

Rangkaian (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) cuma dua kata, dan itu berhadapan dengan dua ayat tawaran di 79:18 dan 79:19. Ajakan yang disusun hati-hati dijawab sesingkat mungkin.

Perbandingan panjang itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya jauh lebih pendek daripada ajakannya.

Kata (فَكَذَّبَ, fa kadzdzaba) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi penolakan itu datang segera sesudah tanda diperlihatkan, tanpa jeda untuk menimbang.

Tiga ayat berturut-turut, yaitu 79:20 sampai 79:22, sama-sama dibuka huruf yang menyatakan urutan. Rangkaiannya berjalan cepat tanpa satu jeda pun.

Kecepatan itu sejalan dengan isinya. Tanda diperlihatkan, ditolak, lalu ditinggalkan, dan tidak ada satu ruang pun di antara ketiganya.

Perhatikan pula bahwa (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) tidak disertai satu ucapan pun dari yang menolak. Di 79:24 baru ada ucapannya, dan itu pun sesudah dua ayat perbuatan.

Susunan itu menaruh perbuatan sebelum ucapan. Yang lebih dulu disebut apa yang dikerjakannya, dan yang menyusul apa yang dikatakannya.

Urutan itu kebalikan dari bagian pertama surahnya. Di 79:10 sampai 79:12 ucapan disebut lebih dulu, dan perbuatan tidak disebut sama sekali.

Dua bagian yang memakai urutan berlawanan tidak dihubungkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya melukiskan penolakan dengan cara yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini mencatat penolakan Fir'aun terhadap tanda yang diperlihatkan. Ayat ini menyebut tanggapan Firaun: mendustakan dan mendurhakai. Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata keduanya sendiri muncul 2 kali: 20:121 dan 79:21.

Di 20:121 kata itu dipakai untuk Adam yang melanggar perintah Tuhannya, sehingga satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa. Yang satu melanggar lalu bertobat, dan yang lain menolak lalu makin jauh.

Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 257 ayat, sedangkan kata keduanya dari akar yang dipakai di 32 ayat, antara lain 4:14, 11:59, 20:93, 26:216, dan 69:10.

Dua kata di ayat ini menyebut dua hal yang berbeda: yang pertama menolak dengan lidah, dan yang kedua menolak dengan perbuatan. Urutannya menaruh penolakan hati sebelum penolakan tangan.

Ayat ini cuma dua kata, berhadapan dengan dua ayat tawaran di 79:18 dan 79:19. Susunan ayat ini menaruh perbuatan sebelum ucapan, dan yang lebih dulu disebut apa yang dikerjakannya. Penolakan ini tidak disertai satu kata pun dari yang menolak, dan ucapannya baru muncul di 79:24 sesudah dua ayat perbuatan. Urutan itu kebalikan dari bagian pertama surahnya, tempat ucapan disebut lebih dulu di 79:10 sampai 79:12 dan perbuatan tidak disebut sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:121 dan 79:21. Di 20:121 Allah memakainya untuk Adam yang melanggar perintah Tuhannya. Jadi satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa. Yang satu melanggar lalu bertobat, dan yang lain menolak lalu makin jauh, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Satu kata yang memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa menyamakan bentuk perbuatannya. Yang berbeda cuma apa yang terjadi sesudahnya. Tobat dan kekerasan hati bermula dari satu titik yang sama, lalu berpisah arah.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 257 ayat, sedangkan kata keduanya dari akar yang dipakai di 32 ayat, antara lain 4:14, 11:59, 20:93, 26:216, dan 69:10. Jadi satu ayat pendek memasangkan akar yang paling sering dipakai dengan akar yang jauh lebih jarang, dan pasangan itu tidak diterangkan di mana pun. Memasangkan akar yang paling sering dengan akar yang jarang di satu ayat pendek adalah pilihan yang tidak diterangkan. Pasangannya sendiri yang harus dibaca. Pasangan yang tak lazim di satu ayat pendek menuntut pembacanya berhenti sejenak.
  • Dua kata di ayat ini menyebut dua hal yang berbeda: yang pertama menolak dengan lidah, dan yang kedua menolak dengan perbuatan. Satu ayat memuat dua bentuk penolakan, dan Allah menaruh penolakan hati sebelum penolakan tangan. Urutan itu memperlihatkan bahwa yang terlihat selalu didahului yang tidak terlihat. Penolakan hati dan penolakan tangan disebut berurutan, dan urutannya tidak bisa dibalik. Yang terlihat selalu berakar pada yang tidak terlihat. Apa yang tampak di luar tidak pernah muncul tanpa akar di dalam.
  • Ayat ini cuma dua kata, berhadapan dengan dua ayat tawaran di 79:18 dan 79:19. Ajakan yang disusun Allah dengan hati-hati dijawab sesingkat mungkin, dan perbandingan panjang itu tidak ditandai satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya jauh lebih pendek daripada ajakannya. Ajakan dua ayat dijawab dua kata, dan ketidaksebandingan itu sendiri sudah menjadi keterangan. Yang menolak tidak merasa perlu menjelaskan. Kesunyian sesudah penolakan lebih berat daripada bantahan yang panjang.
  • Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga penolakan itu datang segera sesudah tanda diperlihatkan Allah. Tidak ada jeda untuk menimbang di antara keduanya. Sebuah penolakan yang datang tanpa jeda menunjukkan bahwa keputusannya sudah diambil sebelum buktinya sampai. Keputusan yang diambil sebelum buktinya sampai tidak bisa diubah oleh bukti apa pun. Bukti cuma berguna bagi yang belum memutuskan. Pintu yang sudah dikunci dari dalam membuat kedatangan tamu jadi tidak berarti.
  • Tiga ayat berturut-turut, yaitu 79:20 sampai 79:22, sama-sama dibuka huruf yang menyatakan urutan, sehingga rangkaiannya berjalan cepat tanpa satu jeda pun. Kecepatan itu sejalan dengan isinya: tanda diperlihatkan, ditolak, lalu ditinggalkan. Apa yang dinyatakan Allah dengan menyusun tiga peristiwa sebesar itu tanpa satu ruang pun di antaranya? Tiga peristiwa besar disusun tanpa satu ruang pun di antaranya, dan kecepatan itu meniru kejadiannya. Bentuk susunannya ikut menceritakan isinya. Susunan yang cepat meniru kejadian yang cepat, dan bentuknya ikut bercerita.

Ayat 79:22

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ

Kemudian dia berpaling seraya berusaha,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰtsumma adbara yas'aakemudian dia berpaling seraya berusaha

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. أَدْبَرَadbaraia berpaling
  3. يَسْعَىٰyas'aabersegera

Inti bacaan

Eskalasi penolakan menjadi perlawanan aktif: 'kemudian dia berpaling seraya berusaha (menentang)', peningkatan dari sekadar penolakan pasif menjadi upaya aktif melawan kebenaran yang telah diperlihatkan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(menentang)' tidak dipakai.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Akarnya dipakai di 44 ayat.

Di 74:23 kata (أَدْبَرَ, adbara) dipakai untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu. Di 70:17 ia dipakai untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling.

Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran. Yang keempat, di 74:33, dipakai untuk malam yang berlalu, dan itu satu-satunya yang bukan tentang manusia.

Kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Akarnya dipakai di 28 ayat.

Di 28:20 dan 36:20 kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) dipakai untuk orang yang datang bergegas dari ujung kota untuk memberi peringatan. Di 80:8 ia dipakai untuk orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran.

Bandingkan dengan ayat ini. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, bukan mendekat. Satu kata memuat bergegas menuju dan bergegas meninggalkan.

Perbandingan itu makin tajam karena 80:8 berada di surah tepat sesudah ini. Dua surah bersebelahan memakai satu kata untuk dua arah yang berlawanan.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) dan (يَسْعَىٰ, yas'aa) berdiri berdampingan tanpa kata penghubung. Susunan seperti itu menyatakan keduanya berlangsung bersama, bukan berurutan.

Jadi yang dilukiskan bukan berpaling lalu bergegas, melainkan berpaling sambil bergegas. Kecepatan itu bagian dari cara ia meninggalkan.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menyatakan urutan yang berjarak. Jadi antara penolakan di 79:21 dan kepergian di sini ada selang yang tidak disebut lamanya.

Selang itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini. Ayat sebelum dan sesudahnya seluruhnya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat.

Jadi kisahnya berjalan cepat, kecuali satu titik di sini. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa jeda itu ditaruh tepat di antara penolakan dan kepergian.

Perhatikan pula bahwa kisah ini tidak menyebut ke mana ia pergi, dan tidak pula menyebut berapa lama ia berjalan. Yang disebut cuma bahwa ia berpaling dan bergegas, dan tujuannya dibiarkan kosong sampai akhir surahnya.

Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya, yang menyebut ia mengumpulkan tanpa menyebut siapa. Dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa sasaran.

Susunan seperti itu mempercepat kisahnya. Yang disebut cuma yang bergerak, dan sekelilingnya dibiarkan tidak diisi.

Kecepatan itu sejalan dengan isi yang dilukiskan. Sebuah kepergian yang tergesa memang tidak menyisakan waktu untuk memandang sekeliling.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran penolakan Fir'aun yang aktif berusaha melawan. Ayat ini melukiskan Firaun yang berpaling sambil bergegas. Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22, dan akarnya dipakai di 44 ayat.

Di 74:23 kata itu dipakai untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu, dan di 70:17 untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran.

Kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di 28:20 dan 36:20 kata itu dipakai untuk orang yang datang bergegas memberi peringatan, dan di 80:8 untuk orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, dan 80:8 berada di surah tepat sesudah ini.

Dua kata terakhirnya berdiri berdampingan tanpa kata penghubung, sehingga keduanya berlangsung bersama dan bukan berurutan.

Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, dan itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini. Kisah ini tidak menyebut ke mana ia pergi: yang disebut cuma bahwa ia berpaling dan bergegas, dan tujuannya dibiarkan kosong. Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya yang menyebut ia mengumpulkan tanpa menyebut siapa, sehingga dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa sasaran.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Di 74:23 Allah memakainya untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu, dan di 70:17 untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran, dan yang keempat dipakai untuk malam yang berlalu. Sebuah kata yang tiga perempat pemakaiannya menyangkut satu hal sudah membawa muatannya sendiri. Yang keempat justru menerangkan artinya yang paling dasar.
  • Kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di 28:20 dan 36:20 Allah memakainya untuk orang yang datang bergegas memberi peringatan, dan di 80:8 untuk orang buta yang bergegas mencari kebenaran. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, sehingga satu kata memuat bergegas menuju dan bergegas meninggalkan. Arah menentukan nilai sebuah gerak, dan kecepatan tidak pernah menentukan apa-apa. Yang cepat ke arah yang salah cuma sampai lebih awal.
  • Pemakaian di 80:8 berada di surah tepat sesudah ini, dan di sana kata yang sama menamai orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran. Dua surah bersebelahan memakai satu kata untuk dua arah yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menandai hubungan itu dengan satu kalimat pun. Pembaca yang membaca berurutan bisa melewatinya tanpa sadar. Dua surah bertetangga yang memakai satu kata untuk dua arah berlawanan menuntut dibaca berdampingan. Urutan mushaf sendiri yang menaruh keduanya berdekatan.
  • Dua kata terakhirnya berdiri berdampingan tanpa kata penghubung, dan susunan seperti itu menyatakan keduanya berlangsung bersama. Jadi yang dilukiskan Allah bukan berpaling lalu bergegas, melainkan berpaling sambil bergegas. Kecepatan itu bagian dari cara ia meninggalkan, dan bukan tahap yang menyusul sesudahnya. Dua kata kerja tanpa penghubung menyatakan satu perbuatan, bukan dua tahap. Perbedaan itu terbawa cuma di dalam ketiadaan satu huruf.
  • Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, sehingga antara penolakan di 79:21 dan kepergian di sini ada selang yang tidak disebut lamanya. Selang itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini, karena ayat sebelum dan sesudahnya seluruhnya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat. Allah tidak menerangkan mengapa jeda itu ditaruh tepat di titik ini. Jeda yang ditaruh di satu titik saja menandai bahwa titik itu memang berbeda dari yang lain. Yang berbeda selalu patut ditanyakan sebabnya.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 28 ayat, dan di beberapa tempat ia menandai kesungguhan yang terpuji. Di sini kesungguhan yang sama dipakai untuk menjauh dari yang baru saja ditawarkan. Apa yang dinyatakan sebuah gambaran ketika tenaga yang dipakai untuk lari sama besarnya dengan tenaga yang dipakai orang lain untuk datang? Tenaga yang sama besarnya bisa dipakai untuk dua arah yang berlawanan. Yang membedakan bukan besarnya, melainkan ke mana ia diarahkan.