Ayat 79:21

فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ

Namun dia mendustakan dan mendurhaka,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَكَذَّبَ وَعَصَىٰfa-kadzdzaba wa-'ashaanamun dia mendustakan dan mendurhaka

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَكَذَّبَfa-kadzdzabalalu ia mendustakan
  2. وَعَصَىٰwa-'ashaadan ia mendurhakai

Inti bacaan

Respons penolakan meski bukti telah diberikan: 'namun dia mendustakan dan mendurhaka', penegasan bahwa penolakan terjadi bukan karena kurangnya bukti, melainkan keputusan sadar untuk menolak apa yang telah jelas ditunjukkan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (وَعَصَىٰ, wa 'ashaa) sendiri muncul 2 kali: 20:121 dan 79:21.

Di 20:121 kata (وَعَصَىٰ, wa 'ashaa) dipakai untuk Adam yang melanggar perintah Tuhannya. Jadi satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa.

Perbandingan itu patut dicatat. Yang satu melanggar lalu bertobat; yang lain menolak lalu makin jauh. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (فَكَذَّبَ, fa kadzdzaba) berasal dari akar yang dipakai di 257 ayat, sehingga mendustakan salah satu pokok yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an.

Kata (وَعَصَىٰ, wa 'ashaa) berasal dari akar yang dipakai di 32 ayat, antara lain 4:14, 11:59, 20:93, 26:216, dan 69:10. Jadi akar itu jauh lebih jarang daripada yang mendahuluinya.

Rangkaian (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) menyebut dua hal yang berbeda. Yang pertama menolak dengan lidah, yang kedua menolak dengan perbuatan. Satu ayat memuat dua bentuk penolakan.

Urutannya juga patut dicatat. Yang disebut lebih dulu mendustakan, lalu mendurhakai. Penolakan hati datang sebelum penolakan tangan.

Rangkaian (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) cuma dua kata, dan itu berhadapan dengan dua ayat tawaran di 79:18 dan 79:19. Ajakan yang disusun hati-hati dijawab sesingkat mungkin.

Perbandingan panjang itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya jauh lebih pendek daripada ajakannya.

Kata (فَكَذَّبَ, fa kadzdzaba) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi penolakan itu datang segera sesudah tanda diperlihatkan, tanpa jeda untuk menimbang.

Tiga ayat berturut-turut, yaitu 79:20 sampai 79:22, sama-sama dibuka huruf yang menyatakan urutan. Rangkaiannya berjalan cepat tanpa satu jeda pun.

Kecepatan itu sejalan dengan isinya. Tanda diperlihatkan, ditolak, lalu ditinggalkan, dan tidak ada satu ruang pun di antara ketiganya.

Perhatikan pula bahwa (فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ, fa kadzdzaba wa 'ashaa) tidak disertai satu ucapan pun dari yang menolak. Di 79:24 baru ada ucapannya, dan itu pun sesudah dua ayat perbuatan.

Susunan itu menaruh perbuatan sebelum ucapan. Yang lebih dulu disebut apa yang dikerjakannya, dan yang menyusul apa yang dikatakannya.

Urutan itu kebalikan dari bagian pertama surahnya. Di 79:10 sampai 79:12 ucapan disebut lebih dulu, dan perbuatan tidak disebut sama sekali.

Dua bagian yang memakai urutan berlawanan tidak dihubungkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya melukiskan penolakan dengan cara yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini mencatat penolakan Fir'aun terhadap tanda yang diperlihatkan. Ayat ini menyebut tanggapan Firaun: mendustakan dan mendurhakai. Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata keduanya sendiri muncul 2 kali: 20:121 dan 79:21.

Di 20:121 kata itu dipakai untuk Adam yang melanggar perintah Tuhannya, sehingga satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa. Yang satu melanggar lalu bertobat, dan yang lain menolak lalu makin jauh.

Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 257 ayat, sedangkan kata keduanya dari akar yang dipakai di 32 ayat, antara lain 4:14, 11:59, 20:93, 26:216, dan 69:10.

Dua kata di ayat ini menyebut dua hal yang berbeda: yang pertama menolak dengan lidah, dan yang kedua menolak dengan perbuatan. Urutannya menaruh penolakan hati sebelum penolakan tangan.

Ayat ini cuma dua kata, berhadapan dengan dua ayat tawaran di 79:18 dan 79:19. Susunan ayat ini menaruh perbuatan sebelum ucapan, dan yang lebih dulu disebut apa yang dikerjakannya. Penolakan ini tidak disertai satu kata pun dari yang menolak, dan ucapannya baru muncul di 79:24 sesudah dua ayat perbuatan. Urutan itu kebalikan dari bagian pertama surahnya, tempat ucapan disebut lebih dulu di 79:10 sampai 79:12 dan perbuatan tidak disebut sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 20:121 dan 79:21. Di 20:121 Allah memakainya untuk Adam yang melanggar perintah Tuhannya. Jadi satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa. Yang satu melanggar lalu bertobat, dan yang lain menolak lalu makin jauh, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Satu kata yang memuat pelanggaran manusia pertama dan penolakan seorang penguasa menyamakan bentuk perbuatannya. Yang berbeda cuma apa yang terjadi sesudahnya. Tobat dan kekerasan hati bermula dari satu titik yang sama, lalu berpisah arah.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 257 ayat, sedangkan kata keduanya dari akar yang dipakai di 32 ayat, antara lain 4:14, 11:59, 20:93, 26:216, dan 69:10. Jadi satu ayat pendek memasangkan akar yang paling sering dipakai dengan akar yang jauh lebih jarang, dan pasangan itu tidak diterangkan di mana pun. Memasangkan akar yang paling sering dengan akar yang jarang di satu ayat pendek adalah pilihan yang tidak diterangkan. Pasangannya sendiri yang harus dibaca. Pasangan yang tak lazim di satu ayat pendek menuntut pembacanya berhenti sejenak.
  • Dua kata di ayat ini menyebut dua hal yang berbeda: yang pertama menolak dengan lidah, dan yang kedua menolak dengan perbuatan. Satu ayat memuat dua bentuk penolakan, dan Allah menaruh penolakan hati sebelum penolakan tangan. Urutan itu memperlihatkan bahwa yang terlihat selalu didahului yang tidak terlihat. Penolakan hati dan penolakan tangan disebut berurutan, dan urutannya tidak bisa dibalik. Yang terlihat selalu berakar pada yang tidak terlihat. Apa yang tampak di luar tidak pernah muncul tanpa akar di dalam.
  • Ayat ini cuma dua kata, berhadapan dengan dua ayat tawaran di 79:18 dan 79:19. Ajakan yang disusun Allah dengan hati-hati dijawab sesingkat mungkin, dan perbandingan panjang itu tidak ditandai satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya jauh lebih pendek daripada ajakannya. Ajakan dua ayat dijawab dua kata, dan ketidaksebandingan itu sendiri sudah menjadi keterangan. Yang menolak tidak merasa perlu menjelaskan. Kesunyian sesudah penolakan lebih berat daripada bantahan yang panjang.
  • Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga penolakan itu datang segera sesudah tanda diperlihatkan Allah. Tidak ada jeda untuk menimbang di antara keduanya. Sebuah penolakan yang datang tanpa jeda menunjukkan bahwa keputusannya sudah diambil sebelum buktinya sampai. Keputusan yang diambil sebelum buktinya sampai tidak bisa diubah oleh bukti apa pun. Bukti cuma berguna bagi yang belum memutuskan. Pintu yang sudah dikunci dari dalam membuat kedatangan tamu jadi tidak berarti.
  • Tiga ayat berturut-turut, yaitu 79:20 sampai 79:22, sama-sama dibuka huruf yang menyatakan urutan, sehingga rangkaiannya berjalan cepat tanpa satu jeda pun. Kecepatan itu sejalan dengan isinya: tanda diperlihatkan, ditolak, lalu ditinggalkan. Apa yang dinyatakan Allah dengan menyusun tiga peristiwa sebesar itu tanpa satu ruang pun di antaranya? Tiga peristiwa besar disusun tanpa satu ruang pun di antaranya, dan kecepatan itu meniru kejadiannya. Bentuk susunannya ikut menceritakan isinya. Susunan yang cepat meniru kejadian yang cepat, dan bentuknya ikut bercerita.

Ayat 79:22

ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ

Kemudian dia berpaling seraya berusaha,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰtsumma adbara yas'aakemudian dia berpaling seraya berusaha

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. أَدْبَرَadbaraia berpaling
  3. يَسْعَىٰyas'aabersegera

Inti bacaan

Eskalasi penolakan menjadi perlawanan aktif: 'kemudian dia berpaling seraya berusaha (menentang)', peningkatan dari sekadar penolakan pasif menjadi upaya aktif melawan kebenaran yang telah diperlihatkan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(menentang)' tidak dipakai.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Akarnya dipakai di 44 ayat.

Di 74:23 kata (أَدْبَرَ, adbara) dipakai untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu. Di 70:17 ia dipakai untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling.

Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran. Yang keempat, di 74:33, dipakai untuk malam yang berlalu, dan itu satu-satunya yang bukan tentang manusia.

Kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Akarnya dipakai di 28 ayat.

Di 28:20 dan 36:20 kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) dipakai untuk orang yang datang bergegas dari ujung kota untuk memberi peringatan. Di 80:8 ia dipakai untuk orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran.

Bandingkan dengan ayat ini. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, bukan mendekat. Satu kata memuat bergegas menuju dan bergegas meninggalkan.

Perbandingan itu makin tajam karena 80:8 berada di surah tepat sesudah ini. Dua surah bersebelahan memakai satu kata untuk dua arah yang berlawanan.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) dan (يَسْعَىٰ, yas'aa) berdiri berdampingan tanpa kata penghubung. Susunan seperti itu menyatakan keduanya berlangsung bersama, bukan berurutan.

Jadi yang dilukiskan bukan berpaling lalu bergegas, melainkan berpaling sambil bergegas. Kecepatan itu bagian dari cara ia meninggalkan.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menyatakan urutan yang berjarak. Jadi antara penolakan di 79:21 dan kepergian di sini ada selang yang tidak disebut lamanya.

Selang itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini. Ayat sebelum dan sesudahnya seluruhnya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat.

Jadi kisahnya berjalan cepat, kecuali satu titik di sini. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa jeda itu ditaruh tepat di antara penolakan dan kepergian.

Perhatikan pula bahwa kisah ini tidak menyebut ke mana ia pergi, dan tidak pula menyebut berapa lama ia berjalan. Yang disebut cuma bahwa ia berpaling dan bergegas, dan tujuannya dibiarkan kosong sampai akhir surahnya.

Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya, yang menyebut ia mengumpulkan tanpa menyebut siapa. Dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa sasaran.

Susunan seperti itu mempercepat kisahnya. Yang disebut cuma yang bergerak, dan sekelilingnya dibiarkan tidak diisi.

Kecepatan itu sejalan dengan isi yang dilukiskan. Sebuah kepergian yang tergesa memang tidak menyisakan waktu untuk memandang sekeliling.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran penolakan Fir'aun yang aktif berusaha melawan. Ayat ini melukiskan Firaun yang berpaling sambil bergegas. Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22, dan akarnya dipakai di 44 ayat.

Di 74:23 kata itu dipakai untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu, dan di 70:17 untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran.

Kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di 28:20 dan 36:20 kata itu dipakai untuk orang yang datang bergegas memberi peringatan, dan di 80:8 untuk orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, dan 80:8 berada di surah tepat sesudah ini.

Dua kata terakhirnya berdiri berdampingan tanpa kata penghubung, sehingga keduanya berlangsung bersama dan bukan berurutan.

Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, dan itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini. Kisah ini tidak menyebut ke mana ia pergi: yang disebut cuma bahwa ia berpaling dan bergegas, dan tujuannya dibiarkan kosong. Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya yang menyebut ia mengumpulkan tanpa menyebut siapa, sehingga dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa sasaran.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Di 74:23 Allah memakainya untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu, dan di 70:17 untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran, dan yang keempat dipakai untuk malam yang berlalu. Sebuah kata yang tiga perempat pemakaiannya menyangkut satu hal sudah membawa muatannya sendiri. Yang keempat justru menerangkan artinya yang paling dasar.
  • Kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di 28:20 dan 36:20 Allah memakainya untuk orang yang datang bergegas memberi peringatan, dan di 80:8 untuk orang buta yang bergegas mencari kebenaran. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, sehingga satu kata memuat bergegas menuju dan bergegas meninggalkan. Arah menentukan nilai sebuah gerak, dan kecepatan tidak pernah menentukan apa-apa. Yang cepat ke arah yang salah cuma sampai lebih awal.
  • Pemakaian di 80:8 berada di surah tepat sesudah ini, dan di sana kata yang sama menamai orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran. Dua surah bersebelahan memakai satu kata untuk dua arah yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menandai hubungan itu dengan satu kalimat pun. Pembaca yang membaca berurutan bisa melewatinya tanpa sadar. Dua surah bertetangga yang memakai satu kata untuk dua arah berlawanan menuntut dibaca berdampingan. Urutan mushaf sendiri yang menaruh keduanya berdekatan.
  • Dua kata terakhirnya berdiri berdampingan tanpa kata penghubung, dan susunan seperti itu menyatakan keduanya berlangsung bersama. Jadi yang dilukiskan Allah bukan berpaling lalu bergegas, melainkan berpaling sambil bergegas. Kecepatan itu bagian dari cara ia meninggalkan, dan bukan tahap yang menyusul sesudahnya. Dua kata kerja tanpa penghubung menyatakan satu perbuatan, bukan dua tahap. Perbedaan itu terbawa cuma di dalam ketiadaan satu huruf.
  • Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, sehingga antara penolakan di 79:21 dan kepergian di sini ada selang yang tidak disebut lamanya. Selang itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini, karena ayat sebelum dan sesudahnya seluruhnya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat. Allah tidak menerangkan mengapa jeda itu ditaruh tepat di titik ini. Jeda yang ditaruh di satu titik saja menandai bahwa titik itu memang berbeda dari yang lain. Yang berbeda selalu patut ditanyakan sebabnya.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 28 ayat, dan di beberapa tempat ia menandai kesungguhan yang terpuji. Di sini kesungguhan yang sama dipakai untuk menjauh dari yang baru saja ditawarkan. Apa yang dinyatakan sebuah gambaran ketika tenaga yang dipakai untuk lari sama besarnya dengan tenaga yang dipakai orang lain untuk datang? Tenaga yang sama besarnya bisa dipakai untuk dua arah yang berlawanan. Yang membedakan bukan besarnya, melainkan ke mana ia diarahkan.