Ayat 80:3

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

Tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰwa-maa yudriika la'allahu yazzakkaatahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. يُدْرِيكَyudriikamemberitahumu
  3. لَعَلَّهُla'allahuagar ia
  4. يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Akar د-ر-ي tercatat di 28 ayat, dan rangkaian wa-maa yudriika hanya di 33:63, 42:17, dan 80:3. Bentuk kata kerja yazzakkaa tercatat di tujuh ayat, dua di antaranya dalam surah ini (80:3, 80:7).

Penjelasan pilihan kata

Kata (يُدْرِيكَ, yudriika) berarti "memberitahumu", dari akar د-ر-ي yang tercatat di 28 ayat. Rangkaian (وَمَا يُدْرِيكَ, wa-maa yudriika), secara harfiah "dan apa yang memberitahumu", diterjemahkan "tahukah engkau". Akhiran -ka adalah sapaan langsung yang pertama di surah ini, sesudah dua ayat yang membicarakan pelakunya sebagai orang ketiga.

Rangkaian wa-maa yudriika dipakai di tiga ayat. Di 33:63 dan 42:17 rangkaian itu disusul (لَعَلَّ, la'alla) dan kata hari Kiamat, (وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ, wa-maa yudriika la'alla s-saa'ata), "tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat" sudah dekat. Di 80:3 susunannya sama, dan kemungkinan yang disebut sesudahnya menyangkut penyucian diri seorang buta. Bentuk lampaunya, (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka), muncul di dua belas ayat dan di banyak tempat disusul keterangan tentang hal yang ditanyakan, misalnya 97:2-3 dan 104:5-6. Ketiga ayat yang memakai bentuk yudriika disusul kemungkinan, dan kemungkinan itu dibiarkan terbuka.

Akar ini dipakai juga dalam pengakuan tidak tahu. Di 46:9 Rasul diperintah berkata (وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ, wa-maa adrii maa yuf'alu bii wa-laa bikum), "aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadap kalian", dan di 72:25 dia diperintah berkata bahwa dia tidak tahu apakah yang diancamkan itu dekat. Pertanyaan di 80:3 berasal dari akar yang sama, dan isinya sejalan dengan kedua pengakuan itu, karena apa yang akan terjadi pada diri seseorang tidak diketahui oleh orang yang menyampaikan peringatan kepadanya.

Kata (لَعَلَّهُ, la'allahu) berarti "boleh jadi dia". Kata ini menyatakan kemungkinan, sehingga ayat ini tidak menyatakan bahwa orang buta itu pasti akan menyucitumbuhkan diri. Teguran di surah ini bertumpu pada peluang yang terlewat, tanpa menunggu kerugian yang sudah terbukti.

Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) berasal dari akar ز-ك-و, yang tercatat di 56 ayat. Bentuk kata kerja yang dipakai di sini muncul di tujuh ayat, yaitu 20:76, 35:18, 79:18, 80:3, 80:7, 87:14, dan 92:18. Terjemahan ini memakai "menyucitumbuhkan diri" untuk kata kerja dari akar ini, dan alasannya dicatat di catatan pilihan kata. Bentuk itu menyatakan perbuatan yang dikerjakan pelakunya atas dirinya sendiri, sehingga penyuciannya berasal dari orang buta itu dan tidak diberikan oleh orang yang didatanginya.

Di antara ketujuh ayat itu, 79:18 berada tepat sebelum surah ini. Di sana Musa disuruh berkata kepada Firaun, (هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ, hal laka ilaa an tazakkaa) yang berarti "adakah keinginanmu untuk menyucitumbuhkan diri". Kata yang sama muncul dua kali di surah ini, di 80:3 untuk orang buta yang boleh jadi melakukannya dan di 80:7 untuk orang yang merasa serba cukup dan tidak melakukannya.

Tafsiran

Ayat ini mengubah cara surah berbicara. Dua ayat pertama menceritakan perbuatan seseorang, dan mulai ayat ini orang itu disapa langsung dengan pertanyaan. Pertanyaannya tidak meminta keterangan, sebab orang yang disapa tidak diharapkan menjawab. Isinya menyatakan bahwa orang itu tidak tahu apa yang mungkin terjadi pada orang yang dia abaikan. Kalimatnya belum selesai di sini, karena 80:4 menambahkan kemungkinan kedua dengan kata "atau".

Kesalahan yang ditunjuk di sini terletak pada penilaian. Orang yang bermuka masam memperlakukan tamunya seakan-akan dia sudah tahu bahwa kedatangan itu tidak membawa apa-apa. Pertanyaan "tahukah engkau" menarik dasar penilaian itu, karena kemungkinan yang dimaksud, penyucian diri, terjadi di dalam diri orang buta itu dan tidak tampak dari luar.

Susunan yang sama dipakai di 33:63 dan 42:17 untuk hari Kiamat, yang waktunya disebut di 33:63 hanya diketahui di sisi Allah. Dengan susunan yang sama, 80:3 menaruh kemungkinan penyucian diri seseorang di wilayah yang tidak diketahui orang yang disapa. Di surah sebelumnya, 79:17-22, penyucian diri ditawarkan kepada Firaun yang melampaui batas, dan dia berpaling. Di surah ini orang yang boleh jadi menyucitumbuhkan diri datang sendiri, dan orang yang didatangi berpaling darinya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menegur dengan pertanyaan yang isinya pernyataan bahwa orang yang disapa tidak tahu. Keputusan untuk mengabaikan seseorang biasanya diambil seakan-akan kita sudah tahu siapa yang layak diperhatikan dan siapa yang tidak. Ayat ini menarik dasar keputusan itu, karena apa yang terjadi di dalam diri orang lain tidak terlihat dari luar. Sebelum menyimpulkan bahwa seseorang tidak akan mendapat apa-apa dari kita, apa sebenarnya yang kita ketahui tentang dirinya?
  • Susunan "tahukah engkau, boleh jadi" di ayat ini hanya dipakai lagi di 33:63 dan 42:17, keduanya untuk hari Kiamat yang boleh jadi sudah dekat. Kedua ayat itu meminta hari yang waktunya tidak diketahui tetap diperhitungkan. Di sini susunan yang sama dipakai untuk kemungkinan yang jauh lebih kecil, penyucian diri seorang buta. Allah memakai ukuran kalimat yang sama untuk keduanya, sehingga kemungkinan kecil yang terjadi pada satu orang tidak boleh dicoret hanya karena belum pasti.
  • Di 79:17-19 Musa diutus kepada Firaun, yang telah melampaui batas, untuk menawarkan penyucian diri dan petunjuk ke jalan Tuhannya. Firaun mendustakan dan berpaling (79:21-22). Di surah ini orang yang boleh jadi menyucitumbuhkan diri datang sendiri tanpa perlu diundang. Tawaran yang sama diantar jauh-jauh kepada seorang penguasa dan ditolaknya, lalu orang yang boleh jadi menerimanya datang sendiri dan disambut dengan muka masam. Urutan kedua surah itu membuat pembaca bertanya kepada siapa selama ini perhatian lebih banyak diberikan.
  • Menurut 35:18, siapa yang menyucitumbuhkan diri melakukannya untuk kebaikan dirinya sendiri, dan kepada Allah tempat kembali. Penyucian orang buta itu akan menjadi miliknya, tidak menjadi milik orang yang didatanginya. Orang yang didatangi tidak diminta menyucikan tamunya. Dia hanya diminta tidak menghalangi jalan orang itu dengan muka masam dan perpalingan. Peran semacam itu terasa kecil, dan karena kecil mudah dilalaikan, padahal ayat-ayat ini menegur orang yang disapa karena peran kecil itu terlewat.
  • Menurut 87:14, orang yang menyucitumbuhkan diri itu beruntung. Kemungkinan yang dipersoalkan di ayat ini dengan demikian mengarah kepada apa yang di surah lain disebut keberuntungan. Orang yang bermuka masam mungkin tidak memikirkan sejauh itu ketika seorang buta datang kepadanya. Allah menyebut kemungkinan itu dengan kata yang sama dengan kata di 87:14, sehingga pembaca tahu bahwa yang hampir terlewat bukan urusan remeh.
  • Kata "boleh jadi" di ayat ini tidak memberi kepastian bahwa orang buta itu akan berubah. Tegurannya tetap dijatuhkan, walaupun kemungkinan itu belum terbukti dan mungkin tidak pernah terbukti. Orang biasanya menunggu tanda yang meyakinkan sebelum memberi perhatian, dan tanda semacam itu jarang datang pada orang yang belum diberi kesempatan. Ayat ini menjadikan kemungkinan itu cukup untuk mewajibkan perhatian, dan menyerahkan kepastiannya kepada Tuhan yang mengetahui apa yang tidak diketahui orang yang disapa.

Ayat 80:4

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ

Atau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰaw yadzdzakkaru fa-tanfa'ahu dz-dzikraaatau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَوْawatau
  2. يَذَّكَّرُyadzdzakkarumengambil pelajaran
  3. فَتَنْفَعَهُfa-tanfa'ahulalu bermanfaat baginya
  4. الذِّكْرَىٰdz-dzikraaperingatan

Inti bacaan

Akar ذ-ك-ر dipakai tiga kali dalam surah ini (80:4, 80:11, 80:12), dan dz-dzikraa dengan kata sandang tercatat di enam ayat. Awalan fa- pada fa-tanfa'ahu menandai akibat dari pelajaran yang diambil.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَوْ, aw), "atau", yang menyambungnya dengan kemungkinan di 80:3. Kedua kemungkinan berada di bawah satu kata "boleh jadi", yaitu dia menyucitumbuhkan diri, atau dia mengambil pelajaran sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya. Kalimatnya tidak menyatakan mana yang lebih besar di antara keduanya.

Kata (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) berarti "dia mengambil pelajaran", dari akar ذ-ك-ر yang tercatat di 264 ayat. Bentuk kata kerja yang dipakai di sini muncul di lima puluh ayat, misalnya 2:269 dan 13:19. Di surah ini akar yang sama dipakai lagi di 80:11, (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun), "peringatan", dan di 80:12, (ذَكَرَهُ, dzakarahu), "mengingatnya". Pelajaran yang mungkin diambil orang buta itu dengan demikian berasal dari peringatan yang menurut 80:11-12 terbuka bagi siapa saja yang menghendaki. Di surah sebelumnya bentuk yang sama dipakai untuk hari ketika manusia mengingat apa yang telah dia usahakan (79:35).

Kata (فَتَنْفَعَهُ, fa-tanfa'ahu) berarti "sehingga bermanfaat baginya", dari akar ن-ف-ع yang tercatat di 49 ayat. Awalan fa- menyatakan akibat. Manfaat itu datang sesudah pelajaran diambil, dan akhiran -hu menunjuk orang buta itu sebagai penerimanya.

Akar ن-ف-ع juga dipakai untuk hal-hal yang tidak lagi bermanfaat. Di 26:88, (يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ, yawma laa yanfa'u maalun wa-laa banuuna), "pada hari harta dan anak-anak tidak berguna", dan 26:89 mengecualikan orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Di 74:48 syafaat para pemberi syafaat tidak berguna bagi orang-orang yang dibicarakan di sana. Manfaat yang disebut di 80:4 masih terbuka, karena orang buta itu datang sendiri pada waktu peringatan masih bisa berguna.

Kata (الذِّكْرَىٰ, dz-dzikraa) dengan kata sandang muncul di enam ayat, yaitu 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Di tiga ayat kata itu bersanding dengan akar ن-ف-ع. Di 51:55 peringatan disebut bermanfaat bagi orang-orang beriman, di 87:9 perintah memberi peringatan disusul (إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ, in nafa'ati dz-dzikraa), "jika peringatan itu bermanfaat", dan di ayat ini manfaatnya disebut sebagai kemungkinan bagi satu orang. Di 89:23 kata yang sama dipakai untuk hari ketika manusia teringat tetapi peringatan itu tidak lagi berguna baginya.

Terjemahan ayat ini memakai "pelajaran" untuk dz-dzikraa, sedangkan terjemahan 51:55 dan 87:9 memakai "peringatan". Kedua kata Indonesia itu menerjemahkan kata Arab yang sama. Di ayat ini "pelajaran" dipilih supaya bersambung dengan kata kerja "mengambil pelajaran" sebelumnya, karena keduanya berasal dari akar yang sama.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi 80:3 dengan kemungkinan kedua, sehingga peluang yang terlewat disebut dua kali. Kemungkinan pertama menyangkut diri orang buta itu, yaitu penyucian diri, dan kemungkinan kedua menyangkut hubungannya dengan peringatan, yaitu pelajaran yang diambil lalu bermanfaat. Keduanya tidak diperingkat, dan salah satunya sudah cukup menjadi alasan teguran.

Kata-kata di ayat ini bertemu lagi di 87:9-10. Di sana perintah memberi peringatan disertai syarat "jika peringatan itu bermanfaat", lalu disusul (سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ, sa-yadzdzakkaru man yakhsyaa), "orang yang takut akan mengambil pelajaran". Surah ini menyebut dua unsur yang sama pada orang buta itu, yaitu pelajaran yang boleh jadi bermanfaat baginya (80:4) dan rasa takutnya (80:9). Menurut ukuran 87:9-10, orang buta itu memenuhi ciri orang yang akan mengambil pelajaran.

Susunan "boleh jadi dia" dengan kata kerja mengambil pelajaran muncul juga di 20:44. Di sana Musa dan Harun diperintah berkata lembut kepada Firaun, (لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ, la'allahu yatadzakkaru aw yakhsyaa), "semoga ia sadar atau takut". Harapan yang sama dipegang terhadap seorang penguasa yang melampaui batas (20:43), dan di surah ini harapan itu ada pada seorang buta yang datang sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Akhiran di kata "bermanfaat baginya" menunjuk orang buta itu sebagai penerima manfaat. Allah menyebut keuntungan peringatan itu dari sisi orang yang mendengarnya, dan tidak menyebut apa yang didapat oleh orang yang menyampaikannya. Orang yang mengajar atau menasihati mudah menimbang siapa yang layak didekati berdasarkan apa yang akan kembali kepada dirinya, misalnya pengaruh, dukungan, atau nama baik. Ayat ini mengukur dengan manfaat yang sampai kepada orang yang datang, dan ukuran itu membuat seorang buta yang tidak membawa apa-apa bernilai sama dengan siapa pun.
  • Menurut 87:10, orang yang takut akan mengambil pelajaran, dan 80:9 menyebut orang buta itu datang dalam keadaan takut. Dua unsur yang di 87:9-10 menjadi ukuran siapa yang akan mendapat manfaat dari peringatan ada pada dirinya. Orang yang didatangi mencurahkan perhatian kepada orang yang merasa serba cukup (80:5-6), yang tidak disebut takut. Bagaimana kita menentukan kepada siapa sebuah nasihat akan berguna, bila tanda-tanda yang disebut Tuhan sendiri terlewat di depan mata?
  • Di 20:44 Allah memerintah Musa dan Harun berkata lembut kepada Firaun, dengan harapan dia sadar atau takut. Firaun sudah melampaui batas (20:43), dan harapan itu tetap dipegang sampai dia sendiri menolaknya. Harapan yang dipegang untuk seorang penguasa seperti itu tidak semestinya dicabut dari seorang buta yang datang dengan bersegera. Ayat ini memperlihatkan bahwa kemungkinan seseorang mengambil pelajaran tidak ditentukan oleh kedudukannya, dan bahwa perkataan lembut diperintahkan bahkan kepada orang yang telah melampaui batas.
  • Di 89:23 kata "peringatan" dipakai untuk hari ketika manusia teringat, tetapi peringatan itu tidak lagi berguna baginya. Ayat ini membicarakan peringatan yang masih bisa bermanfaat, pada waktu seseorang datang sendiri untuk mendengarnya. Ada waktu ketika peringatan bisa mengubah seseorang, dan ada waktu ketika mengingat tidak lagi mengubah apa-apa. Orang yang menunda perhatian kepada orang lain mungkin mengira kesempatannya akan selalu ada, padahal kesempatan orang buta itu jatuh pada hari dia datang, dan Allah menyebutnya dengan kata "boleh jadi".
  • Ayat ini menambah kemungkinan kedua dengan kata "atau", tanpa menyebut mana yang lebih besar. Salah satu saja, penyucian diri atau pelajaran yang bermanfaat, sudah cukup untuk membuat perpalingan di 80:1 terbaca sebagai kehilangan. Orang yang mengabaikan orang lain sering membela diri dengan berkata bahwa manfaatnya kecil atau tidak pasti. Allah menyebut dua kemungkinan tanpa menakar besarnya, sehingga pembelaan semacam itu tidak mendapat pegangan dari teksnya.
  • Pelajaran yang mungkin diambil orang buta itu berasal dari peringatan yang di 80:11-12 disebut terbuka bagi siapa saja yang menghendaki. Tidak ada syarat penglihatan, kekayaan, atau kedudukan di dalam kalimat itu. Orang yang menyampaikan peringatan bisa tanpa sadar menambahkan syarat sendiri, misalnya hanya melayani orang yang dianggap penting atau yang pertanyaannya menarik. Surah ini menyebut peringatan itu milik siapa pun yang menghendakinya, dan orang buta yang datang dengan bersegera jelas termasuk orang yang menghendaki.