Ayat 80:5
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰammaa mani staghnaaadapun orang yang merasa dirinya serba cukup
Terjemahan per kata (3 kata)
- أَمَّاammaaadapun
- مَنِmanisiapa yang
- اسْتَغْنَىٰstaghnaamerasa cukup
Inti bacaan
Bentuk istaghnaa tercatat di empat ayat (64:6, 80:5, 92:8, 96:7), dan di 64:6 pelakunya Allah. Jawaban bagi ammaa di ayat ini baru datang di 80:6, dibuka dengan fa-anta.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَمَّا, ammaa), "adapun", yang membuka pembagian. Pasangannya datang di 80:8, (وَأَمَّا, wa-ammaa), sehingga 80:5-10 membicarakan dua orang secara berurutan: orang yang merasa serba cukup di 80:5-7 dan orang yang datang dengan bersegera di 80:8-10.
Pasangan "adapun orang yang" seperti ini muncul juga di beberapa surah lain. Di 69:19 dan 69:25 serta 84:7 dan 84:10 pasangan itu memisahkan orang yang diberi kitabnya dari kanan dan dari kiri atau belakang, di 101:6 dan 101:8 orang yang berat dan ringan timbangannya, dan di 79:37 dan 79:40, tepat di surah sebelumnya, orang yang melampaui batas dan orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Di 92:5 dan 92:8 pasangan itu memisahkan orang yang memberi dan bertakwa dari orang yang kikir dan merasa cukup. Di surah ini pasangan yang sama memisahkan dua orang menurut sikap mereka, lalu menyebut bagaimana orang yang disapa memperlakukan masing-masing.
Kata (مَنِ, mani) berarti "orang yang", kata yang tidak menunjuk nama, jumlah, atau kedudukan. Siapa orang itu tidak disebut, dan ayat ini tidak memberi keterangan apakah dia kaya, berkuasa, atau terpandang. Keterangan yang tersedia tentang dirinya hanya kata kerja sesudahnya.
Kata (اسْتَغْنَىٰ, staghnaa) berasal dari akar غ-ن-ي, yang tercatat di 72 ayat. Bentuk kata kerja ini hanya muncul di empat ayat, yaitu 64:6, 80:5, 92:8, dan 96:7. Di 96:7 bentuk itu didahului kata melihat, (أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ, an ra'aahu staghnaa), "ketika melihat dirinya serba cukup", sehingga kecukupan itu penilaian orang tersebut atas dirinya. Di 64:6 bentuk yang sama dipakai untuk Allah, (وَاسْتَغْنَى اللَّهُ, wa-staghnaa llaahu), sesudah suatu kaum kufur dan berpaling, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah berkecukupan lagi terpuji. Terjemahan ini memakai "merasa dirinya serba cukup" untuk manusia, karena bagi manusia kata itu menyatakan cara dia memandang dirinya.
Akar yang sama muncul sekali lagi di surah ini, di 80:37, (يُغْنِيهِ, yughniihi), "yang cukup menyibukkannya". Ayat itu menyebut bahwa pada hari itu setiap orang mempunyai urusan yang menyibukkannya. Kalimat di 80:5 belum selesai. Di pasangan-pasangan yang disebut tadi, jawaban bagi ammaa dibuka dengan fa-, misalnya (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sa-nuyassiruhu) di 92:7 dan 92:10. Di surah ini jawaban bagi 80:5 datang di 80:6, (فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ, fa-anta lahu tashaddaa), dan jawaban bagi 80:8 datang di 80:10 dengan pembuka yang sama, (فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ, fa-anta 'anhu talahhaa). Kedua jawaban itu dimulai dengan kata "engkau", sehingga keduanya menerangkan perbuatan orang yang disapa terhadap kedua orang tersebut.
Tafsiran
Ayat ini membuka bagian pertama dari dua bagian yang berpasangan. Orang yang merasa serba cukup disebut lebih dulu, dan 80:6-7 menyatakan bahwa orang yang disapa menghadapkan perhatian kepadanya, padahal dia tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Bagian kedua, 80:8-10, membicarakan orang buta yang datang dengan bersegera dan takut, tetapi diabaikan.
Surah ini menyebut orang pertama dengan sikapnya saja. Tidak ada keterangan tentang harta, kedudukan, atau apa yang dia katakan, dan keterangan tentang orang kedua pun terbatas pada perbuatannya. Pembagian di 80:5-10 dengan demikian membandingkan dua sikap, merasa cukup dan datang dengan takut, lalu menunjukkan bahwa perhatian diberikan kepada sikap yang pertama.
Ayat-ayat lain yang memakai kata kerja ini memperlihatkan ke mana sikap merasa serba cukup bisa berujung. Di 96:6-7 manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup, dan di 92:8-10 orang yang kikir dan merasa cukup serta mendustakan yang terbaik dimudahkan menuju kesukaran. Ayat 80:5 tidak menyebut perbuatan semacam itu pada orang ini. Persoalan yang diangkat di sini ada pada orang yang disapa, yang memilih mendekati orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa dan menjauhi orang yang datang karena memerlukan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut orang itu dengan sikapnya, merasa serba cukup, dan tidak menyebut hartanya atau kedudukannya. Orang yang miskin pun bisa merasa tidak memerlukan apa-apa, dan orang yang kaya bisa datang dengan rasa takut. Pembagian di 80:5-10 berjalan menurut sikap terhadap peringatan, dan pembaca tidak diberi pegangan untuk membaginya menurut kelas. Allah menegur orang yang disapa karena dia mendekati orang yang merasa tidak perlu, dan menjauhi orang yang merasa perlu. Siapa pun, kaya atau miskin, bisa berada di salah satu dari kedua sisi itu, dan pembagian ini berlaku bagi keduanya.
- Menurut 96:6-7, manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup. Kecukupan di ayat itu terletak pada cara seseorang memandang dirinya, dan pandangan itu yang mendorongnya melampaui batas. Perasaan tidak memerlukan siapa pun bisa tumbuh pelan-pelan dari keberhasilan kecil yang berulang, sampai seseorang tidak lagi merasa perlu mendengar. Di mana di dalam hidup kita perasaan cukup itu sudah membuat kita berhenti mendengar peringatan dari Tuhan?
- Di 92:8-10 orang yang kikir dan merasa cukup, lalu mendustakan yang terbaik, dimudahkan Allah menuju kesukaran. Ayat itu memakai kata kerja yang sama dan pembuka yang sama, "adapun orang yang". Surah ini tidak menyebut orang di 80:5 kikir atau mendustakan, tetapi 92:8-10 memperlihatkan arah yang bisa ditempuh sikap seperti itu. Ayat itu menyebut kikir di samping merasa cukup, sehingga orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa digambarkan juga menahan apa yang dimilikinya dari orang lain.
- Kata kerja di ayat ini juga dipakai untuk Allah di 64:6. Sesudah suatu kaum kufur dan berpaling, Allah tidak memerlukan mereka, dan ayat itu menyatakan Allah berkecukupan lagi terpuji. Bagi Allah, kecukupan itu sifat yang benar, sedangkan bagi manusia kata yang sama menyatakan perasaan tentang dirinya. Manusia yang merasa serba cukup sedang memakai bagi dirinya ukuran yang hanya benar bagi Tuhannya, dan 80:37 kemudian menyebut hari ketika setiap orang disibukkan oleh urusannya sendiri.
- Akar kata "cukup" di ayat ini muncul lagi di 80:37, pada hari ketika setiap orang mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Di 80:5 seseorang merasa dirinya cukup dan tidak memerlukan apa-apa. Di 80:37 setiap orang disibukkan oleh urusannya sampai lari dari saudara, orang tua, istri, dan anak-anaknya. Akar yang sama muncul di bagian awal dan bagian akhir surah, sehingga perasaan cukup di awal berhadapan dengan urusan yang menyibukkan di akhir, pada hari yang digambarkan di 80:33-37.
- Pembagian "adapun orang yang" di surah sebelumnya, 79:37-41, memisahkan orang yang melampaui batas dari orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Di surah ini pembagian yang sama memisahkan orang yang merasa serba cukup dari orang yang datang dengan takut. Pada kedua surah, orang yang takut berada di sisi yang dipuji, walaupun 80:9 tidak menyebut apa yang ditakuti orang buta itu. Orang yang disapa di surah ini memberi perhatian kepada sisi yang lain, dan teguran di 80:5-10 membalik urutan perhatian itu.
Ayat 80:6
فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ
Maka kepadanya engkau menghadapkan perhatian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰfa-anta lahu tashaddaamaka kepadanya engkau menghadapkan perhatian
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْتَfa-antamaka engkau
- لَهُlahubaginya
- تَصَدَّىٰtashaddaamenghadapkan perhatian
Inti bacaan
Rangkaian fa-anta tercatat di dua ayat, 80:6 dan 80:10, dengan urutan kata yang sejajar, kepadanya engkau menghadapkan perhatian dan darinya engkau lalai. Akar ص-د-ي dipakai lagi di 8:35 saja, untuk tepuk tangan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَأَنْتَ, fa-anta) yang berarti "maka engkau", (لَهُ, lahu) yang berarti "kepadanya", dan (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) yang berarti "menghadapkan perhatian". Awalan fa- pada kata pertama menjawab (أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ, ammaa mani staghnaa) di 80:5, sehingga kedua ayat terbaca sebagai satu kalimat, yaitu adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kepadanya engkau menghadapkan perhatian. Akhiran -hu pada (لَهُ, lahu) merujuk orang di 80:5 itu.
Kata (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) berasal dari akar ص-د-ي, yang tercatat di dua ayat, 8:35 dan 80:6. Di 8:35 akar itu muncul sebagai kata benda (وَتَصْدِيَةً, wa-tashdiyatan) yang berarti "dan tepuk tangan", dalam kalimat yang menyebut salat orang-orang di sekitar Rumah itu tidak lain siulan dan tepuk tangan. Kedua pemakaian itu berlainan urusan. Pertaliannya sebatas akar, dan makna "menghadapkan perhatian" di 80:6 dibaca dari susunan kalimatnya sendiri, yaitu kata kerja yang diikuti (لَهُ, lahu) dan dipasangkan dengan lawannya di 80:10.
Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) tercatat di dua ayat di seluruh Al-Qur'an, 80:6 dan 80:10, dan kedua ayat itu dibangun dengan urutan yang sama. Di 80:10 bunyinya (فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ, fa-anta 'anhu talahhaa), "maka engkau mengabaikannya". Urutannya dimulai dengan kata ganti, disusul kata depan berakhiran -hu, lalu kata kerja. Kata depan (لَهُ, lahu), "kepadanya", di ayat ini berhadapan dengan (عَنْهُ, 'anhu), "darinya", di 80:10, dan kata kerja (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) berhadapan dengan (تَلَهَّىٰ, talahhaa). Kedua kata kerja itu juga sebunyi, diawali ta-, huruf tengahnya dibaca rangkap, dan berakhir dengan -aa.
Kata kerja (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) di sini berbentuk orang kedua, sehingga pelakunya sudah termuat di dalam kata kerja itu. Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) menyebut pelaku yang sama sekali lagi, sebagai kata yang berdiri sendiri di awal kalimat. Di 80:1-2 pelakunya disebut dengan kata kerja orang ketiga, "dia bermuka masam", tanpa kata ganti yang berdiri sendiri. Di 80:3 sapaan berpindah ke orang kedua lewat (وَمَا يُدْرِيكَ, wa-maa yudriika), "tahukah engkau", dan di 80:6 orang yang disapa itu disebut dengan kata ganti tersendiri.
Isi pembicaraannya tidak ikut dicatat. Kata kerja (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) menyatakan arah perhatian, dan sasarannya ditunjuk dengan kata depan (لَهُ, lahu), tanpa keterangan tentang apa yang dibicarakan atau berapa lama. Kata kerja dari akar ini tercatat di 80:6 saja, sehingga maknanya tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain yang sebentuk. Terjemahan "menghadapkan perhatian" memuat arah itu dan tidak menambahkan isi.
Tafsiran
Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dibuka di 80:5. Orang yang merasa dirinya serba cukup menerima perhatian dari orang yang disapa, dan 80:7 segera menambahkan bahwa orang yang disapa itu tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Susunan 80:5-7 dengan demikian bergerak dari sikap orang pertama, ke perbuatan orang yang disapa, lalu ke batas tanggungannya.
Teguran di ayat ini berbentuk pemberitaan. Di 80:1-10 tidak ada kata perintah maupun larangan, dan penilaiannya muncul dari perbandingan dengan 80:8-10. Orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa diberi perhatian, sedangkan orang yang datang dengan bersegera dan takut diabaikan. Ketimpangan itu terbaca dari dua kalimat yang dibangun sejajar, ketika 80:6 ditaruh di samping 80:10.
Di surah sebelumnya, 79:17-19, Musa diutus kepada Fir'aun yang melampaui batas dengan tawaran untuk menyucitumbuhkan diri, sehingga mendatangi orang yang melampaui batas pernah menjadi tugas seorang utusan. Karena itu teguran di 80:5-10 terbaca pada pasangannya. Perhatian kepada orang yang merasa cukup di 80:6 berjalan bersama pengabaian terhadap orang yang datang di 80:10, dan 80:7 menambahkan bahwa hasil dari perhatian itu tidak ditanggungkan kepada orang yang disapa.
Renungan dan Hikmah
- Allah mencatat perbuatan di ayat ini dengan kata yang menggambarkan arah, menghadapkan perhatian kepada seseorang. Perhatian dalam keseharian pun punya arah, misalnya pesan yang dibalas lebih dulu, orang yang didengarkan sampai selesai, atau wajah yang dicari di tengah ruangan. Pilihan semacam itu sering terjadi tanpa ditimbang lebih dulu. Ayat ini mengangkat arah perhatian menjadi sesuatu yang ditimbang, dan pertanyaannya menjadi sederhana, ke mana perhatian kita paling mudah tertuju, dan siapa yang tertinggal karenanya?
- Orang di 80:5 digambarkan dengan satu sikap, merasa dirinya serba cukup, dan sikap itu yang menerima perhatian di 80:6. Orang yang tampak tidak memerlukan apa-apa mudah terlihat penting, dan perhatian cenderung tertuju kepadanya. Teguran Allah di ayat-ayat ini membalik ukuran itu, sebab orang yang datang dengan bersegera, di 80:8-9, disebut dengan kesungguhan dan rasa takutnya. Rasa hormat yang muncul di hadapan orang yang tampak serba cukup patut diperiksa asalnya, dari penilaian yang jernih atau dari silau.
- Allah menegur di ayat ini tanpa kata perintah dan tanpa celaan. Perbuatan disebut apa adanya, "kepadanya engkau menghadapkan perhatian", dan penilaiannya muncul ketika kalimat itu dibaca berdampingan dengan 80:10. Cara menegur seperti ini membiarkan orang yang ditegur melihat perbuatannya sendiri. Bila seseorang perlu menegur orang lain, menyebut perbuatannya dengan tepat lalu menaruhnya di samping perbuatan yang semestinya bisa lebih jernih daripada menumpuk kata keras.
- Perbandingan di 80:6 dan 80:10 bertumpu pada dua kata depan kecil, "kepadanya" dan "darinya". Menghadap kepada seseorang dan berpaling dari orang lain terbaca di surah ini sebagai dua sisi dari keadaan yang sama, karena keduanya disapa dengan rangka kalimat yang sama. Dalam sehari, perhatian yang diberikan kepada satu urusan berarti ada urusan lain yang menunggu. Teguran Tuhan di 80:5-10 mengenai pilihan tentang siapa yang diabaikan, dan bagi siapa pun pertanyaannya menjadi, siapa yang sedang berada di sisi "darinya" hari ini?
- Isi pembicaraan dengan orang yang merasa cukup tidak dicatat, dan arahnya dicatat. Seseorang bisa menilai dirinya dari mutu apa yang dia sampaikan, dari kebenaran dan kefasihannya. Allah di 80:6 menimbang dari sisi lain, kepada siapa semua itu diarahkan. Pembicaraan yang baik isinya tetap bisa ditimbang dari arah perhatiannya, dan 80:10 memperlihatkan siapa yang tidak mendapatkannya di sini, orang yang datang dengan bersegera.
- Kata "engkau" di ayat ini disebut dua kali dalam satu kalimat pendek, sekali berdiri sendiri dan sekali termuat di dalam kata kerjanya, dan susunan itu tercatat di sini dan di 80:10 saja. Siapa pun yang membaca teguran ini bisa bertanya apakah dirinya pernah berada di posisi "engkau", lalu menemukan jawabannya tanpa perlu diberi tahu orang lain. Sapaan Allah yang langsung itu menempatkan tanggung jawab pada orang yang disapa, dan kata kerja yang dipakai, menghadapkan perhatian, menunjuk perbuatan yang lahir dari pilihannya sendiri.