Ayat 80:5

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰammaa mani staghnaaadapun orang yang merasa dirinya serba cukup

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَمَّاammaaadapun
  2. مَنِmanisiapa yang
  3. اسْتَغْنَىٰstaghnaamerasa cukup

Inti bacaan

Bentuk istaghnaa tercatat di empat ayat (64:6, 80:5, 92:8, 96:7), dan di 64:6 pelakunya Allah. Jawaban bagi ammaa di ayat ini baru datang di 80:6, dibuka dengan fa-anta.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَمَّا, ammaa), "adapun", yang membuka pembagian. Pasangannya datang di 80:8, (وَأَمَّا, wa-ammaa), sehingga 80:5-10 membicarakan dua orang secara berurutan: orang yang merasa serba cukup di 80:5-7 dan orang yang datang dengan bersegera di 80:8-10.

Pasangan "adapun orang yang" seperti ini muncul juga di beberapa surah lain. Di 69:19 dan 69:25 serta 84:7 dan 84:10 pasangan itu memisahkan orang yang diberi kitabnya dari kanan dan dari kiri atau belakang, di 101:6 dan 101:8 orang yang berat dan ringan timbangannya, dan di 79:37 dan 79:40, tepat di surah sebelumnya, orang yang melampaui batas dan orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Di 92:5 dan 92:8 pasangan itu memisahkan orang yang memberi dan bertakwa dari orang yang kikir dan merasa cukup. Di surah ini pasangan yang sama memisahkan dua orang menurut sikap mereka, lalu menyebut bagaimana orang yang disapa memperlakukan masing-masing.

Kata (مَنِ, mani) berarti "orang yang", kata yang tidak menunjuk nama, jumlah, atau kedudukan. Siapa orang itu tidak disebut, dan ayat ini tidak memberi keterangan apakah dia kaya, berkuasa, atau terpandang. Keterangan yang tersedia tentang dirinya hanya kata kerja sesudahnya.

Kata (اسْتَغْنَىٰ, staghnaa) berasal dari akar غ-ن-ي, yang tercatat di 72 ayat. Bentuk kata kerja ini hanya muncul di empat ayat, yaitu 64:6, 80:5, 92:8, dan 96:7. Di 96:7 bentuk itu didahului kata melihat, (أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ, an ra'aahu staghnaa), "ketika melihat dirinya serba cukup", sehingga kecukupan itu penilaian orang tersebut atas dirinya. Di 64:6 bentuk yang sama dipakai untuk Allah, (وَاسْتَغْنَى اللَّهُ, wa-staghnaa llaahu), sesudah suatu kaum kufur dan berpaling, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah berkecukupan lagi terpuji. Terjemahan ini memakai "merasa dirinya serba cukup" untuk manusia, karena bagi manusia kata itu menyatakan cara dia memandang dirinya.

Akar yang sama muncul sekali lagi di surah ini, di 80:37, (يُغْنِيهِ, yughniihi), "yang cukup menyibukkannya". Ayat itu menyebut bahwa pada hari itu setiap orang mempunyai urusan yang menyibukkannya. Kalimat di 80:5 belum selesai. Di pasangan-pasangan yang disebut tadi, jawaban bagi ammaa dibuka dengan fa-, misalnya (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sa-nuyassiruhu) di 92:7 dan 92:10. Di surah ini jawaban bagi 80:5 datang di 80:6, (فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ, fa-anta lahu tashaddaa), dan jawaban bagi 80:8 datang di 80:10 dengan pembuka yang sama, (فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ, fa-anta 'anhu talahhaa). Kedua jawaban itu dimulai dengan kata "engkau", sehingga keduanya menerangkan perbuatan orang yang disapa terhadap kedua orang tersebut.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian pertama dari dua bagian yang berpasangan. Orang yang merasa serba cukup disebut lebih dulu, dan 80:6-7 menyatakan bahwa orang yang disapa menghadapkan perhatian kepadanya, padahal dia tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Bagian kedua, 80:8-10, membicarakan orang buta yang datang dengan bersegera dan takut, tetapi diabaikan.

Surah ini menyebut orang pertama dengan sikapnya saja. Tidak ada keterangan tentang harta, kedudukan, atau apa yang dia katakan, dan keterangan tentang orang kedua pun terbatas pada perbuatannya. Pembagian di 80:5-10 dengan demikian membandingkan dua sikap, merasa cukup dan datang dengan takut, lalu menunjukkan bahwa perhatian diberikan kepada sikap yang pertama.

Ayat-ayat lain yang memakai kata kerja ini memperlihatkan ke mana sikap merasa serba cukup bisa berujung. Di 96:6-7 manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup, dan di 92:8-10 orang yang kikir dan merasa cukup serta mendustakan yang terbaik dimudahkan menuju kesukaran. Ayat 80:5 tidak menyebut perbuatan semacam itu pada orang ini. Persoalan yang diangkat di sini ada pada orang yang disapa, yang memilih mendekati orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa dan menjauhi orang yang datang karena memerlukan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut orang itu dengan sikapnya, merasa serba cukup, dan tidak menyebut hartanya atau kedudukannya. Orang yang miskin pun bisa merasa tidak memerlukan apa-apa, dan orang yang kaya bisa datang dengan rasa takut. Pembagian di 80:5-10 berjalan menurut sikap terhadap peringatan, dan pembaca tidak diberi pegangan untuk membaginya menurut kelas. Allah menegur orang yang disapa karena dia mendekati orang yang merasa tidak perlu, dan menjauhi orang yang merasa perlu. Siapa pun, kaya atau miskin, bisa berada di salah satu dari kedua sisi itu, dan pembagian ini berlaku bagi keduanya.
  • Menurut 96:6-7, manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup. Kecukupan di ayat itu terletak pada cara seseorang memandang dirinya, dan pandangan itu yang mendorongnya melampaui batas. Perasaan tidak memerlukan siapa pun bisa tumbuh pelan-pelan dari keberhasilan kecil yang berulang, sampai seseorang tidak lagi merasa perlu mendengar. Di mana di dalam hidup kita perasaan cukup itu sudah membuat kita berhenti mendengar peringatan dari Tuhan?
  • Di 92:8-10 orang yang kikir dan merasa cukup, lalu mendustakan yang terbaik, dimudahkan Allah menuju kesukaran. Ayat itu memakai kata kerja yang sama dan pembuka yang sama, "adapun orang yang". Surah ini tidak menyebut orang di 80:5 kikir atau mendustakan, tetapi 92:8-10 memperlihatkan arah yang bisa ditempuh sikap seperti itu. Ayat itu menyebut kikir di samping merasa cukup, sehingga orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa digambarkan juga menahan apa yang dimilikinya dari orang lain.
  • Kata kerja di ayat ini juga dipakai untuk Allah di 64:6. Sesudah suatu kaum kufur dan berpaling, Allah tidak memerlukan mereka, dan ayat itu menyatakan Allah berkecukupan lagi terpuji. Bagi Allah, kecukupan itu sifat yang benar, sedangkan bagi manusia kata yang sama menyatakan perasaan tentang dirinya. Manusia yang merasa serba cukup sedang memakai bagi dirinya ukuran yang hanya benar bagi Tuhannya, dan 80:37 kemudian menyebut hari ketika setiap orang disibukkan oleh urusannya sendiri.
  • Akar kata "cukup" di ayat ini muncul lagi di 80:37, pada hari ketika setiap orang mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Di 80:5 seseorang merasa dirinya cukup dan tidak memerlukan apa-apa. Di 80:37 setiap orang disibukkan oleh urusannya sampai lari dari saudara, orang tua, istri, dan anak-anaknya. Akar yang sama muncul di bagian awal dan bagian akhir surah, sehingga perasaan cukup di awal berhadapan dengan urusan yang menyibukkan di akhir, pada hari yang digambarkan di 80:33-37.
  • Pembagian "adapun orang yang" di surah sebelumnya, 79:37-41, memisahkan orang yang melampaui batas dari orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Di surah ini pembagian yang sama memisahkan orang yang merasa serba cukup dari orang yang datang dengan takut. Pada kedua surah, orang yang takut berada di sisi yang dipuji, walaupun 80:9 tidak menyebut apa yang ditakuti orang buta itu. Orang yang disapa di surah ini memberi perhatian kepada sisi yang lain, dan teguran di 80:5-10 membalik urutan perhatian itu.

Ayat 80:6

فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ

Maka kepadanya engkau menghadapkan perhatian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰfa-anta lahu tashaddaamaka kepadanya engkau menghadapkan perhatian

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَأَنْتَfa-antamaka engkau
  2. لَهُlahubaginya
  3. تَصَدَّىٰtashaddaamenghadapkan perhatian

Inti bacaan

Rangkaian fa-anta tercatat di dua ayat, 80:6 dan 80:10, dengan urutan kata yang sejajar, kepadanya engkau menghadapkan perhatian dan darinya engkau lalai. Akar ص-د-ي dipakai lagi di 8:35 saja, untuk tepuk tangan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَأَنْتَ, fa-anta) yang berarti "maka engkau", (لَهُ, lahu) yang berarti "kepadanya", dan (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) yang berarti "menghadapkan perhatian". Awalan fa- pada kata pertama menjawab (أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ, ammaa mani staghnaa) di 80:5, sehingga kedua ayat terbaca sebagai satu kalimat, yaitu adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kepadanya engkau menghadapkan perhatian. Akhiran -hu pada (لَهُ, lahu) merujuk orang di 80:5 itu.

Kata (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) berasal dari akar ص-د-ي, yang tercatat di dua ayat, 8:35 dan 80:6. Di 8:35 akar itu muncul sebagai kata benda (وَتَصْدِيَةً, wa-tashdiyatan) yang berarti "dan tepuk tangan", dalam kalimat yang menyebut salat orang-orang di sekitar Rumah itu tidak lain siulan dan tepuk tangan. Kedua pemakaian itu berlainan urusan. Pertaliannya sebatas akar, dan makna "menghadapkan perhatian" di 80:6 dibaca dari susunan kalimatnya sendiri, yaitu kata kerja yang diikuti (لَهُ, lahu) dan dipasangkan dengan lawannya di 80:10.

Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) tercatat di dua ayat di seluruh Al-Qur'an, 80:6 dan 80:10, dan kedua ayat itu dibangun dengan urutan yang sama. Di 80:10 bunyinya (فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ, fa-anta 'anhu talahhaa), "maka engkau mengabaikannya". Urutannya dimulai dengan kata ganti, disusul kata depan berakhiran -hu, lalu kata kerja. Kata depan (لَهُ, lahu), "kepadanya", di ayat ini berhadapan dengan (عَنْهُ, 'anhu), "darinya", di 80:10, dan kata kerja (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) berhadapan dengan (تَلَهَّىٰ, talahhaa). Kedua kata kerja itu juga sebunyi, diawali ta-, huruf tengahnya dibaca rangkap, dan berakhir dengan -aa.

Kata kerja (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) di sini berbentuk orang kedua, sehingga pelakunya sudah termuat di dalam kata kerja itu. Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) menyebut pelaku yang sama sekali lagi, sebagai kata yang berdiri sendiri di awal kalimat. Di 80:1-2 pelakunya disebut dengan kata kerja orang ketiga, "dia bermuka masam", tanpa kata ganti yang berdiri sendiri. Di 80:3 sapaan berpindah ke orang kedua lewat (وَمَا يُدْرِيكَ, wa-maa yudriika), "tahukah engkau", dan di 80:6 orang yang disapa itu disebut dengan kata ganti tersendiri.

Isi pembicaraannya tidak ikut dicatat. Kata kerja (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) menyatakan arah perhatian, dan sasarannya ditunjuk dengan kata depan (لَهُ, lahu), tanpa keterangan tentang apa yang dibicarakan atau berapa lama. Kata kerja dari akar ini tercatat di 80:6 saja, sehingga maknanya tidak bisa dibandingkan dengan pemakaian lain yang sebentuk. Terjemahan "menghadapkan perhatian" memuat arah itu dan tidak menambahkan isi.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dibuka di 80:5. Orang yang merasa dirinya serba cukup menerima perhatian dari orang yang disapa, dan 80:7 segera menambahkan bahwa orang yang disapa itu tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Susunan 80:5-7 dengan demikian bergerak dari sikap orang pertama, ke perbuatan orang yang disapa, lalu ke batas tanggungannya.

Teguran di ayat ini berbentuk pemberitaan. Di 80:1-10 tidak ada kata perintah maupun larangan, dan penilaiannya muncul dari perbandingan dengan 80:8-10. Orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa diberi perhatian, sedangkan orang yang datang dengan bersegera dan takut diabaikan. Ketimpangan itu terbaca dari dua kalimat yang dibangun sejajar, ketika 80:6 ditaruh di samping 80:10.

Di surah sebelumnya, 79:17-19, Musa diutus kepada Fir'aun yang melampaui batas dengan tawaran untuk menyucitumbuhkan diri, sehingga mendatangi orang yang melampaui batas pernah menjadi tugas seorang utusan. Karena itu teguran di 80:5-10 terbaca pada pasangannya. Perhatian kepada orang yang merasa cukup di 80:6 berjalan bersama pengabaian terhadap orang yang datang di 80:10, dan 80:7 menambahkan bahwa hasil dari perhatian itu tidak ditanggungkan kepada orang yang disapa.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mencatat perbuatan di ayat ini dengan kata yang menggambarkan arah, menghadapkan perhatian kepada seseorang. Perhatian dalam keseharian pun punya arah, misalnya pesan yang dibalas lebih dulu, orang yang didengarkan sampai selesai, atau wajah yang dicari di tengah ruangan. Pilihan semacam itu sering terjadi tanpa ditimbang lebih dulu. Ayat ini mengangkat arah perhatian menjadi sesuatu yang ditimbang, dan pertanyaannya menjadi sederhana, ke mana perhatian kita paling mudah tertuju, dan siapa yang tertinggal karenanya?
  • Orang di 80:5 digambarkan dengan satu sikap, merasa dirinya serba cukup, dan sikap itu yang menerima perhatian di 80:6. Orang yang tampak tidak memerlukan apa-apa mudah terlihat penting, dan perhatian cenderung tertuju kepadanya. Teguran Allah di ayat-ayat ini membalik ukuran itu, sebab orang yang datang dengan bersegera, di 80:8-9, disebut dengan kesungguhan dan rasa takutnya. Rasa hormat yang muncul di hadapan orang yang tampak serba cukup patut diperiksa asalnya, dari penilaian yang jernih atau dari silau.
  • Allah menegur di ayat ini tanpa kata perintah dan tanpa celaan. Perbuatan disebut apa adanya, "kepadanya engkau menghadapkan perhatian", dan penilaiannya muncul ketika kalimat itu dibaca berdampingan dengan 80:10. Cara menegur seperti ini membiarkan orang yang ditegur melihat perbuatannya sendiri. Bila seseorang perlu menegur orang lain, menyebut perbuatannya dengan tepat lalu menaruhnya di samping perbuatan yang semestinya bisa lebih jernih daripada menumpuk kata keras.
  • Perbandingan di 80:6 dan 80:10 bertumpu pada dua kata depan kecil, "kepadanya" dan "darinya". Menghadap kepada seseorang dan berpaling dari orang lain terbaca di surah ini sebagai dua sisi dari keadaan yang sama, karena keduanya disapa dengan rangka kalimat yang sama. Dalam sehari, perhatian yang diberikan kepada satu urusan berarti ada urusan lain yang menunggu. Teguran Tuhan di 80:5-10 mengenai pilihan tentang siapa yang diabaikan, dan bagi siapa pun pertanyaannya menjadi, siapa yang sedang berada di sisi "darinya" hari ini?
  • Isi pembicaraan dengan orang yang merasa cukup tidak dicatat, dan arahnya dicatat. Seseorang bisa menilai dirinya dari mutu apa yang dia sampaikan, dari kebenaran dan kefasihannya. Allah di 80:6 menimbang dari sisi lain, kepada siapa semua itu diarahkan. Pembicaraan yang baik isinya tetap bisa ditimbang dari arah perhatiannya, dan 80:10 memperlihatkan siapa yang tidak mendapatkannya di sini, orang yang datang dengan bersegera.
  • Kata "engkau" di ayat ini disebut dua kali dalam satu kalimat pendek, sekali berdiri sendiri dan sekali termuat di dalam kata kerjanya, dan susunan itu tercatat di sini dan di 80:10 saja. Siapa pun yang membaca teguran ini bisa bertanya apakah dirinya pernah berada di posisi "engkau", lalu menemukan jawabannya tanpa perlu diberi tahu orang lain. Sapaan Allah yang langsung itu menempatkan tanggung jawab pada orang yang disapa, dan kata kerja yang dipakai, menghadapkan perhatian, menunjuk perbuatan yang lahir dari pilihannya sendiri.

Ayat 80:7

وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ

Padahal, tidak ada atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰwa-maa 'alayka allaa yazzakkaapadahal tidak ada atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. عَلَيْكَ'alaykaatasmu
  3. أَلَّاallaakalau tidak
  4. يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Rangkaian wa-maa 'alayka menyerupai 6:52, dan bentuk yazzakkaa tercatat di 80:3 dan 80:7 saja. Pada 80:3 bentuk itu didahului la'alla, pada 80:7 didahului allaa, sehingga harapan dan kemungkinan gagal dirumuskan dengan kata kerja yang sama.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari empat kata, (وَمَا, wa-maa) yang berarti "dan tidaklah", (عَلَيْكَ, 'alayka) yang berarti "atasmu", (أَلَّا, allaa) yang berarti "kalau tidak", dan (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) yang berarti "menyucitumbuhkan diri". Terjemahan memakai "padahal" untuk awalan wa-, karena keterangan di ayat ini berhadapan dengan perbuatan di 80:6, perhatian yang diberikan kepada orang yang merasa dirinya serba cukup.

Kata (عَلَيْكَ, 'alayka) memakai kata depan "atas" dengan akhiran orang kedua, dan kata ini tercatat di 52 ayat. Di sejumlah ayat susunan ini menyatakan apa yang ditanggungkan kepada seseorang. Di 6:52 bunyinya (مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ, maa 'alayka min hisaabihim min syay'in), "tidak ada atasmu dari perhitungan mereka sedikit pun", tentang orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pagi dan petang dan tidak boleh diusir. Di 3:20 susunan yang sama menyatakan tanggungan yang ada, (فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ, fa-innamaa 'alayka l-balaaghu), yaitu menyampaikan, dan bunyi serupa ada di 13:40 dan 16:82. Di 42:48 tanggungan itu dinyatakan dengan (إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ, in 'alayka illaa l-balaaghu), "tidak ada atasmu selain menyampaikan". Ayat 80:7 berada di sisi yang meniadakan, seperti 6:52.

Kata (أَلَّا, allaa) tersusun dari an, "bahwa", dan laa, "tidak". Tanggungan yang ditiadakan di ayat ini dengan demikian mengenai keadaan ketika orang itu tidak menyucitumbuhkan diri, dan terjemahan menandainya dengan "kalau dia tidak". Keberhasilan orang itu tidak dibicarakan. Kalimatnya berhenti pada kemungkinan gagal, dan kemungkinan itu dilepaskan dari orang yang disapa.

Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) berasal dari akar ز-ك-و, yang tercatat di 56 ayat, dan bentuk yazzakkaa sendiri tercatat di dua ayat, 80:3 dan 80:7. Di 80:3 kata itu dipakai untuk orang buta, (وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ, wa-maa yudriika la'allahu yazzakkaa), "tahukah engkau, boleh jadi dia menyucitumbuhkan dirinya". Di 80:7 kata yang sama dipakai untuk orang yang merasa dirinya serba cukup. Pada 80:3 kata itu didahului "boleh jadi", dan pada 80:7 didahului (أَلَّا, allaa), "kalau tidak".

Terjemahan "menyucitumbuhkan diri" memuat dua makna sekaligus, menjadi bersih dan bertumbuh, seperti di 80:3. Akhiran "diri" menandai bahwa perbuatan itu dikerjakan orangnya atas dirinya sendiri. Di 79:18 penyucian itu ditawarkan kepada Fir'aun sebagai perbuatannya sendiri, dan di 87:14 orang yang menyucitumbuhkan diri disebut beruntung. Di kedua ayat itu, seperti di 80:7, pelakunya orang yang menjalani penyucian, dan orang yang disapa tidak disebut sebagai pelakunya.

Tafsiran

Ayat ini menyela perbandingan dengan pernyataan tentang batas tanggungan. Sesudah 80:6 menyebut perhatian yang diberikan kepada orang yang merasa serba cukup, 80:7 menyatakan bahwa orang yang disapa tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Perhatian itu dengan demikian tertuju pada hasil yang tidak ditanggungkan kepadanya.

Ayat 35:18 memberi keterangan yang sejalan. Sesudah menyatakan bahwa peringatan seorang utusan sampai kepada orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka tanpa melihat-Nya, ayat itu melanjutkan dengan (وَمَنْ تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ, wa-man tazakkaa fa-innamaa yatazakkaa li-nafsihi), "dan siapa yang menyucitumbuhkan dirinya, sesungguhnya dia menyucitumbuhkan diri untuk kebaikan dirinya sendiri". Penyucian itu milik orang yang menjalaninya, dan 80:7 menarik akibatnya bagi orang yang menyampaikan. Bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri, kegagalannya tidak dibebankan kepada yang menyampaikan.

Di 6:52 kalimat serupa dipakai untuk melarang pengusiran orang-orang yang menyeru Tuhan mereka dengan mengharapkan wajah-Nya. Di 80:7 kalimat itu melepaskan orang yang disapa dari tanggungan atas orang yang merasa cukup. Kedua ayat menempatkan tanggungan dengan cara yang sama, dan keduanya bersinggungan dengan orang yang datang membawa harapan atau rasa takut, di 6:52 orang-orang yang mengharapkan wajah Tuhan mereka, dan di sini orang yang datang dengan bersegera dan takut pada 80:8-9. Kata yazzakkaa yang dipakai untuk kedua orang di 80:3 dan 80:7 memperlihatkan timbangannya. Peluang orang buta dibuka dengan "boleh jadi", sedangkan kemungkinan gagalnya orang yang merasa cukup dilepaskan dari tanggungan, padahal perhatian diberikan ke arah sebaliknya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyatakan di ayat ini bahwa orang yang disapa tidak menanggung apa-apa bila orang lain tidak menyucitumbuhkan diri. Pelepasan beban ini bisa menenangkan siapa pun yang pernah berusaha keras meyakinkan seseorang lalu gagal. Usaha menyampaikan tetap punya tempatnya, sedangkan pilihan untuk berubah berada di tangan orang yang mendengar. Menurut 35:18, siapa yang menyucitumbuhkan diri melakukannya untuk dirinya sendiri, dan kepada Allah tempat kembali, sehingga hasil akhir setiap orang kembali kepada-Nya.
  • Seseorang bisa memikul beban yang tidak ditanggungkan kepadanya, misalnya merasa harus berhasil mengubah orang yang tidak merasa perlu berubah. Beban seperti itu menyita tenaga dan perhatian, dan 80:6-10 memperlihatkan akibatnya, yaitu orang yang datang dengan bersegera terabaikan. Tuhan melepaskan beban itu lewat satu kalimat pendek. Melepaskan beban yang keliru membuka ruang bagi orang yang sedang menunggu, dan pertanyaannya bagi siapa pun, beban siapa yang sedang dipikul tanpa diminta?
  • Kata yang sama, menyucitumbuhkan diri, dipakai di 80:3 untuk orang buta dan di 80:7 untuk orang yang merasa serba cukup. Allah menimbang keduanya dengan ukuran yang sama, kesediaan untuk menjadi bersih dan bertumbuh. Ukuran yang dipakai manusia sering berlainan, misalnya pengaruh, kekayaan, atau manfaat yang bisa diharapkan dari seseorang. Ayat ini mengembalikan timbangan kepada ukuran yang dipakai Tuhan, dan menurut ukuran itu orang yang datang dengan takut mempunyai peluang yang disebut dengan harapan.
  • Di 6:52, kalimat "tidak ada atasmu" dipakai untuk menjaga orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pagi dan petang, mengharapkan wajah-Nya, agar tidak diusir. Keterangan tentang mereka terbatas pada ibadah dan harapan itu. Orang yang datang kepada seseorang dengan niat seperti itu bisa saja tidak membawa kedudukan apa pun, dan 6:52 menaruh mereka di tempat yang dijaga, sedangkan 80:8-10 menegur pengabaian terhadap orang yang datang dengan takut. Ketika perhatian harus dibagi, ayat-ayat ini memberi arah yang jelas tentang siapa yang tidak boleh ditinggalkan.
  • Menurut 3:20 dan 42:48, tanggungan seorang utusan terletak pada menyampaikan. Pelepasan di 80:7 tidak menghapus tugas itu, sebab yang dilepaskan hasilnya, apakah orang itu menyucitumbuhkan diri atau tidak. Seseorang yang merasa bertanggung jawab atas iman atau perubahan orang lain bisa tergoda untuk mendesak, membujuk berlebihan, atau mengabaikan orang lain demi satu orang yang sulit. Allah membagi pekerjaan itu dengan jelas, menyampaikan menjadi tugas manusia dan hasilnya kembali kepada-Nya.
  • Bila hasil penyucian orang lain tidak ditanggungkan kepada kita, sisi sebaliknya pun berlaku. Penyucian diri kita sendiri tidak bisa dikerjakan orang lain atas nama kita, dan 35:18 menyebutnya perbuatan seseorang untuk dirinya sendiri. Kata kerja di ayat ini berakhiran "diri", perbuatan yang dikerjakan pelakunya atas dirinya. Apa yang sedang kita kerjakan atas diri sendiri hari ini, di hadapan Tuhan yang menjadi tempat kembali?

Ayat 80:8

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰwa-ammaa man jaa'aka yas'aadan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. جَاءَكَjaa'akadatang kepadamu
  4. يَسْعَىٰyas'aabersegera

Inti bacaan

Kedatangan di 80:2 diceritakan ulang dengan akhiran orang kedua, jaa'aka. Rangkaian datang dan yas'aa juga dipakai di 28:20 dan 36:20 untuk lelaki tanpa nama dari ujung kota, sedangkan di 79:22 yas'aa menyertai Fir'aun yang berbalik pergi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari empat kata, (وَأَمَّا, wa-ammaa) yang berarti "dan adapun", (مَنْ, man) yang berarti "orang yang", (جَاءَكَ, jaa'aka) yang berarti "datang kepadamu", dan (يَسْعَىٰ, yas'aa) yang berarti "dengan bersegera". Kata (وَأَمَّا, wa-ammaa) membuka bagian kedua dari pembagian yang dimulai (أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ, ammaa mani staghnaa) di 80:5. Pasangan "adapun orang yang ... dan adapun orang yang" juga dipakai di 69:19 dan 69:25, 79:37 dan 79:40, 84:7 dan 84:10, 92:5 dan 92:8, serta 101:6 dan 101:8.

Di surah 69, 79, 84, dan 101 pasangan itu memisahkan manusia menurut nasibnya di akhirat, misalnya orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanan dan orang yang diberi dari sebelah kiri. Di 92:5-10 pasangan itu memisahkan orang yang memberi dan bertakwa dari orang yang kikir dan merasa dirinya cukup. Di surah ini susunan yang sama dipakai untuk dua orang yang berhadapan dengan orang yang disapa.

Kata (جَاءَكَ, jaa'aka) memakai akhiran orang kedua, "kepadamu". Akar ج-ي-ا tercatat di 262 ayat, dan di surah ini muncul di 80:2, 80:8, dan 80:33. Di 80:2 kedatangan disebut dengan akhiran orang ketiga, (أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ, an jaa'ahu l-a'maa), "karena orang buta datang kepadanya". Kata kerja, akar, dan orang yang didatangi sama, sehingga 80:8 terbaca sebagai kedatangan yang sama, diceritakan ulang dengan sapaan langsung. Sebutan "orang buta" tidak diulang di 80:8, dan orang itu disebut dengan (مَنْ, man), "orang yang", lalu dengan cara datangnya.

Kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) berasal dari akar س-ع-ي, yang tercatat di 28 ayat. Bentuk yas'aa sendiri muncul di enam ayat, 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di tiga di antaranya kata itu menyertai kata kerja "datang" dalam kalimat yang sama. Di 28:20 kalimatnya dibuka dengan (وَجَاءَ رَجُلٌ, wa-jaa'a rajulun), "dan datanglah seorang lelaki", dan ditutup dengan yas'aa, tentang lelaki yang datang bergegas dari ujung kota untuk memperingatkan Musa, dan di 36:20 seorang lelaki datang bergegas dari ujung kota untuk mengajak kaumnya mengikuti para rasul. Kedua lelaki itu tidak dinamai. Kedua ayat itu menyebut asal kedatangan, dari ujung kota, sedangkan 80:8 menyebut orang yang didatangi lewat akhiran -ka dan tidak menyebut dari mana orang itu datang.

Di 57:12 dan 66:8 kata itu dipakai untuk cahaya orang-orang beriman yang bergerak di depan mereka. Di 79:22, (ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ, tsumma adbara yas'aa), Fir'aun berbalik pergi sambil berusaha. Kata yang sama menggambarkan gerak mendekat dan gerak menjauh, dan arahnya ditentukan kata kerja yang mendampinginya. Terjemahan "dengan bersegera" menempatkan kata itu sebagai keterangan cara datang, sesuai kedudukannya sesudah (جَاءَكَ, jaa'aka).

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian kedua dari perbandingan. Sesudah orang yang merasa serba cukup di 80:5-7, 80:8 menyebut orang yang datang dengan bersegera, dan 80:9-10 melengkapinya dengan rasa takutnya dan pengabaian yang dia terima. Kedua bagian dibuka dengan kata "adapun", sehingga keduanya ditimbang berdampingan.

Keterangan tentang orang kedua ini terdiri dari gerak dan keadaan. Dia datang, dia bersegera, dan menurut 80:9 dia takut. Harta, kedudukan, dan asal-usulnya tidak disebut, sama seperti orang pertama disebut dengan sikapnya saja. Perbandingan di 80:5-10 dengan demikian membandingkan dua sikap terhadap orang yang disapa, merasa tidak memerlukan dan datang dengan bersegera.

Di surah sebelumnya kata yas'aa dipakai untuk Fir'aun yang berbalik pergi sesudah ditawari penyucian diri (79:18-22), dan di sini untuk orang yang datang dan disebut di 80:3 berpeluang menyucitumbuhkan diri. Dua surah yang berurutan memuat gerak bergegas ke dua arah, dan di keduanya tawaran untuk menjadi bersih dan bertumbuh hadir. Di 62:9 akar yang sama dipakai dalam seruan untuk bersegera mengingat Allah, dan 80:4 menyebut kemungkinan orang ini mengambil pelajaran, walaupun tujuan kedatangannya tidak dinyatakan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mencatat cara orang ini datang, dengan bersegera, sebelum menyebut apa pun tentang dirinya selain itu. Kesungguhan yang tampak dalam langkah seseorang sudah cukup untuk disebut di dalam firman-Nya. Di sekitar kita ada orang yang datang dengan cara seperti itu, bertanya dengan sungguh-sungguh, menunggu dengan sabar, atau kembali lagi sesudah tidak dijawab. Kesungguhan mereka mudah terlewat karena tidak dibungkus kedudukan, dan ayat ini mengangkatnya ke depan. Pencatatan di 80:8 memperlihatkan bahwa langkah seperti itu dilihat Allah walaupun manusia tidak menoleh.
  • Kedatangan yang di 80:2 diceritakan dengan "dia datang kepadanya" diulang di 80:8 dengan "datang kepadamu". Peristiwa yang sama berpindah dari cerita tentang orang lain menjadi sapaan kepada orang yang terlibat. Seseorang bisa membaca kisah teguran dengan jarak, seolah-olah mengenai orang lain, sampai kalimatnya berganti menjadi "engkau". Sapaan Allah yang langsung ini mengajak pembacanya bertanya apakah dia pun pernah menjadi orang yang didatangi lalu tidak menyambut.
  • Kata yang sama dipakai untuk Fir'aun yang bergegas menjauh di 79:22 dan untuk orang yang bergegas mendekat di 80:8. Kesibukan sehari-hari membuat orang bergegas, mengejar pekerjaan, janji, atau urusan yang tidak bisa ditunda. Kata ini memperlihatkan bahwa kesibukan yang sama bisa mengarah menjauh atau mendekat. Ke arah mana kita paling sering bergegas, dan apakah arah itu mendekatkan kita kepada peringatan Tuhan atau menjauhkan darinya?
  • Tiga orang yang datang dengan bersegera di 28:20, 36:20, dan 80:8 tidak dinamai. Lelaki di 28:20 datang memperingatkan Musa, lelaki di 36:20 datang mengajak kaumnya mengikuti para rasul, dan orang di 80:8 datang kepada orang yang disapa. Kesungguhan mereka tercatat tanpa nama mereka. Allah melihat langkah orang-orang seperti itu, dan pencatatan ini memberi harga pada kesungguhan orang yang tidak dikenal.
  • Keterangan tentang orang kedua di 80:8-9 terdiri dari gerak dan keadaan hatinya, datang, bersegera, dan takut. Harta, kedudukan, dan asal-usulnya tidak disebut. Manusia sering menimbang orang lain dari hal-hal yang tidak disebut ayat ini, lalu memberi perhatian menurut timbangan itu. Pembagian di 80:5-10 memakai ukuran lain, dan dengan ukuran Tuhan itu orang yang datang dengan bersegera berada di sisi yang semestinya didahulukan. Ukuran mana yang dipakai ketika seseorang datang kepada kita?
  • Susunan "adapun orang yang ... dan adapun orang yang" di surah-surah lain memisahkan nasib manusia di akhirat, pemegang kitab dari sebelah kanan dan dari sebelah kiri, timbangan yang berat dan yang ringan. Di surah ini susunan yang sama dipakai untuk dua orang dalam satu perjumpaan. Pilihan kecil tentang siapa yang didengarkan ditimbang dengan susunan yang di tempat lain dipakai untuk menimbang nasib akhir, sehingga perjumpaan sehari-hari pun berada di bawah penglihatan Allah.

Ayat 80:9

وَهُوَ يَخْشَىٰ

Sedang dia takut,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَهُوَ يَخْشَىٰwa-huwa yakhsyaasedang dia takut

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَهُوَwa-huwasedang dia
  2. يَخْشَىٰyakhsyaatakut

Inti bacaan

Rangkaian wa-huwa yakhsyaa tercatat di 80:9 saja, dan akar خ-ش-ي di 40 tempat. Susunan 20:44 mirip 80:3-4, la'allahu disusul aw, dan dua ayat kemudian, di 80:11, muncul kata tadzkiratun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kata, (وَهُوَ, wa-huwa) yang berarti "sedang dia", dan (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) yang berarti "takut". Kata ganti huwa merujuk orang yang datang dengan bersegera di 80:8. Susunan wa- ditambah kata ganti di sini dibaca sebagai keterangan keadaan, sehingga rasa takut itu menyertai kedatangannya, dan terjemahan menandainya dengan "sedang".

Kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) berasal dari akar خ-ش-ي, yang tercatat di 40 ayat. Bentuk yakhsyaa sendiri muncul di enam ayat, 20:3, 20:44, 35:28, 79:26, 80:9, dan 87:10. Di lima di antaranya kata kerja itu berdiri tanpa sasaran. Di 35:28 sasarannya disebut, (إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ, innamaa yakhsyaa llaaha min 'ibaadihi l-ulamaa'u), "orang-orang berilmu di antara hamba-hamba-Nya, merekalah yang takut kepada Allah".

Di empat tempat lain yang tanpa sasaran, kata ini bersanding dengan peringatan atau pelajaran. Di 20:2-3 Al-Qur'an disebut diturunkan (إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ, illaa tadzkiratan li-man yakhsyaa), "kecuali sebagai peringatan bagi orang yang takut". Di 20:44 Musa dan Harun diminta berbicara lembut kepada Fir'aun, (لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ, la'allahu yatadzakkaru aw yakhsyaa), "semoga dia sadar atau takut". Di 79:26 kisah Fir'aun disebut (لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ, la-'ibratan li-man yakhsyaa), "pelajaran bagi orang yang takut", dan di 87:10, (سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ, sa-yadzdzakkaru man yakhsyaa), "orang yang takut akan mengambil pelajaran".

Susunan 20:44 dekat dengan 80:3-4. Di 20:44 kata (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru), "sadar" atau mengambil pelajaran, berasal dari akar ذ-ك-ر, akar yang juga dipakai untuk pelajaran di 80:4, dan kedua tempat memakai rangka yang sama, la'allahu disusul aw, yang di 20:44 diterjemahkan "semoga dia ... atau ..." dan di 80:3-4 "boleh jadi dia ... atau ...". Di 20:44 rangka itu berakhir dengan kata takut, sedangkan di 80:3-4 berakhir dengan pelajaran yang bermanfaat, lalu rasa takut disebut sendiri di 80:9.

Sasaran takut di 80:9 tidak disebut, dan terjemahan "sedang dia takut" mengikuti bunyi itu tanpa menambahkan "kepada Allah" di dalam kurung. Di ayat-ayat lain sasaran takut disebut dengan jelas. Tuhan mereka tanpa melihat-Nya di 21:49, 35:18, dan 67:12, Ar-Rahman tanpa melihat-Nya di 36:11 dan 50:33, dan Saat itu di 79:45, (إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا, innamaa anta mundziru man yakhsyaahaa), "engkau pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya".

Frasa (وَهُوَ يَخْشَىٰ, wa-huwa yakhsyaa) tercatat di 80:9 saja. Di 80:6-10 tiga ayat mendahulukan kata ganti yang berdiri sendiri sebelum kata kerja, "engkau" di 80:6 dan 80:10, dan "dia" di 80:9. Orang yang disapa dan orang yang datang disebut dengan cara yang sama, masing-masing dengan kata ganti tersendiri, sehingga keduanya ditampilkan berhadapan di dalam satu rangkaian.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan keadaan batin orang yang datang di 80:8. Kedatangannya disertai rasa takut, dan kedua keterangan itu, bersegera dan takut, menjadi seluruh gambaran tentang dirinya sebelum 80:10 menyebut pengabaian yang dia terima. Kedua keterangan itu datang dari firman Allah, sehingga keadaan hatinya diketahui pembaca dari ayat ini.

Rasa takut di dalam Al-Qur'an berulang kali disebut sebagai tanda orang yang menerima peringatan. Di 35:18 dan 36:11 orang yang dapat diberi peringatan disebut orang yang takut kepada Tuhan tanpa melihat-Nya, dan di 79:45, di akhir surah sebelum ini, utusan itu disebut pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepada Saat itu. Orang di 80:9 membawa tanda yang disebut ayat-ayat itu. Ketika dia diabaikan, orang yang disapa meninggalkan orang yang memenuhi ukuran penerima peringatan menurut 35:18, 36:11, dan 79:45.

Pasangan takut dan peringatan ini muncul juga di dalam surah. Sesudah 80:9 menyebut orang yang takut, 80:11 menyebut peringatan, (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun), dengan kata yang di 20:3 disandingkan dengan orang yang takut. Rasa takut orang ini tidak diberi sasaran, sama seperti di 20:3, 79:26, dan 87:10. Pembaca bisa mengisinya dari ayat-ayat lain, sedangkan bunyi 80:9 sendiri berhenti pada kata kerja tanpa sasaran.

Renungan dan Hikmah

  • Rasa takut di ayat ini ditempatkan pada orang yang datang, dan 87:10 menyebut orang yang takut sebagai orang yang akan mengambil pelajaran. Takut bisa dianggap kelemahan yang perlu disembunyikan. Di dalam Al-Qur'an rasa takut dengan akar ini berulang kali menjadi tanda kesiapan menerima peringatan dari Allah. Rasa takut seperti itu bisa membuat seseorang mendengar, dan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak digambarkan membawanya. Di 20:3 dan 87:10 orang yang takut disebut sebagai penerima peringatan dan pelajaran.
  • Rasa takut orang ini keadaan di dalam dirinya, dan Allah yang menyebutkannya di ayat ini. Orang di sekitar kita pun membawa keadaan yang tidak terlihat dari luar, kecemasan, harapan, atau pertanyaan yang belum sempat diucapkan. Seseorang yang datang dengan tergesa-gesa bisa saja sedang memikul sesuatu yang berat. Tanpa keterangan di 80:9, gambaran tentang orang ini berhenti pada langkahnya yang tergesa-gesa. Ayat ini mengingatkan bahwa yang terlihat dari seseorang baru sebagian dari keadaannya, dan Tuhan melihat seluruhnya.
  • Di 20:3 Al-Qur'an disebut peringatan bagi orang yang takut. Bila peringatan itu diturunkan untuk orang yang takut, rasa takut menjadi pintu masuknya. Apa yang terjadi pada peringatan Tuhan ketika rasa takut itu sudah tidak ada, ketika seseorang merasa aman dan cukup? Pertanyaan ini mengembalikan pembacanya kepada dua orang di 80:5-9, yang satu merasa serba cukup dan yang lain datang dengan takut.
  • Sasaran takut di 80:9 tidak disebut, sehingga pembaca diajak bertanya kepada dirinya, apa yang dia takuti. Ayat-ayat lain memberi daftar yang jelas, Tuhan yang tidak terlihat, Ar-Rahman, dan Saat itu. Rasa takut bisa juga tertuju pada hal-hal kecil, kehilangan pekerjaan, penilaian orang, atau kegagalan. Menaruh daftar Al-Qur'an di samping daftar pribadi bisa memperlihatkan ke mana rasa takut itu sebenarnya diarahkan, kepada Allah atau kepada yang lain.
  • Seluruh keterangan tentang orang ini di 80:8-9 terdiri dari beberapa kata, datang, bersegera, dan takut. Allah menggambarkan seorang manusia dengan gerak dan keadaan hatinya, dan gambaran itu cukup untuk menegur orang yang mengabaikannya. Bila seseorang digambarkan dengan beberapa kata tentang gerak dan hatinya, kata-kata apa yang akan tertulis tentang dirinya? Jabatan dan harta tidak termasuk dalam gambaran seperti itu, sebab 80:8-9 tidak memuatnya.
  • Menurut 35:18 dan 36:11, peringatan diberikan kepada orang yang takut kepada Tuhan tanpa melihat-Nya. Seseorang yang mengajar, menasihati, atau berbagi ilmu sering harus memilih kepada siapa waktunya diberikan. Ukuran di ayat-ayat ini jelas, orang yang takut dan datang dengan sungguh-sungguh. Ukuran itu tidak selalu cocok dengan ukuran yang biasa dipakai, seperti pengaruh atau jumlah pengikut, dan 80:10 memperlihatkan teguran bagi yang mengabaikannya.