Ayat 80:9
وَهُوَ يَخْشَىٰ
Sedang dia takut,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُوَ يَخْشَىٰwa-huwa yakhsyaasedang dia takut
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَهُوَwa-huwasedang dia
- يَخْشَىٰyakhsyaatakut
Inti bacaan
Rangkaian wa-huwa yakhsyaa tercatat di 80:9 saja, dan akar خ-ش-ي di 40 tempat. Susunan 20:44 mirip 80:3-4, la'allahu disusul aw, dan dua ayat kemudian, di 80:11, muncul kata tadzkiratun.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata, (وَهُوَ, wa-huwa) yang berarti "sedang dia", dan (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) yang berarti "takut". Kata ganti huwa merujuk orang yang datang dengan bersegera di 80:8. Susunan wa- ditambah kata ganti di sini dibaca sebagai keterangan keadaan, sehingga rasa takut itu menyertai kedatangannya, dan terjemahan menandainya dengan "sedang".
Kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) berasal dari akar خ-ش-ي, yang tercatat di 40 ayat. Bentuk yakhsyaa sendiri muncul di enam ayat, 20:3, 20:44, 35:28, 79:26, 80:9, dan 87:10. Di lima di antaranya kata kerja itu berdiri tanpa sasaran. Di 35:28 sasarannya disebut, (إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ, innamaa yakhsyaa llaaha min 'ibaadihi l-ulamaa'u), "orang-orang berilmu di antara hamba-hamba-Nya, merekalah yang takut kepada Allah".
Di empat tempat lain yang tanpa sasaran, kata ini bersanding dengan peringatan atau pelajaran. Di 20:2-3 Al-Qur'an disebut diturunkan (إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ, illaa tadzkiratan li-man yakhsyaa), "kecuali sebagai peringatan bagi orang yang takut". Di 20:44 Musa dan Harun diminta berbicara lembut kepada Fir'aun, (لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ, la'allahu yatadzakkaru aw yakhsyaa), "semoga dia sadar atau takut". Di 79:26 kisah Fir'aun disebut (لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ, la-'ibratan li-man yakhsyaa), "pelajaran bagi orang yang takut", dan di 87:10, (سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ, sa-yadzdzakkaru man yakhsyaa), "orang yang takut akan mengambil pelajaran".
Susunan 20:44 dekat dengan 80:3-4. Di 20:44 kata (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru), "sadar" atau mengambil pelajaran, berasal dari akar ذ-ك-ر, akar yang juga dipakai untuk pelajaran di 80:4, dan kedua tempat memakai rangka yang sama, la'allahu disusul aw, yang di 20:44 diterjemahkan "semoga dia ... atau ..." dan di 80:3-4 "boleh jadi dia ... atau ...". Di 20:44 rangka itu berakhir dengan kata takut, sedangkan di 80:3-4 berakhir dengan pelajaran yang bermanfaat, lalu rasa takut disebut sendiri di 80:9.
Sasaran takut di 80:9 tidak disebut, dan terjemahan "sedang dia takut" mengikuti bunyi itu tanpa menambahkan "kepada Allah" di dalam kurung. Di ayat-ayat lain sasaran takut disebut dengan jelas. Tuhan mereka tanpa melihat-Nya di 21:49, 35:18, dan 67:12, Ar-Rahman tanpa melihat-Nya di 36:11 dan 50:33, dan Saat itu di 79:45, (إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا, innamaa anta mundziru man yakhsyaahaa), "engkau pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya".
Frasa (وَهُوَ يَخْشَىٰ, wa-huwa yakhsyaa) tercatat di 80:9 saja. Di 80:6-10 tiga ayat mendahulukan kata ganti yang berdiri sendiri sebelum kata kerja, "engkau" di 80:6 dan 80:10, dan "dia" di 80:9. Orang yang disapa dan orang yang datang disebut dengan cara yang sama, masing-masing dengan kata ganti tersendiri, sehingga keduanya ditampilkan berhadapan di dalam satu rangkaian.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan keadaan batin orang yang datang di 80:8. Kedatangannya disertai rasa takut, dan kedua keterangan itu, bersegera dan takut, menjadi seluruh gambaran tentang dirinya sebelum 80:10 menyebut pengabaian yang dia terima. Kedua keterangan itu datang dari firman Allah, sehingga keadaan hatinya diketahui pembaca dari ayat ini.
Rasa takut di dalam Al-Qur'an berulang kali disebut sebagai tanda orang yang menerima peringatan. Di 35:18 dan 36:11 orang yang dapat diberi peringatan disebut orang yang takut kepada Tuhan tanpa melihat-Nya, dan di 79:45, di akhir surah sebelum ini, utusan itu disebut pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepada Saat itu. Orang di 80:9 membawa tanda yang disebut ayat-ayat itu. Ketika dia diabaikan, orang yang disapa meninggalkan orang yang memenuhi ukuran penerima peringatan menurut 35:18, 36:11, dan 79:45.
Pasangan takut dan peringatan ini muncul juga di dalam surah. Sesudah 80:9 menyebut orang yang takut, 80:11 menyebut peringatan, (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun), dengan kata yang di 20:3 disandingkan dengan orang yang takut. Rasa takut orang ini tidak diberi sasaran, sama seperti di 20:3, 79:26, dan 87:10. Pembaca bisa mengisinya dari ayat-ayat lain, sedangkan bunyi 80:9 sendiri berhenti pada kata kerja tanpa sasaran.
Renungan dan Hikmah
- Rasa takut di ayat ini ditempatkan pada orang yang datang, dan 87:10 menyebut orang yang takut sebagai orang yang akan mengambil pelajaran. Takut bisa dianggap kelemahan yang perlu disembunyikan. Di dalam Al-Qur'an rasa takut dengan akar ini berulang kali menjadi tanda kesiapan menerima peringatan dari Allah. Rasa takut seperti itu bisa membuat seseorang mendengar, dan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak digambarkan membawanya. Di 20:3 dan 87:10 orang yang takut disebut sebagai penerima peringatan dan pelajaran.
- Rasa takut orang ini keadaan di dalam dirinya, dan Allah yang menyebutkannya di ayat ini. Orang di sekitar kita pun membawa keadaan yang tidak terlihat dari luar, kecemasan, harapan, atau pertanyaan yang belum sempat diucapkan. Seseorang yang datang dengan tergesa-gesa bisa saja sedang memikul sesuatu yang berat. Tanpa keterangan di 80:9, gambaran tentang orang ini berhenti pada langkahnya yang tergesa-gesa. Ayat ini mengingatkan bahwa yang terlihat dari seseorang baru sebagian dari keadaannya, dan Tuhan melihat seluruhnya.
- Di 20:3 Al-Qur'an disebut peringatan bagi orang yang takut. Bila peringatan itu diturunkan untuk orang yang takut, rasa takut menjadi pintu masuknya. Apa yang terjadi pada peringatan Tuhan ketika rasa takut itu sudah tidak ada, ketika seseorang merasa aman dan cukup? Pertanyaan ini mengembalikan pembacanya kepada dua orang di 80:5-9, yang satu merasa serba cukup dan yang lain datang dengan takut.
- Sasaran takut di 80:9 tidak disebut, sehingga pembaca diajak bertanya kepada dirinya, apa yang dia takuti. Ayat-ayat lain memberi daftar yang jelas, Tuhan yang tidak terlihat, Ar-Rahman, dan Saat itu. Rasa takut bisa juga tertuju pada hal-hal kecil, kehilangan pekerjaan, penilaian orang, atau kegagalan. Menaruh daftar Al-Qur'an di samping daftar pribadi bisa memperlihatkan ke mana rasa takut itu sebenarnya diarahkan, kepada Allah atau kepada yang lain.
- Seluruh keterangan tentang orang ini di 80:8-9 terdiri dari beberapa kata, datang, bersegera, dan takut. Allah menggambarkan seorang manusia dengan gerak dan keadaan hatinya, dan gambaran itu cukup untuk menegur orang yang mengabaikannya. Bila seseorang digambarkan dengan beberapa kata tentang gerak dan hatinya, kata-kata apa yang akan tertulis tentang dirinya? Jabatan dan harta tidak termasuk dalam gambaran seperti itu, sebab 80:8-9 tidak memuatnya.
- Menurut 35:18 dan 36:11, peringatan diberikan kepada orang yang takut kepada Tuhan tanpa melihat-Nya. Seseorang yang mengajar, menasihati, atau berbagi ilmu sering harus memilih kepada siapa waktunya diberikan. Ukuran di ayat-ayat ini jelas, orang yang takut dan datang dengan sungguh-sungguh. Ukuran itu tidak selalu cocok dengan ukuran yang biasa dipakai, seperti pengaruh atau jumlah pengikut, dan 80:10 memperlihatkan teguran bagi yang mengabaikannya.
Ayat 80:10
فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
Maka engkau mengabaikannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰfa-anta 'anhu talahhaamaka engkau mengabaikannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْتَfa-antamaka engkau
- عَنْهُ'anhudarinya
- تَلَهَّىٰtalahhaamengabaikan
Inti bacaan
Bentuk talahhaa muncul di 80:10 saja dari 15 ayat berakar ل-ه-و. Di 62:11 lahw membuat orang berpencar, di 21:3 hati lalai ketika zikir baru tiba, dan susunan fa-anta menyejajarkan 80:10 dengan 80:6.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَأَنْتَ, fa-anta) yang berarti "maka engkau", (عَنْهُ, 'anhu) yang berarti "darinya", dan (تَلَهَّىٰ, talahhaa) yang berarti "mengabaikan". Awalan fa- menjawab (وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ, wa-ammaa man jaa'aka yas'aa) di 80:8, sehingga 80:8-10 terbaca sebagai satu kalimat, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedang dia takut, maka engkau mengabaikannya.
Kata (تَلَهَّىٰ, talahhaa) berasal dari akar ل-ه-و, yang tercatat di 15 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:10 saja. Di ayat-ayat lain akar ini sering muncul sebagai kata benda "kelengahan" atau "senda gurau", yang disandingkan dengan permainan untuk menyifati kehidupan dunia, misalnya di 6:32, 29:64, 47:36, dan 57:20. Di 21:2-3 akar ini menyifati hati orang-orang yang mendengar peringatan baru sambil bermain-main, (لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ, laahiyatan quluubuhum), "hati mereka dalam keadaan lalai". Di sana kelalaian terjadi ketika peringatan sedang sampai kepada mereka.
Di 62:11 kata benda yang sama dipakai untuk sesuatu yang membuat orang berpencar, (وَتَرَكُوكَ قَائِمًا, wa-tarakuuka qaa'iman), "dan meninggalkanmu berdiri". Dalam ayat itu orang yang disapa ditinggalkan oleh orang-orang yang tertarik pada perdagangan atau kelengahan. Di 80:10 kedudukannya terbalik, sebab orang yang disapa menjadi pelaku kelalaian, dan orang yang datang kepadanya yang ditinggalkan.
Bentuk kata kerjanya muncul di empat ayat lain, dan di keempatnya pelaku yang melalaikan berupa sesuatu di luar diri manusia. Di 15:3 angan-angan, (وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ, wa-yulhihimu l-amalu), di 24:37 perniagaan dan jual beli, (لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ, laa tulhiihim tijaaratun wa-laa bay'un 'an dzikri llaahi), di 63:9 harta dan anak-anak, dan di 102:1 berlomba memperbanyak, (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ, alhaakumu t-takaatsuru). Di 80:10 pelakunya "engkau", dan tidak ada sesuatu di luar diri yang disebut melalaikannya.
Kata (عَنْهُ, 'anhu) berhadapan dengan (لَهُ, lahu) di 80:6. Kedua ayat dibangun dengan urutan yang sama, dimulai (فَأَنْتَ, fa-anta), disusul kata depan berakhiran -hu, lalu kata kerja yang sebunyi, (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) dan (تَلَهَّىٰ, talahhaa). Kata ganti fa-anta tercatat di dua ayat ini saja di seluruh Al-Qur'an, sehingga kedua ayat terbaca sebagai sepasang.
Terjemahan "mengabaikannya" memuat akhiran -nya dari (عَنْهُ, 'anhu). Kata kerja "mengabaikan" dalam bahasa Indonesia langsung menerima sasaran, sehingga "darinya" tidak perlu diterjemahkan terpisah, dan maknanya tetap utuh.
Tafsiran
Ayat ini menutup perbandingan di 80:5-10 dan menutup sapaan kepada "engkau" di awal surah. Orang yang merasa serba cukup diberi perhatian, sedangkan orang yang datang dengan bersegera dan takut diabaikan, dan dua perbuatan itu dicatat dengan kalimat yang sejajar di 80:6 dan 80:10, masing-masing dibuka dengan kata ganti "engkau".
Sapaan orang kedua tunggal berhenti di ayat ini. Sesudahnya 80:11 dibuka dengan (كَلَّا, kallaa), "sekali-kali tidak", dan surah beralih membicarakan peringatan itu sendiri, lalu manusia pada umumnya sejak 80:17. Selama sepuluh ayat pertama tidak ada kata perintah maupun larangan. Teguran itu disampaikan lewat penyebutan perbuatan, dengan dua pasang kalimat yang saling berhadapan, 80:5-7 dengan 80:8-10.
Pengabaian di ayat ini berhadapan dengan 80:4, yang menyebut kemungkinan orang buta itu mengambil pelajaran lalu pelajaran itu bermanfaat baginya. Di 24:37 dan 63:9 kata kerja dari akar ini bersambung dengan "dari mengingat Allah". Di 80:10 kata kerjanya bersambung dengan "darinya", dari orang yang menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran. Kelalaian itu dengan demikian mengenai seorang manusia yang sedang berada di dekat peringatan, dan ayat berikutnya langsung dibuka dengan (كَلَّا, kallaa).
Renungan dan Hikmah
- Di ayat-ayat lain yang melalaikan manusia disebut dengan jelas, angan-angan, perniagaan, harta dan anak-anak, atau berlomba memperbanyak. Di 80:10 tidak ada penyebab seperti itu, dan pelakunya "engkau". Kelalaian sering dijelaskan dengan menunjuk kesibukan atau keadaan, dan penjelasan itu bisa benar. Allah di ayat ini menaruh kelalaian pada orang yang disapa, sehingga pertanyaan tentang siapa yang diabaikan kembali kepada orang yang mengabaikan, dan tidak berhenti pada keadaan di sekitarnya.
- Dua kalimat sejajar di 80:6 dan 80:10 memperlihatkan seluruh persoalan dalam dua baris, kepadanya engkau menghadapkan perhatian, darinya engkau lalai. Bila hari seseorang ditulis dalam dua kalimat seperti itu, siapa yang akan berada di kalimat pertama dan siapa di kalimat kedua? Tuhan menyusun teguran ini dengan cara yang membuat pembacanya bisa memakai rangka yang sama untuk menimbang harinya sendiri. Rangka itu tidak menuntut penjelasan panjang, cukup dua orang dan dua arah perhatian.
- Orang yang datang dengan bersegera dan takut disambut dengan pengabaian. Siapa pun yang pernah datang dengan sungguh-sungguh lalu tidak dihiraukan bisa mengenali rasa itu. Allah mencatat kesungguhan orang ini di 80:8-9 sebelum mencatat pengabaian yang dia terima, sehingga kesungguhannya tetap tercatat walaupun manusia di depannya tidak menyambut. Bagi orang yang merasa diabaikan, catatan ini memperlihatkan bahwa langkahnya tetap terlihat oleh-Nya.
- Sepuluh ayat pertama surah ini mencatat empat perbuatan, bermuka masam, berpaling, menghadapkan perhatian, dan mengabaikan. Keempatnya dicatat sebagai raut wajah, arah tubuh, dan arah perhatian, dan ucapan yang mungkin menyertainya tidak ikut dicatat. Allah menegur gerak dan arah perhatian, hal-hal yang sering luput dari pemeriksaan diri karena tidak berupa ucapan. Seseorang bisa menjaga lisannya dengan baik, sementara raut wajah dan arah perhatiannya memperlihatkan hal lain kepada orang yang datang.
- Isi perhatian di 80:6 tidak dicatat, sehingga kesibukan itu tidak dinilai buruk atau baik, dan kelalaian di 80:10 terjadi di tengah kesibukan yang tidak dicela isinya. Seseorang bisa merasa sedang mengerjakan urusan yang baik, lalu melewatkan orang yang datang, orang yang menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran. Tuhan mencatat keduanya, kesibukan itu dan orang yang datang. Siapa yang sedang datang kepada kita dengan pertanyaan, dan apakah kita mendengarnya di tengah kesibukan yang kita anggap penting?
- Akar yang di ayat ini dipakai untuk satu pengabaian juga dipakai untuk menyifati kehidupan dunia sebagai permainan dan kelengahan, di 6:32 dan 57:20. Kelengahan yang di ayat-ayat itu disebut dalam ukuran seluruh kehidupan, di sini muncul dalam satu perjumpaan dengan satu orang. Allah memakai akar yang sama untuk keduanya, dan pembaca bisa menimbang apakah kelengahan yang disebut di 57:20 juga hadir dalam perbuatan-perbuatan kecil seperti ini.