Ayat 80:21
ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ
Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُtsumma amaatahu fa-aqbarahukemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- أَمَاتَهُamaatahumematikannya
- فَأَقْبَرَهُfa-aqbarahulalu Dia menguburkannya
Inti bacaan
Tulisan amaatahu tercatat di 2:259 dan 80:21, dan di kedua ayat kematian disusul kebangkitan. Bentuk kata kerja aqbara tercatat di 80:21 saja, sedangkan tujuh ayat lain dari akar ق-ب-ر memakai kata benda untuk kubur, antara lain 22:7 dan 82:4.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat dua kata kerja dengan pelaku yang sama, (أَمَاتَهُ, amaatahu) yang berarti "Dia mematikannya", dan (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) yang berarti "lalu Dia menguburkannya". Keduanya berbentuk lampau dan berakhiran -hu, "-nya", yang menunjuk manusia yang disebut di 80:17. Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", kata sambung yang juga membuka 80:20 dan 80:22, dan kedua kata kerjanya disambung dengan fa-, "lalu".
Kata (أَمَاتَهُ, amaatahu) berasal dari akar م-و-ت. Bentuk kata kerja amaata, "mematikan", tercatat di 20 ayat, sedangkan bentuk dasarnya, (مَاتَ, maata), berarti "mati" dan dipakai untuk orang yang mengalami kematian, misalnya di 9:84. Di 53:44 bentuk amaata berpasangan dengan lawannya, (وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا, wa-annahu huwa amaata wa-ahyaa), "dan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan". Tulisan amaatahu dengan akhiran -hu tercatat di dua ayat, 2:259 dan 80:21. Di 2:259 Allah mematikan seseorang yang bertanya bagaimana Allah menghidupkan negeri yang roboh sesudah matinya, (فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ, fa-amaatahu llaahu mi'ata 'aamin tsumma ba'atsahu), "maka Allah mematikannya seratus tahun, kemudian membangkitkannya". Di kedua ayat kematian itu disusul kebangkitan, dan penyambungnya kata tsumma.
Kata (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) berasal dari akar ق-ب-ر, yang tercatat di delapan ayat, dan bentuk kata kerja aqbara tercatat di 80:21 saja. Tujuh ayat lainnya memakai kata benda untuk kubur. Di 22:7, (وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ, wa-anna llaaha yab'atsu man fii l-qubuuri), "dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa yang di dalam kubur", dan di 82:4, (وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ, wa-idzaa l-qubuuru bu'tsirat), "dan apabila kuburan-kuburan dibongkar-balik". Di kedua ayat itu kubur disebut bersama kebangkitan, dengan urutan yang serupa dengan 80:21-22.
Kedua kata kerja di ayat ini berpola sama, amaata dan aqbara, dengan awalan a- yang juga terdapat pada ansyara di 80:22, dan pelaku ketiganya Allah. Penguburan di 80:21 disebut sebagai perbuatan-Nya, sedangkan di 5:31 penguburan dikerjakan oleh manusia. Di ayat itu Allah mengutus seekor burung gagak untuk memperlihatkan kepadanya (كَيْفَ يُوَارِي, kayfa yuwaarii), "bagaimana dia menutupi" jasad saudaranya. Kata kerja di 5:31 berasal dari akar lain, و-ر-ي, dan pelakunya anak Adam yang menutupi jasad saudaranya. Kedua ayat itu dapat dibaca bersama, tangan manusia yang menutupi jasad di 5:31 dan penguburan yang di 80:21 disandarkan kepada Allah.
Tafsiran
Ayat ini meringkas akhir hidup manusia dalam dua kata kerja. Rangkaian 80:18-22 menyebut asal manusia dari setetes mani, penentuan dirinya, jalan yang dimudahkan baginya, kematian dan penguburannya, lalu kebangkitannya, dan di setiap tahap Allah menjadi pelaku sedangkan manusia disebut lewat akhiran -hu. Awal hidup di 80:19, (خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ, khalaqahu fa-qaddarahu), "Dia menciptakannya, lalu menentukannya", dan akhir hidup di 80:21 disusun dengan pola yang sama, dua kata kerja yang disambung fa-, sehingga kelahiran dan kematian manusia disebut dengan bentuk yang serupa sebagai perbuatan Allah.
Susunan ini sejalan dengan 2:28, yang bertanya (كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ, kayfa takfuruuna bi-llaahi), "bagaimana kalian menjadi kufur kepada Allah", lalu menyebut urutan hidup dan mati manusia, (ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ, tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum), "kemudian Dia mematikan kalian, kemudian Dia menghidupkan kalian lagi". Di surah ini kecaman atas kekufuran manusia di 80:17 juga disusul urutan hidup dan mati di 80:18-22. Di kedua tempat itu kekufuran manusia dihadapkan pada perjalanan hidupnya sendiri, dari awal sampai kebangkitan.
Ayat ini juga menyiapkan 80:23. Kematian dan penguburan disebut lebih dahulu, kebangkitan menyusul di 80:22, dan sesudah itu datang pernyataan bahwa manusia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dengan urutan itu, penilaian di 80:23 terbaca sesudah seluruh rentang hidup manusia disebut, dari setetes mani sampai kubur.
Renungan dan Hikmah
- Kematian di ayat ini disebut sebagai perbuatan Allah, "Dia mematikannya", dengan kata kerja yang di 53:44 berpasangan dengan menghidupkan. Manusia yang di 80:17 dicela karena kekufurannya tidak ikut menentukan kapan hidupnya berakhir. Rencana yang disusun seseorang untuk tahun depan disusun di dalam waktu yang batasnya dipegang Allah. Kesadaran itu tidak menghapus rencana, tetapi menempatkannya sebagai rencana yang dapat terputus sewaktu-waktu, sehingga pekerjaan yang penting tidak ditunda dengan anggapan bahwa waktunya pasti masih tersedia.
- Di 5:31 anak Adam belajar dari seekor burung gagak cara menutupi jasad saudaranya, lalu dia menyesal. Di 80:21 penguburan disebut sebagai perbuatan Allah. Orang yang menguburkan jenazah mengerjakan dengan tangannya apa yang di ayat ini disandarkan kepada Allah, dan jasad yang tidak lagi dapat mengurus dirinya diberi tempat. Penguburan dengan demikian terbaca sebagai bagian dari perlakuan Allah atas manusia sampai akhir hidupnya, dan orang yang mengerjakannya ikut serta dalam perlakuan itu.
- Pada 80:5 surah ini menyebut orang yang merasa serba cukup, dan perhatian orang yang disapa di awal surah tertuju kepadanya. Di 80:21 manusia dikuburkan tanpa kecukupan itu disebut lagi. Di 102:1-2 perlombaan memperbanyak disebut melalaikan manusia (حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ, hattaa zurtumu l-maqaabira), "hingga kalian menziarahi kubur". Harta, kedudukan, dan jumlah pengikut tidak disebut dalam ayat tentang penguburan, dan manusia di sana disebut dengan akhiran -hu saja, tanpa keterangan tentang apa yang dahulu dimilikinya.
- Perumpamaan di 35:22 menyatakan bahwa orang yang hidup tidak sama dengan orang yang mati, lalu (وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ, wa-maa anta bi-musmi'in man fi l-qubuuri), "dan engkau tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar". Orang yang di dalam kubur di ayat itu dijadikan perumpamaan bagi orang yang tidak lagi dapat dibuat mendengar. Selama seseorang belum sampai ke tahap yang disebut di 80:21, telinganya masih dapat menerima peringatan yang di 80:11-12 disebut dapat diingat oleh siapa yang menghendaki, dan 35:22 menyebut bahwa Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki.
- Perintah di 63:10 menyuruh berinfak dari rezeki yang diberikan Allah sebelum kematian datang, lalu menggambarkan orang yang didatangi kematian berkata (رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ, rabbi lawlaa akhkhartanii ilaa ajalin qariibin), "Tuhanku, sekiranya Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat". Di 80:21 kematian dan penguburan disebut berurutan dalam satu ayat, tanpa kalimat tentang penundaan. Kebaikan yang hendak dikerjakan pada waktu yang dekat itu dapat dikerjakan hari ini, selagi permintaan semacam itu belum perlu diucapkan.
- Ayat tentang penguburan ini disusul 80:22, ayat tentang kebangkitan, dan 22:7 menyatakan bahwa Allah akan membangkitkan siapa yang di dalam kubur. Apa yang dibaca oleh orang yang baru menguburkan keluarganya ketika ayat tentang penguburan disusul ayat tentang kebangkitan? Duka atas kematian tidak dihapus oleh urutan itu, dan kubur yang baru ditinggalkan disebut dalam Al-Qur'an sebagai tempat yang kelak dibongkar pada hari kebangkitan (82:4), sehingga kubur terbaca sebagai tahap dalam perjalanan orang yang dikuburkan, dan perjalanan itu berlanjut sampai hari kebangkitan.
Ayat 80:22
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ
Kemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُtsumma idzaa syaa'a ansyarahukemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- إِذَاidzaaapabila
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- أَنْشَرَهُansyarahuDia membangkitkannya
Inti bacaan
Kata kerja ansyara tercatat di tiga ayat, 21:21, 43:11, dan 80:22, dan turunannya munsyariin di 44:35. Pelakunya di 43:11 dan 80:22 ialah Allah, sedangkan 21:21 mempertanyakan tuhan-tuhan dari bumi yang dianggap sanggup melakukannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat kata sambung (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", keterangan (إِذَا شَاءَ, idzaa syaa'a), "apabila Dia menghendaki", dan kata kerja (أَنْشَرَهُ, ansyarahu), "Dia membangkitkannya". Akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk manusia yang sama dengan akhiran pada amaatahu dan fa-aqbarahu di 80:21, dan pelakunya tetap Allah. Ayat ini ayat ketiga berturut-turut yang dibuka dengan tsumma, sesudah 80:20 dan 80:21.
Kata (أَنْشَرَهُ, ansyarahu) berasal dari akar ن-ش-ر, yang tercatat di 20 ayat. Kata kerja ansyara, "membangkitkan" atau "menghidupkan", tercatat di tiga ayat, 21:21, 43:11, dan 80:22, dan bentuk turunannya yang berpola sama, munsyariin, "orang-orang yang dibangkitkan", tercatat di 44:35. Di 21:21 bentuk itu muncul dalam pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang diambil dari bumi, (هُمْ يُنْشِرُونَ, hum yunsyiruuna), "yang dapat menghidupkan". Di 44:35 dikutip perkataan orang-orang yang menolak kebangkitan, (وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ, wa-maa nahnu bi-munsyariina), "dan kita tidak akan dibangkitkan". Di 43:11 kata kerja yang sama dipakai untuk negeri mati yang dihidupkan dengan air dari langit, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan.
Kata benda dari akar yang sama, yang berarti "kebangkitan", tercatat di lima ayat, 25:3, 25:40, 25:47, 35:9, dan 67:15. Di 35:9, sesudah angin, awan, dan negeri mati yang dihidupkan dengan air, ayat itu ditutup dengan (كَذَٰلِكَ النُّشُورُ, ka-dzaalika n-nusyuuru), "demikianlah kebangkitan itu". Di 67:15, sesudah perintah berjalan di penjuru bumi dan makan dari rezeki-Nya, ayat itu ditutup dengan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru), "dan kepada-Nyalah kebangkitan". Di 25:47 kata benda itu dipakai untuk siang, (وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا, wa-ja'ala n-nahaara nusyuuran), "dan menjadikan siang untuk bangkit", sesudah malam disebut pakaian dan tidur disebut istirahat, sehingga bangun dari tidur dan bangkit sesudah mati disebut dengan akar yang sama. Di 25:40 orang-orang yang melewati negeri yang dihujani hujan yang buruk disebut (بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا, bal kaanuu laa yarjuuna nusyuuran), "bahkan, mereka tidak mengharapkan kebangkitan".
Kebangkitan di 2:259 dan 22:7 disebut dengan akar lain, ب-ع-ث, sedangkan 80:22 memakai akar ن-ش-ر, akar yang di 43:11 dipakai untuk negeri mati yang dihidupkan dan di 35:9 dipakai untuk menamai kebangkitan sesudah gambaran bumi yang hidup kembali.
Keterangan (إِذَا شَاءَ, idzaa syaa'a) tercatat di 80:22 saja. Kata kerja syaa'a, "menghendaki", dipakai di surah ini pada 80:12 dan 80:22. Di 80:12 pelakunya manusia, (فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ, fa-man syaa'a dzakarahu), "maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya", sedangkan di 80:22 pelakunya Allah. Waktu kebangkitan tidak ditentukan di 80:22, dan kata idzaa, "apabila", menyandarkannya kepada kehendak Allah tanpa menyebut kapan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian 80:18-22 dengan kebangkitan. Sesudah kematian dan penguburan di 80:21, rangkaian itu tidak berhenti di kubur, dan deretan kata kerja berakhiran -hu itu ditutup dengan ansyarahu. Di 25:3 tuhan-tuhan selain Allah digambarkan (وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا, wa-laa yamlikuuna mawtan wa-laa hayaatan wa-laa nusyuuran), "dan tidak menguasai kematian, dan tidak kehidupan, dan tidak kebangkitan". Ketiga hal yang disangkal dari tuhan-tuhan itu disebut di 80:18-22 sebagai perbuatan Allah atas manusia, kehidupan sejak setetes mani, kematian, dan kebangkitan.
Ayat ini juga menjawab perkataan yang dikutip di 44:35 dengan akar dan pola yang sama. Orang-orang itu berkata bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, dan 80:22 menyatakan bahwa Allah membangkitkan manusia, tanpa perdebatan di dalam ayatnya. Bahan renungannya datang sesudahnya, di 80:24-32, ketika manusia diminta memperhatikan makanannya yang tumbuh dari bumi yang dibelah, gambaran yang di 43:11 disandingkan dengan pernyataan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan.
Waktu kebangkitan disandarkan kepada kehendak Allah. Menjelang akhir surah sebelumnya, orang-orang bertanya tentang Saat itu, (أَيَّانَ مُرْسَاهَا, ayyaana mursaahaa), "kapan tibanya" (79:42), dan jawabannya (إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا, ilaa rabbika muntahaahaa), "kepada Tuhanmulah kesudahannya" (79:44). Di 80:22 kebangkitan manusia disebut dengan cara yang sama, waktunya diserahkan kepada kehendak Allah sementara kepastiannya dinyatakan.
Renungan dan Hikmah
- Kapan kebangkitan terjadi tidak diberitahukan di 80:22, dan di 79:44 kesudahannya diserahkan kepada Tuhan. Banyak urusan hidup ditata dengan tenggat, dan pekerjaan yang tenggatnya jauh mudah tertunda sampai tenggat itu dekat. Kebangkitan disebut tanpa tanggal, sehingga persiapan untuknya tidak dapat diatur dengan cara itu. Orang yang menunggu tanda-tanda waktunya sebelum bersiap akan terus menunda, sebab tanda itu tidak diberikan kepadanya, dan kepastian yang dinyatakan Allah di ayat ini cukup menjadi alasan untuk bersiap sejak sekarang.
- Kata kerja menghendaki dipakai di surah ini untuk dua pelaku. Di 80:12 manusia yang menghendaki akan mengingat peringatan, dan di 80:22 Allah membangkitkan manusia apabila Dia menghendaki. Kesediaan mengingat peringatan diletakkan dalam kehendak manusia, sedangkan waktu kebangkitan tidak. Ke mana perhatian seseorang lebih banyak tercurah, kepada hal yang diletakkan Allah dalam kehendaknya atau kepada hal yang tidak? Kegelisahan tentang kapan akhir datang tidak mengubah waktunya, sedangkan kesediaan mengingat masih dapat dipilih hari ini.
- Di 21:21 diajukan pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang diambil dari bumi, apakah mereka dapat menghidupkan, dan 21:22 menyatakan bahwa langit dan bumi akan binasa sekiranya ada tuhan-tuhan selain Allah. Kata kerja yang dipakai dalam pertanyaan itu dipakai di 80:22 untuk Allah. Harta, jabatan, dan orang yang berpengaruh dapat menolong seseorang dalam banyak urusan hidup, dan 80:5 menyebut orang yang merasa serba cukup dengan semua itu. Pada tahap yang disebut di 80:22, sandaran-sandaran itu tidak berperan, dan kebangkitan manusia berada pada kehendak Allah.
- Di 43:11 negeri yang mati dihidupkan dengan air dari langit, dengan kata kerja yang sama dengan ansyarahu, lalu ayat itu menyatakan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan. Tanah yang retak pada musim kemarau lalu menghijau sesudah hujan pertama dapat disaksikan di banyak tempat, dan pemandangan itu disandingkan Allah dengan kebangkitan manusia. Orang yang meragukan kebangkitan dapat melihat perumpamaannya berulang setiap tahun, tanpa harus menunggu hari itu tiba.
- Akhiran -hu di ayat ini tunggal, dan 80:37 menyatakan (لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ, li-kulli mri'in minhum yawma'idzin sya'nun yughniihi), "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya". Selama hidup manusia dihitung dalam kelompok, keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Pada kebangkitan Allah membangkitkan setiap orang, dan tiap orang disibukkan oleh urusannya sendiri, sehingga keanggotaan dalam kelompok tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban pribadi.
- Ayat 67:15 menyebut bumi yang dijadikan Allah mudah bagi manusia, memerintahkan berjalan di penjuru-penjurunya dan makan dari rezeki-Nya, lalu menutup dengan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru), "dan kepada-Nyalah kebangkitan". Kegiatan sehari-hari, berangkat bekerja, mencari nafkah, dan makan, disebut dalam satu ayat bersama kebangkitan. Perjalanan ke tempat kerja dan makan siang berlangsung dalam hidup yang sedang menuju hari yang disebut di 80:22, dan kesadaran itu dapat menyertai kegiatan yang paling biasa.
Ayat 80:23
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ
Sekali-kali tidak! Dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُkallaa lammaa yaqdhi maa amarahusekali-kali tidak, dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya
Terjemahan per kata (5 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَمَّاlammaabelum
- يَقْضِyaqdhimenunaikan
- مَاmaaapa yang
- أَمَرَهُamarahumemerintahkannya
Inti bacaan
Susunan lammaa dengan kata kerja seperti di ayat ini tercatat di enam ayat, dan di semuanya terjemahan proyek ini memakai kata belum. Ungkapan maa amarahum tercatat di 66:6, tentang malaikat yang tidak mendurhakai Allah terhadap perintah-Nya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari empat bagian, (كَلَّا, kallaa) yang berarti "sekali-kali tidak", (لَمَّا, lammaa) yang berarti "belum", kata kerja (يَقْضِ, yaqdhi) yang berarti "menunaikan", dan (مَا أَمَرَهُ, maa amarahu) yang berarti "apa yang diperintahkan-Nya kepadanya". Pelaku yaqdhi ialah manusia yang disebut sejak 80:17, sedangkan pelaku kata kerja amara ialah Allah, dan akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk manusia tadi. Ayat yang pendek ini memuat dua pelaku, Allah yang memerintah dan manusia yang belum menunaikan perintah itu.
Di surah ini kata (كَلَّا, kallaa) dipakai di 80:11 dan 80:23. Di 80:11 kata itu datang sesudah teguran kepada orang yang disapa di 80:1-10, lalu disusul (إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ, innahaa tadzkiratun), "sesungguhnya itu adalah peringatan". Di 80:23 kata itu datang sesudah rangkaian penciptaan, kematian, dan kebangkitan di 80:18-22. Apa yang ditolak dengan kallaa di 80:23 tidak dirumuskan dalam kalimat tersendiri, dan kalimat yang menyusulnya menyatakan keadaan manusia, bahwa dia belum menunaikan perintah.
Kata (لَمَّا, lammaa) yang diikuti kata kerja seperti di ayat ini tercatat di enam ayat, 2:214, 9:16, 10:39, 49:14, 62:3, dan 80:23, dan di keenamnya terjemahan proyek ini memakai kata "belum". Di 49:14 kata itu dipakai untuk orang-orang yang mengaku telah beriman, (وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ, wa-lammaa yadkhuli l-iimaanu fii quluubikum), "karena iman belum masuk ke dalam hati kalian", dan di 62:3 untuk orang-orang (لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ, lammaa yalhaquu bihim), "yang belum menyusul mereka". Kata lammaa juga dipakai dengan kata kerja lampau dan berarti "ketika", misalnya di 28:29, sehingga makna "belum" di keenam ayat itu terbaca dari susunannya.
Kata (يَقْضِ, yaqdhi) berasal dari akar ق-ض-ي, yang tercatat di 59 ayat, dan tulisan ini tercatat di 80:23 saja. Di 28:29, (فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ, fa-lammaa qadhaa muusaa l-ajala), "maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu", dan di 33:23, (فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ, fa-minhum man qadhaa nahbahu), "maka di antara mereka ada yang memenuhi nazarnya". Di kedua ayat itu sasaran kata kerja qadhaa berupa sesuatu yang harus dituntaskan, masa kerja yang disepakati di 28:27 dan nazar yang diucapkan, sedangkan di 80:23 sasarannya perintah Allah.
Kata (أَمَرَهُ, amarahu) berasal dari akar أ-م-ر, yang tercatat di 226 ayat. Ungkapan yang serupa, dengan akhiran yang menunjuk penerima perintah, tercatat di 66:6 tentang malaikat penjaga api, (لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ, laa ya'shuuna llaaha maa amarahum), "yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka". Isi perintah itu tidak dirinci di 80:23. Di surah ini perintah yang disebut sesudahnya terdapat di 80:24, hendaklah manusia memperhatikan makanannya, dan sebelumnya 80:11-12 menyebut peringatan yang dapat diingat oleh siapa yang menghendaki.
Tafsiran
Ayat ini membalik arah rangkaian sebelumnya. Dari 80:18 sampai 80:22 setiap kata kerja berpelaku Allah, dan manusia disebut lewat akhiran -hu sebagai pihak yang diciptakan, ditentukan, dimudahkan jalannya, dimatikan, dikuburkan, dan dibangkitkan. Di 80:23 manusia menjadi pelaku kata kerja untuk pertama kali dalam rangkaian itu, dan kata kerja itu didahului lammaa, "belum". Sesudah semua yang dikerjakan Allah untuknya, dari manusia tercatat perintah yang belum ditunaikan.
Kata kallaa di ayat ini dipakai juga di 23:100, sesudah orang yang didatangi kematian meminta dikembalikan, (لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ, la'allii a'malu shaalihan fiimaa taraktu), "agar aku beramal saleh pada apa yang telah aku tinggalkan". Permintaan itu dijawab dengan kallaa, lalu ayat itu menyebut barzakh, sekat di belakang mereka sampai hari mereka dibangkitkan. Di 80:21-23 urutannya serupa, kematian, kebangkitan, lalu kallaa dan pernyataan bahwa perintah belum ditunaikan. Kedua tempat itu menempatkan penunaian perintah pada masa hidup, sebelum kematian yang disebut di 80:21.
Pernyataan di ayat ini menyangkut manusia yang di 80:17 dicela karena kekufurannya, dan surah ini tidak menyamaratakan semua manusia. Di 80:38-41 disebut dua kelompok wajah pada hari itu, wajah-wajah yang berseri-seri dan wajah-wajah yang tertutup debu. Pernyataan belum menunaikan terbaca sebagai keadaan manusia yang kufur itu, sedangkan wajah-wajah yang berseri di 80:38 memperlihatkan bahwa ada manusia yang sampai kepada keadaan lain.
Renungan dan Hikmah
- Kata belum menyatakan sesuatu yang sampai saat itu tidak terjadi, tanpa menutup kemungkinan terjadinya kemudian. Selama seseorang masih hidup, perintah yang belum ditunaikan masih dapat ditunaikan, dan pembaca yang membaca 80:23 hari ini membacanya sebelum kematian yang disebut di 80:21 datang kepadanya. Perintah Allah mana yang sampai hari ini masih berstatus belum dalam hidup seseorang? Pertanyaan itu dapat diajukan setiap hari selama waktunya masih ada, dan jawabannya dapat berubah esok hari.
- Sesudah pernyataan bahwa manusia belum menunaikan perintah, 80:24 memberi perintah yang ringan, memperhatikan makanan. Perintah pertama yang disebut sesudah 80:23 tidak berupa tuntutan yang berat, dan isinya perhatian kepada apa yang dimakan setiap hari. Dari perhatian itu 80:25-32 menuntun pembaca kepada air yang dicurahkan Allah, bumi yang dibelah, dan tumbuhan yang ditumbuhkan-Nya. Orang yang merasa jauh dari menunaikan perintah dapat memulai dari tempat yang ditunjuk ayat berikutnya, piring di hadapannya.
- Ungkapan yang serupa dipakai di 66:6 untuk malaikat yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan di 80:23 untuk manusia yang belum menunaikannya. Malaikat di 66:6 disebut mengerjakan apa yang diperintahkan, sedangkan manusia diberi kehendak, dan 80:12 menyebut bahwa siapa yang menghendaki akan mengingat peringatan. Jarak antara perintah dan penunaiannya pada manusia menjadi ruang pilihannya, dan di ruang itu pula pujian dan celaan diletakkan, bersama kesediaannya menunaikan perintah dengan pilihannya sendiri.
- Di 33:23 orang-orang beriman terbagi dua, ada yang telah memenuhi nazarnya, dengan kata kerja dari akar yang sama dengan yaqdhi, dan (وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ, wa-minhum man yantazhiru), "dan di antara mereka ada yang menunggu". Ayat itu ditutup dengan (وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا, wa-maa baddaluu tabdiilan), "dan mereka tidak mengubahnya sedikit pun". Keadaan belum tuntas di 33:23 disebut bersama keteguhan orang-orangnya. Orang yang belum menuntaskan kewajibannya tetapi tetap menuju ke sana berada dalam keadaan yang disebut Allah di ayat itu, dan keadaan itu berbeda dari belum yang disertai kekufuran di 80:17-23.
- Kata kallaa dipakai di 80:11, sesudah teguran kepada orang yang disapa di awal surah, dan di 80:23, untuk manusia yang belum menunaikan perintah. Orang yang menyampaikan peringatan dan orang yang menerimanya sama-sama ditegur dalam surah yang sama, dan teguran kepada penyampai datang lebih dahulu, di sepuluh ayat pertama. Kedudukan sebagai penyampai tidak membebaskan seseorang dari teguran Allah, dan teguran yang diterimanya lebih dahulu itu menjadi bekal ketika dia menyampaikan peringatan kepada orang lain.
- Di 49:14 orang-orang yang berkata "kami telah beriman" diberi tahu bahwa iman belum masuk ke dalam hati mereka. Pengakuan mereka mendahului keadaan hati mereka, dan kata belum dipakai untuk jarak itu. Ayat itu berlanjut dengan (لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا, laa yalitkum min a'maalikum syay'an), "Dia tidak akan mengurangi sedikit pun amal perbuatan kalian", jika mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Keadaan belum tidak menghapus amal yang dikerjakan, dan ketaatan yang dijalani selama belum itu tetap dihitung oleh Allah.