Ayat 80:27
فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا
Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّاfa-anbatnaa fiihaa habbanlalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْبَتْنَاfa-anbatnaamaka Kami menumbuhkan
- فِيهَاfiihaapadanya
- حَبًّاhabbanbiji-bijian
Inti bacaan
Hasil pertama dari proses ini: 'lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian', kelanjutan langsung dari persiapan tanah menuju hasil pangan pokok.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27. Di 27:60 kata itu dipakai untuk menumbuhkan kebun yang indah, dan di 50:9 untuk menumbuhkan kebun dan biji-bijian.
Kesamaan itu patut dicatat. Tiga dari empat tempat memakai (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) untuk penumbuhan yang menyusul turunnya air. Susunannya hampir sama, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.
Akar (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) dipakai di 23 ayat, antara lain 3:37, 6:99, 18:45, 26:7, dan 71:17. Jadi penumbuhan salah satu pokok yang berulang, dan hampir selalu ia dikaitkan dengan air.
Kata (حَبًّا, habban) dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 78:15, dan tidak di tempat lain mana pun. Di 78:15 ia juga disebut sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini.
Akar (حَبًّا, habban) dipakai di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:14, 5:54, 12:8, dan 76:8. Tetapi sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta, bukan biji, karena satu akar memuat dua arti yang berbeda.
Kata (حَبًّا, habban) tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya. Cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu keterangan yang menyebut biji apa.
Kata (فِيهَا, fiihaa) memakai kata ganti yang menunjuk bumi di 80:26. Jadi dua ayat itu terikat, dan bumi tidak disebut ulang di ayat ini.
Kata (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, berbeda dari huruf di 80:26 yang menyatakan urutan berjarak. Penumbuhan menyusul pembelahan tanpa jeda, sedangkan pembelahan datang sesudah selang dari curahan air.
Perbedaan dua huruf itu melukiskan dua kecepatan yang berbeda di dalam satu rangkaian. Tidak ada satu kata pun yang menyebut lamanya, dan pembacanya merasakan iramanya sendiri.
Kata (حَبًّا, habban) membuka daftar yang berjalan sampai 80:31. Lima ayat berturut-turut menyebut jenis tumbuhan, dan tidak satu kata kerja baru pun muncul di antaranya.
Perhatikan bahwa daftar itu dibuka dengan biji-bijian, bukan dengan buah. Yang disebut lebih dulu makanan pokok, dan yang menyusul kemudian yang manis dan yang menyegarkan.
Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa daftarnya berjalan dari yang paling dibutuhkan ke yang paling dinikmati.
Perhatikan pula bahwa daftar tumbuhan ini disusun tanpa satu kata kerja baru. Lima ayat berjalan cuma dengan kata sambung dan nama-nama, dan semuanya bergantung pada (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) di ayat ini.
Susunan itu membuat daftarnya terbaca cepat. Tidak ada jeda, tidak ada penjelasan di antara jenisnya. Namanya disebut satu per satu, dan pembacanya melintasinya seperti melihat kebun sambil berjalan.
Kecepatan itu punya akibat. Yang tertinggal bukan rincian tiap jenis, melainkan kesan tentang banyaknya. Daftar yang dibacakan cepat justru meninggalkan kesan berlimpah, dan itu yang sesuai dengan pokoknya.
Tafsiran
Ayat ini menyebut hasil pertama dari tanah yang dibelah: biji-bijian. Kata pertamanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27.
Di 27:60 kata itu dipakai untuk menumbuhkan kebun yang indah dan di 50:9 untuk menumbuhkan kebun dan biji-bijian, sehingga tiga dari empat tempat memakainya untuk penumbuhan yang menyusul turunnya air. Akarnya dipakai di 23 ayat, antara lain 3:37, 6:99, 18:45, 26:7, dan 71:17.
Kata terakhirnya dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 78:15, dan tidak di tempat lain mana pun; di 78:15 ia juga disebut sesudah air yang diturunkan. Akarnya dipakai di 85 ayat, tetapi sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta dan bukan biji, karena satu akar memuat dua arti yang berbeda.
Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, berbeda dari huruf di 80:26 yang menyatakan urutan berjarak. Penumbuhan menyusul pembelahan tanpa jeda, sedangkan pembelahan datang sesudah selang dari curahan air.
Kata terakhirnya membuka daftar yang berjalan sampai 80:31, dan daftar itu dibuka dengan biji-bijian, bukan dengan buah. Daftar tumbuhan yang dibuka di sini disusun tanpa satu kata kerja baru: lima ayat berjalan cuma dengan kata sambung dan nama-nama, semuanya bergantung pada satu kata kerja di ayat ini. Yang tertinggal pada pembacanya bukan rincian tiap jenis, melainkan kesan tentang banyaknya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27. Di 27:60 Allah memakainya untuk menumbuhkan kebun yang indah dan di 50:9 untuk menumbuhkan kebun dan biji-bijian. Tiga dari empat tempat memakai kata ini untuk penumbuhan yang menyusul turunnya air, dengan susunan yang hampir sama, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Susunan yang berulang di beberapa surah menandai satu pola yang tidak pernah disebutkan sebagai pola. Pola yang berulang tanpa pernah disebut adalah pola yang harus ditemukan sendiri.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:14, 5:54, 12:8, dan 76:8. Sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta, bukan biji, karena satu akar memuat dua arti yang berbeda. Jadi bunyi yang sama dipakai untuk yang menumbuhkan tubuh dan untuk yang menggerakkan hati, dan Al-Qur'an tidak pernah menghubungkan keduanya. Bunyi yang sama untuk yang menumbuhkan tubuh dan yang menggerakkan hati dibiarkan tanpa penjelasan. Dua arti di satu akar dibiarkan berdampingan tanpa satu ayat yang mempertemukannya.
- Kata terakhirnya dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 78:15, dan tidak di tempat lain mana pun. Di 78:15 Allah juga menyebutnya sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini. Dua surah yang berdekatan memakai urutan yang sama, dan tidak satu ayat pun menandai kesejajaran itu. Pembaca yang membaca berurutan bisa melewatinya tanpa sadar. Urutan air lalu biji berulang di dua surah yang berdekatan tanpa satu ayat yang menandainya. Kesejajaran dua surah itu terlewat oleh pembaca yang tidak berhenti pada urutannya.
- Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, berbeda dari huruf di 80:26 yang menyatakan urutan berjarak. Penumbuhan menyusul pembelahan tanpa jeda, sedangkan pembelahan datang sesudah selang dari curahan air. Allah melukiskan dua kecepatan yang berbeda cuma dengan dua huruf, dan pembacanya merasakan iramanya tanpa satu kata yang menyebut lamanya. Dua huruf cukup untuk melukiskan dua kecepatan di dalam satu rangkaian yang sama. Irama yang berubah di tengah rangkaian adalah keterangan yang tidak berupa kata.
- Kata keduanya memakai kata ganti yang menunjuk bumi di 80:26, sehingga dua ayat itu terikat dan bumi tidak disebut ulang. Allah membiarkan pembacanya membawa sebutan itu dari ayat sebelumnya. Rangkaian yang diikat seperti itu menolak dibaca sepotong, dan justru ikatannya yang membuat delapan ayat tentang makanan terbaca sebagai satu uraian. Ikatan lewat kata ganti membuat delapan ayat tentang makanan terbaca sebagai satu uraian utuh. Uraian yang terikat rapat menolak dipenggal, dan penggalannya kehilangan arti.
- Kata terakhirnya membuka daftar yang berjalan sampai 80:31, dan lima ayat berturut-turut menyebut jenis tumbuhan tanpa satu kata kerja baru pun. Daftar itu dibuka Allah dengan biji-bijian, bukan dengan buah, sehingga yang disebut lebih dulu makanan pokok. Apa yang dinyatakan sebuah daftar yang berjalan dari yang paling dibutuhkan ke yang paling dinikmati? Daftar yang berjalan dari yang dibutuhkan ke yang dinikmati menyusun sendiri urutan kepentingannya. Susunan daftar sudah menyampaikan peringkatnya sebelum satu kata penilaian diucapkan.
Ayat 80:28
وَعِنَبًا وَقَضْبًا
Anggur dan sayuran,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَعِنَبًا وَقَضْبًاwa-'inaban wa-qadhbananggur dan sayuran
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَعِنَبًاwa-'inabandan anggur
- وَقَضْبًاwa-qadhbandan sayuran
Inti bacaan
Keragaman hasil kedua: 'anggur dan sayuran', perluasan variasi pangan yang mencakup buah dan sayuran, kekayaan pilihan bukan monokultur.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَقَضْبًا, wa qadhban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi bukan sekadar bentuknya yang tunggal; seluruh akarnya tidak pernah dipakai di tempat lain.
Surah ini memuat tiga akar semacam (وَقَضْبًا, wa qadhban), yaitu di 80:28, 80:31, dan 80:33. Tiga akar yang tidak pernah muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah pendek.
Kata (وَعِنَبًا, wa 'inaban) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 2:266, 6:99, 13:4, 17:91, dan 78:32.
Di 78:32 akar (وَعِنَبًا, wa 'inaban) disebut bersama kebun-kebun, sama seperti susunan di surah ini yang menyebut kebun di 80:30. Dua surah yang berdekatan memakai pasangan yang mirip.
Bandingkan dua tempat itu. Di 78:32 daftarnya berupa janji bagi orang yang bertakwa. Di sini daftarnya berupa bukti bagi manusia yang belum menunaikan. Satu jenis tanaman dipakai untuk dua maksud yang berbeda.
Kata (وَعِنَبًا, wa 'inaban) dan (وَقَضْبًا, wa qadhban) sama-sama dibuka huruf sambung dan sama-sama tidak bertakrif. Keduanya mengikuti bentuk kata terakhir di 80:27, sehingga daftarnya berjalan tanpa satu kata kerja baru.
Perhatikan bahwa dua jenis di ayat ini berbeda kedudukannya bagi manusia. Yang satu buah yang dimakan orang, yang lain tanaman hijau yang dimakan hewan.
Susunan itu menyiapkan penutup daftarnya di 80:32, yang menyebut manusia dan ternak sekaligus. Pembagian itu sudah dimulai di sini, tiga ayat sebelum disebutkan.
Al-Qur'an tidak menandai penyiapan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa daftar yang dibuka (وَعِنَبًا, wa 'inaban) sejak awal memuat dua macam penerima.
Kata (وَقَضْبًا, wa qadhban) menyebut tanaman yang dipotong berulang kali dan tumbuh lagi. Namanya sendiri berasal dari arti memotong, sehingga cara pemakaiannya terbawa di dalam sebutannya.
Perhatikan bahwa daftar ini tidak menyebut satu pun jenis yang langka. Anggur dan tanaman potong adalah hal yang ditemui orang setiap hari, bukan barang aneh yang perlu dicari.
Pilihan itu sejalan dengan perintah di 80:24, yang menyuruh memandang makanan sendiri. Bukti yang dipakai memang sengaja diambil dari yang paling dekat.
Perhatikan pula bahwa daftar ini tidak menyebut sumber makanan hewan seperti daging atau susu. Yang disebut seluruhnya tumbuhan, dari biji sampai rumput.
Pembatasan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa uraiannya tetap berada di jalur yang dibuka air dan tanah, tanpa berpindah ke sumber lain.
Konsistensi itu membuat bagiannya terbaca rapat. Satu curahan air melahirkan satu daftar panjang, dan tidak ada satu jenis pun yang datang dari luar rangkaiannya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan daftar tumbuhan dengan anggur dan tanaman potong. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga bukan cuma bentuknya yang tunggal melainkan seluruh akarnya.
Surah ini memuat tiga akar semacam itu, yaitu di 80:28, 80:31, dan 80:33. Tiga akar yang tidak pernah muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah pendek.
Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 2:266, 6:99, 13:4, 17:91, dan 78:32. Di 78:32 akar itu disebut bersama kebun-kebun, sama seperti susunan di surah ini yang menyebut kebun di 80:30. Bedanya, di 78:32 daftarnya berupa janji bagi orang bertakwa, dan di sini berupa bukti bagi manusia yang belum menunaikan.
Dua jenis di ayat ini berbeda kedudukannya bagi manusia: yang satu buah yang dimakan orang, yang lain tanaman hijau yang dimakan hewan. Pembagian itu menyiapkan penutup daftarnya di 80:32, tiga ayat sebelum disebutkan. Daftar ini juga tidak menyebut sumber makanan hewan seperti daging atau susu, melainkan seluruhnya tumbuhan dari biji sampai rumput. Uraiannya tetap berada di jalur yang dibuka air dan tanah, dan tidak ada satu jenis pun yang datang dari luar rangkaiannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Jadi bukan sekadar bentuknya yang tunggal; seluruh akarnya tidak pernah dipakai di tempat lain. Surah ini memuat tiga akar semacam itu, yaitu di 80:28, 80:31, dan 80:33. Tiga akar yang tidak pernah muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah pendek. Kelangkaan sebesar itu tidak diberi satu penanda pun, dan pembacanya menemukannya cuma kalau ia mencari. Yang tidak ditandai memang tidak dimaksudkan untuk mudah ditemukan.
- Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 11 ayat, antara lain 2:266, 6:99, 13:4, 17:91, dan 78:32. Di 78:32 akar itu disebut bersama kebun-kebun, sama seperti susunan di surah ini. Bedanya, di sana daftarnya berupa janji bagi orang bertakwa, dan di sini berupa bukti bagi manusia yang belum menunaikan. Satu jenis tanaman dipakai untuk dua maksud yang berbeda. Bahan yang sama bisa menjadi janji di satu tempat dan bukti di tempat lain, tergantung kepada siapa ia disebutkan. Alamat sebuah kalimat menentukan artinya sebanyak isinya sendiri.
- Kata keduanya dan kata terakhirnya sama-sama dibuka huruf sambung dan sama-sama tidak bertakrif, keduanya mengikuti bentuk kata terakhir di 80:27. Jadi daftar Allah berjalan tanpa satu kata kerja baru, dan seluruhnya masih bergantung pada satu kata kerja yang disebut dua ayat sebelumnya. Rangkaian seperti itu terbaca cepat, dan yang tertinggal kesan tentang banyaknya. Daftar yang berjalan cepat meninggalkan kesan berlimpah, dan kesan itu yang dibutuhkan pokoknya. Kesan yang tertinggal sesudah membaca cepat berbeda dari kesan sesudah membaca perlahan.
- Dua jenis di ayat ini berbeda kedudukannya bagi manusia: yang satu buah yang dimakan orang, yang lain tanaman hijau yang dimakan hewan. Susunan itu menyiapkan penutup daftar Allah di 80:32, yang menyebut manusia dan ternak sekaligus. Pembagian itu sudah dimulai di sini, tiga ayat sebelum disebutkan, dan Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kata pun. Persiapan yang dimulai tiga ayat lebih awal menandai bahwa susunannya memang dirancang sampai penutupnya. Rancangan sejauh itu tidak mungkin kebetulan, dan susunannya sendiri yang menunjukkannya.
- Kata terakhirnya menyebut tanaman yang dipotong berulang kali dan tumbuh lagi, dan namanya sendiri berasal dari arti memotong. Jadi cara pemakaiannya terbawa di dalam sebutannya, dan Allah tidak perlu menambahkan satu keterangan pun. Sebuah nama yang sudah memuat cara pemakaiannya menyampaikan dua hal dalam satu kata. Sebuah sebutan yang sudah memuat cara pemakaiannya menghemat satu kalimat penjelas. Kalimat yang dihemat itu justru membuat ayatnya berjalan tanpa tersendat.
- Daftar ini tidak menyebut satu pun jenis yang langka. Anggur dan tanaman potong adalah hal yang ditemui orang setiap hari, bukan barang aneh yang perlu dicari. Pilihan itu sejalan dengan perintah Allah di 80:24, yang menyuruh memandang makanan sendiri. Apa yang dinyatakan sebuah bukti ketika seluruh bahannya sengaja diambil dari yang paling dekat dan paling mudah dilewatkan? Bukti yang diambil dari yang paling dekat menutup lebih banyak alasan daripada bukti yang paling megah. Alasan yang habis meninggalkan orangnya berhadapan langsung dengan pertanyaannya.
Ayat 80:29
وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا
Zaitun dan pohon kurma,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَزَيْتُونًا وَنَخْلًاwa-zaytuunan wa-nakhlanzaitun dan pohon kurma
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَزَيْتُونًاwa-zaytuunandan zaitun
- وَنَخْلًاwa-nakhlandan pohon kurma
Inti bacaan
Zaitun muncul di lima ayat dan hanya di sini tanpa kata sandang, mengikuti kedelapan jenis di 80:27-31. Akar ن-خ-ل tercatat di dua puluh ayat, sembilan di antaranya bersama akar ع-ن-ب; zaitun dan pohon kurma bersanding di 6:99, 6:141, 16:11, dan 80:29.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata benda, (وَزَيْتُونًا, wa-zaytuunan) yang berarti "dan zaitun" dan (وَنَخْلًا, wa-nakhlan) yang berarti "dan pohon kurma". Keduanya tidak punya kata kerja sendiri. Kata kerja yang mengatur keduanya berada di 80:27, (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) yang berarti "lalu Kami tumbuhkan", sehingga zaitun dan pohon kurma berkedudukan sebagai sasaran perbuatan menumbuhkan itu, menyusul biji-bijian di 80:27 serta anggur dan sayuran di 80:28.
Kata zaitun sendiri, tanpa menghitung bentuk turunannya, muncul di lima ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, 80:29, dan 95:1. Di empat ayat selain ayat ini kata itu bersandang al-, yaitu (وَالزَّيْتُونَ, wa-z-zaytuuna) di 6:99, 6:141, dan 16:11 serta (وَالزَّيْتُونِ, wa-z-zaytuuni) di 95:1. Bentuk tanpa kata sandang hanya dipakai di 80:29. Di sini bentuk itu sejalan dengan daftar tempatnya berada, sebab kedelapan jenis di 80:27-31 semuanya disebut tanpa kata sandang, dari (حَبًّا, habban) yang berarti "biji-bijian" di 80:27 sampai rerumputan di 80:31. Teksnya tidak memberi keterangan lain tentang perbedaan bentuk itu.
Akar ز-ي-ت menambah satu ayat lagi, 24:35, dengan dua bentuk lain. Di sana (زَيْتُونَةٍ, zaytuunatin) dipakai untuk pohon yang diberkahi, sumber nyala pelita, dan (زَيْتُهَا, zaytuhaa) yang berarti "minyaknya" disebut hampir menyala meskipun api tidak menyentuhnya. Dari keenam ayat berakar ini, 95:1 memakai zaitun dalam sumpah pembuka surah, 24:35 memakainya dalam perumpamaan cahaya, dan empat ayat lainnya menyebutnya dalam daftar tumbuhan. Satu jenis pohon dipakai untuk sumpah, perumpamaan, dan daftar makanan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiga pemakaian itu dalam satu ayat.
Kata (وَنَخْلًا, wa-nakhlan) berasal dari akar ن-خ-ل, yang dipakai di dua puluh ayat dalam tiga bentuk. Bentuk yang dipakai di ayat ini muncul di sebelas ayat, bentuk (وَالنَّخِيلَ, wa-n-nakhiila) di tujuh ayat, misalnya 16:11, dan bentuk (النَّخْلَةِ, n-nakhlati) di dua ayat, 19:23 dan 19:25. Bentuk terakhir itu dipakai untuk sebatang pohon tertentu, pangkal pohon kurma yang didatangi Maryam ketika sakit melahirkan, sedangkan bentuk di ayat ini dipakai untuk pohon kurma sebagai jenis, tanpa menunjuk jumlahnya. Terjemahan "pohon kurma" dipakai untuk bentuk ini juga di 55:11, tempat pohon kurma disebut mempunyai kelopak mayang.
Pemakaian akar ini tidak terbatas pada daftar tumbuhan. Di 19:25 Maryam disuruh menggoyang pangkal pohon kurma itu, dan yang jatuh kepadanya disebut (رُطَبًا, ruthaban), kurma yang masak. Batang-batang pohon kurma muncul di 20:71 dalam ancaman Fir'aun untuk menyalib para penyihir yang beriman. Kaum yang dibinasakan angin di 54:20 dan 69:7 diserupakan dengan (أَعْجَازُ نَخْلٍ, a'jaazu nakhlin), pangkal-pangkal pohon kurma, yang tumbang di ayat pertama dan lapuk di ayat kedua.
Di antara tumbuhan lain, anggur paling sering disebut bersama pohon kurma. Akar ن-خ-ل dan akar ع-ن-ب muncul bersama di sembilan ayat, yaitu 2:266, 6:99, 13:4, 16:11, 16:67, 17:91, 18:32, 23:19, dan 36:34, dan di surah ini keduanya terbagi ke dua ayat berurutan, anggur di 80:28 dan pohon kurma di 80:29. Zaitun dan pohon kurma bersanding di empat ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, dan ayat ini. Di 6:99 dan 6:141 pohon kurma disebut lebih dulu, sedangkan di 16:11 dan 80:29 zaitun mendahuluinya.
Daftar ini dibuka di 80:24 dengan perintah agar manusia memperhatikan (طَعَامِهِ, tha'aamihi), "makanannya". Kata pohon kurma di ayat ini menamai pohonnya, sebab bentuk yang sama dipakai untuk batang di 20:71 dan pangkal di 54:20, sedangkan buahnya punya sebutan sendiri, seperti kurma yang masak di 19:25 dan (ثَمَرِهِ, tsamarihi), "buahnya", dalam perintah makan di 6:141. Karena itu perintah di 80:24 menyangkut makanan, sedangkan ayat ini menyebut tanaman asalnya.
Tafsiran
Ayat ini berada di tengah daftar yang dibuka 80:24 dengan (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri), "maka hendaklah memperhatikan". Sebelum daftar itu, 80:17-23 berbicara tentang manusia yang kufur, asal kejadiannya dari setetes mani, kematian dan kebangkitannya, lalu 80:23 menyatakan bahwa manusia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Perintah memperhatikan makanan datang sesudah pernyataan itu, dan zaitun serta pohon kurma termasuk dalam apa yang diminta untuk diperhatikan.
Rangkaian 80:25-31 dituturkan dengan kata kerja yang pelakunya Allah, dalam bentuk Kami, yaitu Kami mencurahkan air (80:25), Kami belah bumi (80:26), dan Kami tumbuhkan (80:27), lalu diikuti delapan jenis tumbuhan. Rangkaian itu ditutup di 80:32 dengan (مَتَاعًا, mataa'an), "sebagai kesenangan", bagi manusia dan hewan ternak mereka. Dengan urutan itu makanan sehari-hari diapit oleh pembicaraan tentang kematian dan kebangkitan di 80:21-22 dan tentang suara yang memekakkan di 80:33.
Susunan yang mirip ada di 6:99. Di sana air diturunkan dari langit, lalu disebut butir yang bertumpuk, pohon kurma, kebun anggur, zaitun, dan delima, kemudian datang perintah (انْظُرُوا, unzhuruu), "perhatikanlah", kepada buahnya ketika berbuah dan matang. Kedua tempat memakai kata kerja memperhatikan dari akar yang sama, ن-ظ-ر, dan sama-sama memuat zaitun dan pohon kurma. Di 6:99 beberapa jenis diberi keterangan, seperti tangkai buah kurma yang menjuntai rendah serta zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa, sedangkan di 80:27-31 sifat diberikan kepada kebun-kebun saja, yaitu rimbun (80:30), dan ketujuh jenis lainnya disebut namanya. Bedanya, di 6:99 perintah itu datang sesudah daftar dan ditutup dengan tanda bagi kaum yang beriman, sedangkan di surah ini perintah datang lebih dulu dan daftarnya ditutup dengan kesenangan bagi manusia dan ternaknya. Di 6:99 daftar itu menjadi tanda untuk direnungkan, sedangkan di surah ini daftar itu diletakkan tepat sebelum hari ketika manusia lari dari saudara, orang tua, istri, dan anak-anaknya (80:33-37).
Renungan dan Hikmah
- Ketika kurma atau zaitun sampai ke tangan, yang terlihat biasanya buahnya saja. Ayat ini menyebut kurma dengan nama pohonnya, dan kata kerja di 80:27 menyatakan bahwa Allah yang menumbuhkannya. Perintah di 80:24 meminta manusia memperhatikan makanannya, lalu ayat-ayat berikutnya menguraikan asal makanan itu, mulai dari air yang dicurahkan (80:25), bumi yang dibelah (80:26), sampai tanaman yang ditumbuhkan (80:27-31). Berapa banyak dari rangkaian itu yang sempat kita ingat ketika sedang makan?
- Zaitun di ayat ini disebut di tengah daftar makanan, sementara di 95:1 Allah memakainya dalam sumpah dan di 24:35 pohonnya menjadi sumber nyala pelita dalam perumpamaan cahaya-Nya. Pembaca baru melihat ketiga pemakaian itu setelah mengumpulkannya sendiri dari tiga surah yang berbeda. Zaitun di meja makan mudah dianggap perkara kecil karena begitu sering kita temui. Di dalam Al-Qur'an benda yang sama dipakai untuk bersumpah dan untuk menerangkan cahaya Allah, dan zaitun yang disebut di kedua ayat itu sejenis dengan zaitun yang kita makan.
- Di 19:23 rasa sakit melahirkan membawa Maryam ke pangkal pohon kurma, di tempat yang jauh (19:22), dan di sana Maryam berkata ingin mati sebelum itu dan menjadi orang yang dilupakan. Sesudah itu dia diberi tahu bahwa Tuhannya telah menjadikan anak sungai di bawahnya (19:24), lalu disuruh menggoyang pangkal pohon itu sehingga kurma yang masak jatuh kepadanya (19:25), dan disuruh makan dan minum (19:26). Pohon yang di ayat ini disebut dalam daftar makanan pernah menjadi sumber makanan bagi seseorang yang baru saja berharap mati.
- Kaum yang dibinasakan angin di 54:20 dan 69:7 diserupakan dengan pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang dan lapuk, dan di 20:71 batang-batang pohon kurma disebut dalam ancaman penyaliban. Pohon yang di 80:29 ditumbuhkan Allah sebagai makanan dipakai juga untuk menggambarkan kaum yang roboh. Kelimpahan dalam daftar ini tidak disertai janji bahwa kelimpahan itu akan bertahan. Di 18:32-35 pemilik dua kebun anggur yang dikelilingi pohon kurma mengira kebunnya tidak akan binasa selama-lamanya, dan di 18:42 buahnya dibinasakan dan kebun itu roboh di atas penyangganya. Ayat ini menyebut zaitun dan kurma sebagai pemberian, dan kisah dalam surah Al-Kahf itu memperlihatkan bahwa pemberian yang sama bisa diambil kembali.
- Orang-orang yang menolak di 17:90-91 berkata tidak akan percaya sebelum Rasul memiliki kebun kurma dan anggur dengan sungai-sungai yang dialirkan di celah-celahnya. Pasangan yang sama, anggur di 80:28 dan pohon kurma di ayat ini, disebut di surah ini sebagai tumbuhan yang ditumbuhkan Allah, dan 80:32 menyatakan semuanya sebagai kesenangan bagi manusia dan hewan ternaknya. Jenis tanaman yang mereka jadikan syarat untuk percaya disebut di surah ini sebagai tumbuhan yang keluar dari bumi yang dibelah (80:26). Kaitan itu tidak disebut di kedua surah dan baru terlihat bila 17:91 dibaca di samping 80:28-29.
- Ayat 6:141 menyebut zaitun dan pohon kurma di antara tanaman yang buahnya boleh dimakan, lalu menambahkan perintah memberikan haknya pada waktu memetik hasilnya dan larangan berlebih-lebihan, karena Dia tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan. Surah ini menutup daftarnya dengan kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian (80:32), sehingga hasil tanaman itu disebut untuk lebih dari satu penerima. Di 6:141 penerima hak itu tidak dirinci, tetapi perintahnya menyatakan bahwa ada bagian hasil panen zaitun dan kurma yang harus diberikan pada hari dipetik.
Ayat 80:30
وَحَدَائِقَ غُلْبًا
Dan kebun-kebun yang rimbun,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَحَدَائِقَ غُلْبًاwa-hadaa'iqa ghulbandan kebun-kebun yang rimbun
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَحَدَائِقَwa-hadaa'iqadan kebun-kebun
- غُلْبًاghulbanyang rimbun
Inti bacaan
Kelimpahan yang lebat: 'dan kebun-kebun yang rimbun', gambaran kepadatan dan kesuburan vegetasi yang melampaui sekadar cukup, kelimpahan yang nyata.
Penjelasan pilihan kata
Konteks duniawi (tumbuh dari air hujan bersama tanaman), 'kebun-kebun' dipertahankan konsisten dengan 68:17/71:12/78:16.
Kata (وَحَدَائِقَ, wa hadaa-iqa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 27:60, 78:32, dan 80:30.
Di 27:60 akar (وَحَدَائِقَ, wa hadaa-iqa) dipakai untuk kebun indah yang ditumbuhkan sesudah air diturunkan, dan di 78:32 untuk kebun yang dijanjikan bersama anggur.
Perhatikan bahwa tiga tempat itu seluruhnya berhubungan dengan air dan tumbuhan. Satu akar yang cuma hidup di tiga ayat tidak pernah dipakai untuk hal lain.
Di 27:60 susunannya paling dekat dengan surah ini: air diturunkan, lalu kebun ditumbuhkan. Dua tempat memakai urutan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandainya.
Kata (غُلْبًا, ghulban) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:249, 3:12, 12:21, 18:21, dan 30:3. Hampir seluruh pemakaiannya menyebut kemenangan atau penguasaan.
Jadi akar (غُلْبًا, ghulban) yang biasanya menamai kemenangan di sini dipakai untuk pohon yang tumbuh rapat dan besar. Kelebatan tumbuhan dilukiskan dengan kata yang biasanya dipakai untuk mengalahkan.
Perbandingan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu akar dipakai untuk kekuatan manusia dan untuk kekuatan tumbuhan.
Kata (وَحَدَائِقَ, wa hadaa-iqa) berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak kebun. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, tanpa satu kata bilangan.
Perhatikan bahwa ayat ini satu-satunya di daftarnya yang menyebut tempat, bukan jenis tanaman. Enam ayat lain menyebut apa yang tumbuh; ayat ini menyebut di mana ia tumbuh berkumpul.
Perbedaan itu mengubah gambarannya sejenak. Pembacanya yang tadi melihat jenis satu per satu tiba-tiba diperlihatkan hamparan.
Kata (غُلْبًا, ghulban) menyifati kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Ikatan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, sama seperti pasangan sifat di 80:13 dan 80:14.
Ayat ini menyebut jenis kelima dan keenam di dalam daftarnya. Dua ayat lagi tersisa sebelum daftarnya ditutup di 80:32 dengan pernyataan tentang siapa yang memakainya.
Perhatikan pula bahwa ayat ini yang paling pendek di dalam daftarnya, cuma dua kata. Yang dilukiskan justru yang paling luas, yaitu hamparan kebun yang lebat.
Perbandingan itu ganjil kalau ditimbang dengan ukuran biasa. Gambaran yang paling luas diberi ruang yang paling sempit, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Yang bisa dibaca cuma akibatnya. Hamparan (وَحَدَائِقَ غُلْبًا, wa hadaa-iqa ghulban) masuk ke benak pembacanya sekaligus, tidak sepotong demi sepotong seperti daftar jenis sebelumnya.
Sesuatu yang seluas itu, disebut sesingkat (وَحَدَائِقَ, wa hadaa-iqa), juga menutup kemungkinan menghitungnya. Yang tidak dirinci tidak bisa ditakar, dan yang tidak bisa ditakar terasa lebih banyak daripada angka mana pun.
Tafsiran
Ayat ini menyebut kebun-kebun yang lebat. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat: 27:60, 78:32, dan 80:30.
Di 27:60 akar itu dipakai untuk kebun indah yang ditumbuhkan sesudah air diturunkan, dan di 78:32 untuk kebun yang dijanjikan bersama anggur. Tiga tempat itu seluruhnya berhubungan dengan air dan tumbuhan, dan susunan di 27:60 paling dekat dengan surah ini.
Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:249, 3:12, 12:21, 18:21, dan 30:3. Hampir seluruh pemakaiannya menyebut kemenangan atau penguasaan, sehingga akar yang biasanya menamai kemenangan di sini dipakai untuk pohon yang tumbuh rapat dan besar.
Kata pertamanya berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak kebun tanpa satu kata bilangan pun.
Ayat ini satu-satunya di daftarnya yang menyebut tempat, bukan jenis tanaman. Enam ayat lain menyebut apa yang tumbuh, dan ayat ini menyebut di mana ia tumbuh berkumpul. Ayat ini yang paling pendek di dalam daftarnya, cuma dua kata, sedangkan yang dilukiskan justru yang paling luas. Sebuah hamparan yang disebut dengan dua kata masuk ke benak pembacanya sekaligus, tidak sepotong demi sepotong seperti daftar jenis sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 3 ayat: 27:60, 78:32, dan 80:30. Di 27:60 akar itu dipakai untuk kebun indah yang ditumbuhkan sesudah air diturunkan, dan di 78:32 untuk kebun yang dijanjikan bersama anggur. Tiga tempat itu seluruhnya berhubungan dengan air dan tumbuhan, dan akar itu tidak pernah dipakai untuk hal lain. Sebuah akar yang cuma hidup di tiga ayat dan seluruhnya tentang hal yang sama hampir tidak punya arti lain. Ruang untuk salah tafsir hampir tertutup ketika seluruh pemakaiannya menunjuk satu arah.
- Susunan di 27:60 paling dekat dengan surah ini: air diturunkan Allah, lalu kebun ditumbuhkan. Dua tempat memakai urutan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kalimat pun. Pengulangan susunan seperti itu cuma terlihat oleh pembaca yang menaruh kedua tempatnya berdampingan, dan tidak satu ayat pun menyuruhnya melakukan itu. Susunan yang berulang tanpa penanda menuntut pembacanya membawa ingatan dari surah ke surah. Ingatan lintas surah adalah alat baca yang tidak pernah disuruh dipakai, tetapi selalu berguna.
- Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 28 ayat, antara lain 2:249, 3:12, 12:21, 18:21, dan 30:3. Hampir seluruh pemakaiannya menyebut kemenangan atau penguasaan. Jadi akar yang biasanya menamai kemenangan di sini dipakai untuk pohon yang tumbuh rapat dan besar, sehingga kelebatan tumbuhan dilukiskan dengan kata yang dipakai untuk mengalahkan. Kelebatan tumbuhan dilukiskan dengan sebutan yang biasanya dipakai untuk mengalahkan lawan. Peminjaman sebutan seperti itu memberi tumbuhan kekuatan yang biasanya milik manusia.
- Kata pertamanya berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak kebun dan bukan satu. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan Allah tidak memakai satu kata bilangan pun. Cara itu berulang di surah ini, dan tiap kali jumlah dinyatakan tanpa angka, pembacanya menerimanya tanpa merasa sedang dihitungkan. Jumlah yang masuk lewat bentuk terasa lebih wajar daripada jumlah yang disebutkan angkanya. Sesuatu yang tidak diangkakan tidak bisa dibandingkan, dan yang tidak terbanding terasa lebih luas.
- Ayat ini satu-satunya di daftarnya yang menyebut tempat, bukan jenis tanaman. Enam ayat lain menyebut apa yang tumbuh, dan ayat ini menyebut di mana ia tumbuh berkumpul. Pembaca yang tadi melihat jenis satu per satu tiba-tiba diperlihatkan Allah sebuah hamparan, dan pergantian sudut pandang itu tidak diberi satu penanda pun. Pergantian dari jenis ke tempat mengubah jarak pandang pembacanya dalam satu ayat. Jarak pandang yang berubah membuat pembacanya melihat hal yang sama dengan cara baru.
- Kata keduanya menyifati kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Ikatan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, sama seperti pasangan sifat di 80:13 dan 80:14. Apa yang dikerjakan sebuah susunan ketika benda dan sifatnya dirapatkan tanpa penghubung, sehingga keduanya terbaca sebagai satu hal dan bukan dua? Benda dan sifat yang dirapatkan tanpa penghubung terbaca sebagai satu hal, bukan dua. Kerapatan susunan bekerja lebih cepat daripada kalimat penjelas mana pun.
Ayat 80:31
وَفَاكِهَةً وَأَبًّا
Dan buah-buahan serta rerumputan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَفَاكِهَةً وَأَبًّاwa-faakihatan wa-abbandan buah-buahan serta rerumputan
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَفَاكِهَةًwa-faakihatandan buah
- وَأَبًّاwa-abbandan rerumputan
Inti bacaan
Kelengkapan mencakup kebutuhan ternak: 'dan buah-buahan serta rerumputan', perhatian pada kebutuhan pangan yang mencakup baik manusia (buah) maupun hewan (rerumputan).
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَأَبًّا, wa abban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28.
Kata (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20.
Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) disebut di dalam gambaran surga. Jadi akar itu lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia.
Di sini (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) berdiri di dalam daftar tanaman biasa. Satu akar yang biasanya menamai nikmat surga dipakai untuk hasil kebun yang ditemui sehari-hari.
Perhatikan pasangan di ayat ini. Yang satu buah yang paling dinikmati manusia, yang lain rumput yang dimakan ternak. Dua ujung yang paling berjauhan disandingkan dalam satu ayat pendek.
Susunan itu menutup daftarnya dengan seimbang. Daftar yang dibuka biji-bijian di 80:27 ditutup dengan buah dan rumput, sehingga manusia dan hewan sama-sama terwakili sebelum keduanya disebut di 80:32.
Kata (وَأَبًّا, wa abban) tidak diterangkan Al-Qur'an di mana pun. Karena akarnya tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain.
Keadaan itu jarang. Hampir setiap sebutan di Al-Qur'an bisa diterangi oleh pemakaiannya di tempat lain, sedangkan (وَأَبًّا, wa abban) tidak punya tempat lain sama sekali.
Kata (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) dan (وَأَبًّا, wa abban) sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, mengikuti pola yang berjalan sejak 80:28.
Lima ayat berturut-turut memakai pola yang sama persis. Tidak ada satu pun yang keluar dari susunannya, dan keseragaman itu membuat daftarnya terbaca seperti satu tarikan napas.
Ayat ini menutup daftar jenis. Sesudahnya, 80:32 tidak menambah jenis baru, melainkan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan.
Perhatikan bahwa daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Namanya disebut, dan pembacanya dibiarkan mengenalinya sendiri.
Perhatikan pula bahwa daftar delapan jenis yang ditutup (وَأَبًّا, wa abban) ini berakhir tanpa satu penutup. Tidak ada kalimat yang berkata bahwa itu semua, dan tidak ada yang berkata bahwa masih ada lagi.
Ketiadaan penutup itu membiarkan daftarnya terbuka. Pembacanya bisa menambahkan sendiri apa yang ada di sekitarnya, dan tidak satu ayat pun menghalanginya.
Keterbukaan itu sesuai dengan perintah di 80:24. Yang disuruh dipandang makanan sendiri, dan makanan tiap orang tidak sama. Daftar yang tertutup justru akan mempersempit perintahnya.
Tafsiran
Ayat ini menutup daftar dengan buah-buahan dan rumput. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain.
Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20. Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar itu disebut di dalam gambaran surga, sehingga ia lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia.
Pasangan di ayat ini menyandingkan dua ujung yang paling berjauhan: buah yang paling dinikmati manusia dan rumput yang dimakan ternak. Daftar yang dibuka biji-bijian di 80:27 ditutup dengan keduanya, sehingga manusia dan hewan sama-sama terwakili sebelum disebut di 80:32.
Kata terakhirnya tidak diterangkan Al-Qur'an di mana pun, dan karena akarnya tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain.
Daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Daftar delapan jenis ini berakhir tanpa satu kata penutup: tidak ada kalimat yang berkata bahwa itu semua, dan tidak ada yang berkata bahwa masih ada lagi. Keterbukaan itu sesuai dengan perintah di 80:24, karena makanan tiap orang tidak sama dan daftar yang tertutup justru akan mempersempitnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28. Dua akar tunggal dalam empat ayat menandai bahwa bagian ini memakai kosakata yang tidak dipakai di mana pun lagi di seluruh Al-Qur'an. Dua akar tunggal dalam empat ayat menandai bagian yang memakai kosakata paling khas di surahnya. Kata yang tidak punya pembanding memaksa pembacanya berhenti menebak dan menerima batasnya.
- Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20. Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar itu disebut di dalam gambaran surga, sehingga ia lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia. Di sini ia berdiri di dalam daftar tanaman biasa, dan tidak satu ayat pun menandai perpindahan itu. Sebutan yang biasanya menamai janji dipinjamkan kepada kenyataan yang ada di kebun sendiri. Peminjaman dari gambaran surga membuat kebun sendiri terbaca dalam rangka yang lebih luas.
- Pasangan di ayat ini menyandingkan buah yang paling dinikmati manusia dan rumput yang dimakan ternak. Dua ujung yang paling berjauhan ditaruh Allah dalam satu ayat pendek, tanpa satu kata pembeda. Susunan itu menutup daftarnya dengan seimbang, dan manusia serta hewan sama-sama terwakili sebelum keduanya disebut di 80:32. Yang paling dinikmati dan yang dimakan ternak berdiri berdampingan tanpa satu pembeda. Dua ujung yang berdampingan tanpa pembeda menyatakan kesetaraan tanpa mengucapkannya.
- Kata terakhirnya tidak diterangkan Allah di mana pun, dan karena akarnya tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain. Keadaan itu jarang, karena hampir setiap kata di Al-Qur'an bisa diterangi oleh pemakaiannya di tempat lain. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika sebuah kata tidak punya satu pun pembanding di seluruh kitab? Sebuah kata tanpa pembanding memaksa pembacanya menerima keterbatasan pengetahuannya sendiri. Keterbatasan pengetahuan pembacanya sendiri menjadi bagian dari pengalaman membacanya.
- Kata kedua dan kata terakhirnya sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, mengikuti pola yang berjalan sejak 80:28. Lima ayat berturut-turut memakai pola yang sama persis, dan tidak ada satu pun yang keluar dari susunannya. Keseragaman itu membuat daftar Allah terbaca seperti satu tarikan napas. Keseragaman lima ayat membuat daftarnya terbaca seperti satu tarikan napas yang tidak terputus. Satu tarikan napas yang tidak terputus meninggalkan kesan utuh, bukan kesan berpotong.
- Daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Allah menyebut namanya, dan pembacanya dibiarkan mengenalinya sendiri. Sesudah ayat ini daftarnya berhenti, dan 80:32 tidak menambah jenis baru melainkan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan. Nama tanpa keterangan menyerahkan pengenalannya kepada pengalaman pembacanya sendiri. Pengenalan yang diserahkan kepada pengalaman membuat ayatnya berlaku di tiap tempat.