Ayat 80:31

وَفَاكِهَةً وَأَبًّا

Dan buah-buahan serta rerumputan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَفَاكِهَةً وَأَبًّاwa-faakihatan wa-abbandan buah-buahan serta rerumputan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَفَاكِهَةًwa-faakihatandan buah
  2. وَأَبًّاwa-abbandan rerumputan

Inti bacaan

Kelengkapan mencakup kebutuhan ternak: 'dan buah-buahan serta rerumputan', perhatian pada kebutuhan pangan yang mencakup baik manusia (buah) maupun hewan (rerumputan).

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَأَبًّا, wa abban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28.

Kata (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20.

Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) disebut di dalam gambaran surga. Jadi akar itu lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia.

Di sini (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) berdiri di dalam daftar tanaman biasa. Satu akar yang biasanya menamai nikmat surga dipakai untuk hasil kebun yang ditemui sehari-hari.

Perhatikan pasangan di ayat ini. Yang satu buah yang paling dinikmati manusia, yang lain rumput yang dimakan ternak. Dua ujung yang paling berjauhan disandingkan dalam satu ayat pendek.

Susunan itu menutup daftarnya dengan seimbang. Daftar yang dibuka biji-bijian di 80:27 ditutup dengan buah dan rumput, sehingga manusia dan hewan sama-sama terwakili sebelum keduanya disebut di 80:32.

Kata (وَأَبًّا, wa abban) tidak diterangkan Al-Qur'an di mana pun. Karena akarnya tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain.

Keadaan itu jarang. Hampir setiap sebutan di Al-Qur'an bisa diterangi oleh pemakaiannya di tempat lain, sedangkan (وَأَبًّا, wa abban) tidak punya tempat lain sama sekali.

Kata (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) dan (وَأَبًّا, wa abban) sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, mengikuti pola yang berjalan sejak 80:28.

Lima ayat berturut-turut memakai pola yang sama persis. Tidak ada satu pun yang keluar dari susunannya, dan keseragaman itu membuat daftarnya terbaca seperti satu tarikan napas.

Ayat ini menutup daftar jenis. Sesudahnya, 80:32 tidak menambah jenis baru, melainkan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan.

Perhatikan bahwa daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Namanya disebut, dan pembacanya dibiarkan mengenalinya sendiri.

Perhatikan pula bahwa daftar delapan jenis yang ditutup (وَأَبًّا, wa abban) ini berakhir tanpa satu penutup. Tidak ada kalimat yang berkata bahwa itu semua, dan tidak ada yang berkata bahwa masih ada lagi.

Ketiadaan penutup itu membiarkan daftarnya terbuka. Pembacanya bisa menambahkan sendiri apa yang ada di sekitarnya, dan tidak satu ayat pun menghalanginya.

Keterbukaan itu sesuai dengan perintah di 80:24. Yang disuruh dipandang makanan sendiri, dan makanan tiap orang tidak sama. Daftar yang tertutup justru akan mempersempit perintahnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar dengan buah-buahan dan rumput. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain.

Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20. Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar itu disebut di dalam gambaran surga, sehingga ia lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia.

Pasangan di ayat ini menyandingkan dua ujung yang paling berjauhan: buah yang paling dinikmati manusia dan rumput yang dimakan ternak. Daftar yang dibuka biji-bijian di 80:27 ditutup dengan keduanya, sehingga manusia dan hewan sama-sama terwakili sebelum disebut di 80:32.

Kata terakhirnya tidak diterangkan Al-Qur'an di mana pun, dan karena akarnya tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain.

Daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Daftar delapan jenis ini berakhir tanpa satu kata penutup: tidak ada kalimat yang berkata bahwa itu semua, dan tidak ada yang berkata bahwa masih ada lagi. Keterbukaan itu sesuai dengan perintah di 80:24, karena makanan tiap orang tidak sama dan daftar yang tertutup justru akan mempersempitnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28. Dua akar tunggal dalam empat ayat menandai bahwa bagian ini memakai kosakata yang tidak dipakai di mana pun lagi di seluruh Al-Qur'an. Dua akar tunggal dalam empat ayat menandai bagian yang memakai kosakata paling khas di surahnya. Kata yang tidak punya pembanding memaksa pembacanya berhenti menebak dan menerima batasnya.
  • Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20. Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar itu disebut di dalam gambaran surga, sehingga ia lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia. Di sini ia berdiri di dalam daftar tanaman biasa, dan tidak satu ayat pun menandai perpindahan itu. Sebutan yang biasanya menamai janji dipinjamkan kepada kenyataan yang ada di kebun sendiri. Peminjaman dari gambaran surga membuat kebun sendiri terbaca dalam rangka yang lebih luas.
  • Pasangan di ayat ini menyandingkan buah yang paling dinikmati manusia dan rumput yang dimakan ternak. Dua ujung yang paling berjauhan ditaruh Allah dalam satu ayat pendek, tanpa satu kata pembeda. Susunan itu menutup daftarnya dengan seimbang, dan manusia serta hewan sama-sama terwakili sebelum keduanya disebut di 80:32. Yang paling dinikmati dan yang dimakan ternak berdiri berdampingan tanpa satu pembeda. Dua ujung yang berdampingan tanpa pembeda menyatakan kesetaraan tanpa mengucapkannya.
  • Kata terakhirnya tidak diterangkan Allah di mana pun, dan karena akarnya tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain. Keadaan itu jarang, karena hampir setiap kata di Al-Qur'an bisa diterangi oleh pemakaiannya di tempat lain. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika sebuah kata tidak punya satu pun pembanding di seluruh kitab? Sebuah kata tanpa pembanding memaksa pembacanya menerima keterbatasan pengetahuannya sendiri. Keterbatasan pengetahuan pembacanya sendiri menjadi bagian dari pengalaman membacanya.
  • Kata kedua dan kata terakhirnya sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, mengikuti pola yang berjalan sejak 80:28. Lima ayat berturut-turut memakai pola yang sama persis, dan tidak ada satu pun yang keluar dari susunannya. Keseragaman itu membuat daftar Allah terbaca seperti satu tarikan napas. Keseragaman lima ayat membuat daftarnya terbaca seperti satu tarikan napas yang tidak terputus. Satu tarikan napas yang tidak terputus meninggalkan kesan utuh, bukan kesan berpotong.
  • Daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Allah menyebut namanya, dan pembacanya dibiarkan mengenalinya sendiri. Sesudah ayat ini daftarnya berhenti, dan 80:32 tidak menambah jenis baru melainkan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan. Nama tanpa keterangan menyerahkan pengenalannya kepada pengalaman pembacanya sendiri. Pengenalan yang diserahkan kepada pengalaman membuat ayatnya berlaku di tiap tempat.

Ayat 80:32

مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

Sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْmataa'an lakum wa-li-an'aamikumsebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. مَتَاعًاmataa'ankesenangan
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. وَلِأَنْعَامِكُمْwa-li-an'aamikumdan bagi binatang ternak kalian

Inti bacaan

Tujuan menyeluruh dari seluruh proses: 'sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian', penegasan bahwa desain ini mempertimbangkan kesejahteraan manusia dan hewan secara bersamaan, sistem yang saling terkait.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَتَاعًا, mataa'an) muncul 10 kali, tetapi cuma di 9 surah: 2:236, 2:240, 5:96, 11:3, 16:80, 33:53, 36:44, 56:73, 79:33, dan 80:32. Dua angka itu berbeda karena surah 2 memakainya dua kali.

Di 79:33 kata (مَتَاعًا, mataa'an) dipakai dengan susunan yang hampir sama: kesenangan bagi kamu dan bagi ternakmu. Dua surah yang bersebelahan memakai kalimat yang nyaris identik.

Kesamaan itu patut dicatat. Surah 79 menutup uraian tentang bumi dengan kalimat itu, dan surah ini menutup uraian tentang makanan dengan kalimat yang sama. Al-Qur'an tidak menandai pengulangannya.

Akar (مَتَاعًا, mataa'an) dipakai di 65 ayat, antara lain 3:14, 4:77, 13:26, 40:39, dan 57:20. Di beberapa tempat akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa kesenangan dunia cuma sebentar.

Bacaan itu memberi warna lain pada ayat ini. Seluruh daftar yang panjang tadi ditutup dengan kata yang di tempat lain sering disusul peringatan tentang kesementaraannya.

Kata (وَلِأَنْعَامِكُمْ, wa li-an'aamikum) memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua jamak. Jadi ternak itu disebut sebagai milik yang disapa, dan sapaan jamak baru muncul di sini.

Perhatikan pergeserannya. Sepuluh ayat pertama surah ini menyapa satu orang. Ayat 80:17 sampai 80:31 berbicara tentang manusia sebagai jenis. Di sini sapaan berubah menjadi jamak, langsung kepada pembacanya.

Akar (وَلِأَنْعَامِكُمْ, wa li-an'aamikum) dipakai di 128 ayat, antara lain 5:1, 6:142, 16:5, 23:21, dan 40:79. Jadi ternak salah satu pokok yang sering disebut, dan hampir selalu ia disebut sebagai pemberian.

Kata (مَتَاعًا, mataa'an) berdiri sebagai keterangan tujuan bagi seluruh rangkaian sebelumnya. Delapan ayat diikat kepada satu maksud lewat satu kata.

Susunan itu menutup bagian terpanjang surahnya. Sesudah ayat ini pembicaraan berpindah ke hari kiamat, dan peralihan itu terjadi dalam satu ayat.

Perhatikan bahwa (مَتَاعًا, mataa'an) menaruh manusia dan ternak sejajar, tanpa satu sebutan yang menyatakan siapa lebih utama. Keduanya sama-sama penerima, dan urutan penyebutannya cuma menaruh manusia lebih dulu.

Kesejajaran itu sesuai dengan pokok surahnya. Surah yang menegur pemilihan orang berdasarkan kedudukan menutup daftar nikmatnya tanpa memeringkat penerimanya.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut satu syarat pun bagi penerimanya. Tidak disebut bagi yang beriman, tidak disebut bagi yang bersyukur. Yang disebut cuma kamu dan ternakmu.

Ketiadaan syarat itu patut dicatat karena delapan ayat sebelumnya berdiri sebagai bukti dalam sebuah teguran. Bukti itu berupa pemberian yang diterima semua orang, termasuk yang ditegur.

Susunan seperti itu menutup satu jalan keluar. Tidak seorang pun bisa berkata bahwa daftar tadi bukan untuknya, karena tidak ada satu syarat pun yang bisa dipakai untuk memisahkan diri.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar dengan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan. Kata pertamanya muncul 10 kali, tetapi cuma di 9 surah: 2:236, 2:240, 5:96, 11:3, 16:80, 33:53, 36:44, 56:73, 79:33, dan 80:32, karena surah 2 memakainya dua kali.

Di 79:33 kata itu dipakai dengan susunan yang hampir sama, yaitu kesenangan bagi kamu dan bagi ternakmu. Dua surah yang bersebelahan memakai kalimat yang nyaris identik, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangannya.

Akarnya dipakai di 65 ayat, antara lain 3:14, 4:77, 13:26, 40:39, dan 57:20, dan di beberapa tempat akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa kesenangan dunia cuma sebentar.

Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua jamak, sehingga sapaan jamak baru muncul di sini. Sepuluh ayat pertama surah ini menyapa satu orang, dan 80:17 sampai 80:31 berbicara tentang manusia sebagai jenis.

Manusia dan ternak disebut sejajar tanpa satu kata yang menyatakan siapa lebih utama, dan itu sesuai dengan pokok surahnya. Ayat ini tidak menyebut satu syarat pun bagi penerimanya: tidak bagi yang beriman, tidak bagi yang bersyukur. Susunan itu menutup satu jalan keluar, karena tidak seorang pun bisa berkata bahwa daftar tadi bukan untuknya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 10 kali, antara lain di 2:236, 5:96, 11:3, 16:80, 79:33, dan 80:32, tetapi cuma di 9 surah, karena surah 2 memakainya dua kali. Di 79:33 Allah memakainya dengan susunan yang hampir sama, yaitu kesenangan bagi kamu dan bagi ternakmu. Dua surah yang bersebelahan memakai kalimat yang nyaris identik: yang satu menutup uraian tentang bumi, yang lain menutup uraian tentang makanan. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Dua surah bersebelahan yang menutup uraiannya dengan kalimat yang sama tidak pernah saling menyebut. Kalimat yang berulang tanpa saling menyebut menuntut pembacanya yang menghubungkannya.
  • Akar kata pertamanya dipakai Allah di 65 ayat, antara lain 3:14, 4:77, 13:26, 40:39, dan 57:20. Di beberapa tempat akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa kesenangan dunia cuma sebentar. Bacaan itu memberi warna lain pada ayat ini, karena seluruh daftar panjang tadi ditutup dengan kata yang di tempat lain sering disusul peringatan tentang kesementaraannya. Sebuah kata yang sering disusul peringatan membawa peringatan itu walau di sini ia tidak diucapkan. Muatan yang terbawa dari tempat lain masuk tanpa satu kata pun yang membawanya.
  • Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua jamak, sehingga sapaan jamak baru muncul di sini. Sepuluh ayat pertama surah ini menyapa satu orang, dan 80:17 sampai 80:31 berbicara tentang manusia sebagai jenis. Di ayat ini Allah menyapa pembacanya langsung, dan perpindahan itu terjadi tanpa satu penanda pun. Perpindahan sapaan dari satu orang ke jenis lalu ke pembacanya berjalan tanpa satu penanda. Perpindahan sapaan yang mulus membuat pembacanya sampai di dalam gambaran tanpa sadar masuk.
  • Kata pertamanya berdiri sebagai keterangan tujuan bagi seluruh rangkaian sebelumnya, sehingga delapan ayat diikat kepada satu maksud lewat satu kata. Allah menutup bagian terpanjang surahnya dengan satu kata yang menampung semuanya. Sesudah ayat ini pembicaraan berpindah ke hari kiamat, dan peralihan sebesar itu terjadi dalam satu ayat. Satu kata mengikat delapan ayat, dan ikatan itu tidak diulang di mana pun sesudahnya. Satu kata yang memikul delapan ayat adalah penutup yang paling ringkas yang mungkin.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 128 ayat, antara lain 5:1, 6:142, 16:5, 23:21, dan 40:79. Jadi ternak salah satu pokok yang sering disebut, dan hampir selalu ia disebut sebagai pemberian. Ketika ia muncul di penutup daftar ini, pembacanya sudah membawa seluruh pemakaian itu tanpa perlu diingatkan. Sebutan yang hampir selalu muncul sebagai pemberian membawa muatannya sendiri ke penutup daftarnya. Sebutan yang selalu berupa pemberian sulit dibaca sebagai hasil usaha sendiri.
  • Manusia dan ternak disebut sejajar, tanpa satu kata yang menyatakan siapa lebih utama. Keduanya sama-sama penerima, dan urutan penyebutannya cuma menaruh manusia lebih dulu. Kesejajaran itu sesuai dengan pokok surahnya, karena surah yang menegur pemilihan orang berdasarkan kedudukan menutup daftar nikmatnya tanpa memeringkat penerimanya. Apa yang dinyatakan sebuah pemberian yang tidak memilah siapa yang lebih pantas menerimanya? Penerima yang tidak diperingkat menutup pintu bagi siapa pun yang ingin merasa lebih berhak. Ketiadaan peringkat menutup pintu perbandingan sebelum perbandingannya sempat dimulai.