Ayat 80:38
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ
Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌwujuuhun yawma'idzin musfiratunwajah-wajah pada hari itu berseri-seri
Terjemahan per kata (3 kata)
- وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- مُسْفِرَةٌmusfiratuncerah
Inti bacaan
Wajah yang bahagia dilukiskan dengan kata yang sepola dengan terangnya pagi di 74:34. Surah 75, 80, dan 88 masing-masing memuat frasa pembukanya dua kali.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas tiga kata, (وُجُوهٌ, wujuuhun) yang berarti "wajah-wajah", (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) yang berarti "pada hari itu", dan (مُسْفِرَةٌ, musfiratun) yang berarti "cerah". Kata wajah-wajah berbentuk jamak dan tidak bersandang al-, dan 80:40 membuka kelompok wajah yang lain dengan kata yang sama, sehingga yang dimaksud di sini sebagian wajah. Ayat ini tidak memuat kata kerja, dan keadaan wajah disebut langsung dengan kata sifat. Kata sifat di 80:38-39 dan akhiran -haa di 80:40-41 sama-sama berbentuk tunggal perempuan dan merujuk kepada wajah-wajah itu.
Susunan (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yawma'idzin) tercatat di enam ayat, yaitu 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Ketiga surah memakainya dua kali, sekali untuk wajah yang bahagia dan sekali untuk wajah yang susah. Terjemahan ini memakai "wajah-wajah" di surah 75 dan 80, dan "banyak wajah" di surah 88. Kata sifat untuk wajah yang bahagia berbeda di tiap surah, yaitu (نَاضِرَةٌ, naadhiratun) di 75:22, (مُسْفِرَةٌ, musfiratun) di sini, dan (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) di 88:8. Terjemahan ketiganya memakai "berseri-seri", sedangkan glos per kata ayat ini memakai "cerah". Akar kata di 75:22, ن-ض-ر, tercatat di tiga ayat, 75:22, 76:11, dan 83:24, dan ketiganya tentang wajah atau keceriaan orang-orang yang selamat. Akar kata di 88:8, ن-ع-م, tercatat di 128 ayat dan mencakup nikmat dalam arti luas. Akar kata di ayat ini berbeda dari keduanya, dan pola turunannya di 74:34 dipakai untuk terang pagi, seperti diuraikan di bawah, sehingga ketiga surah melukiskan wajah yang bahagia dengan keceriaan, kenikmatan, dan terang.
Akar س-ف-ر tercatat di 12 ayat. Delapan di antaranya tentang perjalanan, misalnya 2:184 dan 4:43, dan di 62:5 akar itu menamai kitab-kitab. Dalam surah ini akar yang sama dipakai di 80:15 untuk (سَفَرَةٍ, safaratin) yang berarti "para penulis". Pola turunan yang dipakai di ayat ini tercatat di dua ayat, 74:34 dalam bentuk kata kerja dan 80:38 dalam bentuk kata sifat. Di 74:34 bentuk itu dipakai untuk subuh, (إِذَا أَسْفَرَ, idzaa asfara) yang berarti "apabila mulai terang", sesudah malam berlalu di 74:33. Wajah yang cerah di 80:38 dilukiskan dengan kata yang di 74:34 menandai terangnya pagi.
Kata wajah sendiri tercatat dalam surah ini di 80:38 dan 80:40 saja, dan keduanya dalam bentuk jamak tanpa al-. Bunyi akhir ayat juga berganti di sini. Ayat 80:34 sampai 80:37 berakhir dengan bunyi -iihi, sedangkan 80:38 sampai 80:42 berakhir dengan bunyi -rah bila dibaca berhenti. Pergantian dari keluarga yang ditinggalkan ke wajah-wajah di hari itu terdengar sebagai bagian baru, dan bagian itu berlangsung sampai akhir surah.
Tafsiran
Ayat ini membuka bagian penutup surah, lima ayat yang membagi wajah menjadi dua golongan. Golongan pertama mendapat dua ayat, 80:38-39, dan golongan kedua mendapat tiga ayat, 80:40-42, dengan tambahan sebutan bagi pemiliknya. Pemilik wajah golongan pertama tidak diberi sebutan. Surah 75 dan 80 mendahulukan wajah yang bahagia, sedangkan surah 88 mendahulukan wajah yang tertunduk di 88:2, lalu menyusulkan wajah yang berseri di 88:8. Dalam surah ini, urutan itu membuat bagian penutup dimulai dengan wajah yang cerah sesudah gambaran pelarian di 80:34-37, lalu berakhir dengan sebutan kafir dan durhaka.
Pembagian yang sama dibuat di 75:22-25, dan di sana wajah yang berseri disusul (إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ, ilaa rabbihaa naazhiratun) yang berarti "kepada Tuhannya memandang". Di 88:8-16 wajah yang berseri disusul keterangan tentang taman yang tinggi, mata air yang mengalir, dan dipan-dipan yang ditinggikan. Surah ini tidak menyebut ke mana wajah itu memandang atau tempat pemiliknya berada, dan menggambarkan wajahnya saja. Rujukan ke 75:23 dan 88:10-16 mengisi gambaran itu dari surah lain tanpa menjadikannya bagian dari ayat ini. Dalam susunan surah, wajah cerah ini datang sesudah setiap orang disibukkan urusannya di 80:37, sehingga cerahnya wajah terbaca sebagai tanda urusan yang berakhir baik.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja dari pola yang sama dengan musfiratun dipakai di 74:34 untuk subuh yang mulai terang, sesudah 74:33 bersumpah demi malam ketika telah berlalu. Allah bersumpah dengan pergantian malam dan subuh itu. Cerahnya wajah di 80:38 datang sesudah 80:34-37 menggambarkan orang yang lari dari keluarganya dan tersita oleh urusannya. Bagi pemilik wajah itu, hari yang menakutkan berakhir seperti malam yang berganti subuh, dan kata yang dipilih untuk wajahnya sama polanya dengan kata untuk pagi yang datang sesudah gelap.
- Wajah orang-orang berbakti, yang di 83:22 disebut berada dalam kenikmatan, dilukiskan di 83:24 (تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ, ta'rifu fii wujuuhihim nadhrata n-na'iimi) yang berarti "engkau mengenali pada wajah mereka cahaya kenikmatan". Kenikmatan yang dirasakan tampak di wajah dan dapat dikenali orang yang melihat. Surah 80 tidak menyebut kenikmatan itu, dan wajah yang cerah memperlihatkannya dari luar. Ketika semua orang sibuk dengan urusannya, keadaan pemilik wajah itu tidak perlu diceritakan, karena wajahnya sudah memperlihatkannya kepada siapa saja yang melihat.
- Orang-orang yang wajahnya memutih di 3:107 disebut berada (فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ, fa-fii rahmati llaahi) yang berarti "maka dalam rahmat Allah", kekal di dalamnya. Ayat itu memberi tempat bagi wajah yang terang. Surah 80 berhenti pada rupa wajah, dan 3:107 menunjukkan ke mana rupa itu berujung. Tempat yang disebut di 3:107 berupa rahmat, yang berasal dari Allah, sehingga cerahnya wajah di hari itu tidak disandarkan kepada usaha pemiliknya semata.
- Surah ini dibuka (عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ, 'abasa wa-tawallaa) yang berarti "dia bermuka masam dan berpaling", ketika orang yang buta datang kepadanya. Surah ini dimulai dengan wajah yang masam dan diakhiri dengan wajah yang cerah atau tertutup debu. Muka masam di 80:1 berlangsung sebentar dan langsung ditegur di 80:3-10, sedangkan rupa wajah di 80:38-41 menjadi keadaan di hari itu, ketika Allah memisahkan dua golongan. Wajah seperti apa yang sedang dibentuk oleh cara seseorang menyambut orang yang datang kepadanya?
- Orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah sambil berbuat kebaikan dijanjikan di 2:112 pahala di sisi Tuhannya, tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan. Wajah di ayat itu menjadi ungkapan untuk seluruh diri yang diarahkan kepada Allah selama hidup. Di 80:38 wajah muncul lagi sebagai tempat keadaan di hari itu tampak. Surah 80 tidak menyebut sebab cerahnya wajah, dan 2:112 memberi satu arah bacaan, sehingga dua ayat itu dapat dibaca berpasangan, yang satu tentang arah wajah selama hidup dan yang lain tentang rupanya di hari itu.
- Wajah yang berseri di 88:9 disifati (لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ, li-sa'yihaa raadhiyatun) yang berarti "merasa puas atas usahanya". Kata usaha di sana berakar س-ع-ي, akar yang sama dengan (مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ, man jaa'aka yas'aa) yang berarti "orang yang datang kepadamu dengan bersegera" di 80:8. Usaha orang itu di awal surah kurang dihiraukan, dan 80:10 menyebutnya diabaikan. Surah 80 tidak mengaitkan kedua ayat, tetapi kesamaan akar itu memperlihatkan bahwa usaha yang diabaikan manusia tetap tercatat sebagai usaha, dan 88:9 menyebut wajah yang puas atas usahanya di hari itu.
Ayat 80:39
ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ
Tertawa lagi bergembira,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌdhaahikatun mustabsyiratuntertawa lagi bergembira
Terjemahan per kata (2 kata)
- ضَاحِكَةٌdhaahikatunyang tertawa
- مُسْتَبْشِرَةٌmustabsyiratunyang berseri
Inti bacaan
Tawa dan seri menggenapi tiga keadaan wajah yang bahagia, tanpa penyebab yang dinyatakan. Pola kata keduanya muncul di delapan ayat, dua kali untuk girang atas sesuatu yang salah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas dua kata sifat, (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) yang berarti "yang tertawa" dan (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyiratun) yang berarti "yang berseri". Keduanya melanjutkan sifat wajah-wajah di 80:38 tanpa kata kerja dan tanpa huruf sambung wa- di antara keduanya. Kata "lagi" dalam terjemahan ditambahkan untuk menyambung dua sifat itu, dan terjemahan memakai "bergembira" untuk kata kedua. Dengan ayat ini wajah golongan pertama mendapat tiga sifat berturut-turut, cerah, tertawa, dan berseri. Susunan dua sifat tanpa wa- dipakai di empat ayat dalam surah ini, yaitu 80:14, 80:16, 80:39, dan 80:42, dan terjemahan keempatnya memakai "lagi".
Akar ض-ح-ك tercatat di 10 ayat. Di lima ayat tertawa datang dari orang yang mengejek orang-orang beriman, meremehkan tanda-tanda Allah, atau bergembira karena tidak ikut berjuang, yaitu 9:82, 23:110, 43:47, 53:60, dan 83:29. Di dua ayat tertawa tidak dicela. Di 11:71 istri Ibrahim tertawa lalu menerima kabar gembira tentang Ishaq, dan di 27:19 Sulaiman (فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا, fa-tabassama dhaahikan min qawlihaa) yang berarti "maka dia tersenyum seraya tertawa karena perkataannya", yaitu perkataan seekor semut di 27:18, lalu berdoa agar diilhami rasa syukur. Di 53:43 tertawa dan menangis disebut sebagai ciptaan Allah. Dua ayat sisanya menyebut tertawa di hari itu, yaitu 80:39 dan 83:34. Kata dengan bentuk yang tertulis di ayat ini tercatat di 80:39 saja.
Kata kedua berasal dari akar ب-ش-ر, yang tercatat di 119 ayat. Akar itu mencakup kata untuk kabar gembira dan juga kata untuk manusia, misalnya di 15:28. Pola yang dipakai di ayat ini, dengan awalan mus-, tercatat di delapan ayat, yaitu 3:170, 3:171, 9:111, 9:124, 15:67, 30:48, 39:45, dan 80:39. Di lima ayat kegembiraan itu terarah kepada karunia Allah, janji-Nya, bertambahnya iman, atau hujan, misalnya (وَيَسْتَبْشِرُونَ, wa-yastabsyiruuna) yang berarti "dan bergirang hati" di 3:170. Di dua ayat lain kegembiraan yang sama terarah kepada hal yang keliru. Di 15:67 penduduk kota datang dengan gembira kepada Lut yang sedang menerima tamu, dan di 39:45 orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat bergembira ketika disebut yang lain selain Allah.
Di 80:39 sebab kegembiraan tidak disebut, dan kedua sifat menggambarkan wajah dari luar, tawa yang terdengar dan terlihat serta seri yang tampak pada rupa. Ayat ini tidak memuat kata kerja yang menunjuk siapa yang membuat wajah itu tertawa, dan tidak memuat keterangan tentang apa yang ditertawakan atau apa yang menggembirakan. Kedua kata berakhiran -atun, sama dengan kata sifat di 80:38.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran golongan pertama. Seluruh gambarannya berupa rupa wajah, cerah, tertawa, dan berseri, tanpa tempat, tanpa nama golongan, dan tanpa perbuatan yang disebut. Di 88:8-16 gambaran yang sejajar dilanjutkan dengan taman dan isinya, sedangkan surah ini berhenti di wajah lalu berpindah ke golongan kedua.
Di 76:10 orang-orang berkata bahwa mereka takut kepada Tuhan mereka akan (يَوْمًا عَبُوسًا, yawman 'abuusan) yang berarti "suatu hari yang penuh kesulitan", dan di 76:11 Allah melindungi mereka dari keburukan hari itu (وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا, wa-laqqaahum nadhratan wa-suruuran) yang berarti "dan memberi mereka keceriaan dan kegembiraan". Ayat itu menyebut pemberinya, Allah, dan sebabnya, rasa takut kepada hari itu selama hidup. Dengan latar itu, tawa di 80:39 dapat dibaca sebagai pemberian, dan orang yang di dunia takut kepada hari yang penuh kesulitan mendapati wajahnya tertawa di hari itu. Surah 80 sendiri tidak menyebut pemberinya, dan sambungan ini dibaca dari 76:11. Di 80:37 setiap orang tersita oleh urusannya, dan di 80:39 ketersitaan itu tidak menghapus tawa. Bagi golongan pertama, urusan yang mencukupi mereka di hari itu terbaca sebagai urusan yang menggembirakan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 53:43 menyebut bahwa Dialah yang menjadikan tertawa dan menangis, dan 53:44 menyusulkan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan. Tawa diletakkan sejajar dengan hidup dan mati, dua perkara yang berada di luar kuasa manusia. Wajah yang tertawa di 80:39 tidak tertawa karena kehendak pemiliknya semata. Tawa itu, seperti tawa dan tangis selama hidup, berasal dari Allah, dan hari itu memperlihatkan kepada siapa tawa itu diberikan.
- Tertawa berpindah arah di surah 83. Di 83:29 orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang beriman, di 83:30 mereka saling mengedip ketika melewati orang beriman, dan di 83:34 pada hari itu orang-orang beriman menertawakan orang-orang kufar. Surah 80 tidak menyebut apa yang ditertawakan wajah-wajah itu, dan 83:29-34 memperlihatkan satu kemungkinan, yaitu tawa yang dahulu dipakai untuk merendahkan berbalik arah. Ayat 83:36 menutup rangkaian itu dengan pertanyaan apakah orang-orang kufar telah dibalas atas perbuatan mereka.
- Orang-orang yang tinggal di belakang di 9:81 merasa gembira karena tidak ikut berangkat, dan 9:82 menyusulkan agar mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang mereka usahakan. Tawa di dunia dan tangis sesudahnya dihubungkan dengan usaha. Dengan bacaan itu, tawa di 80:39 pun tidak lepas dari apa yang diusahakan sebelumnya, karena tawa itu datang sesudah urusan setiap orang di 80:37. Allah yang menetapkan tawa dan tangis sebagai balasan, dan 9:82 memperlihatkan bahwa takarannya dapat berbalik dari yang dirasakan di dunia.
- Kata seakar dan sepola dengan kata kedua di 80:39 dipakai di 3:170 untuk orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, yang di 3:169 disebut hidup di sisi Tuhan mereka, (وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ, wa-yastabsyiruuna bi-lladziina lam yalhaquu bihim min khalfihim) yang berarti "dan bergirang hati terhadap orang-orang yang belum menyusul mereka dari belakang mereka". Kegembiraan itu tertuju kepada orang lain yang masih hidup. Di 80:34-36 setiap orang lari dari keluarganya, sedangkan di 3:170 kata yang sama dipakai untuk gembira yang memikirkan orang lain. Arah kegembiraan golongan pertama di 80:39 tidak disebut, dan 3:170 menunjukkan bahwa kegembiraan semacam itu dapat mencakup orang yang belum tiba.
- Hujan di 30:48 diturunkan Allah kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki, (إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, idzaa hum yastabsyiruuna) yang berarti "seketika mereka bergembira". Ayat 30:49 menyebut bahwa sebelumnya mereka benar-benar putus asa, dan 30:50 mengajak melihat jejak rahmat Allah yang menghidupkan bumi sesudah mati, lalu menyebut Dia pula yang menghidupkan orang mati. Kegembiraan karena hujan dipakai sebagai gambaran kebangkitan. Wajah yang berseri di 80:39 berada di ujung gambaran itu, gembira yang datang sesudah hari yang menakutkan, seperti hujan yang turun sesudah orang berputus asa.
- Hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat di 39:45 menjadi kesal ketika Allah disebut sendirian, dan mereka bergembira ketika disebut yang lain selain Dia. Kata bergembira di sana seakar dan sepola dengan kata kedua di 80:39. Kegembiraan yang sama bentuknya dapat terarah kepada Allah atau kepada selain-Nya, dan hari itu memisahkan keduanya. Ketika Allah disebut sendirian, apakah hati seseorang merasa lapang atau sempit?
Ayat 80:40
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ
Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌwa-wujuuhun yawma'idzin 'alayhaa ghabaratundan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَوُجُوهٌwa-wujuuhundan wajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- غَبَرَةٌghabaratundebu
Inti bacaan
Huruf wa- menandai pergantian ke kelompok lain, yang wajahnya berlapis debu. Selain di sini, akarnya dipakai untuk perempuan yang ditinggal bersama kaumnya, misalnya 7:83.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (وَوُجُوهٌ, wa-wujuuhun) yang berarti "dan wajah-wajah", lalu (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) yang berarti "pada hari itu", (عَلَيْهَا, 'alayhaa) yang berarti "atasnya", dan (غَبَرَةٌ, ghabaratun) yang berarti "debu". Huruf sambung wa- di awal ayat menandai golongan kedua, sedangkan wajah-wajah golongan pertama di 80:38 disebut tanpa wa-. Susunan wajah-wajah dengan wa- tercatat di dua ayat, 75:24 dan 80:40, dan keduanya membuka golongan kedua. Di surah 88 golongan kedua disebut lebih dahulu, di 88:2, dan kedua golongan dibuka tanpa wa-.
Di dua surah lain wajah golongan kedua diberi kata sifat. Di 75:24 wajah itu (بَاسِرَةٌ, baasiratun) yang berarti "muram", dan akar kata itu, ب-س-ر, tercatat di dua ayat saja, 74:22 dan 75:24. Di 88:2 wajah itu (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) yang berarti "tertunduk", dari akar خ-ش-ع yang tercatat di 16 ayat, dan di 23:2 akar yang sama dipakai untuk orang-orang yang khusyuk dalam salat. Di 80:40 wajah golongan kedua tidak diberi kata sifat, dan yang disebut berupa debu di atasnya.
Susunan kalimatnya juga berubah. Di 80:38 kata sifat langsung menyifati wajah, sedangkan di sini ada keterangan tempat, 'alayhaa, dan debu berada di atas wajah itu. Wajah golongan pertama digambarkan dengan sifat yang ada padanya, dan wajah golongan kedua digambarkan dengan sesuatu yang menempel di atasnya. Akhiran -haa pada keterangan itu berbentuk tunggal perempuan dan merujuk kepada wajah-wajah.
Kata ghabaratun tercatat di 80:40 saja. Akarnya, غ-ب-ر, tercatat di delapan ayat, dan tujuh di antaranya memakai bentuk lain untuk istri Lut, yang disebut (مِنَ الْغَابِرِينَ, mina l-ghaabiriina) yang berarti "termasuk orang-orang yang tertinggal", misalnya di 7:83, 15:60, dan 29:33. Dalam ketujuh ayat itu akarnya menandai tertinggal, dan di 80:40 menandai debu. Karena bentuk ini tidak dipakai di ayat lain, arti debu tidak dapat diuji lewat korpus.
Al-Qur'an memakai kata lain untuk debu di tempat lain. Di 100:4 debu yang diterbangkan disebut (نَقْعًا, naq'an) yang berarti "debu", dan di 4:43 orang yang tidak mendapat air diminta bertayamum dengan (صَعِيدًا طَيِّبًا, sha'iidan thayyiban) yang berarti "debu yang baik". Kata di 80:40 berbeda dari keduanya, dan tidak ada ayat lain yang memakai kata itu untuk dibandingkan.
Terjemahan ini memakai "tertutup debu" untuk ungkapan debu di atasnya. Kata tertutup tidak tertulis sebagai kata kerja dalam bahasa Arabnya, dan keterangan 'alayhaa menyatakan letak debu itu. Keterangan yawma'idzin muncul untuk ketiga kalinya dalam surah ini, sesudah 80:37 dan 80:38.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan kedua dengan wajah yang tertutup debu, dan 80:41 menambahkan lapisan kedua di atasnya. Golongan pertama digambarkan dengan tiga sifat yang memancar dari wajah, sedangkan golongan kedua dengan dua perkara yang menutupinya.
Di 3:106 pembagian yang sama disebut (يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ, yawma tabyadhdhu wujuuhun wa-taswaddu wujuuhun) yang berarti "pada hari ketika ada wajah yang memutih dan ada wajah yang menghitam", dan pemilik wajah yang menghitam langsung ditanya (أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ, a-kafartum ba'da iimaanikum) yang berarti "apakah kalian kufur setelah beriman?". Di 39:60 wajah yang menghitam dikaitkan dengan orang-orang yang berdusta kepada Allah. Ketiga ayat itu memakai wajah sebagai tempat keadaan pemiliknya terlihat. Debu di 80:40 tidak diberi warna, sedangkan 3:106 dan 39:60 menyebut warna hitam. Orang-orang yang di 80:34-36 lari dari keluarganya tidak disebut termasuk golongan mana, dan 80:38-42 memperlihatkan bahwa pelarian itu berakhir di salah satu dari dua golongan wajah. Dalam surah ini asal debu itu tidak disebut, dan ayatnya menyebut letaknya di atas wajah. Surah 80 menunda penyebutan sebabnya sampai 80:42, sehingga pembaca lebih dahulu melihat wajahnya, lalu diberi tahu siapa pemiliknya.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang tidak mendapat air di 4:43 diminta (فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ, fa-tayammamuu sha'iidan thayyiban fa-msahuu bi-wujuuhikum) yang berarti "maka bertayamumlah dengan debu yang baik, lalu usaplah wajah kalian". Debu diusapkan ke wajah sebagai persiapan salat, atas perintah Allah. Di 80:40 wajah juga tertutup debu, dengan kata yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Debu yang diusapkan dengan sengaja karena menaati Allah berlainan dengan debu yang menempel tanpa dikehendaki di hari itu. Ayat 4:43 menempatkan debu dan wajah dalam ketaatan, dan 80:40 menempatkannya dalam keadaan hari itu.
- Akar kata debu di ayat ini dipakai tujuh kali untuk istri Lut. Di 7:83 Allah menyelamatkan Lut dan keluarganya (إِلَّا امْرَأَتَهُ, illaa mra'atahu) yang berarti "kecuali istrinya", dan dia termasuk orang-orang yang tertinggal. Di 80:34-36 orang lari meninggalkan keluarganya, dan di 7:83 seorang istri tertinggal ketika keluarganya diselamatkan. Tertinggal dan debu tercatat di bawah akar yang sama. Kedekatan dengan keluarga yang diselamatkan tidak membawa istri itu keluar, dan wajah yang tertutup debu di 80:40 pun berasal dari keadaan yang dibawa masing-masing.
- Orang-orang di 67:25 bertanya kapan janji itu datang, sambil meminta bukti kebenaran. Di 67:27, ketika mereka melihatnya sudah dekat, wajah orang-orang yang kufur menjadi muram, dan dikatakan kepada mereka (وَقِيلَ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُونَ, wa-qiila haadzaa lladzii kuntum bihi tadda'uuna) yang berarti "dan dikatakan, inilah yang dahulu kalian minta". Wajah berubah pada saat yang ditanyakan itu tiba. Debu di 80:40 dapat dibaca bersama ayat itu sebagai rupa wajah orang yang dahulu menganggap hari itu jauh dan menjadikannya bahan tantangan.
- Orang-orang yang rukuk dan sujud mencari karunia Allah dilukiskan di 48:29 (سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ, siimaahum fii wujuuhihim min atsari s-sujuudi) yang berarti "tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud". Sebaliknya, di 68:42-43 orang-orang diseru bersujud di hari itu dan tidak mampu, pandangan mereka tertunduk dan kehinaan meliputi mereka, karena dahulu mereka diseru bersujud ketika masih sehat. Kedua ayat itu menempatkan jejak sujud atau penolakannya pada wajah dan pandangan. Debu di 80:40 tidak disebut sebabnya, dan kedua ayat itu memperlihatkan bahwa rupa wajah di hari itu dapat berhubungan dengan apa yang dikerjakan wajah itu selama hidup.
- Ayat 20:111 menyebut (وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ, wa-'anati l-wujuuhu li-l-hayyi l-qayyuumi) yang berarti "dan wajah-wajah tunduk di hadapan Yang Hidup lagi Yang Menegakkan", dan ayat itu ditutup dengan kerugian orang yang membawa kezaliman. Di hari itu semua wajah tunduk kepada Allah, baik yang cerah maupun yang tertutup debu. Perbedaan kedua golongan terletak pada apa yang dibawa masing-masing, dan 20:111 menyebutnya kezaliman. Kalau di hari itu semua wajah tunduk, ketundukan mana yang masih dapat dipilih sekarang?
- Para pendosa di 55:41 dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya, dan 55:39 menyebut bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. Pengenalan itu tidak memerlukan pertanyaan, karena tandanya tampak. Debu di 80:40 dan kegelapan di 80:41 berfungsi serupa, sebagai tanda yang terlihat pada wajah sebelum nama golongannya disebut di 80:42. Allah memperlihatkan keadaan setiap orang pada wajahnya, bagian tubuh yang selama hidup dilihat orang lain setiap hari.
Ayat 80:41
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
Diliputi kegelapan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌtarhaquhaa qataratundiliputi kegelapan
Terjemahan per kata (2 kata)
- تَرْهَقُهَاtarhaquhaamenutupinya
- قَتَرَةٌqataratunkegelapan
Inti bacaan
Kelompok kedua mendapat lapis gelap, dan di sini muncul kata kerja pertama dalam lima ayat penutup. Di 10:26 kata kerja dan kata benda seakar dipakai untuk wajah orang yang terhindar dari keadaan itu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas dua kata, (تَرْهَقُهَا, tarhaquhaa) yang berarti "menutupinya" dan (قَتَرَةٌ, qataratun) yang berarti "kegelapan". Kata pertama kata kerja, dan pelakunya kegelapan itu, sehingga susunan Arabnya berbunyi kegelapan menutupi wajah-wajah itu. Terjemahan ini memakai bentuk pasif, "diliputi kegelapan", supaya ayat ini tersambung dengan wajah-wajah di 80:40. Akhiran -haa merujuk kepada wajah-wajah. Empat ayat lain di 80:38-42 tidak memuat kata kerja, dan ayat ini memuat satu.
Akar ر-ه-ق tercatat di 10 ayat. Di empat ayat akar itu dipakai untuk wajah atau orang yang diliputi sesuatu di hari itu. Di 10:26 wajah orang-orang yang berbuat baik disebut (وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ, wa-laa yarhaqu wujuuhahum qatarun wa-laa dzillatun) yang berarti "dan wajah-wajah mereka tidak diliputi debu kelam dan tidak pula kehinaan". Di 10:27 kehinaan meliputi orang-orang yang berbuat keburukan, dan di 68:43 serta 70:44 orang-orang di hari itu (تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, tarhaquhum dzillatun) yang berarti "diliputi kehinaan". Di lima ayat lain akar ini dipakai untuk beban, kesulitan, atau kesesatan, yaitu membebani di 18:73 dan 74:17, memaksa di 18:80, kesesatan di 72:6, dan kesulitan di 72:13. Di kelima ayat itu sesuatu yang berat menimpa seseorang dari luar dirinya, dan di 80:41 yang menimpa berupa kegelapan.
Kata qataratun tercatat di 80:41 saja. Akarnya, ق-ت-ر, tercatat di lima ayat. Di 10:26 bentuk tanpa akhiran perempuan diterjemahkan "debu kelam". Di tiga ayat lain akar itu dipakai untuk kesempitan harta dan sikap kikir, yaitu 2:236 untuk orang yang sempit rezekinya, 25:67 untuk orang yang tidak berlebihan dan tidak kikir ketika berinfak, dan 17:100, (وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا, wa-kaana l-insaanu qatuuran) yang berarti "dan manusia itu memang sangat kikir".
Terjemahan ini memakai "kegelapan" di 80:41 dan "debu kelam" di 10:26. Dengan satu ayat pembanding, arti kata ini tidak dapat diuji lebih jauh lewat korpus. Susunan 10:26 memperlihatkan kata kerja yang sama, kata yang seakar, dan wajah sebagai sasaran, sehingga kedua ayat itu menggambarkan keadaan yang sama, sekali ditiadakan dan sekali terjadi. Dua kata di 80:40-41, debu dan kegelapan, tidak dipakai di ayat lain dalam bentuk yang tertulis di sini, dan keduanya berbunyi akhir sejalan dengan 80:38-39. Di 10:26 kata itu berdampingan dengan kehinaan, dan di 80:41 berdampingan dengan debu di ayat sebelumnya. Di kedua tempat, kata ini menjadi salah satu dari dua perkara yang menimpa wajah.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan lapisan kedua pada wajah golongan kedua. Debu di 80:40 berada di atas wajah, dan kegelapan di 80:41 menutupinya. Golongan pertama mendapat tiga sifat yang berasal dari wajah itu, dan golongan kedua mendapat dua perkara yang datang dari luar lalu menutupinya.
Di 10:27 keadaan yang dekat digambarkan (كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ, ka-annamaa ughsyiyat wujuuhuhum) yang berarti "seakan-akan wajah-wajah mereka ditutupi", dan yang menutupinya kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Surah 10 menyebut sebabnya di awal 10:27, yaitu keburukan yang mereka kerjakan. Kedua golongan di surah 10 diberi nama dengan kata penunjuk yang sama dengan pembuka 80:42, sebagai penghuni taman di 10:26 dan penghuni api di 10:27. Surah 80 memberi nama kepada golongan kedua saja, tanpa menyebut tempat, dan tidak menyebut perbuatan mereka di sini. Urutan dua lapis di golongan kedua, debu lalu kegelapan, memperlihatkan wajah yang makin tertutup, berlawanan dengan golongan pertama yang dari cerah bertambah dengan tawa dan seri. Pasangan 10:26-27 memakai akar yang sama untuk dua golongan, yang wajahnya tidak diliputi dan yang diliputi, dan 80:38-41 menyusun pembagian serupa dengan kata yang berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Sekelompok jin yang beriman di 72:13 berkata bahwa siapa yang beriman kepada Tuhannya (فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا, fa-laa yakhaafu bakhsan wa-laa rahaqan) yang berarti "tidak takut akan pengurangan dan tidak akan kesulitan". Kata kesulitan di sana berakar sama dengan kata kerja di 80:41. Di 72:6 akar yang sama dipakai untuk manusia yang berlindung kepada jin dan malah bertambah kesesatannya. Dua ayat di surah 72 itu memperlihatkan dua arah perlindungan dengan akar yang sama, satu kepada Tuhan yang membebaskan dari kesulitan dan satu kepada jin yang menambah beban.
- Allah berfirman di 74:17 tentang seseorang yang menentang tanda-tanda-Nya (سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا, sa-urhiquhu sha'uudan) yang berarti "Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan". Orang itu di 74:18-21 berpikir dan menimbang, lalu di 74:22 bermuka masam dan cemberut. Kata kerja membebani di 74:17 berakar sama dengan kata kerja menutupi di 80:41, dan muka masam di 74:22 berakar sama dengan muka masam di 80:1. Surah 74 memperlihatkan orang yang menimbang lalu berpaling, dan beban itu disiapkan untuknya.
- Wajah seseorang di 16:58 menjadi hitam dan dia menahan kesedihan ketika diberi kabar tentang kelahiran anak perempuan, dan 16:59 menggambarkannya menyembunyikan diri dari orang banyak karena kabar itu. Wajahnya gelap oleh kabar yang di 42:49 disebut anugerah Allah, yang memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki. Ayat 16:59 menutupnya dengan celaan atas buruknya keputusan mereka, sehingga kegelapan wajah di dunia itu lahir dari penilaian yang keliru atas pemberian Allah. Kegelapan di 80:41 datang di hari itu, dan 16:58-59 memperlihatkan bahwa wajah sudah dapat gelap sejak di dunia oleh cara seseorang menyambut ketetapan Tuhannya.
- Manusia di 17:100 diberi tahu bahwa sekiranya mereka memiliki khazanah rahmat Tuhan, mereka akan menahannya karena takut habis, lalu ayat itu ditutup dengan sifat kikir dari akar yang sama dengan kegelapan di 80:41. Surah 80 tidak menghubungkan keduanya, dan di 80:24-32 manusia diajak melihat makanannya, air, biji-bijian, dan buah, yang di 80:32 disebut kesenangan bagi manusia dan ternaknya. Kegelapan di 80:41 dapat dibaca berdampingan dengan kekikiran di 17:100, dua pemakaian dari akar yang sama.
- Allah di 2:257 disebut pelindung orang-orang yang beriman, yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, sedangkan pelindung orang-orang yang kufur mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Kata kegelapan di sana berakar lain, ظ-ل-م, tetapi arah geraknya dapat dibaca bersama 80:41. Kegelapan yang menutupi wajah di hari itu dapat dibaca sebagai ujung dari perpindahan yang terjadi selama hidup, dan 2:257 menyebut siapa yang memindahkan. Pelindung mana yang sedang diikuti sekarang?
- Orang-orang munafik di 57:13 berkata kepada orang-orang beriman (انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ, unzhuruunaa naqtabis min nuurikum) yang berarti "tunggulah kami, agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian", dan dijawab (ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا, rji'uu waraa'akum fa-ltamisuu nuuran) yang berarti "kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya". Di 57:12 orang-orang beriman berjalan dengan cahaya yang memancar di hadapan mereka. Surah 80 tidak menyebut cahaya, dan 57:12-13 memperlihatkan bahwa di hari itu cahaya dan kegelapan dibawa masing-masing, dan jawaban di 57:13 menunjuk ke belakang, ke tempat yang sudah ditinggalkan.