Ayat 82:11
كِرَامًا كَاتِبِينَ
Yang mulia dan mencatat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كِرَامًا كَاتِبِينَkiraaman kaatibiinayang mulia dan mencatat
Terjemahan per kata (2 kata)
- كِرَامًاkiraamanyang mulia
- كَاتِبِينَkaatibiinapara pencatat
Inti bacaan
Kualitas para pencatat: 'yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu)', penegasan bahwa pencatatan dilakukan oleh entitas yang terpercaya dan dihormati, menjamin akurasi dokumentasi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(di sisi Allah)" dan "(amal perbuatanmu)" tidak dipakai.
Rangkaian (كِرَامًا كَاتِبِينَ, kiraaman kaatibiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, mengikuti kata terakhir di 82:10 yang juga tidak bertakrif.
Kata (كِرَامًا, kiraaman) berasal dari akar yang berarti mulia dan murah hati. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:6 dan ayat ini. Di 82:6 akar itu menjadi gelar Allah, dan di sini ia menjadi sifat para penjaga.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar dipakai untuk Yang disembah dan untuk hamba-Nya yang mencatat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian ganda itu dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang. Kata (كَاتِبِينَ, kaatibiin) di sini berbentuk pelaku, bukan bentuk penderita.
Kata (كَاتِبِينَ, kaatibiin) berasal dari akar yang berarti menulis dan menetapkan. Akar itu dipakai di 279 ayat, antara lain 2:79, 4:103, 9:120, 18:49, dan 45:29. Di 18:49 akar itu dipakai untuk kitab catatan yang tidak meninggalkan satu perkara pun.
Kedua kata di ayat ini berbentuk pelaku, sehingga keduanya menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang berlangsung. Jadi mulia dan mencatat disebut sebagai keadaan tetap, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Kata (كِرَامًا, kiraaman) mendahuluinya, dan keduanya berbaris fathah.
Susunan ayat ini menaruh sifat mulia lebih dulu dan pekerjaan mencatat belakangan. Jadi Al-Qur'an menyebut kemuliaan mereka sebelum menyebut apa yang mereka kerjakan, dan urutan itu tidak diterangkan.
Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang penjaga, dan ia berdiri sebagai keterangan bagi kata terakhir di 82:10. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang disifatinya.
Kata (كِرَامًا, kiraaman) berbaris fathah karena menerangkan kata terakhir di 82:10, dan kata sesudahnya mengikuti baris yang sama. Jadi dua kata di ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya, dan kedudukan i'rabnya ditentukan di luar ayat ini sendiri tanpa satu kata penunjuk pun.
Bentuk (كَاتِبِينَ, kaatibiin) berbentuk jamak, sama seperti bentuk kata terakhir di 82:10. Jadi tiga kata dari dua ayat berturut-turut sama-sama berbentuk jamak, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu gambaran yang tidak terpisah. Susunan itu membuat dua sifat terbaca sebagai satu pasangan yang tidak terpisah. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang membuat mereka mulia maupun dengan apa mereka mencatat, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata yang bergantung pada ayat sebelumnya untuk dimengerti.
Tafsiran
Ayat ini merinci sifat penjaga tersebut: mulia dan mencatat, dan rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Kedua katanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, mengikuti kata terakhir di 82:10 yang juga tidak bertakrif. Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:6 dan ayat ini.
Di 82:6 akar itu menjadi gelar Allah, dan di sini ia menjadi sifat para penjaga. Jadi satu akar dipakai untuk Yang disembah dan untuk hamba-Nya yang mencatat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian ganda itu dengan satu kalimat pun.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 279 ayat, antara lain 2:79, 4:103, 9:120, 18:49, dan 45:29. Di 18:49 akar itu dipakai untuk kitab catatan yang tidak meninggalkan satu perkara pun.
Kedua kata di ayat ini berbentuk pelaku, sehingga keduanya menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang berlangsung. Kata pertamanya berbaris fathah karena menerangkan kata terakhir di 82:10, dan kata sesudahnya mengikuti baris yang sama. Jadi dua kata di ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya, dan kedudukan i'rabnya ditentukan di luar ayat ini sendiri tanpa satu kata penunjuk pun. Jadi Al-Qur'an menyebut kemuliaan mereka sebelum menyebut apa yang mereka kerjakan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:6 dan 82:11. Di 82:6 akar itu menjadi gelar Allah, dan di sini ia menjadi sifat para penjaga. Jadi satu akar dipakai untuk Yang disembah dan untuk hamba-Nya yang mencatat. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk Allah dan untuk penjaga-Nya. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 279 ayat, antara lain 2:79, 4:103, 9:120, 18:49, dan 45:29. Di 18:49 akar itu dipakai untuk kitab catatan yang tidak meninggalkan satu perkara pun, baik yang kecil maupun yang besar. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang menamai penulisan kitab. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat.
- Kedua kata di ayat ini berbentuk pelaku, sehingga keduanya menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang berlangsung. Jadi Allah menyebut mulia dan mencatat sebagai keadaan tetap, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang memakai kata kerja akan mengubah sifat yang melekat menjadi perbuatan yang berjalan. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya.
- Susunan ayat ini menaruh sifat mulia lebih dulu dan pekerjaan mencatat belakangan. Apa yang berubah pada gambaran sebuah pencatatan ketika Allah menyebut kemuliaan pencatatnya sebelum menyebut apa yang mereka kerjakan? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa kemuliaan disebut lebih dulu daripada pekerjaannya di dalam susunan ayatnya. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat.
- Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tidak ada satu tempat lain pun yang memakai dua kata itu berdampingan, dan pembacanya cuma punya ayat ini untuk menimbang apa yang dimaksudkan Allah dengan pasangan itu. Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata itu, dan menerangkannya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam ayat ini sendiri. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya.
- Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang penjaga, dan ia berdiri sebagai keterangan bagi kata terakhir di 82:10. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang disifati Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang sedang disifati susunannya. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya.
Ayat 82:12
يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَya'lamuuna maa taf'aluunamereka mengetahui apa yang kalian kerjakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
- مَاmaaapa yang
- تَفْعَلُونَtaf'aluunakalian kerjakan
Inti bacaan
Cakupan pengetahuan yang menyeluruh: 'mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan', konfirmasi bahwa tidak ada tindakan yang luput dari observasi para pencatat ini.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يَعْلَمُونَ, ya'lamuun) berasal dari akar yang berarti mengetahui. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan ayat ini. Jadi satu akar mengikat pengetahuan jiwa atas dirinya dan pengetahuan penjaga atas perbuatannya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 82:5 jiwa baru mengetahui perbuatannya pada hari itu, dan di sini para penjaga sudah mengetahuinya sejak sekarang. Jadi satu akar memisahkan dua waktu yang berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menandai pemisahan itu.
Kata kerja (تَفْعَلُونَ, taf'aluun) berasal dari akar yang berarti berbuat. Akar itu dipakai di 102 ayat, antara lain 2:24, 5:79, 21:23, 26:226, dan 85:16. Kesejajaran dengan 85:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perbuatan Allah sendiri.
Jadi akar yang di 85:16 menamai perbuatan-Nya yang tidak terbatas, di sini menamai perbuatan manusia yang dicatat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (تَفْعَلُونَ, taf'aluun) di sini berorang kedua jamak, bukan pihak ketiga.
Kata (مَا, maa) di ayat ini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi isi perbuatannya tidak dinamai sama sekali, sama seperti di 82:5, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin.
Bentuk (يَعْلَمُونَ, ya'lamuun) berorang ketiga jamak dan menunjuk para penjaga, sedangkan bentuk (تَفْعَلُونَ, taf'aluun) berorang kedua jamak dan menunjuk manusia. Jadi dua pihak berdiri berhadapan di dalam satu ayat pendek.
Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga keduanya dinyatakan sebagai yang berlangsung. Jadi pencatatan dan perbuatan berjalan bersamaan, dan kesejajaran waktu itu terbawa di dalam bentuk keduanya. Kata (يَعْلَمُونَ, ya'lamuun) membuka ayatnya, dan ia berorang ketiga jamak.
Ayat ini menutup tiga ayat tentang penjaga, dan sesudahnya 82:13 berpindah kepada dua golongan. Jadi bagian ketiga surah ini berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya perbandingan balasan.
Kata (يَعْلَمُونَ, ya'lamuun) berasal dari akar yang berarti mengetahui. Akar itu dipakai di 728 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk pengetahuan para penjaga, bukan untuk pengetahuan Allah maupun pengetahuan manusia.
Susunan ayat ini cuma tiga kata, dan itu yang paling pendek di antara tiga ayat tentang penjaga. Jadi keterangan yang paling menentukan dinyatakan dengan kalimat yang paling ringkas, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun di dalam surahnya. Susunan itu menutup tiga ayat tentang penjaga dengan kalimat terpendek di antara ketiganya. Al-Qur'an tidak menyebut bagaimana mereka mengetahui maupun apa yang mereka ketahui, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang mengakhiri bagian ketiga surah ini. Kata (مَا, maa) berdiri di antara keduanya, dan ia kata sambung, bukan pengingkaran.
Tafsiran
Ayat ini menutup penjelasan tentang penjaga yang mencatat seluruh perbuatan manusia, dan kata kerja pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan ayat ini.
Jadi satu akar mengikat pengetahuan jiwa atas dirinya dan pengetahuan penjaga atas perbuatannya. Di 82:5 jiwa baru mengetahui perbuatannya pada hari itu, dan di sini para penjaga sudah mengetahuinya sejak sekarang.
Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 102 ayat, antara lain 2:24, 5:79, 21:23, 26:226, dan 85:16. Kesejajaran dengan 85:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perbuatan Allah sendiri.
Jadi akar yang di 85:16 menamai perbuatan-Nya yang tidak terbatas, di sini menamai perbuatan manusia yang dicatat.
Ayat ini menutup tiga ayat tentang penjaga, dan sesudahnya 82:13 berpindah kepada dua golongan. Akar kata pertamanya dipakai di 728 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Susunan ayat ini cuma tiga kata, dan itu yang paling pendek di antara tiga ayat tentang penjaga, sehingga keterangan yang paling menentukan dinyatakan paling ringkas. Jadi bagian ketiga surah ini berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya perbandingan balasan yang dibuka dengan huruf penegas.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan 82:12. Di 82:5 jiwa baru mengetahui perbuatannya pada hari itu, dan di sini para penjaga sudah mengetahuinya sejak sekarang. Jadi satu akar memisahkan dua waktu yang berjauhan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemisahan dua waktu lewat satu akar yang sama. Pencatatan dan perbuatan disebut berjalan bersamaan tanpa satu jeda.
- Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 102 ayat, antara lain 2:24, 5:79, 21:23, 26:226, dan 85:16. Di 85:16 akar yang sama dipakai untuk perbuatan-Nya yang tidak terbatas, sedangkan di sini ia menamai perbuatan manusia yang dicatat. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk Allah dan untuk manusia. Kalimat terpendek di bagian ini memuat keterangan yang paling menentukan.
- Kata kerja pertamanya berorang ketiga jamak dan menunjuk para penjaga, sedangkan kata kerja terakhirnya berorang kedua jamak dan menunjuk manusia. Jadi Allah menaruh dua pihak berhadapan di dalam satu ayat yang cuma tiga kata panjangnya. Susunan sepadat itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan kalimat terpendek untuk ayat ini. Pencatatan dan perbuatan disebut berjalan bersamaan tanpa satu jeda.
- Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga keduanya dinyatakan sebagai yang berlangsung. Jadi pencatatan dan perbuatan berjalan bersamaan, dan kesejajaran waktu itu terbawa di dalam bentuk keduanya tanpa satu kata keterangan pun dari Allah. Kesejajaran waktu itu terbawa di dalam bentuk keduanya, dan terjemahan yang meratakannya akan memisahkan pencatatan dari perbuatan yang dicatatnya. Kalimat terpendek di bagian ini memuat keterangan yang paling menentukan.
- Kata keduanya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi Allah tidak menamai isi perbuatannya sama sekali, sama seperti di 82:5. Apa yang berubah pada seseorang ketika yang dicatat atasnya tidak dibatasi kepada satu jenis perbuatan? Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh kata sambungnya. Pencatatan dan perbuatan disebut berjalan bersamaan tanpa satu jeda.
- Ayat ini menutup tiga ayat tentang penjaga, dan sesudahnya 82:13 berpindah kepada dua golongan. Jadi bagian ketiga surah ini berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya perbandingan balasan yang dibuka Allah dengan huruf penegas. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa bagian tentang penjaga sudah berhenti di sini. Kalimat terpendek di bagian ini memuat keterangan yang paling menentukan. Kalimat terpendek di bagian ini memuat keterangan yang paling menentukan.
Ayat 82:13
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍinna l-abraara la-fii na'iiminsesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الْأَبْرَارَl-abraaraorang-orang yang berbakti
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- نَعِيمٍna'iiminkenikmatan
Inti bacaan
Hasil bagi golongan berbakti: 'sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan', konsekuensi positif yang jelas bagi mereka yang menjalani hidup dengan kebajikan tulus.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْأَبْرَارَ, al-abraar) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 76:5, 82:13, dan 83:22. Kesejajaran dengan 83:22 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini di dalam susunan mushaf.
Kata (نَعِيمٍ, na'iim) muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 52:17, 56:89, 70:38, 82:13, dan 83:22. Jadi dua kata di ayat ini berkumpul lagi di 83:22, dan tidak ada ayat lain yang memakai keduanya berdampingan.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua surah yang bersebelahan memakai pasangan kata yang sama untuk menyebut orang berbakti dan kenikmatan mereka. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Akar (الْأَبْرَارَ, al-abraar) berarti berbuat baik dan berbakti. Akar itu dipakai di 30 ayat, antara lain 2:177, 3:92, 19:14, 80:16, dan 83:18. Di 2:177 akar itu dipakai untuk kebaikan yang dirinci sebagai iman dan pemberian harta.
Huruf lam di dalam (لَفِي, la-fii) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, sama seperti susunan di 82:10 dan 82:14.
Kata (نَعِيمٍ, na'iim) tidak bertakrif, sehingga yang disebut kenikmatan sebagai jenis, bukan satu kenikmatan tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis.
Kata (لَفِي, la-fii) menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga kenikmatan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai pemberian. Jadi mereka disebut berada di dalamnya, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf.
Ayat ini membuka bagian keempat surah ini, dan bagian itu berjalan sampai 82:16. Jadi empat ayat berturut-turut membicarakan dua golongan dan balasan masing-masing.
Bentuk (الْأَبْرَارَ, al-abraar) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh orang berbakti sebagai golongan. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan bentuk yang sama dipakai di 82:14 untuk golongan yang berlawanan tanpa satu kata pembeda di antara keduanya.
Kata (إِنَّ, inna) di awal ayat huruf penegas, dan pasangannya dipakai di 82:14 dengan tambahan kata sambung. Jadi dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua, dan membaca salah satunya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya yang menyusul. Susunan itu membuat kenikmatan terbaca sebagai tempat yang melingkupi, bukan sebagai pemberian yang diterima, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja. Al-Qur'an tidak menyebut siapa saja yang termasuk golongan itu maupun apa wujud kenikmatannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini beralih menggambarkan balasan bagi orang-orang yang berbakti, dan kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 76:5, 82:13, dan 83:22.
Kata terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 52:17, 56:89, 70:38, 82:13, dan 83:22. Jadi dua kata di ayat ini berkumpul lagi di 83:22, dan tidak ada ayat lain yang memakai keduanya berdampingan.
Kesejajaran dengan 83:22 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai pasangan kata yang sama untuk menyebut orang berbakti dan kenikmatan mereka.
Akar kata keduanya dipakai di 30 ayat, antara lain 2:177, 3:92, 19:14, 80:16, dan 83:18. Di 2:177 akar itu dipakai untuk kebaikan yang dirinci sebagai iman dan pemberian harta.
Huruf di dalam kata ketiganya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Bentuk kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh orang berbakti sebagai golongan. Kata pertamanya huruf penegas, dan pasangannya dipakai di 82:14 dengan tambahan kata sambung, sehingga dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua. Jadi empat ayat berturut-turut membicarakan dua golongan dan balasan masing-masing, dan bagian itu baru ditutup di 82:16.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 76:5, 82:13, dan 83:22, dan kata terakhirnya muncul 5 kali termasuk di 83:22. Jadi dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat lain, dan tidak ada ayat ketiga yang memakai keduanya berdampingan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pertemuan dua kata itu lagi di satu ayat lain. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.
- Kesejajaran dengan 83:22 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai pasangan kata yang sama untuk menyebut orang berbakti dan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada mereka. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua surah bersebelahan memakai pasangan kata yang sama. Dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat surah tetangganya.
- Akar kata keduanya dipakai Allah di 30 ayat, antara lain 2:177, 3:92, 19:14, 80:16, dan 83:18. Di 2:177 akar itu dipakai untuk kebaikan yang dirinci sebagai iman dan pemberian harta, sedangkan di sini ia menamai orangnya tanpa satu rincian pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penyebutan orangnya tanpa satu rincian pun. Dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat surah tetangganya.
- Kata ketiganya menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga kenikmatan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai pemberian. Jadi Allah menyebut mereka berada di dalamnya, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah tempat yang melingkupi menjadi pemberian yang diterima. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.
- Huruf di dalam kata ketiganya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, sama seperti susunan yang dipakai Allah di 82:10 dan 82:14. Kepadatan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian dua penegas di ketiganya. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut kenikmatan sebagai jenis, bukan satu kenikmatan tertentu. Apa yang dibayangkan pembaca ketika Allah menjanjikan kenikmatan tanpa menyebut satu pun wujudnya di dalam ayat ini? Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat surah tetangganya. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.