Ayat 83:29

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَinna lladziina ajramuu kaanuu mina lladziina aamanuu yadhakuunasesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. أَجْرَمُواajramuumereka berbuat dosa
  4. كَانُواkaanuumereka selalu
  5. مِنَminadari
  6. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  7. آمَنُواaamanuuberiman
  8. يَضْحَكُونَyadhakuunamereka menertawakan

Inti bacaan

Pengungkapan pola ejekan masa lalu: 'sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman', dokumentasi perilaku merendahkan yang dialami orang beriman semasa hidup di dunia.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (أَجْرَمُوا, ajramuu) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:124, 30:47, dan 83:29. Di 30:47 kata yang sama dipakai untuk orang yang dibalas Allah karena perbuatannya.

Kata kerja (يَضْحَكُونَ, yadhhakuun) berasal dari akar yang berarti tertawa. Akar itu cuma dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 53:60, dan 80:39. Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:34.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini orang berdosa menertawakan orang beriman, dan di 83:34 orang beriman menertawakan orang kufur. Jadi satu akar memikul pembalikan keadaan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya.

Kata kerja (آمَنُوا, aamanuu) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:34. Jadi dua akar sekaligus diulang di dua ayat itu, dan keduanya berjarak lima ayat.

Jadi kalimat di 83:34 dibangun dari bahan yang sama dengan kalimat di ayat ini, dan yang berbeda cuma siapa yang tertawa dan siapa yang ditertawakan. Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun.

Bentuk (يَضْحَكُونَ, yadhhakuun) berbentuk sekarang dan didahului kata kerja yang menyatakan kebiasaan, sehingga tertawa itu dinyatakan berulang-ulang. Jadi ia bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.

Huruf min di depan (مِنَ, mina) menyatakan sasaran tertawanya, sehingga yang ditertawakan orang beriman itu sendiri. Jadi arah ejekannya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah siapa yang menjadi bahan tertawa.

Ayat ini membuka lima ayat tentang ejekan di dunia, dan kelimanya berjalan sampai 83:33. Jadi bagian ini sama panjangnya dengan bagian pembalikannya yang cuma tiga ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Kata (إِنَّ, inna) di awal ayat huruf penegas, sama seperti huruf pembuka di 83:22. Jadi dua ayat yang membuka dua bagian berlawanan sama-sama dibuka dengan huruf yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata penghubung pun.

Kata (كَانُوا, kaanuu) berasal dari akar yang berarti ada dan menjadi. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14, 83:17, ayat ini, dan 83:36. Jadi akar itu mengikat empat bagian surahnya, dan seluruhnya menamai kebiasaan yang berlangsung lama. Susunan itu membuka kisah ejekan di dunia sesudah sebelas ayat tentang balasan di akhirat. Al-Qur'an tidak menyebut kapan ejekan itu terjadi maupun di mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma satu kebiasaan yang dilukiskan tanpa satu nama pun. Pembacanya dibiarkan tanpa satu nama maupun satu tempat di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke kisah orang-orang berdosa yang dahulu mengejek orang beriman di dunia, dan kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:124, 30:47, dan 83:29.

Di 30:47 kata yang sama dipakai untuk orang yang dibalas Allah karena perbuatannya. Kata terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 53:60, dan 80:39.

Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:34. Di sini orang berdosa menertawakan orang beriman, dan di 83:34 orang beriman menertawakan orang kufur.

Jadi satu akar memikul pembalikan keadaan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya. Kata keenamnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:34.

Ayat ini membuka lima ayat tentang ejekan di dunia, dan kelimanya berjalan sampai 83:33. Kata pertamanya huruf penegas, sama seperti huruf pembuka di 83:22. Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14, 83:17, ayat ini, dan 83:36, sehingga akar itu mengikat empat bagian surahnya. Jadi bagian ini lima ayat panjangnya, sedangkan pembalikannya di akhirat cuma tiga ayat di 83:34 sampai 83:36. Pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tentang kapan ejekan itu terjadi.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai Allah di 10 ayat, dan di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu 83:29 dan 83:34. Di sini orang berdosa menertawakan orang beriman, dan di 83:34 orang beriman menertawakan orang kufur. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua tertawa yang berlawanan. Satu akar memikul pembalikan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya.
  • Kata keenamnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:29 dan 83:34. Jadi dua akar sekaligus diulang Allah di dua ayat itu, dan kalimat di 83:34 dibangun dari bahan yang sama dengan kalimat di ayat ini. Kesejajaran itu berlaku sampai ke bahan katanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat itu dibangun dari kata yang sama persis. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
  • Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang dan didahului kata kerja yang menyatakan kebiasaan, sehingga tertawa itu dinyatakan berulang-ulang. Jadi Allah menyebutnya bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama. Perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri, dan terjemahan yang menghilangkan kata kebiasaannya akan mengubahnya menjadi satu kejadian. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
  • Huruf di depan kata kelimanya menyatakan sasaran tertawanya, sehingga yang ditertawakan orang beriman itu sendiri. Jadi arah ejekannya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah siapa yang menjadi bahan tertawa di dalam ayat Allah ini. Arah ejekan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah siapa yang menjadi bahan tertawa di dalam ayat ini. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
  • Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:124, 30:47, dan 83:29. Di 30:47 kata yang sama dipakai Allah untuk orang yang dibalas karena perbuatannya, sedangkan di sini ia menamai orang yang menertawakan orang beriman di dunia. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kata itu cuma di tiga surah. Satu akar memikul pembalikan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya.
  • Ayat ini membuka lima ayat tentang ejekan di dunia, dan kelimanya berjalan sampai 83:33. Apa yang dinyatakan Allah dengan memberi ejekan di dunia lima ayat, sedangkan pembalikannya di akhirat cuma tiga ayat di 83:34 sampai 83:36? Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemberian lima ayat kepada bagian ini. Satu akar memikul pembalikan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.

Ayat 83:30

وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ

Dan apabila melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip mengejek,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَwa-idzaa marruu bihim yataghaamazuunadan apabila melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip mengejek

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. مَرُّواmarruumereka lewat
  3. بِهِمْbihimpada mereka
  4. يَتَغَامَزُونَyataghaamazuunamereka saling mengedipkan mata

Inti bacaan

Detail perilaku mengejek yang spesifik: 'dan apabila melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip mengejek', gestur non-verbal yang menegaskan sifat sistematis dan disengaja dari ejekan tersebut.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَتَغَامَزُونَ, yataghaamazuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mengedipkan mata mengejek. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar.

Ini akar keempat dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 83:14, 83:25, dan 83:27, sehingga empat hapax akar tersebar di empat bagian surahnya. Kata (يَتَغَامَزُونَ, yataghaamazuun) di sini berpola keenam, sehingga perbuatannya bersama.

Bentuk (يَتَغَامَزُونَ, yataghaamazuun) berpola keenam, sehingga artinya saling memberi isyarat di antara mereka. Jadi perbuatannya dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam polanya.

Kata kerja (مَرُّوا, marruu) berasal dari akar yang berarti berlalu lewat. Akar itu cuma dipakai di 32 ayat, antara lain 2:259, 7:189, 12:105, 25:72, dan 31:7. Di 25:72 akar itu dipakai untuk orang yang berlalu dengan menjaga kehormatan diri.

Kesejajaran dengan 25:72 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menamai cara berlalu yang terpuji, dan di sini ia menamai cara berlalu yang mengejek. Jadi satu akar memikul dua cara melewati orang lain. Kata (مَرُّوا, marruu) mendahuluinya, dan bentuknya berbentuk lampau.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang berulang, dan kata yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Jadi tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama, dan ketiganya melukiskan kebiasaan.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Tiga ayat itu menyusun tiga tahap ejekan: isyarat saat berpapasan, kegembiraan saat pulang, dan tuduhan saat memandang. Jadi ejekannya dilukiskan bertingkat, dan Al-Qur'an tidak menandai tingkatannya.

Kata (بِهِمْ, bihim) memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:29, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang dilewati.

Kata (وَإِذَا, wa idzaa) di awal ayat menandai waktu yang berulang, dan susunan yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Jadi tiga ayat berturut-turut dibuka dengan dua kata yang sama persis, dan pengulangan sepadat itu tidak ada di bagian lain surah ini.

Kata (مَرُّوا, marruu) berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang. Jadi perbuatan melewatinya disebut sudah terjadi dan isyaratnya sebagai yang berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk keduanya tanpa satu kata keterangan pun. Susunan itu merinci tahap pertama ejekan mereka dengan satu kata yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menyebut apa isyarat itu maupun apa maksudnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang melukiskan gerak yang hampir tidak terlihat.

Tafsiran

Ayat ini merinci ejekan mereka: saling mengedipkan mata saat melintasi orang beriman, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 83:14, 83:25, dan 83:27.

Bentuk kata terakhirnya berpola keenam, sehingga artinya saling memberi isyarat di antara mereka. Jadi perbuatannya dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri.

Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 32 ayat, antara lain 2:259, 7:189, 12:105, 25:72, dan 31:7. Di 25:72 akar itu dipakai untuk orang yang berlalu dengan menjaga kehormatan diri.

Kata pertamanya menandai waktu yang berulang, dan kata yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Kata pertamanya menandai waktu yang berulang, dan susunan yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Kata keduanya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatan melewatinya disebut sudah terjadi dan isyaratnya sebagai yang berlangsung. Jadi ejekannya dilukiskan bertingkat di tiga ayat berturut-turut, dan Al-Qur'an tidak menandai tingkatannya dengan satu kata pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar keempat dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 83:14, 83:25, dan 83:27. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan empat hapax akar di dalam satu surah. Akar yang menamai cara berlalu yang terhormat dipakai untuk cara berlalu yang mengejek.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai Allah di 32 ayat, antara lain 2:259, 7:189, 12:105, 25:72, dan 31:7. Di 25:72 akar itu dipakai untuk orang yang berlalu dengan menjaga kehormatan diri, sedangkan di sini ia menamai cara berlalu yang mengejek. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua cara melewati orang. Akar yang menamai cara berlalu yang terhormat dipakai untuk cara berlalu yang mengejek.
  • Bentuk kata terakhirnya berpola keenam, sehingga artinya saling memberi isyarat di antara mereka. Jadi Allah menyatakan perbuatannya dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam polanya tanpa satu kata keterangan. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan mengubah perbuatan bersama menjadi perbuatan sendiri-sendiri. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa.
  • Kata pertamanya menandai waktu yang berulang, dan kata yang sama dipakai Allah di 83:31 serta 83:32. Jadi tiga ayat berturut-turut menyusun tiga tahap ejekan: isyarat saat berpapasan, kegembiraan saat pulang, dan tuduhan saat memandang. Kesejajaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian penanda yang sama. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:29, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang dilewati mereka. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang dilewati mereka. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa.
  • Yang disebut Allah di ayat ini bukan hinaan yang terdengar, melainkan isyarat mata di antara mereka. Apa yang dinyatakan sebuah surah ketika ia membuka dengan selisih takaran yang tak terasa, lalu mencatat ejekan yang cuma berupa kedipan mata? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menerangkan apa isyarat itu berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Akar yang menamai cara berlalu yang terhormat dipakai untuk cara berlalu yang mengejek.

Ayat 83:31

وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ

Dan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali bergembira ria,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَwa-idzaa nqalabuu ilaa ahlihimu nqalabuu fakihiinadan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali bergembira ria

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. انْقَلَبُواnqalabuumereka kembali
  3. إِلَىٰilaakepada
  4. أَهْلِهِمُahlihimukeluarga mereka
  5. انْقَلَبُواnqalabuumereka kembali
  6. فَكِهِينَfakihiinaorang-orang yang bergembira

Inti bacaan

Kepuasan yang diperoleh dari merendahkan orang lain: 'dan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali bergembira ria', pengakuan bahwa ejekan terhadap orang beriman menjadi sumber kesenangan tersendiri bagi pelakunya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (فَكِهِينَ, faakihiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti bergembira dan bergurau. Ia cuma dipakai di 19 ayat, antara lain 36:57, 43:73, 55:11, 56:32, dan 80:31, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai buah-buahan.

Jadi akar yang di belasan ayat menamai buah-buahan surga, di sini menamai orang yang bergembira karena ejekannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya. Kata (فَكِهِينَ, faakihiin) di sini berbaris fathah sebagai keterangan keadaan.

Kata kerja (انْقَلَبُوا, inqalabuu) berasal dari akar yang berarti membalik. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan ayat ini. Di 83:14 akar itu menamai hati yang berkarat.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar menamai hati yang tertutup karat dan perbuatan pulang ke rumah, dan keduanya dipakai untuk golongan yang sama. Jadi orang yang hatinya berkarat adalah orang yang pulang dengan gembira di sini. Kata (انْقَلَبُوا, inqalabuu) mendahuluinya, dan ia diulang dua kali di ayat ini.

Kata kerja (انْقَلَبُوا, inqalabuu) diulang dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai keterangan waktu dan sekali sebagai kalimat pokoknya. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam satu ayat pendek, dan pengulangan itu yang menyusun kalimatnya.

Bentuk (انْقَلَبُوا, inqalabuu) berpola ketujuh, sehingga artinya berbalik dengan sendirinya. Jadi kepulangannya disandarkan kepada mereka sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut memulangkannya.

Kata (أَهْلِهِمُ, ahlihim) berasal dari akar yang berarti keluarga dan penghuni. Akar itu dipakai di 120 ayat, antara lain 4:35, 11:45, 20:132, 66:6, dan 84:9. Kesejajaran dengan 84:9 patut dicatat, sebab di sana orang yang selamat pulang kepada keluarganya dengan gembira.

Jadi dua surah yang berdekatan memakai gambaran yang sama, dan yang di 84:9 pahala sedangkan yang di sini kegembiraan atas ejekan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kata pun.

Kata (إِلَىٰ, ilaa) menyatakan arah tujuan, sehingga kepulangan itu dilukiskan sebagai perjalanan yang punya ujung. Jadi arahnya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan menghapus tujuan yang dinyatakan susunan katanya sendiri di dalam ayat ini.

Kata (فَكِهِينَ, faakihiin) berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:23 pada kata yang berbeda. Jadi dua ayat di dalam surah ini melukiskan keadaan lewat kata sifat yang menempel pada kata kerjanya. Susunan itu merinci tahap kedua ejekan mereka, yaitu kegembiraan yang terbawa sampai ke rumah. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka katakan di rumah maupun kepada siapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kepuasan mereka mengejek yang berlanjut hingga pulang ke rumah, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya cuma dipakai di 19 ayat, antara lain 36:57, 43:73, 55:11, 56:32, dan 80:31, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai buah-buahan. Jadi akar yang di belasan ayat menamai buah-buahan surga, di sini menamai orang yang bergembira karena ejekannya.

Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan ayat ini. Di 83:14 akar itu menamai hati yang berkarat.

Jadi orang yang hatinya berkarat adalah orang yang pulang dengan gembira di sini. Kata itu diulang dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai keterangan waktu dan sekali sebagai kalimat pokoknya.

Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 120 ayat, antara lain 4:35, 11:45, 20:132, 66:6, dan 84:9. Kata keempatnya menyatakan arah tujuan, sehingga kepulangan itu dilukiskan sebagai perjalanan yang punya ujung. Kata terakhirnya berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:23 pada kata yang berbeda. Jadi ejekan itu tidak berhenti di tempatnya melainkan terbawa sampai ke rumah, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka katakan di sana.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 19 ayat, antara lain 36:57, 43:73, 55:11, 56:32, dan 80:31. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai buah-buahan surga, sedangkan di sini ia menamai kegembiraan atas ejekan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian akar buah-buahan untuk kegembiraan ini. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan 83:31. Di 83:14 akar itu menamai hati yang berkarat. Jadi orang yang hatinya tertutup karat adalah orang yang pulang dengan gembira di sini, dan Allah tidak menyatakan hubungan itu. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat hati yang berkarat dan kepulangan mereka. Akar yang menamai buah-buahan surga dipakai untuk kesenangan yang salah tempatnya.
  • Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 120 ayat, antara lain 4:35, 11:45, 20:132, 66:6, dan 84:9. Di 84:9 orang yang selamat pulang kepada keluarganya dengan gembira, sedangkan di sini kegembiraannya datang dari ejekan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian gambaran yang sama di dua surah. Akar yang menamai buah-buahan surga dipakai untuk kesenangan yang salah tempatnya.
  • Kata keduanya diulang dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai keterangan waktu dan sekali sebagai kalimat pokoknya. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam satu ayat pendek, dan pengulangan itu yang menyusun kalimat Allah di sini. Pengulangan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu kata berdiri dua kali dengan dua kedudukan di satu ayat. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya.
  • Bentuk kata keduanya berpola ketujuh, sehingga artinya berbalik dengan sendirinya. Jadi kepulangannya disandarkan kepada mereka sendiri, dan Allah tidak menyebut satu pihak pun yang memulangkannya di dalam ayat ini. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghadirkan pihak lain yang tidak disebutkan di dalam ayatnya. Akar yang menamai buah-buahan surga dipakai untuk kesenangan yang salah tempatnya.
  • Ayat ini bagian ketiga dari lima ayat tentang ejekan, dan ia menyebut apa yang terjadi sesudah mereka meninggalkan tempatnya. Apa yang ditambahkan sebuah ejekan ketika Allah mencatat bahwa kegembiraannya masih terbawa sampai ke rumah? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ejekannya disusun bertingkat di tiga ayat yang berturut-turut. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya.

Ayat 83:32

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

Dan apabila melihat mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat,”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَwa-idzaa ra'awhum qaaluu inna haa'ulaa'i la-dhaalluunadan apabila melihat mereka, mereka berkata, sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. رَأَوْهُمْra'awhummelihat mereka
  3. قَالُواqaaluumereka berkata
  4. إِنَّinnasesungguhnya
  5. هَٰؤُلَاءِhaa'ulaa'imereka ini
  6. لَضَالُّونَla-dhaalluunabenar-benar tersesat

Inti bacaan

Tuduhan yang berbalik menjadi ironi: 'dan apabila melihat mereka, mereka berkata: sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat', pelabelan yang pada akhirnya justru mengungkap kesalahan penuduh sendiri, ironi tajam yang akan terbalik total.

Penjelasan pilihan kata

"Haa'ulaa'i" (dekat, jamak) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan "mereka ini": draf sudah tepat. Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi verba "qaaluu" (akar q-w-l) via morfologi: Tidak berlanjut ke 83:33 yang murni komentar narator orang ketiga.

Kata (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:26 dan 83:32. Di 68:26 kata yang sama diucapkan pemilik kebun yang mengira dirinya tersesat jalan.

Jadi dua tempat memakai kata yang sama, dan yang di 68:26 diucapkan orang tentang dirinya sendiri sedangkan yang di sini diucapkan orang tentang orang lain. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) di sini didahului huruf penegas di dalam ucapan itu.

Kata kerja (قَالُوا, qaaluu) berasal dari akar yang berarti mengatakan. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan ayat ini. Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda.

Kata (هَٰؤُلَاءِ, haa-ulaa-i) menunjuk yang dekat, sama seperti kata penunjuk di 83:17. Jadi dua kutipan di dalam surah ini memakai kata penunjuk yang menyatakan kedekatan, dan yang di 83:4 justru menyatakan jarak.

Kata (إِذَا, idzaa) diulang dari 83:30 dan 83:31, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama. Jadi tiga tahap ejekan disusun dengan rangka yang sama persis.

Huruf lam di dalam (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam ucapan itu. Jadi tuduhan mereka diucapkan dengan penegasan ganda, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di bagian ini.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Orang yang mendustakan hari pembalasan menuduh orang beriman tersesat, dan tuduhan itu diucapkan dengan penegasan yang paling kuat. Jadi keyakinan mereka atas kekeliruan orang lain justru yang paling tegas dinyatakan.

Ayat ini bagian keempat dari lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:33 memberi komentar. Jadi kutipan itu ditutup di dalam ayatnya sendiri, dan yang menyusul bukan lanjutan ucapan melainkan penilaian.

Kata (رَأَوْهُمْ, ra-auhum) berasal dari akar yang berarti melihat dan menimbang. Akar itu dipakai di 297 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk pandangan yang berakhir dengan tuduhan, bukan dengan pengakuan.

Kata (إِنَّ, inna) di dalam kutipan itu huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam kata terakhirnya. Jadi ucapan mereka memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam kutipan mana pun di surah ini. Susunan itu merinci tahap ketiga ejekan mereka, yaitu tuduhan yang diucapkan dengan penegasan ganda. Al-Qur'an tidak menyebut di hadapan siapa tuduhan itu diucapkan maupun apa jawabannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma satu kutipan yang ditutup di ayatnya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini mencatat ejekan puncak mereka: menuduh orang beriman sebagai orang sesat, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:26 dan 83:32.

Di 68:26 kata yang sama diucapkan pemilik kebun yang mengira dirinya tersesat jalan. Jadi dua tempat memakai kata yang sama, dan yang di sana diucapkan orang tentang dirinya sendiri sedangkan yang di sini tentang orang lain.

Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan ayat ini. Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda.

Kata kelimanya menunjuk yang dekat, sama seperti kata penunjuk di 83:17. Jadi dua kutipan di dalam surah ini memakai kata penunjuk yang menyatakan kedekatan, dan yang di 83:4 justru menyatakan jarak.

Kata pertamanya diulang dari 83:30 dan 83:31, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama. Akar kata keduanya dipakai di 297 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Kata keempatnya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam kata terakhirnya, sehingga ucapan mereka memuat dua penegas sekaligus. Jadi kutipan itu ditutup di dalam ayatnya sendiri, dan yang menyusul di 83:33 bukan lanjutan ucapan melainkan penilaian atasnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:26 dan 83:32. Di 68:26 kata yang sama diucapkan pemilik kebun yang mengira dirinya tersesat jalan, sedangkan di sini Allah mencatatnya sebagai tuduhan orang berdosa terhadap orang beriman. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang sama untuk diri sendiri dan orang lain. Tuduhan bahwa orang beriman tersesat diucapkan dengan penegasan yang paling kuat.
  • Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan 83:32. Jadi tiga ucapan dikutip Allah di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda tanpa satu kata penanda yang sama. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk tiga kutipan berbeda. Yang paling yakin di dalam surah ini justru orang yang paling keliru sangkaannya.
  • Huruf di dalam kata terakhirnya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam ucapan itu. Jadi tuduhan mereka diucapkan dengan penegasan ganda, dan keyakinan mereka atas kekeliruan orang lain justru yang paling tegas dinyatakan di dalam surah Allah ini. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua penegas berdiri di dalam satu ucapan yang cuma tiga kata. Yang paling yakin di dalam surah ini justru orang yang paling keliru sangkaannya.
  • Kata kelimanya menunjuk yang dekat, sama seperti kata penunjuk di 83:17. Jadi dua kutipan di dalam surah ini memakai kata penunjuk yang menyatakan kedekatan, sedangkan yang di 83:4 justru menyatakan jarak, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan jarak itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga kata penunjuknya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan masing-masing. Tuduhan bahwa orang beriman tersesat diucapkan dengan penegasan yang paling kuat.
  • Kata pertamanya diulang dari 83:30 dan 83:31, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama. Jadi tiga tahap ejekan disusun Allah dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma perbuatannya di masing-masing ayat. Kesejajaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian penanda yang sama. Tuduhan bahwa orang beriman tersesat diucapkan dengan penegasan yang paling kuat.
  • Ayat ini bagian keempat dari lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:33 memberi komentar. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika Allah menutup kutipannya lalu langsung menilainya di ayat berikutnya, bukan membiarkannya berdiri sendiri? Penutupan kutipan itu bisa diperiksa siapa pun lewat morfologi kata kerjanya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penilaian yang menyusul di ayat berikutnya. Yang paling yakin di dalam surah ini justru orang yang paling keliru sangkaannya.

Ayat 83:33

وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ

Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang itu.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَwa-maa ursiluu 'alayhim haafizhiinapadahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang itu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أُرْسِلُواursiluumereka diutus
  3. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  4. حَافِظِينَhaafizhiinapara penjaga

Inti bacaan

Pengungkapan kurangnya otoritas moral: 'padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang itu', penegasan bahwa para pengejek tidak memiliki mandat untuk menghakimi orang lain, tindakan yang melampaui batas kewenangan mereka.

Penjelasan pilihan kata

Komentar narator orang ketiga, menandai kutip 83:32 telah tertutup: tidak ada penanda kutip pada ayat ini.

Kata (حَافِظِينَ, haafizhiin) muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 12:81, 21:82, 33:35, 82:10, dan 83:33. Kesejajaran dengan 82:10 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf.

Jadi dua surah yang bersebelahan memakai kata yang sama, dan yang di 82:10 menyatakan ada penjaga atas manusia sedangkan yang di sini menyatakan mereka bukan penjaga. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (حَافِظِينَ, haafizhiin) di sini berbaris fathah sebagai keterangan keadaan.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan keberadaan penjaga, di sini dipakai untuk menolak kedudukan itu bagi orang berdosa. Jadi satu kata dipakai untuk menetapkan dan untuk menyangkal. Kata (أُرْسِلُوا, ursiluu) mendahuluinya, dan bentuknya berbentuk penderita.

Kata kerja (أُرْسِلُوا, ursiluu) berasal dari akar yang berarti mengutus. Akar itu dipakai di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sini ia dipakai untuk orang berdosa, bukan untuk utusan Allah.

Jadi akar yang di ratusan ayat menamai pengiriman rasul, di sini dipakai untuk menyangkal bahwa orang berdosa dikirim sebagai pengawas. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian itu dengan satu kalimat pun. Kata (وَمَا, wa maa) membuka ayatnya, dan ia huruf pengingkaran, bukan kata sambung.

Bentuk (أُرْسِلُوا, ursiluu) berbentuk penderita, sehingga yang mengirim tidak disebutkan. Jadi penyangkalannya berpusat pada kedudukan mereka, bukan pada pihak yang bisa mengirim, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat huruf pengingkaran, sedangkan kata yang berbunyi sama di 83:14 kata sambung. Jadi satu bunyi berdiri dengan dua kedudukan yang berbeda di dalam surah ini.

Ayat ini menutup lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:34 membalikkan keadaan. Jadi komentar itu berdiri sebagai jeda di antara ejekan di dunia dan pembalikannya di akhirat.

Kata (عَلَيْهِمْ, 'alaihim) memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:32, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang seharusnya dijaga, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya di dalam ayat ini.

Kata (حَافِظِينَ, haafizhiin) berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:31. Jadi dua ayat di dalam bagian ini melukiskan kedudukan lewat kata sifat yang menempel pada kata kerjanya tanpa satu kata penghubung. Susunan itu memberi penilaian atas tuduhan mereka tanpa membantah isinya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang berhak menilai maupun apa hukumannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang menutup lima ayat tentang ejekan di dunia.

Tafsiran

Ayat ini mengomentari bahwa orang-orang berdosa itu tidak memiliki wewenang untuk menghakimi orang beriman, dan kata terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 12:81, 21:82, 33:35, 82:10, dan 83:33.

Kesejajaran dengan 82:10 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai kata yang sama.

Yang di 82:10 menyatakan ada penjaga atas manusia, dan yang di sini menyatakan mereka bukan penjaga. Jadi satu kata dipakai untuk menetapkan dan untuk menyangkal.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sini ia dipakai untuk orang berdosa, bukan untuk utusan Allah.

Ayat ini menutup lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:34 membalikkan keadaan. Kata ketiganya memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:32, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Kata terakhirnya berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:31 pada kata yang berbeda. Jadi komentar itu berdiri sebagai jeda di antara ejekan di dunia dan pembalikannya di akhirat tanpa satu kata penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 12:81, 21:82, 33:35, 82:10, dan 83:33. Di 82:10 Allah menyatakan ada penjaga atas manusia, dan di sini Dia menyatakan mereka bukan penjaga. Jadi satu kata dipakai untuk menetapkan dan untuk menyangkal. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang sama di dua surah bersebelahan. Yang dibantah bukan isi tuduhan mereka melainkan hak mereka untuk menuduh.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sini ia dipakai untuk orang berdosa, bukan untuk utusan-Nya, dan penyangkalannya justru memakai kata yang menamai pengutusan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar pengutusan untuk penyangkalan ini. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan adanya penjaga, di sini menyangkal kedudukan itu.
  • Bentuk kata keduanya berbentuk penderita, sehingga yang mengirim tidak disebutkan. Jadi penyangkalan Allah berpusat pada kedudukan mereka, bukan pada pihak yang bisa mengirim, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Ketiadaan pengirim itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menggeser pusat penyangkalan dari kedudukan mereka kepada pihak lain. Yang dibantah bukan isi tuduhan mereka melainkan hak mereka untuk menuduh.
  • Kata pertamanya huruf pengingkaran, sedangkan kata yang berbunyi sama di 83:14 kata sambung. Jadi satu bunyi berdiri dengan dua kedudukan yang berbeda di dalam surah ini, dan Allah tidak menandai perbedaan itu dengan satu kata pun. Perbedaan kedudukan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian bunyi yang sama. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan adanya penjaga, di sini menyangkal kedudukan itu.
  • Ayat ini menutup lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:34 membalikkan keadaan. Jadi komentar Allah berdiri sebagai jeda di antara ejekan di dunia dan pembalikannya di akhirat, dan Al-Qur'an tidak menandai jeda itu dengan satu kata penghubung. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa bagian tentang ejekan sudah berhenti di sini. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan adanya penjaga, di sini menyangkal kedudukan itu.
  • Yang disangkal Allah bukan isi tuduhan mereka melainkan kedudukan mereka untuk menuduh. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika yang dibantah bukan benar atau salahnya, melainkan hak orang yang mengucapkannya untuk menilai sama sekali? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata itu, dan menambahkan hukuman bagi mereka berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Yang dibantah bukan isi tuduhan mereka melainkan hak mereka untuk menuduh.

Ayat 83:34

فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kufar,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَfa-l-yawma lladziina aamanuu mina l-kuffaari yadhakuunamaka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kufar

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَالْيَوْمَfa-l-yawmamaka pada hari ini
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. آمَنُواaamanuuberiman
  4. مِنَminadari
  5. الْكُفَّارِl-kuffaariorang-orang kufar
  6. يَضْحَكُونَyadhakuunamereka menertawakan

Inti bacaan

Pembalikan sempurna keadaan: 'maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kufar', keadilan retributif yang membalikkan situasi secara total, mereka yang dahulu diejek kini menyaksikan pembalikan nasib.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَضْحَكُونَ, yadhhakuun) diulang persis dari 83:29, sehingga kata itu muncul dua kali di dalam surah ini. Di 83:29 yang tertawa orang berdosa, dan di sini yang tertawa orang beriman.

Kata kerja (آمَنُوا, aamanuu) juga diulang persis dari 83:29. Jadi dua kata sekaligus diulang di dua ayat itu, dan yang berbeda cuma kedudukan mereka di dalam kalimatnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 83:29 orang beriman menjadi sasaran tertawa, dan di sini mereka yang tertawa. Jadi pembalikannya dinyatakan bukan dengan kata baru melainkan dengan menukar kedudukan dua kata yang sama.

Kata (الْكُفَّارِ, al-kuffaar) berasal dari akar yang berarti menutupi dan menolak. Akar itu dipakai di 464 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:36, sehingga golongan itu disebut dua kali di dalam tiga ayat penutupnya.

Kata (فَالْيَوْمَ, fa-l-yauma) berasal dari akar yang berarti hari. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:5, 83:6, 83:11, dan ayat ini. Jadi akar itu mengikat empat bagian surahnya.

Huruf fa di awal ayat menyambungkannya kepada komentar di 83:33, sehingga pembalikan itu datang sebagai akibat. Jadi dua ayat itu satu rangkaian, dan Al-Qur'an tidak menandai hubungan keduanya dengan satu kata lain.

Kata (فَالْيَوْمَ, fa-l-yauma) bertakrif, sehingga yang disebut hari yang sudah tertentu. Jadi ia menunjuk hari yang disebut di 83:5, 83:6, dan 83:11 tanpa mengulang sebutannya.

Ayat ini membuka tiga ayat penutup surah, dan ketiganya berjalan sampai 83:36. Jadi pembalikan keadaan diberi tiga ayat, sedangkan ejekan yang dibalikkannya diberi lima ayat.

Kata (مِنَ, mina) menyatakan sasaran tertawanya, sama seperti huruf yang dipakai di 83:29. Jadi dua ayat yang saling membalikkan memakai huruf yang sama untuk menyatakan siapa yang ditertawakan, dan yang berbeda cuma pihak yang berdiri di kedua sisinya.

Kata (الْكُفَّارِ, al-kuffaar) bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut golongan yang sudah dikenali. Jadi Al-Qur'an menyebut mereka dengan sebutan yang berbeda dari sebutan di 83:29, dan pergantian sebutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Susunan itu membalikkan keadaan dengan menukar kedudukan dua kata yang sudah dipakai di 83:29. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang membuat mereka tertawa maupun bagaimana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma satu kalimat yang bahannya sudah dikenal dari ayat sebelumnya. Pembacanya harus mengingat hari itu dari bagian awal surahnya, sebab namanya tidak disebut lagi di dalam ayat ini maupun di dua ayat penutupnya.

Tafsiran

Ayat ini membalikkan keadaan: pada Hari Kiamat, orang beriman yang menertawakan orang kafir, dan kata terakhirnya diulang persis dari 83:29.

Jadi kata itu muncul dua kali di dalam surah ini, dan di 83:29 yang tertawa orang berdosa sedangkan di sini yang tertawa orang beriman. Kata ketiganya juga diulang persis dari 83:29.

Jadi dua kata sekaligus diulang di dua ayat itu, dan yang berbeda cuma kedudukan mereka di dalam kalimatnya. Pembalikannya dinyatakan bukan dengan kata baru melainkan dengan menukar kedudukan dua kata yang sama.

Kata kelimanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:36. Kata pertamanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini.

Ayat ini membuka tiga ayat penutup surah, dan ketiganya berjalan sampai 83:36. Kata keempatnya menyatakan sasaran tertawanya, sama seperti huruf yang dipakai di 83:29. Kata kelimanya bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut golongan yang sudah dikenali, dan sebutan itu berbeda dari sebutan yang dipakai di 83:29 untuk pihak yang sama. Jadi pembalikan keadaan diberi tiga ayat, sedangkan ejekan yang dibalikkannya diberi lima ayat di 83:29 sampai 83:33. Pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tentang apa yang membuat mereka tertawa.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dan kata ketiganya diulang persis dari 83:29. Di 83:29 orang beriman menjadi sasaran tertawa, dan di sini mereka yang tertawa. Jadi Allah menyatakan pembalikannya bukan dengan kata baru melainkan dengan menukar kedudukan dua kata yang sama. Kesejajaran itu berlaku sampai ke bahan katanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa pembalikannya dibangun dari kata yang sudah dipakai. Hari yang tidak disebut namanya lagi menuntut pembacanya mengingat bagian awal surahnya.
  • Kata kelimanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:34 dan 83:36. Jadi golongan itu disebut Allah dua kali di dalam tiga ayat penutup surahnya, dan di 83:36 mereka disebut sebagai yang menerima balasan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebutan golongan itu dua kali di tiga ayat. Pembalikan dinyatakan dengan menukar kedudukan dua kata yang sudah dipakai.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:5, 83:6, 83:11, dan 83:34. Jadi akar itu mengikat empat bagian surah Allah ini, dari kebangkitan sampai pembalikan keadaan di ayat penutupnya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penyebaran satu akar di empat bagian surahnya. Hari yang tidak disebut namanya lagi menuntut pembacanya mengingat bagian awal surahnya.
  • Huruf di awal ayat menyambungkannya kepada komentar di 83:33, sehingga pembalikan itu datang sebagai akibat. Jadi dua ayat itu satu rangkaian, dan Allah tidak menandai hubungan keduanya dengan satu kata lain di antaranya. Hubungan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menghilangkannya akan memutus pembalikan ini dari komentar yang mendahuluinya. Pembalikan dinyatakan dengan menukar kedudukan dua kata yang sudah dipakai. Pembalikan dinyatakan dengan menukar kedudukan dua kata yang sudah dipakai.
  • Kata pertamanya bertakrif, sehingga yang disebut hari yang sudah tertentu. Jadi ia menunjuk hari yang disebut Allah di 83:5, 83:6, dan 83:11 tanpa mengulang sebutannya, dan pembacanya harus mengingatnya dari bagian yang jauh sebelumnya. Ketiadaan pengulangan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkan nama harinya akan menutup rujukan yang dibangun susunan surahnya. Pembalikan dinyatakan dengan menukar kedudukan dua kata yang sudah dipakai.
  • Ayat ini membuka tiga ayat penutup surah, dan ketiganya berjalan sampai 83:36. Apa yang dinyatakan Allah dengan memberi pembalikan keadaan tiga ayat, sedangkan ejekan yang dibalikkannya diberi lima ayat di 83:29 sampai 83:33? Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemberian tiga ayat kepada pembalikannya. Hari yang tidak disebut namanya lagi menuntut pembacanya mengingat bagian awal surahnya.