Ayat 89:15

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُfa-ammaa l-insaanu idzaa maa btalaahu rabbuhu fa-akramahu wa-na'amahuadapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan
  2. فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِfa-yaquulu rabbii akramaniberkatalah dia, Tuhanku telah memuliakanku

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. فَأَمَّاfa-ammaaadapun
  2. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  3. إِذَاidzaaapabila
  4. مَاmaaapa pun
  5. ابْتَلَاهُbtalaahumengujinya
  6. رَبُّهُrabbuhuTuhannya
  7. فَأَكْرَمَهُfa-akramahumaka Dia memuliakannya
  8. وَنَعَّمَهُwa-na'amahudan Dia menyenangkannya
  9. فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
  10. رَبِّيrabbiiTuhanku
  11. أَكْرَمَنِakramanimemuliakanku

Inti bacaan

Kesalahan asumsi tentang kemakmuran: 'apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia: Tuhanku telah memuliakanku', kritik terhadap kecenderungan menafsirkan kelimpahan material sebagai bukti otomatis kemuliaan spiritual, kesalahpahaman yang perlu dikoreksi.

Penjelasan pilihan kata

Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu dari akar yang berarti mengatakan lewat morfologi. Kata (أَكْرَمَنِ, akramani) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya kehilangan huruf terakhirnya demi menjaga rima surahnya.

Kata kerja (ابْتَلَاهُ, ibtalaahu) muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 89:15 dan 89:16, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi satu kata membuka kedua sisi pasangan ini, dan Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan.

Akar (ابْتَلَاهُ, ibtalaahu) berarti menguji. Akar itu dipakai di 35 ayat, antara lain 2:49, 2:155, 3:186, 18:7, dan 86:9. Di 2:155 akar itu dipakai untuk ujian berupa ketakutan dan kelaparan, dan di 18:7 untuk perhiasan bumi yang dijadikan ujian.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata yang sama dipakai untuk pemuliaan di ayat ini dan untuk penyempitan di 89:16. Jadi Al-Qur'an menamai kedua keadaan itu ujian, dan yang berbeda cuma bentuknya. Manusia menyangka yang satu tanda kemuliaan dan yang lain tanda kehinaan. Kata (ابْتَلَاهُ, ibtalaahu) di sini membuka sisi yang menyenangkan, bukan yang menyempitkan.

Kata kerja (وَنَعَّمَهُ, wa na''amahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti hidup senang dan tercukupi. Ia dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 88:8. Bentuknya berpola kedua, sehingga artinya membuat seseorang menikmati.

Susunan ayat ini menyebut tiga perbuatan berturut-turut, yaitu menguji, memuliakan, dan memberi kenikmatan, lalu satu ucapan. Jadi tiga perbuatan dari satu pihak disusul satu kesimpulan dari pihak lain, dan kesimpulan itu cuma menyebut yang kedua dan melewatkan yang pertama.

Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaanu) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai lagi di 89:23, sehingga kata itu muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menyebut jenis.

Bentuk (أَكْرَمَنِ, akramani) memakai kata ganti orang pertama, sehingga yang berbicara manusia itu sendiri. Jadi Al-Qur'an memperdengarkan kesimpulannya dengan kata-katanya sendiri, bukan menyebutkannya sebagai laporan. Cara itu dipakai lagi di 89:16 dan 89:24 di dalam surah ini.

Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 89:16. Jadi dua ayat itu satu susunan berpasangan yang tidak bisa dipecah, dan membaca salah satunya sendirian menghilangkan separuh yang dinyatakannya.

Bentuk (فَأَكْرَمَهُ, fa-akramahu) berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja sesudahnya yang berpola kedua. Jadi dua perbuatan yang disebut sesudah ujian sama-sama memakai pola yang menyatakan membuat sesuatu terjadi, dan keduanya dikerjakan atas manusia itu, bukan olehnya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kekeliruan manusia yang mengira kenikmatan dunia sebagai tanda kemuliaan di sisi Allah, dan kutipnya dibuka serta ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu lewat morfologi.

Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 89:15 dan 89:16, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi satu kata membuka kedua sisi pasangan ini, dan Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan.

Akarnya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:49, 2:155, 3:186, 18:7, dan 86:9. Di 2:155 akar itu dipakai untuk ujian berupa ketakutan dan kelaparan, dan di 18:7 untuk perhiasan bumi yang dijadikan ujian.

Susunan ayat ini menyebut tiga perbuatan berturut-turut, yaitu menguji, memuliakan, dan memberi kenikmatan, lalu satu ucapan. Jadi tiga perbuatan dari satu pihak disusul satu kesimpulan dari pihak lain, dan kesimpulan itu cuma menyebut yang kedua dan melewatkan yang pertama.

Kata pertamanya huruf yang membuka salah satu dari dua kemungkinan, dan pasangannya dipakai di awal 89:16. Jadi dua ayat itu satu susunan berpasangan yang tidak bisa dipecah, dan membaca salah satunya sendirian menghilangkan separuh yang dinyatakannya. Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 89:23 di dalam surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 1 surah, yaitu di 89:15 dan 89:16, sehingga kedua kemunculannya berada di dalam surah ini. Jadi Allah memakai satu kata untuk membuka kedua sisi pasangan ini, dan kata yang sama menamai pemuliaan dan penyempitan. Yang berbeda cuma bentuk ujiannya, bukan kedudukannya sebagai ujian. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan menyatakan bahwa keduanya sejenis, dan yang berbeda cuma bentuknya. Ucapan yang dikutip langsung terdengar sendiri, dan itu bekerja berbeda dari laporan tentang ucapan.
  • Susunan ayat ini menyebut tiga perbuatan Allah berturut-turut, yaitu menguji, memuliakan, dan memberi kenikmatan, lalu satu ucapan manusia. Kesimpulan itu cuma menyebut yang kedua dan melewatkan yang pertama. Apa yang terjadi pada penilaian seseorang ketika ia menghitung apa yang diterimanya dan melewatkan bahwa ia sedang diuji? Menghitung apa yang diterima dan melewatkan bahwa itu ujian mengubah seluruh kesimpulan tanpa mengubah kenyataannya.
  • Akar kata kerja keduanya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:49, 2:155, 3:186, 18:7, dan 86:9. Di 2:155 akar itu dipakai Allah untuk ujian berupa ketakutan dan kelaparan, dan di 18:7 untuk perhiasan bumi yang dijadikan ujian. Jadi akar yang sama menamai ujian yang menyusahkan dan ujian yang menyenangkan. Satu akar untuk ujian yang menyusahkan dan yang menyenangkan menaruh keduanya di dalam satu nama. Ucapan yang dikutip langsung terdengar sendiri, dan itu bekerja berbeda dari laporan tentang ucapan.
  • Bentuk kata terakhirnya memakai kata ganti orang pertama, sehingga yang berbicara manusia itu sendiri. Jadi Allah memperdengarkan kesimpulannya dengan kata-katanya sendiri, bukan menyebutkannya sebagai laporan. Cara itu dipakai lagi di 89:16 dan 89:24 di dalam surah ini, sehingga tiga ucapan manusia dikutip langsung. Ucapan yang dikutip langsung bekerja berbeda dari ucapan yang dilaporkan, sebab yang pertama terdengar sendiri.
  • Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai Allah lagi di 89:23, sehingga kata itu muncul dua kali di dalam surah ini dan keduanya menyebut jenis. Jadi tidak ada satu pun golongan yang dikecualikan dari pernyataannya. Menyebut manusia sebagai jenis menutup jalan keluar bagi siapa pun yang menganggap ayatnya tentang orang lain. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan menyatakan keduanya sejenis, dan yang berbeda cuma bentuknya.
  • Bentuk kata terakhirnya kehilangan huruf terakhirnya demi menjaga rima surahnya, sama seperti bentuk di 89:4, 89:9, dan 89:16. Jadi empat kata di dalam surah ini dipendekkan Allah dengan cara yang sama, dan penghilangan itu tidak mengubah maknanya sedikit pun. Bentuk yang dipendekkan demi rima berulang di beberapa ayat, dan pengulangan itu menandai satu kebiasaan susunan. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan menyatakan keduanya sejenis, dan yang berbeda cuma bentuknya.

Ayat 89:16

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُwa-ammaa idzaa maa btalaahu fa-qadara 'alayhi rizqahusementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya
  2. فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِfa-yaquulu rabbii ahaananiberkatalah dia, Tuhanku telah menghinaku

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. مَاmaaapa pun
  4. ابْتَلَاهُbtalaahumengujinya
  5. فَقَدَرَfa-qadaramaka Dia membatasi
  6. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  7. رِزْقَهُrizqahurezekinya
  8. فَيَقُولُfa-yaquulumaka ia berkata
  9. رَبِّيrabbiiTuhanku
  10. أَهَانَنِahaananimenghinakanku

Inti bacaan

Kesalahan asumsi sebaliknya tentang kesulitan: 'apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia: Tuhanku telah menghinaku', kritik terhadap interpretasi sebaliknya, menafsirkan keterbatasan material sebagai bukti kehinaan, keduanya adalah kesalahan penilaian yang sama-sama keliru.

Penjelasan pilihan kata

Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu dari akar yang berarti mengatakan lewat morfologi. Kata (أَهَانَنِ, ahaanani) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya kehilangan huruf terakhirnya demi menjaga rima, sama seperti bentuk di 89:15.

Akar (أَهَانَنِ, ahaanani) berarti ringan dan hina. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 6:93, 22:18, 25:63, 31:19, dan 46:20. Di 25:63 akar itu dipakai untuk hamba yang berjalan dengan rendah hati, dan di 22:18 untuk orang yang dihinakan.

Jadi akar yang sama memikul kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang ringan dan tidak berat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (أَهَانَنِ, ahaanani) memakai kata ganti orang pertama, sehingga yang berbicara manusia.

Kata kerja (فَقَدَرَ, fa-qadara) berasal dari akar yang berarti mengukur dan menentukan. Akar itu dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 87:3. Kesejajaran dengan 87:3 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut penentuan ukuran yang disusul petunjuk.

Jadi akar yang di 87:3 menyebut penentuan ukuran sebagai sifat yang terpuji, di sini menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan. Yang berbeda bukan perbuatannya melainkan bagaimana manusia membacanya, dan Al-Qur'an tidak menunjuk hal itu. Bentuk (فَقَدَرَ, fa-qadara) berpelaku Tuhannya, bukan manusia yang diuji.

Susunan ayat ini lebih pendek daripada 89:15, sebab tiga perbuatan di sana diringkas menjadi dua di sini. Jadi sisi yang menyenangkan diberi tempat lebih luas daripada sisi yang menyempitkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.

Kata (رِزْقَهُ, rizqahu) berasal dari akar yang berarti memberi rezeki. Akar itu dipakai di 123 ayat, antara lain 2:3, 11:6, 51:22, 65:3, dan 67:21. Di 11:6 akar itu dipakai untuk jaminan rezeki bagi tiap yang melata di bumi tanpa kecuali.

Bentuk (فَيَقُولُ, fa-yaquulu) berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja sebelumnya berbentuk lampau. Jadi ujiannya sudah terjadi dan ucapannya masih berlangsung. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan susunan yang sama dipakai di 89:15.

Kata (وَأَمَّا, wa ammaa) huruf yang membuka kemungkinan kedua, dan pasangannya dipakai di awal 89:15. Jadi dua ayat itu satu susunan berpasangan, dan huruf pembukanya sendiri yang menandai bahwa keduanya harus dibaca bersama-sama.

Susunan ayat ini tidak menyebut ulang kata untuk manusia, berbeda dari 89:15 yang menyebutnya. Jadi pokok kalimatnya dibawa dari ayat sebelumnya, dan penghematan itu menandai bahwa kedua ayat satu kalimat panjang yang dipisah menjadi dua bagian. Kata (أَهَانَنِ, ahaanani) menutup ayat ini, dan pokok kalimatnya dibawa dari 89:15.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kekeliruan sebaliknya: manusia mengira kesempitan rezeki sebagai tanda kehinaan di sisi Allah, dan kutipnya dibuka serta ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi kata kerja yaquulu lewat morfologi.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 6:93, 22:18, 25:63, 31:19, dan 46:20. Di 25:63 akar itu dipakai untuk hamba yang berjalan dengan rendah hati, dan di 22:18 untuk orang yang dihinakan.

Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 87:3. Kesejajaran dengan 87:3 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut penentuan ukuran yang disusul petunjuk.

Susunan ayat ini lebih pendek daripada 89:15, sebab tiga perbuatan di sana diringkas menjadi dua di sini. Jadi sisi yang menyenangkan diberi tempat lebih luas daripada sisi yang menyempitkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.

Kata pertamanya huruf yang membuka kemungkinan kedua, dan pasangannya dipakai di awal 89:15. Susunan ayat ini juga tidak menyebut ulang kata untuk manusia, sehingga pokok kalimatnya dibawa dari ayat sebelumnya. Penghematan itu menandai bahwa kedua ayat satu kalimat panjang yang dipisah menjadi dua bagian. Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 123 ayat, dan di 11:6 akar itu dipakai untuk jaminan rezeki bagi tiap yang melata di bumi tanpa kecuali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 6:93, 22:18, 25:63, 31:19, dan 46:20. Di 25:63 akar itu dipakai Allah untuk hamba yang berjalan dengan rendah hati, dan di 22:18 untuk orang yang dihinakan. Jadi akar yang sama memikul kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa. Satu akar untuk kerendahan hati dan kehinaan menaruh keduanya di dalam satu gambaran yang sama. Kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa berbagi satu gambaran di dalam satu akar.
  • Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 121 ayat, dan kesejajaran dengan 87:3 patut dicatat sebab akar yang sama di sana menyebut penentuan ukuran yang disusul petunjuk. Jadi akar yang di 87:3 menyebut sifat Allah yang terpuji, di sini menyebut penyempitan rezeki yang disangka manusia sebagai penghinaan. Perbuatan yang sama dinamai berbeda menurut siapa yang membacanya, dan itu berlaku pada kedua sisi pasangan ini.
  • Yang berbeda antara 87:3 dan ayat ini bukan perbuatan Allah melainkan bagaimana manusia membacanya. Perbuatan yang sama dinamai penentuan ukuran di satu tempat dan disangka penghinaan di tempat lain. Apa yang menentukan apakah seseorang membaca sebuah keadaan sebagai ukuran yang ditetapkan atau sebagai penghinaan yang ditimpakan? Cara membaca sebuah keadaan menentukan seluruh kesimpulan, dan kenyataannya sendiri tidak berubah sedikit pun.
  • Susunan ayat ini lebih pendek daripada 89:15, sebab tiga perbuatan di sana diringkas menjadi dua di sini. Jadi sisi yang menyenangkan diberi Allah tempat lebih luas daripada sisi yang menyempitkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun di dalam kedua ayat. Ketidakseimbangan panjang antara dua sisi pasangan menyatakan sesuatu yang tidak dinyatakan satu kalimat pun. Kerendahan hati yang terpuji dan kehinaan yang menimpa berbagi satu gambaran di dalam satu akar.
  • Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 123 ayat, antara lain 2:3, 11:6, 51:22, 65:3, dan 67:21. Di 11:6 akar itu dipakai untuk jaminan rezeki dari Allah bagi tiap yang melata di bumi tanpa kecuali. Jadi akar yang menamai jaminan itu juga menamai apa yang disempitkan di ayat ini. Akar yang menamai jaminan juga menamai apa yang disempitkan, dan keduanya berasal dari satu tangan. Perbuatan yang sama dinamai berbeda menurut siapa yang membacanya, dan kenyataannya tidak berubah.
  • Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja sebelumnya berbentuk lampau. Jadi ujian dari Allah sudah terjadi dan ucapan manusia masih berlangsung. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan susunan yang sama dipakai di 89:15 dengan urutan yang sama persis. Bentuk waktu yang berbeda di dalam satu ayat menandai bahwa yang satu selesai dan yang lain masih berjalan. Perbuatan yang sama dinamai berbeda menurut siapa yang membacanya, dan kenyataannya tidak berubah.

Ayat 89:17

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kalian tidak memuliakan anak yatim,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَkallaa bal laa tukrimuuna l-yatiimasekali-kali tidak, sebaliknya kalian tidak memuliakan anak yatim

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. بَلْbalbahkan
  3. لَاlaatidak
  4. تُكْرِمُونَtukrimuunakalian memuliakan
  5. الْيَتِيمَl-yatiimaanak yatim

Inti bacaan

Pembongkaran kegagalan moral sesungguhnya: 'sekali-kali tidak! Sebaliknya, kalian tidak memuliakan anak yatim', pengalihan fokus dari asumsi keliru tentang kekayaan menuju kegagalan nyata dalam tanggung jawab sosial, kritik terhadap kelalaian melindungi yang rentan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15, dan di surah ini ia muncul dua kali, yaitu di ayat ini dan di 89:21.

Kata (بَلْ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia berdiri tepat sesudah kata pertama. Jadi ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Kata (الْيَتِيمَ, al-yatiima) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Akarnya berarti sendirian tanpa ayah. Ia dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 76:8.

Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang sama.

Kesejajaran dengan 93:9 juga patut dicatat, sebab di sana yang diperintahkan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Jadi tiga surah di juz yang sama menyebut anak yatim dengan bentuk kata yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Bentuk kata kerja (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berorang kedua jamak, sedangkan dua ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi surah ini berpindah tiba-tiba dari menyebut manusia kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.

Akar (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) sama dengan akar kata di 89:15, yaitu akar yang berarti mulia dan murah hati. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Tuhannya dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Kesejajaran itu berjarak dua ayat.

Bentuk (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berbentuk sekarang dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang dibantah bukan satu kejadian melainkan cara hidup yang berulang.

Kata (كَلَّا, kallaa) berdiri sendiri sebagai satu kata utuh dan tidak menempel pada kata sesudahnya. Jadi bentuk tulisannya sendiri sudah menandai bahwa ia berhenti sejenak sebelum kalimat berikutnya. Kata yang sama dipakai lagi di 89:21, dan di sana pun ia berdiri sendiri.

Bentuk (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja di 89:15. Jadi satu pola dipakai untuk pemuliaan yang diterima manusia dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan, dan kesejajaran pola itu menambah satu lapis lagi pada kesejajaran akarnya.

Kata (بَلْ, bal) berdiri sebagai kata kedua, sehingga pembalikannya datang segera sesudah penolakan di kata pertama. Jadi Al-Qur'an menolak lalu membalik di dalam dua kata berturut-turut, dan tidak ada satu kata pun yang berdiri di antara keduanya.

Tafsiran

Ayat ini membantah anggapan keliru tersebut dan mengungkap akar masalah sesungguhnya: kelalaian sosial, dan kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15.

Di surah ini kata itu muncul dua kali, yaitu di ayat ini dan di 89:21. Kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, sehingga ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18.

Akar kata kerjanya sama dengan akar kata di 89:15. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Tuhannya dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim, dan kesejajaran itu berjarak dua ayat.

Kata pertamanya berdiri sendiri sebagai satu kata utuh dan tidak menempel pada kata sesudahnya, sehingga bentuk tulisannya sendiri sudah menandai bahwa ia berhenti sejenak. Bentuk kata kerjanya juga berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja di 89:15, sehingga satu pola dipakai untuk dua pemuliaan yang berbeda arahnya. Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, dan akarnya dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 76:8.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya sama dengan akar kata di 89:15. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Allah dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Kesejajaran itu berjarak dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menunjuknya dengan satu kalimat pun. Satu akar untuk pemuliaan yang diterima dan yang tidak diberikan menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat. Pemuliaan yang diterima dan pemuliaan yang tidak diberikan berbagi satu akar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18. Jadi Allah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang sama di dua surah. Pasangan yang sama dengan urutan yang sama di dua surah menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut.
  • Kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15, dan kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini. Dua penanda pembalikan di dalam satu ayat memusatkan belokannya, dan kepadatan itu tidak terulang di surahnya. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
  • Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sedangkan dua ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi Allah berpindah tiba-tiba dari menyebut manusia kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Pembacanya tiba-tiba menjadi pihak yang ditegur. Berpindah dari menyebut kepada menyapa menarik pembacanya masuk tanpa satu kata yang memberitahunya. Pemuliaan yang diterima dan pemuliaan yang tidak diberikan berbagi satu akar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang dibantah Allah bukan satu kejadian melainkan cara hidup yang berulang, dan cara hidup tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
  • Dua ayat sebelumnya berbicara tentang kekayaan dan kesempitan, dan ayat ini menjawabnya dengan menyebut anak yatim. Jadi Allah menjawab persoalan tentang pemberian dengan menunjuk apa yang tidak diberikan. Apa hubungan antara salah membaca pemberian yang diterima dan lalai memberi kepada orang yang tidak punya? Menjawab persoalan pemberian dengan menunjuk apa yang tidak diberikan memindahkan seluruh ukurannya. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.