Ayat 89:17

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kalian tidak memuliakan anak yatim,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَkallaa bal laa tukrimuuna l-yatiimasekali-kali tidak, sebaliknya kalian tidak memuliakan anak yatim

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. بَلْbalbahkan
  3. لَاlaatidak
  4. تُكْرِمُونَtukrimuunakalian memuliakan
  5. الْيَتِيمَl-yatiimaanak yatim

Inti bacaan

Pembongkaran kegagalan moral sesungguhnya: 'sekali-kali tidak! Sebaliknya, kalian tidak memuliakan anak yatim', pengalihan fokus dari asumsi keliru tentang kekayaan menuju kegagalan nyata dalam tanggung jawab sosial, kritik terhadap kelalaian melindungi yang rentan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَلَّا, kallaa) distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten di seluruh terjemahan ini. Kata itu muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15, dan di surah ini ia muncul dua kali, yaitu di ayat ini dan di 89:21.

Kata (بَلْ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia berdiri tepat sesudah kata pertama. Jadi ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Kata (الْيَتِيمَ, al-yatiima) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Akarnya berarti sendirian tanpa ayah. Ia dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 76:8.

Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang sama.

Kesejajaran dengan 93:9 juga patut dicatat, sebab di sana yang diperintahkan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Jadi tiga surah di juz yang sama menyebut anak yatim dengan bentuk kata yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Bentuk kata kerja (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berorang kedua jamak, sedangkan dua ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi surah ini berpindah tiba-tiba dari menyebut manusia kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.

Akar (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) sama dengan akar kata di 89:15, yaitu akar yang berarti mulia dan murah hati. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Tuhannya dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Kesejajaran itu berjarak dua ayat.

Bentuk (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berbentuk sekarang dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang dibantah bukan satu kejadian melainkan cara hidup yang berulang.

Kata (كَلَّا, kallaa) berdiri sendiri sebagai satu kata utuh dan tidak menempel pada kata sesudahnya. Jadi bentuk tulisannya sendiri sudah menandai bahwa ia berhenti sejenak sebelum kalimat berikutnya. Kata yang sama dipakai lagi di 89:21, dan di sana pun ia berdiri sendiri.

Bentuk (تُكْرِمُونَ, tukrimuuna) berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja di 89:15. Jadi satu pola dipakai untuk pemuliaan yang diterima manusia dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan, dan kesejajaran pola itu menambah satu lapis lagi pada kesejajaran akarnya.

Kata (بَلْ, bal) berdiri sebagai kata kedua, sehingga pembalikannya datang segera sesudah penolakan di kata pertama. Jadi Al-Qur'an menolak lalu membalik di dalam dua kata berturut-turut, dan tidak ada satu kata pun yang berdiri di antara keduanya.

Tafsiran

Ayat ini membantah anggapan keliru tersebut dan mengungkap akar masalah sesungguhnya: kelalaian sosial, dan kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15.

Di surah ini kata itu muncul dua kali, yaitu di ayat ini dan di 89:21. Kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, sehingga ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18.

Akar kata kerjanya sama dengan akar kata di 89:15. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Tuhannya dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim, dan kesejajaran itu berjarak dua ayat.

Kata pertamanya berdiri sendiri sebagai satu kata utuh dan tidak menempel pada kata sesudahnya, sehingga bentuk tulisannya sendiri sudah menandai bahwa ia berhenti sejenak. Bentuk kata kerjanya juga berpola keempat, sama seperti bentuk kata kerja di 89:15, sehingga satu pola dipakai untuk dua pemuliaan yang berbeda arahnya. Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, dan akarnya dipakai di 22 ayat, antara lain 2:83, 4:2, 4:10, 6:152, dan 76:8.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya sama dengan akar kata di 89:15. Jadi kata yang sama dipakai untuk pemuliaan yang disangka manusia diterimanya dari Allah dan untuk pemuliaan yang tidak ia berikan kepada anak yatim. Kesejajaran itu berjarak dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menunjuknya dengan satu kalimat pun. Satu akar untuk pemuliaan yang diterima dan yang tidak diberikan menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat. Pemuliaan yang diterima dan pemuliaan yang tidak diberikan berbagi satu akar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 89:17, 93:9, dan 107:2. Kesejajaran dengan 107:2 patut dicatat, sebab di surah itu anak yatim juga disebut lebih dulu dan orang miskin menyusul di ayat berikutnya, sama persis seperti susunan di sini dan di 89:18. Jadi Allah memakai pasangan yang sama dengan urutan yang sama di dua surah. Pasangan yang sama dengan urutan yang sama di dua surah menandai keduanya sejajar tanpa saling menyebut.
  • Kata pertamanya muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 19:79, 23:100, 70:15, 74:16, dan 96:15, dan kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi ayat ini memikul dua penanda pembalikan sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini. Dua penanda pembalikan di dalam satu ayat memusatkan belokannya, dan kepadatan itu tidak terulang di surahnya. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
  • Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sedangkan dua ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi Allah berpindah tiba-tiba dari menyebut manusia kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Pembacanya tiba-tiba menjadi pihak yang ditegur. Berpindah dari menyebut kepada menyapa menarik pembacanya masuk tanpa satu kata yang memberitahunya. Pemuliaan yang diterima dan pemuliaan yang tidak diberikan berbagi satu akar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang dan berada di dalam pengingkaran, sehingga yang dinyatakan kebiasaan yang berlangsung, bukan satu perbuatan yang sekali terjadi. Jadi yang dibantah Allah bukan satu kejadian melainkan cara hidup yang berulang, dan cara hidup tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.
  • Dua ayat sebelumnya berbicara tentang kekayaan dan kesempitan, dan ayat ini menjawabnya dengan menyebut anak yatim. Jadi Allah menjawab persoalan tentang pemberian dengan menunjuk apa yang tidak diberikan. Apa hubungan antara salah membaca pemberian yang diterima dan lalai memberi kepada orang yang tidak punya? Menjawab persoalan pemberian dengan menunjuk apa yang tidak diberikan memindahkan seluruh ukurannya. Kebiasaan yang berulang tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu perbuatan baik yang pernah dikerjakan.

Ayat 89:18

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Dan kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِwa-laa tahaadhdhuuna 'alaa tha'aami l-miskiinidan kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. تَحَاضُّونَtahaadhdhuunakalian saling mendorong
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. طَعَامِtha'aamimakanan
  5. الْمِسْكِينِl-miskiiniorang miskin

Inti bacaan

Kegagalan kolektif kedua: 'dan kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin', kritik terhadap ketiadaan budaya saling mengingatkan untuk berbuat baik, kepedulian sosial yang tidak dibudayakan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (تَحَاضُّونَ, tahaadhdhuuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mendesak menganjurkan. Ia cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 69:34, 89:18, dan 107:3, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga ayat itu seluruhnya berbicara tentang mendorong memberi makan orang miskin. Jadi tidak ada satu pun pemakaian akar ini di luar pokok itu, dan tiga tempat itu satu-satunya tempat pokok tersebut dinamai dengan kata ini.

Di 69:34 dan 107:3 tertulis rangkaian yang sama persis, yaitu tidak mendorong memberi makan orang miskin. Jadi dua surah memakai kalimat yang sama kata demi kata, dan ayat ini memakai kalimat yang hampir sama dengan bentuk kata kerja yang berbeda.

Perbedaan bentuknya patut dicatat. Yang di 69:34 dan 107:3 berorang ketiga tunggal dan berpola pertama, sedangkan yang di sini berorang kedua jamak dan berpola keenam. Bentuk berpola keenam menyatakan perbuatan yang saling dikerjakan, sehingga yang diingkari saling mendorong di antara mereka.

Kata (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3, yaitu tiga tempat yang sama dengan tiga tempat akar kata kerjanya. Jadi kedua kata itu selalu muncul bersama-sama dan tidak pernah terpisah.

Akar (الْمِسْكِينِ, al-miskiini) berarti diam dan tenang. Akar itu dipakai di 66 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk tempat tinggal dan untuk ketenangan, antara lain di 6:96 dan 9:26. Jadi satu akar memikul diam, tenang, dan orang miskin.

Kata (طَعَامِ, tha'aami) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 107:3. Kesejajaran dengan 88:6 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai kata yang sama untuk makanan yang tidak berguna.

Bentuk (تَحَاضُّونَ, tahaadhdhuuna) berorang kedua jamak, sama seperti bentuk kata kerja di 89:17. Jadi empat ayat dari 89:17 sampai 89:20 seluruhnya menyapa banyak orang, dan keempatnya menyebut satu perbuatan yang tidak dikerjakan atau yang dikerjakan berlebihan.

Kata (عَلَىٰ, 'alaa) menyatakan sasaran dorongan, sehingga yang dinyatakan mendorong kepada sesuatu, bukan mendorong seseorang. Jadi yang diingkari bukan mendorong orang miskin melainkan mendorong kepada perkara memberinya makan. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.

Susunan ayat ini memakai kata untuk makanan yang disandarkan kepada orang miskin, bukan kata kerja memberi makan. Jadi yang disebut perkaranya, bukan perbuatannya. Susunan yang sama dipakai di 69:34 dan 107:3, sehingga tiga ayat memakai rangka yang sama persis. Kata (تَحَاضُّونَ, tahaadhdhuuna) di sini berpola keenam, berbeda dari bentuknya di dua ayat itu.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rincian kelalaian sosial: tidak peduli terhadap orang miskin, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 69:34, 89:18, dan 107:3.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga ayat itu seluruhnya berbicara tentang mendorong memberi makan orang miskin. Jadi tidak ada satu pun pemakaian akar ini di luar pokok itu, dan tiga tempat itu satu-satunya tempat pokok tersebut dinamai dengan kata ini.

Di 69:34 dan 107:3 tertulis rangkaian yang sama persis, dan ayat ini memakai kalimat yang hampir sama dengan bentuk kata kerja yang berbeda. Yang di sana berorang ketiga tunggal dan berpola pertama, sedangkan yang di sini berorang kedua jamak dan berpola keenam.

Bentuk berpola keenam menyatakan perbuatan yang saling dikerjakan, sehingga yang diingkari saling mendorong di antara mereka. Jadi yang dituntut bukan cuma memberi melainkan menggerakkan orang lain supaya ikut memberi.

Huruf sesudah kata kerjanya menyatakan sasaran dorongan, sehingga yang dinyatakan mendorong kepada sesuatu, bukan mendorong seseorang. Jadi yang diingkari bukan mendorong orang miskin melainkan mendorong kepada perkara memberinya makan, dan perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya. Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sama seperti bentuk kata kerja di 89:17, sehingga empat ayat dari 89:17 sampai 89:20 seluruhnya menyapa banyak orang.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 69:34, 89:18, dan 107:3. Ketiga ayat itu seluruhnya berbicara tentang mendorong memberi makan orang miskin. Jadi tidak ada satu pun pemakaian akar ini oleh Allah di luar pokok itu, dan kelangkaan itu justru memusat pada satu perkara. Akar yang cuma hidup di tiga ayat dan ketiganya tentang satu perkara memusatkan kelangkaannya pada satu pokok.
  • Bentuk kata kerjanya berpola keenam, sedangkan bentuk di 69:34 dan 107:3 berpola pertama. Bentuk berpola keenam menyatakan perbuatan yang saling dikerjakan, sehingga yang diingkari Allah saling mendorong di antara mereka. Jadi yang dituntut bukan cuma memberi melainkan menggerakkan orang lain supaya ikut memberi. Menggerakkan orang lain menuntut lebih daripada memberi sendiri, dan bentuk katanya yang menyatakan tuntutan itu. Akar yang cuma hidup di tiga ayat dan ketiganya tentang satu perkara memusatkan kelangkaannya.
  • Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 69:34, 89:18, dan 107:3, yaitu tiga tempat yang sama dengan tiga tempat akar kata kerjanya. Jadi kedua kata itu selalu muncul bersama-sama dan tidak pernah terpisah di dalam Al-Qur'an, dan Allah tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun. Dua kata yang tidak pernah terpisah di seluruh Al-Qur'an menandai keduanya sebagai satu pasangan yang tetap. Menggerakkan orang lain menuntut lebih daripada memberi sendiri, dan bentuk katanya yang menyatakannya.
  • Akar kata terakhirnya dipakai di 66 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk tempat tinggal dan untuk ketenangan, antara lain di 6:96 dan 9:26. Jadi satu akar memikul diam, tenang, dan orang miskin. Yang menyatukan seluruhnya gambaran sesuatu yang tidak bergerak, sebab yang miskin tidak punya daya untuk berpindah keadaan. Satu akar untuk diam, tenang, dan miskin menyatukan ketiganya lewat gambaran sesuatu yang tidak bergerak.
  • Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, 88:6, dan 107:3. Kesejajaran dengan 88:6 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai kata yang sama untuk makanan yang tidak berguna yang diberikan Allah kepada yang celaka. Kata yang sama di dua surah berurutan untuk dua jenis makanan menaruh keduanya di dalam satu ukuran. Akar yang cuma hidup di tiga ayat dan ketiganya tentang satu perkara memusatkan kelangkaannya.
  • Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, sama seperti bentuk kata kerja di 89:17. Jadi empat ayat dari 89:17 sampai 89:20 seluruhnya menyapa banyak orang, dan keempatnya menyebut satu perbuatan yang tidak dikerjakan atau yang dikerjakan berlebihan. Apa yang menyatukan keempat perbuatan itu selain bahwa semuanya menyangkut harta? Empat teguran yang seluruhnya menyangkut harta menandai satu pokok yang tidak dinyatakan namanya. Menggerakkan orang lain menuntut lebih daripada memberi sendiri, dan bentuk katanya yang menyatakannya.

Ayat 89:19

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا

Dan kalian memakan harta warisan dengan cara melahap habis,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّاwa-ta'kuluuna t-turaatsa aklan lammaadan kalian memakan harta warisan dengan cara melahap habis

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَتَأْكُلُونَwa-ta'kuluunadan kalian memakan
  2. التُّرَاثَt-turaatsawarisan
  3. أَكْلًاaklanmemakan
  4. لَمًّاlammaadengan rakus

Inti bacaan

Praktik serakah dalam warisan: 'dan kalian memakan harta warisan dengan cara melahap habis', kritik terhadap keserakahan yang mengabaikan hak pihak lain (termasuk perempuan dan anak-anak) dalam pembagian warisan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (التُّرَاثَ, at-turaatsa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mewarisi. Ia dipakai di 34 ayat, antara lain 4:11, 19:6, 21:105, 35:32, dan 39:74. Di 21:105 akar itu dipakai untuk bumi yang diwarisi hamba-hamba yang saleh.

Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut warisan yang dijanjikan atau yang diatur pembagiannya, di sini menyebut warisan yang dimakan tanpa perhitungan. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (التُّرَاثَ, at-turaatsa) di sini menjadi objek, bukan pokok kalimat.

Kata (لَمًّا, lamman) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti melahap sekaligus. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 6:150, 33:18, 53:32, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.

Di 53:32 akar itu dipakai untuk dosa kecil yang dikecualikan dari dosa besar, dan di 33:18 untuk orang yang datang sebentar saja. Jadi akar ini memikul sesuatu yang sedikit dan sekejap, dan di sini justru menyebut cara makan yang mengumpulkan semuanya tanpa sisa. Bentuk (لَمًّا, lamman) menyifati cara makannya, bukan bendanya.

Rangkaian (أَكْلًا لَمًّا, aklan lamman) memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, lalu menambahkan kata sifat. Jadi penegasannya bertingkat dua: pengulangan akar dan kata sifat yang menyusulnya. Susunan yang sama dipakai di 89:20 pada kata yang berbeda.

Bentuk (وَتَأْكُلُونَ, wa ta-kuluuna) berorang kedua jamak, sama seperti dua kata kerja sebelumnya di 89:17 dan 89:18. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama, dan yang berbeda cuma apakah kata kerjanya berada di dalam pengingkaran atau tidak.

Perbedaan itu patut dicatat. Dua ayat sebelumnya menyebut apa yang tidak mereka kerjakan, dan ayat ini menyebut apa yang mereka kerjakan. Jadi teguran itu berbalik arah tepat di ayat ini, dan Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun.

Kata (التُّرَاثَ, at-turaatsa) bertakrif, sehingga yang disebut harta warisan sebagai jenis, bukan satu warisan tertentu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "harta warisan", memakai kata jenis untuk menahan ketertentuan yang menyebut jenis alih-alih menyebutnya sebagai milik seseorang.

Kata (وَتَأْكُلُونَ, wa ta-kuluuna) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 109 ayat, antara lain 2:174, 4:2, 4:10, 18:19, dan 51:27. Di 4:10 akar itu dipakai untuk orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya.

Kesejajaran dengan 4:10 patut dicatat, sebab ayat ini berdiri dua ayat sesudah teguran tentang anak yatim di 89:17. Jadi dua perkara yang di 4:10 disatukan di dalam satu ayat, di sini dipisah menjadi dua teguran yang berjarak dua ayat.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rincian kelalaian dengan keserakahan atas harta warisan, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 34 ayat, antara lain 4:11, 19:6, 21:105, 35:32, dan 39:74.

Di 21:105 akar itu dipakai untuk bumi yang diwarisi hamba-hamba yang saleh. Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut warisan yang dijanjikan atau yang diatur pembagiannya, di sini menyebut warisan yang dimakan tanpa perhitungan.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 6:150, 33:18, 53:32, dan ayat ini. Di 53:32 akar itu dipakai untuk dosa kecil yang dikecualikan dari dosa besar, dan di 33:18 untuk orang yang datang sebentar saja.

Jadi akar ini memikul sesuatu yang sedikit dan sekejap, dan di sini justru menyebut cara makan yang mengumpulkan semuanya tanpa sisa. Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu dengan satu kalimat pun.

Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 109 ayat, antara lain 2:174, 4:2, 4:10, 18:19, dan 51:27. Di 4:10 akar itu dipakai untuk orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, dan ayat ini berdiri dua ayat sesudah teguran tentang anak yatim di 89:17. Rangkaian terakhirnya memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda lalu menambahkan kata sifat, dan susunan yang sama dipakai di 89:20.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 6:150, 33:18, 53:32, dan 89:19. Di 53:32 akar itu dipakai Allah untuk dosa kecil yang dikecualikan dari dosa besar, dan di 33:18 untuk orang yang datang sebentar saja. Jadi akar yang memikul sesuatu yang sedikit dan sekejap, di sini menyebut cara makan yang mengumpulkan semuanya tanpa sisa. Akar yang memikul sesuatu yang sedikit lalu menyebut yang melahap semuanya membalik gambarannya sendiri.
  • Akar kata keduanya dipakai di 34 ayat, antara lain 4:11, 19:6, 21:105, 35:32, dan 39:74. Di 21:105 akar itu dipakai untuk bumi yang diwarisi hamba-hamba Allah yang saleh. Jadi akar yang menyebut warisan yang dijanjikan atau yang diatur pembagiannya, di sini menyebut warisan yang dimakan tanpa perhitungan. Warisan yang diatur pembagiannya dan warisan yang dimakan tanpa perhitungan berbagi satu nama. Akar yang memikul sesuatu yang sedikit lalu menyebut yang melahap semuanya membalik gambarannya.
  • Rangkaian terakhirnya memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, lalu menambahkan kata sifat. Jadi penegasannya bertingkat dua: pengulangan akar dan kata sifat yang menyusulnya. Susunan yang sama dipakai Allah di 89:20 pada kata yang berbeda, sehingga dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama. Penegasan bertingkat dua menguatkan tanpa menambah kata baru, dan itu dipakai di dua ayat berurutan.
  • Dua ayat sebelumnya menyebut apa yang tidak mereka kerjakan, dan ayat ini menyebut apa yang mereka kerjakan. Jadi teguran Allah berbalik arah tepat di ayat ini, dan Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun. Yang menandainya cuma hilangnya huruf pengingkaran yang dipakai di dua ayat sebelumnya. Teguran yang berbalik dari apa yang tidak dikerjakan kepada apa yang dikerjakan tidak ditandai satu kata pun. Akar yang memikul sesuatu yang sedikit lalu menyebut yang melahap semuanya membalik gambarannya.
  • Bentuk kata kerja pertamanya berorang kedua jamak, sama seperti dua kata kerja sebelumnya di 89:17 dan 89:18. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama, dan yang berbeda cuma apakah kata kerjanya berada di dalam pengingkaran atau tidak. Kesejajaran itu mengikat keempat teguran menjadi satu daftar. Bentuk yang berulang di tiga ayat mengikat keempat teguran menjadi satu daftar yang tidak terpisah. Menegur cara memperlakukan sesuatu lebih luas daripada menegur satu perbuatan yang bisa dihentikan.
  • Kata keduanya bertakrif, sehingga yang disebut harta warisan sebagai jenis, bukan satu warisan tertentu. Terjemahannya memakai kata jenis untuk menahan ketertentuan itu alih-alih menyebutnya sebagai milik seseorang. Apa yang berubah pada sebuah teguran ketika yang ditegur bukan satu perbuatan melainkan seluruh cara memperlakukan sesuatu? Menegur cara memperlakukan sesuatu lebih luas daripada menegur satu perbuatan yang bisa dihentikan.

Ayat 89:20

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاwa-tuhibbuuna l-maala hubban jammandan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَتُحِبُّونَwa-tuhibbuunadan kalian mencintai
  2. الْمَالَl-maalaharta
  3. حُبًّاhubbancinta
  4. جَمًّاjammanyang berlimpah

Inti bacaan

Akar dari seluruh kegagalan moral: 'dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan', identifikasi sumber utama dari perilaku bermasalah sebelumnya, obsesi material yang mengalahkan pertimbangan etis.

Penjelasan pilihan kata

Kata (جَمًّا, jamman) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti banyak berlimpah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 89:13, dan keduanya berjarak tujuh ayat. Jadi surah tiga puluh ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan tidak ada surah lain di sekitarnya yang memuat dua. Kata (جَمًّا, jamman) di sini menyifati kecintaannya, bukan hartanya.

Kata (حُبًّا, hubban) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:165, 12:30, dan 89:20. Di 2:165 kata itu dipakai untuk orang beriman yang lebih besar cintanya kepada Allah, dan di 12:30 untuk cinta yang memenuhi hati sampai melampaui batas.

Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul cinta yang terbesar kepada Allah, cinta yang melampaui batas kepada manusia, dan cinta yang berlebihan kepada harta. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (الْمَالَ, al-maala) menjadi objeknya, dan keduanya berdiri di satu ayat.

Kata (الْمَالَ, al-maala) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 2:177 dan 89:20. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 2:177 kata itu berada di dalam pujian bagi orang yang memberikan hartanya justru karena mencintainya.

Jadi dua ayat memakai kata yang sama dan menyebut cinta kepada harta, tetapi yang satu memuji karena hartanya diberikan meski dicintai dan yang lain menegur karena hartanya dicintai berlebihan. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (حُبًّا, hubban) di sini disifati kata sesudahnya, bukan berdiri sendiri.

Rangkaian (حُبًّا جَمًّا, hubban jamman) memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, lalu menambahkan kata sifat, sama persis seperti susunan di 89:19. Jadi dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama dengan kata yang berbeda.

Ayat ini menutup empat teguran yang dimulai di 89:17, dan sesudahnya 89:21 berpindah kepada gambaran hari perhitungan. Jadi daftar tegurannya berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia selesai, dan yang menandainya cuma kata pertama di ayat berikutnya.

Kata (وَتُحِبُّونَ, wa tuhibbuuna) berasal dari akar yang berarti mencintai. Akar itu dipakai di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:31, 5:54, 61:4, dan 76:8. Di 3:31 akar itu dipakai untuk syarat dicintai Allah, dan di 76:8 untuk memberi makan atas dasar cinta kepada-Nya.

Kesejajaran dengan 76:8 patut dicatat, sebab di sana cinta justru menjadi sebab memberi makan kepada orang miskin, sedangkan di sini cinta kepada harta berdiri berdampingan dengan tidak mendorong memberi makan di 89:18. Jadi satu akar berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Tafsiran

Ayat ini menutup rincian kelalaian dengan kecintaan berlebihan terhadap harta, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 89:13. Keduanya berjarak tujuh ayat.

Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:165, 12:30, dan 89:20. Di 2:165 kata itu dipakai untuk orang beriman yang lebih besar cintanya kepada Allah, dan di 12:30 untuk cinta yang memenuhi hati sampai melampaui batas.

Kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 2:177 dan 89:20. Di 2:177 kata itu berada di dalam pujian bagi orang yang memberikan hartanya justru karena mencintainya. Jadi dua ayat memakai kata yang sama dan menyebut cinta kepada harta, tetapi yang satu memuji dan yang lain menegur.

Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:31, 5:54, 61:4, dan 76:8. Di 76:8 akar itu dipakai untuk memberi makan atas dasar cinta kepada Allah, sedangkan di sini cinta kepada harta berdiri berdampingan dengan tidak mendorong memberi makan di 89:18. Ayat ini menutup empat teguran yang dimulai di 89:17, dan sesudahnya 89:21 berpindah kepada gambaran hari perhitungan dengan mengulang kata pertama di 89:17.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat sesudah akar di 89:13, dan keduanya berjarak tujuh ayat. Jadi surah tiga puluh ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan Allah menaruh keduanya pada dua perkara yang berbeda. Dua hapax akar di dalam satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Yang ditegur kadarnya, bukan adanya, dan itu menuntut ukuran yang tidak disediakan satu ayat pun.
  • Kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 2:177 dan 89:20. Di 2:177 kata itu berada di dalam pujian Allah bagi orang yang memberikan hartanya justru karena mencintainya. Jadi dua ayat memakai kata yang sama dan menyebut cinta kepada harta, tetapi yang satu memuji karena hartanya diberikan meski dicintai dan yang lain menegur. Memberi meski mencintai dipuji, dan mencintai berlebihan ditegur, dan keduanya memakai kata yang sama.
  • Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 2:165, 12:30, dan 89:20. Di 2:165 kata itu dipakai untuk orang beriman yang lebih besar cintanya kepada Allah, dan di 12:30 untuk cinta yang memenuhi hati sampai melampaui batas. Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul tiga arah cinta yang berbeda-beda sasarannya. Satu kata untuk tiga arah cinta menaruh seluruhnya di dalam satu ukuran, dan yang membedakan sasarannya.
  • Rangkaian terakhirnya memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda lalu menambahkan kata sifat, sama persis seperti susunan di 89:19. Jadi dua ayat berturut-turut memakai cara menguatkan yang sama dengan kata yang berbeda, dan Allah tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Cara menguatkan yang sama di dua ayat berurutan menandai keduanya sebagai satu pasangan teguran. Yang ditegur kadarnya, bukan adanya, dan itu menuntut ukuran yang tidak disediakan satu ayat pun.
  • Yang ditegur Allah bukan mencintai harta melainkan kadar cintanya, sebab 2:177 justru memuji orang yang memberi meski mencintai hartanya. Jadi yang menentukan bukan ada atau tidaknya cinta itu melainkan berapa banyak. Apa ukuran yang bisa dipakai seseorang untuk mengetahui apakah cintanya kepada harta sudah melewati batas? Yang ditegur kadarnya, bukan adanya, dan itu menuntut ukuran yang tidak disediakan satu ayat pun. Dua hapax akar di dalam satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat yang menyatakannya.
  • Ayat ini menutup empat teguran yang dimulai di 89:17, dan sesudahnya 89:21 berpindah kepada gambaran hari perhitungan. Jadi daftar teguran Allah berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia selesai, dan yang menandainya cuma kata pertama di ayat berikutnya yang mengulang kata pertama di 89:17. Daftar yang berhenti tanpa tanda menuntut pembacanya menyadari sendiri bahwa pokoknya sudah berganti. Dua hapax akar di dalam satu surah menandai surah itu tanpa satu kalimat yang menyatakannya.