Ayat 97:2

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Tahukah engkau apakah Malam Ketetapan itu?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِwa-maa adraaka maa laylatu l-qadritahukah engkau apakah Malam Ketetapan itu

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
  3. مَاmaaapakah
  4. لَيْلَةُlaylatumalam
  5. الْقَدْرِl-qadrikemuliaan

Inti bacaan

Pertanyaan yang mengagungkan momen tersebut: 'tahukah engkau apakah Lailatulqadar itu?', teknik retoris yang membangun kesadaran akan signifikansi mendalam malam tersebut sebelum penjelasan lebih lanjut.

Penjelasan pilihan kata

"Itu" mengikuti pola formula baku "wa-maa adraaka maa X" (bandingkan 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12).

Susunan (وَمَا أَدْرَاكَ مَا, wa-maa adraaka maa) muncul 12 kali di 10 surah, dan bentuknya selalu sama: huruf sambung, kata tanya, kata kerja bentuk keempat berkata ganti orang kedua tunggal, lalu kata tanya lagi. Yang berubah cuma apa yang ditanyakan sesudahnya. Di 74:27 yang ditanyakan Saqar, di 90:12 jalan mendaki, dan di sini Malam Ketetapan. Jadi ayat ini memakai bentuk yang sudah dikenal pembaca Al-Qur'an, dan pengenalan itu sendiri sudah memberi isyarat tentang jenis jawabannya.

Kata kerjanya (أَدْرَاكَ, adraaka) berbentuk keempat, yang menyatakan menjadikan seseorang tahu. Jadi yang ditanyakan bukan "apakah engkau tahu" melainkan "apa yang membuatmu tahu", dan pertanyaan semacam itu mengandaikan jawabannya tidak bisa dicapai lewat jalan biasa. Padanan "tahukah engkau" menahan bentuk pertanyaannya, sekalipun ia tidak sanggup menahan sisi menjadikan-tahu yang ada di Arabnya.

Yang ditanyakan dengan susunan itu di tempat lain selalu satu golongan: sesuatu yang tidak bisa diukur dengan pengalaman sehari-hari. Di 74:27 yang ditanyakan Saqar, di 77:14 hari pemisahan, di 82:17 dan 83:8 serta 83:19 masing-masing hari pembalasan, sijjiin, dan 'illiyyuun, di 86:2 yang mengetuk malam, dan di 90:12 jalan mendaki. Tidak satu pun di antaranya perkara biasa. Pembaca yang sudah mengenal susunan ini tahu sejak kata pertamanya bahwa yang akan disebut bukan sesuatu yang bisa ia bayangkan dari pengalamannya sendiri.

Yang ditanyakan diulang dengan bunyi yang sama persis dari 97:1, yaitu (لَيْلَةُ الْقَدْرِ, laylatu l-qadri), kali ini dalam kedudukan yang berbeda menurut i'rabnya. Pengulangan penuh itu perlu diperhatikan: ayat ini tidak memakai kata ganti untuk merujuk kembali, padahal bisa. Nama itu disebut utuh lagi, dan akan disebut utuh sekali lagi di 97:3. Tiga penyebutan penuh dalam tiga ayat berturut-turut, dan ketiganya satu-satunya tempat rangkaian itu muncul di seluruh Al-Qur'an.

Perlu dicatat pula bahwa pertanyaan ini diajukan oleh Yang menetapkan malam itu sendiri. Ia bukan permintaan keterangan, sebab yang bertanya sudah mengetahui jawabannya lebih dari siapa pun. Fungsinya memindahkan kedudukan yang ditanya: dari pendengar yang sedang menerima kabar menjadi orang yang baru saja mengakui tidak tahu. Jawaban di 97:3 karena itu jatuh kepada orang dalam keadaan yang berbeda dari sebelum ia ditanya, dan perbedaan keadaan itu bagian dari apa yang hendak dikerjakan ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan keagungan malam tersebut dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan bertanya alih-alih menerangkan. Yang baru saja disebut namanya langsung ditanyakan kembali, seolah penyebutan pertamanya belum menyampaikan apa-apa.

Bentuk itu bekerja karena ia memindahkan kedudukan pembaca. Sebuah keterangan menempatkan pembaca sebagai penerima yang boleh menerima atau menolak. Sebuah pertanyaan menempatkannya sebagai pihak yang diminta menjawab, dan ketika ia menyadari tidak punya jawabannya, ketidaktahuan itu sendiri menjadi bagian dari yang disampaikan. Jawaban di 97:3 karena itu jatuh pada orang yang sudah lebih dulu mengakui tidak tahu.

Bahwa bentuk ini dipakai 12 kali di 10 surah juga menerangkan sesuatu. Yang ditanyakan dengan susunan tersebut selalu hal yang tidak bisa diukur dengan pengalaman sehari-hari: Saqar di 74:27, jalan mendaki di 90:12, dan malam ini. Jadi susunan itu berfungsi sebagai penanda golongan, dan pembaca yang sudah mengenalnya tahu sejak mendengar kata pertamanya bahwa yang akan disebut bukan sesuatu yang bisa ia bayangkan dari pengalamannya sendiri. Dan nama malam itu diulang utuh di ayat ini, tidak diringkas menjadi kata ganti, padahal baru saja disebut satu ayat sebelumnya. Pengulangan penuh itu berlanjut sekali lagi di 97:3, lalu berhenti: dua ayat terakhir surah ini cukup menunjuknya dengan kata ganti.

Renungan dan Hikmah

  • Malam itu baru disebut Allah, langsung ditanyakan. Bukan diterangkan. Ditanyakan dulu. Sebuah keterangan menempatkan pembaca sebagai penerima yang boleh menerima atau menolak, sedangkan pertanyaan menempatkannya sebagai pihak yang diminta menjawab. Ketika ia menyadari tidak punya jawabannya, ketidaktahuan itu sendiri sudah menjadi bagian dari apa yang disampaikan kepadanya. Allah bertanya bukan untuk mendapat jawaban, melainkan untuk memindahkan kedudukan yang ditanya.
  • Bentuk pertanyaan ini muncul lagi di surah-surah lain. Susunannya sama persis. Yang ditanyakan berbeda-beda, tetapi jenisnya selalu sama: hal yang tak bisa diukur dengan pengalaman sehari-hari, seperti Saqar di 74:27 dan jalan mendaki di 90:12. Susunan itu berfungsi sebagai penanda golongan, dan yang sudah mengenalnya tahu sejak kata pertama bahwa yang akan disebut di luar jangkauan bayangannya. Susunan itu dipakai belasan kali, dan tak satu pun untuk perkara biasa.
  • Jawabannya menyusul di ayat berikutnya. Allah menahannya sebentar. Jeda itu bagian dari cara menyampaikan. Sesuatu yang langsung dijawab diterima sebagai keterangan biasa; sesuatu yang ditahan sebentar meninggalkan ruang kosong yang harus ditanggung sendiri oleh yang mendengar, dan ruang kosong itu yang menyiapkannya menerima jawaban. Yang langsung dijawab lewat begitu saja; yang ditahan sebentar meninggalkan bekas pada yang menunggunya.
  • Ayat ini tidak memakai kata ganti untuk merujuk kembali ke malam yang baru disebut, padahal bisa. Namanya disebut utuh lagi, dan akan disebut utuh sekali lagi di ayat berikutnya. Tiga penyebutan penuh dalam tiga ayat berturut-turut, dan ketiganya satu-satunya tempat rangkaian itu muncul di seluruh Al-Qur'an. Pengulangan yang tak diringkas itu menahan perhatian pada namanya sendiri. Sesudah jawabannya diberikan, barulah dua ayat terakhir cukup memakai kata ganti untuk menunjuknya.
  • Kata kerja yang dipakai berbentuk keempat, yang menyatakan menjadikan seseorang tahu. Jadi yang ditanyakan bukan apakah engkau tahu, melainkan apa yang membuatmu tahu. Pertanyaan semacam itu mengandaikan jawabannya tidak bisa dicapai lewat jalan biasa, dan Allah menanyakannya kepada orang yang memang tidak punya jalan ke sana. Dari mana seseorang bisa mengetahui sesuatu yang tak pernah ia alami? Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban, ia cuma menegaskan bahwa jalannya memang tidak tersedia.
  • Kata ganti pada kata kerjanya berbentuk tunggal, jadi yang ditanya satu orang, bukan kerumunan. Sebuah pertanyaan yang dilemparkan kepada banyak orang mudah dibiarkan dijawab orang lain; yang dialamatkan kepada satu orang tidak menyediakan siapa pun untuk mewakili. Susunan itu membuat kalimatnya sampai kepada setiap pembaca sebagai kalimat yang ditujukan kepadanya sendiri, betapa pun banyak orang yang membacanya bersamaan. Sapaan tunggal itu tetap terasa langsung bagi siapa pun yang membacanya sesudahnya, sebab pertanyaannya tidak pernah ditutup dengan nama.

Ayat 97:3

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam Ketetapan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍlaylatu l-qadri khayrun min alfi syahrinMalam Ketetapan itu lebih baik daripada seribu bulan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لَيْلَةُlaylatumalam
  2. الْقَدْرِl-qadrikemuliaan
  3. خَيْرٌkhayrunlebih baik
  4. مِنْmindari
  5. أَلْفِalfiseribu
  6. شَهْرٍsyahrinbulan

Inti bacaan

Keutamaan di sini disampaikan lewat perbandingan, bukan lewat penjelasan isinya. Konkretnya: pembacanya keluar dari ayat ini mengetahui betapa besar sesuatu itu, dan tetap tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu. Praktis: keterangan yang tidak tuntas menahan perhatian jauh lebih lama daripada keterangan yang selesai, sebab bagian yang menggantung terus meminta dipikirkan. Ada pula sisi yang jarang disebut orang: hal seberharga ini ternyata tidak dipasangi penanda apa pun, sehingga ia bisa datang dan berlalu di sela hari-hari biasa tanpa seorang pun menyadarinya sedang terjadi.

Penjelasan pilihan kata

"Itu" bersifat anaforis idiomatik, bukan kata tunjuk yang muncul di morfologi, merujuk kembali ke (لَيْلَةُ الْقَدْرِ, laylatu l-qadri) yang sudah disebut, konsisten dengan pola penyebutan berulang yang dipakai korpus ini.

Rangkaian (لَيْلَةُ الْقَدْرِ, laylatu l-qadri) disebut utuh untuk ketiga kalinya di ayat ini, dan inilah penyebutan terakhirnya. Sesudah ini nama itu tidak muncul lagi, baik di 97:4 maupun 97:5, yang keduanya memakai kata ganti perempuan tunggal untuk merujuknya. Jadi tiga ayat pertama menyebut namanya penuh, dan dua ayat terakhir cukup menunjuknya. Perpindahan itu terjadi tepat sesudah jawabannya diberikan.

Kata (خَيْرٌ, khayrun) berbentuk pembanding dan berarti lebih baik, bukan lebih panjang atau lebih banyak. Akarnya berarti baik dan terpilih. Pembedaan itu menentukan: yang dibandingkan mutunya, bukan lamanya. Sebuah malam tidak mungkin lebih panjang daripada seribu bulan, sehingga pembacaan yang mengukur dengan waktu akan menghasilkan kalimat yang mustahil. Padanan "lebih baik" menahan pembandingan mutu itu.

Susunan kalimatnya juga perlu diperhatikan. Ia tidak memakai kata kerja sama sekali: pokoknya nama malam itu, sebutannya (خَيْرٌ, khayrun), dan di antaranya tidak ada apa-apa. Kalimat tanpa kata kerja dalam bahasa Arab menyatakan keadaan yang tetap, bukan peristiwa yang berlangsung. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa malam itu menjadi lebih baik pada suatu ketika, melainkan bahwa begitulah keadaannya. Susunan yang sama dipakai di 112:2 untuk menyatakan kedudukan yang tidak pernah bermula.

Rangkaian (أَلْفِ شَهْرٍ, alfi syahrin) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata (أَلْفِ, alfi) berasal dari akar yang berarti terbiasa sampai menyatu. Akar itu hadir di 19 ayat dan juga melahirkan kata untuk kebiasaan serta penyatuan, sebagaimana dipakai di 106:1. Bilangan seribu di sini perlu dibaca sebagai ukuran, bukan sebagai hitungan yang harus dicocokkan. Yang dinyatakan bahwa satu malam melampaui rentang yang jauh melebihi umur kebanyakan orang, dan ukuran itu diberikan justru supaya yang tak terukur bisa dibayangkan sedikit.

Kata (شَهْرٍ, syahrin) yang dipakai sebagai satuan juga tak bertakrif, jadi yang dimaksud bulan mana pun, bukan bulan tertentu. Pilihan satuan itu masuk akal bagi sebuah perbandingan: yang dipakai satuan yang dikenal semua orang dan berulang tanpa henti sepanjang hidup siapa pun. Dengan satuan semacam itu, pembacanya bisa menghitung sendiri berapa banyak yang sudah ia lewati dan berapa yang mungkin masih tersisa, dan perhitungan itulah yang membuat perbandingannya terasa.

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan di 97:2 dengan sebuah perbandingan, bukan dengan uraian. Yang diberikan bukan keterangan tentang apa yang terjadi di malam itu, melainkan ukuran tentang nilainya.

Cara menjawab semacam itu menjaga jarak yang sudah dibangun ayat sebelumnya. Sebuah uraian akan menghapus ketidaktahuan yang baru saja diakui; sebuah perbandingan justru mempertahankannya, sebab ia menyatakan besarnya tanpa menerangkan isinya. Pembaca keluar dari ayat ini mengetahui bahwa malam itu bernilai luar biasa, dan tetap tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu.

Bilangan yang dipakai juga patut diperhatikan. Seribu bulan melampaui delapan puluh tahun, yang berarti melampaui umur kebanyakan orang. Jadi yang dibandingkan bukan satu malam dengan satu rentang waktu tertentu, melainkan satu malam dengan sesuatu yang lebih panjang daripada seluruh hidup yang dimiliki seseorang untuk beramal. Bandingkan dengan 2:185 yang menyebut bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur'an: yang di sana disebut satu bulan penuh, dan yang di sini satu malam di dalamnya, dan malam itu dinyatakan melampaui seribu bulan.

Susunan kalimatnya pun tanpa kata kerja sama sekali, sehingga yang dinyatakan keadaan yang tetap, bukan peristiwa yang berlangsung pada suatu ketika. Malam itu tidak dikatakan menjadi lebih baik; ia dikatakan begitulah adanya. Perbedaan itu menutup satu bacaan yang mungkin muncul, yaitu bahwa nilainya bergantung pada apa yang dikerjakan orang di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membandingkannya dengan seribu bulan. Diberi angka. Yang tak terukur diterangkan lewat bilangan yang bisa dibayangkan. Seribu bulan melampaui delapan puluh tahun, yang berarti melampaui umur kebanyakan orang, sehingga yang dibandingkan bukan satu malam dengan satu rentang tertentu melainkan dengan sesuatu yang lebih panjang daripada seluruh hidup yang dimiliki seseorang untuk beramal. Satuan yang dipakai pun bulan, yaitu satuan yang dikenal semua orang dan berulang tanpa henti sepanjang hidup siapa pun.
  • Kata yang dipakai lebih baik. Bukan lebih panjang. Yang dibandingkan mutunya, bukan lamanya. Sebuah malam tidak mungkin lebih panjang daripada seribu bulan, sehingga pembacaan yang mengukur dengan waktu akan menghasilkan kalimat yang mustahil. Satu kata menjaga seluruh ayat tetap masuk akal, dan salah menerjemahkannya akan merusak kalimatnya sendiri. Yang dibandingkan bukan dua rentang waktu, melainkan dua nilai yang kebetulan diukur dengan satuan waktu.
  • Allah menyebut malamnya tanpa memberi tanggal. Dibiarkan dicari. Yang paling bernilai disembunyikan letaknya. Jawaban di ayat ini pun cuma menyatakan besarnya nilai, bukan menerangkan isinya, sehingga pembaca keluar dengan mengetahui bahwa malam itu luar biasa dan tetap tidak mengetahui apa yang membuatnya begitu. Yang disembunyikan letaknya harus dicari, dan pencarian itu sendiri sudah mengubah orang yang mencarinya. Ketiadaan tanggal itu memaksa orang menjaga banyak malam sekaligus, dan penjagaan yang tersebar biasanya mengubah lebih banyak hal daripada satu malam yang ditandai.
  • Sebuah uraian akan menghapus ketidaktahuan yang baru saja diakui di ayat sebelumnya; perbandingan justru mempertahankannya. Yang diberikan Allah ukuran nilainya, bukan keterangan isinya. Jawaban semacam itu memuaskan tanpa menyelesaikan, dan yang tidak selesai tetap menahan perhatian orangnya lebih lama daripada yang sudah tuntas dijelaskan. Allah memberi ukuran nilainya dan menahan keterangan isinya, dan keduanya sengaja.
  • Nama malam itu disebut utuh untuk ketiga dan terakhir kalinya di ayat ini. Dua ayat sesudahnya cukup memakai kata ganti untuk merujuknya. Perpindahan dari nama ke kata ganti terjadi tepat sesudah jawabannya diberikan, seakan sesudah pertanyaan dijawab, namanya tidak perlu diulang lagi. Yang sudah dikenal cukup ditunjuk. Tiga penyebutan penuh berturut-turut lalu berhenti, dan berhentinya itu menandai bahwa perkenalannya sudah selesai dikerjakan.
  • Rentang yang dipakai sebagai pembanding lebih panjang daripada umur yang biasanya diberikan kepada seseorang. Artinya satu malam ini bisa melampaui seluruh kesempatan yang ia punya. Perbandingan itu tidak menghibur, sebab ia juga berarti kesempatan sebesar itu bisa lewat begitu saja tanpa disadari. Berapa banyak malam yang sudah dilewati seseorang tanpa pernah menghitungnya? Perbandingan ini tidak menghibur, sebab ia juga berarti kesempatan sebesar itu bisa lewat begitu saja tanpa disadari sama sekali.