Ayat 102:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Berlomba memperbanyak telah melalaikan kalian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُalhaakumu t-takaatsuruberlomba memperbanyak telah melalaikan kalian
Terjemahan per kata (2 kata)
- أَلْهَاكُمُalhaakumumelalaikan kalian
- التَّكَاثُرُt-takaatsuruberbangga memperbanyak
Inti bacaan
Pembukaan At-Takathur dengan diagnosis kelalaian: 'berlomba memperbanyak (harta) telah melalaikan kalian', identifikasi langsung akar masalah, kompetisi materialistis yang mengalihkan fokus dari hal-hal yang lebih bermakna.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Tambahan kurung "(harta)" tidak dipakai, sebab objek (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) memang tidak dirinci eksplisit dalam Arabnya. Yang tertulis cuma berlomba memperbanyak, tanpa disebutkan memperbanyak apa, dan ketiadaan objek itu adalah bagian dari yang hendak dinyatakan.
Kedua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuk (أَلْهَاكُمُ, alhaakumu) tidak dipakai di ayat lain mana pun, dan bentuk (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) juga tidak. Jadi sebuah surah dibuka dengan dua kata yang tidak punya pembanding, dan keduanya sudah cukup untuk membentuk kalimat lengkap tanpa kata ketiga.
Susunan kalimatnya juga perlu dicatat. Kata kerjanya lebih dulu, lalu kata ganti kalian yang menjadi objeknya, baru sesudah itu pelakunya, yaitu (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) itu sendiri. Jadi yang mengerjakan sesuatu di kalimat ini bukan manusianya melainkan perlombaannya, dan manusianya berkedudukan sebagai yang dikenai. Bahasa Indonesia menahannya dengan "berlomba memperbanyak telah melalaikan kalian", menaruh perlombaan sebagai pelaku persis seperti Arabnya.
Akar (أَلْهَاكُمُ, alhaakumu) berarti lalai karena hiburan. Akar itu dipakai di 15 ayat, antara lain 6:32, 29:64, 47:36, 57:20, dan 62:11. Di 6:32, 47:36, dan 57:20 tertulis (لَعِبٌ وَلَهْوٌ, la'ibun wa-lahwun), permainan dan senda-gurau, dan ketiganya menyifati kehidupan dunia. Jadi akar yang di tempat lain dipakai untuk menyifati dunia seluruhnya, di sini dipakai untuk sesuatu yang dikerjakan dunia itu kepada manusianya.
Akar (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru) berarti banyak. Akar itu dipakai di 162 ayat, dan dua di antaranya patut disandingkan. Di 108:1 tertulis (الْكَوْثَرَ, al-kautsara), kelimpahan yang diberikan, dan di sini tertulis perlombaan memperbanyak. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: yang satu diterima sebagai pemberian, yang lain dikejar sebagai perlombaan. Ayat 57:20 menyandingkan keduanya lebih jauh lagi, sebab di sana tertulis (تَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ, takaatsurun fii l-amwaali) di dalam rangkaian yang juga menyebut permainan dan senda-gurau.
Yang tidak dinyatakan di ayat ini juga menerangkan. Tidak dinyatakan bahwa perlombaan itu terlarang, tidak dinyatakan bahwa yang dikumpulkan harus dilepaskan, dan tidak dinyatakan berapa banyak yang dianggap berlebihan. Yang dinyatakan cuma akibatnya pada perhatian orangnya. Sebuah teguran yang menunjuk akibat, bukan perbuatan, tidak bisa dijawab dengan mengubah jumlah; ia cuma bisa dijawab dengan mengubah ke mana perhatian diarahkan.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan teguran atas kelalaian akibat berlomba memperbanyak, dan yang paling perlu diperhatikan adalah siapa pelakunya di dalam kalimat. Kata kerjanya lebih dulu, lalu kalian sebagai objeknya, baru sesudah itu perlombaan sebagai pelakunya. Jadi manusianya bukan yang mengerjakan melainkan yang dikenai.
Susunan itu menerangkan sesuatu yang tidak dinyatakan dengan kalimat mana pun. Orang biasanya merasa sedang memilih ketika ia mengejar sesuatu, dan ayat ini menaruh kejaran itu sebagai pihak yang bergerak sementara orangnya menjadi sasaran. Yang dikira dikendalikan ternyata yang mengendalikan.
Objeknya juga sengaja tidak disebut. Tidak tertulis memperbanyak apa, sehingga yang dibicarakan bukan satu jenis barang tertentu. Harta memang yang paling mudah dibayangkan, tetapi ayat ini tidak menyempitkannya ke sana, dan pembacanya bisa mengisinya dengan apa pun yang sedang diperlombakannya sendiri.
Akar kata perlombaan itu juga dipakai di 108:1 untuk kelimpahan yang diberikan Allah. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: yang satu diterima sebagai pemberian, yang lain dikejar sebagai perlombaan. Ayat 57:20 menyandingkan keduanya lebih jauh, sebab di sana berlomba dalam banyaknya harta disebut di dalam rangkaian yang juga memuat permainan dan senda-gurau, dua kata yang akarnya sama dengan kata pertama surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Susunan kalimat yang dipakai Allah menaruh perlombaan sebagai pelakunya dan manusianya sebagai objek. Kata kerjanya lebih dulu, lalu kalian, baru sesudah itu perlombaannya. Jadi manusianya bukan yang mengerjakan melainkan yang dikenai. Orang biasanya merasa sedang memilih ketika ia mengejar sesuatu, dan ayat ini menaruh kejaran itu sebagai pihak yang bergerak sementara orangnya menjadi sasaran. Yang dikira dikendalikan ternyata yang mengendalikan. Yang bergerak lebih dulu bukan orangnya, melainkan yang dikejarnya.
- Objek perlombaan itu sengaja tidak disebut Allah. Tidak tertulis memperbanyak apa, sehingga yang dibicarakan bukan satu jenis barang tertentu. Harta memang yang paling mudah dibayangkan, tetapi ayat ini tidak menyempitkannya ke sana. Ketiadaan objek itu membuat ayatnya tidak bisa dilempar kepada orang yang mengejar barang lain. Apa yang sedang diperbanyak seseorang tanpa pernah menyebutnya perlombaan? Ketiadaan objek membuat ayat ini tidak bisa dilempar kepada orang lain.
- Kedua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya ada di sini. Allah membuka surah dengan sepasang kata yang tidak punya pembanding di ayat mana pun, dan keduanya sudah cukup untuk membentuk kalimat lengkap tanpa kata ketiga. Kelangkaan sebesar itu menahan perhatian pada kalimat ini sendiri, sebab tidak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya. Dua kata sudah cukup, dan Allah tidak menambahkan yang ketiga.
- Akar kata perlombaan di ayat ini dipakai di 162 ayat, dan salah satunya 108:1, tempat Allah menyebut kelimpahan yang telah Dia berikan. Satu akar, dua kedudukan yang berlawanan: yang satu diterima sebagai pemberian, yang lain dikejar sebagai perlombaan. Yang membedakan bukan banyaknya, melainkan dari mana ia datang dan bagaimana orangnya berdiri terhadapnya. Yang diberi bisa disyukuri; yang dikejar tidak pernah cukup untuk disyukuri. Yang diberi bisa disyukuri; yang dikejar tidak pernah sampai pada titik cukup.
- Akar kata pertama surah ini dipakai di 15 ayat, dan di 6:32, 47:36, serta 57:20 ia muncul sebagai permainan dan senda-gurau yang menyifati kehidupan dunia. Jadi akar yang di tempat lain dipakai Allah untuk menyifati dunia seluruhnya, di sini dipakai untuk sesuatu yang dikerjakan dunia itu kepada manusianya. Yang disebut bukan sifat dunia lagi, melainkan akibatnya pada orang yang tinggal di dalamnya. Yang disebut bukan sifat dunia lagi, melainkan bekasnya pada penghuninya.
- Kata yang dipakai Allah berarti melalaikan, bukan menyesatkan dan bukan membinasakan. Melalaikan berarti memalingkan perhatian dari sesuatu tanpa menghapus sesuatu itu. Yang dilalaikan tetap ada, tetap benar, dan tetap menanti; cuma perhatian orangnya yang berpindah. Karena itu kelalaian tidak pernah terasa sebagai kehilangan, sebab tidak ada yang hilang. Yang berpindah cuma ke mana mata memandang. Kelalaian tidak pernah terasa sebagai kehilangan, sebab memang tidak ada yang hilang.
Ayat 102:2
حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Hingga kalian menziarahi kubur.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَhattaa zurtumu l-maqaabirahingga kalian menziarahi kubur
Terjemahan per kata (3 kata)
- حَتَّىٰhattaasampai
- زُرْتُمُzurtumukalian menziarahi
- الْمَقَابِرَl-maqaabirakubur-kubur
Inti bacaan
Batas akhir dari kelalaian tersebut: 'hingga kalian menziarahi kubur', pengakuan bahwa obsesi terhadap akumulasi berlanjut hingga kematian sendiri, kelalaian yang tidak berhenti bahkan menjelang akhir hidup.
Penjelasan pilihan kata
Kata (زُرْتُمُ, zurtumu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berkunjung. Ia dipakai di 6 ayat, yaitu 18:17, 22:30, 25:4, 25:72, 58:2, dan ayat ini. Yang paling perlu dicatat adalah bahwa empat di antaranya memakai akar itu sebagai kata benda yang berarti kepalsuan: di 22:30 tertulis (قَوْلَ الزُّورِ, qawla z-zuuri), perkataan dusta, dan di 25:72 tertulis (لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ, laa yasyhaduuna z-zuura), tidak memberikan kesaksian palsu. Yang di 18:17 dipakai untuk matahari yang condong menjauh dari gua.
Jadi dari 6 ayat yang memakai akar ini, cuma (زُرْتُمُ, zurtumu) di ayat inilah yang berarti menziarahi. Lima sisanya memikul makna condong menjauh dan kepalsuan. Yang bisa dicatat cuma bahwa akar yang menyimpan kedua makna itu dipakai satu kali untuk kunjungan, dan kunjungan yang dimaksud kunjungan ke kubur.
Kata (الْمَقَابِرَ, al-maqaabira) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya jamak dan menunjuk tempat, sehingga yang disebut bukan satu kubur melainkan pekuburan. Akarnya berarti kubur. Ia dipakai di 8 ayat, yaitu 9:84, 22:7, 35:22, 60:13, 80:21, 82:4, 100:9, dan ayat ini. Di 100:9 tertulis (بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ, bu'tsira maa fii l-qubuuri), dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur.
Yang paling menentukan di ayat ini adalah kata kerja (زُرْتُمُ, zurtumu) yang berarti menziarahi. Orang menziarahi tempat yang bukan tempat tinggalnya, dan ziarah menurut artinya berhenti sebentar lalu pergi. Jadi kata yang dipakai membawa gambaran singgah, bukan gambaran menetap. Ayat ini tidak menerangkan singgah itu sama sekali, dan tidak menerangkannya membuat pembacanya sendiri yang menimbang berapa lama singgahnya dan ke mana sesudahnya.
Kata (حَتَّىٰ, hattaa) di awal ayat berarti hingga, dan ia menandai batas akhir bagi kelalaian di 102:1. Jadi kelalaian itu tidak berhenti sebelum titik itu. Kalimatnya juga berhenti persis di situ, tanpa menyebutkan apa yang terjadi sesudahnya. Batas yang disebut bukan batas kesadaran melainkan batas kesempatan, dan surah ini melanjutkannya di 102:3 bukan dengan cerita melainkan dengan bantahan.
Dua ayat pertama surah ini menyimpan empat kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَلْهَاكُمُ, alhaakumu), (التَّكَاثُرُ, at-takaatsuru), (زُرْتُمُ, zurtumu), dan (الْمَقَابِرَ, al-maqaabira). Tidak ada satu pun di antaranya yang bisa diterangkan dengan menengok ke ayat lain, sebab tidak ada ayat lain yang memakainya. Jadi pembukaan surah ini disusun seluruhnya dari kata-kata yang berdiri sendirian, dan pembacanya dibiarkan menimbangnya tanpa pembanding. Yang biasa tidak memerlukan kata baru; yang tidak biasa memerlukannya, dan di sini keempatnya baru.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kelalaian tersebut berlanjut hingga ajal menjemput, dan kata yang dipakai untuk sampai ke sana adalah kata menziarahi. Orang menziarahi tempat yang bukan tempat tinggalnya, dan ziarah menurut artinya berhenti sebentar lalu pergi. Jadi kata yang dipakai membawa gambaran singgah, bukan gambaran menetap.
Akar kata itu sendiri patut dicatat, sebab dari 6 ayat yang memakainya cuma ayat inilah yang memakainya untuk menziarahi. Di 22:30 dan 25:72 akar yang sama muncul sebagai kata benda yang berarti kepalsuan, dan di 18:17 ia dipakai untuk matahari yang condong menjauh. Al-Qur'an tidak menghubungkan pemakaian-pemakaian itu dengan satu kalimat pun.
Kata hingga di awal ayat menandai batas akhir bagi kelalaian di 102:1. Kelalaian itu tidak berhenti sebelum titik itu, dan kalimatnya juga berhenti persis di situ. Yang disebut bukan batas kesadaran melainkan batas kesempatan. Sesuatu yang berhenti karena kehabisan waktu berbeda dari sesuatu yang berhenti karena orangnya berubah pikiran.
Bentuk jamak pada kata pekuburan juga menerangkan. Yang disebut bukan satu kubur melainkan tempat yang memuat banyak. Orang yang seumur hidup berlomba memperbanyak berakhir di tempat yang isinya tidak dihitung siapa pun, dan di sana banyaknya tidak lagi menjadi ukuran apa pun. Akar kata itu dipakai di 8 ayat, dan di 100:9 ia muncul dalam kalimat tentang dikeluarkannya apa yang ada di dalamnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai Allah berarti menziarahi, dan orang menziarahi tempat yang bukan tempat tinggalnya. Ziarah menurut artinya berhenti sebentar lalu pergi, sehingga kata ini membawa gambaran singgah dan bukan gambaran menetap. Ayat ini tidak menerangkan singgah itu sama sekali. Pembacanya sendiri yang harus menimbang berapa lama singgahnya dan ke mana sesudahnya, dan surah ini tidak menjawabnya sampai 102:8. Berapa lama sebenarnya seseorang berniat tinggal di tempat yang cuma diziarahinya?
- Akar kata ini dipakai di 6 ayat, dan empat di antaranya memakainya sebagai kata benda yang berarti kepalsuan: 22:30 tentang perkataan dusta, 25:4, 25:72 tentang kesaksian palsu, dan 58:2. Yang di 18:17 dipakai untuk matahari yang condong menjauh. Jadi dari enam ayat itu, cuma ayat inilah yang memakainya untuk menziarahi. Allah tidak menghubungkan pemakaian-pemakaian itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dicatat cuma bahwa satu akar memikul dua dunia yang berjauhan.
- Kata hingga di awal ayat menandai batas akhir bagi kelalaian di ayat sebelumnya, sehingga kelalaian itu tidak berhenti sebelum titik itu. Yang disebut Allah bukan batas kesadaran melainkan batas kesempatan. Sesuatu yang berhenti karena kehabisan waktu berbeda dari sesuatu yang berhenti karena orangnya berubah pikiran. Yang pertama tidak menyisakan pilihan sama sekali, dan yang kedua tidak pernah sempat terjadi di sini. Batas yang datang dari luar tidak menunggu kesiapan siapa pun.
- Bentuk kata yang dipakai berbentuk jamak dan menunjuk tempat, sehingga yang disebut bukan satu kubur melainkan pekuburan. Akarnya dipakai di 8 ayat, yaitu 9:84, 22:7, 35:22, 60:13, 80:21, 82:4, 100:9, dan ayat ini. Orang yang seumur hidup berlomba memperbanyak berakhir di tempat yang isinya tidak dihitung siapa pun, dan di sana banyaknya berhenti menjadi ukuran apa pun. Di tempat itu banyaknya berhenti menjadi ukuran, dan tidak ada yang menghitungnya lagi.
- Kalimat ini berhenti persis di titik itu, tanpa menyebutkan apa yang terjadi sesudahnya. Allah tidak melanjutkannya dengan cerita, melainkan dengan bantahan di ayat berikutnya. Sebuah kalimat yang berhenti di kubur dan disambung oleh kata sekali-kali tidak meninggalkan satu jeda yang harus dilalui pembacanya sendiri. Jeda itu tidak diisi apa pun, dan tidak diisinya membuatnya terasa lebih panjang daripada satu ayat. Jeda yang tidak diisi Allah terasa lebih panjang daripada satu ayat.
- Kedua kata pokok di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata menziarahi tidak dipakai di ayat lain mana pun, dan kata pekuburan juga tidak. Jadi dua ayat pertama surah ini menyimpan empat kata yang tak punya pembanding sama sekali. Allah menyusun pembukaan surah ini seluruhnya dari kata-kata yang tidak bisa diterangkan dengan menengok ke ayat lain. Allah menyusun pembukaan surah ini dari kata-kata yang tak punya pembanding.